Kokyuu Shinai Made

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 26 April 2013

Taman Odori, Sapporo, Hokkaido
Fuyu
Aku memandang iri pada orang-orang di sekitar yang terlihat berbahagia dengan pasangannya. Ah, seandainya Yuki masih menjadi kekasihku. Tentu saja saat ini aku tak akan sendirian menyaksikan Festival Salju Sapporo. Tapi ya sudahlah, Yuki telah berbahagia bersama lelaki pilihannya. Harus kuterima kenyataan pahit jika Yuki lebih memilih dia. No problem. Aku tetap bisa baik-baik saja!

Angin berembus dingin dan mengenai leherku. Ternyata syal yang menggulung leherku ini sedikit tak rapat. Aku membenarkan letak syal dengan cepat setelah itu kugosokkan kedua telapak tanganku supaya terasa sedikit hangat. Dinginnya salju terasa sampai di telapak kakiku. Salju… mengingatkan lagi tentang Yuki. Ya, Yuki mantan kekasihku!
Yuki sangat menyukai salju. Sudah dua kali kami datang ke Taman Odori ini untuk menikmati ratusan ukiran es dan patung salju yang berderet di sepanjang Taman Odori. Dua tahun kami pacaran, ternyata sama sekali tidak berarti baginya. Yuki mengkhianatiku. Dan aku hanya bisa menerima, meski rasanya sakit dan pedih. Seharusnya tahun ini aku tak usah datang ke sini. Tapi gejolak batinku menyuarakan agar aku datang, meski tanpa Yuki.

Langkah kakiku terhenti pada sebuah patung besar berbentuk Hello Kitty. Bukan patung itu yang membuatku tertarik, namun seseorang yang tengah menatap patung Hello Kitty dari salju itu. Dia seorang perempuan dan sepertinya seusia denganku. Iseng kudekati dirinya dan berdiri di sampingnya. Tak kusangka, wajah cantiknya telah basah oleh air yang keluar dari kedua mata indahnya.
“Ini…” Aku menawarkan saputangan padanya.
Dia bergeming. Namun wajahnya telah ditundukkan, tidak lagi menatap patung di hadapan kami.
“Gomen nasai! Bukannya mau apa-apa, aku hanya menawarkan saputangan ini. Kalau saja kau membutuhkannya,” ujarku pelan sembari tetap menatap lekat pada gadis di sampingku.
Tangannya terulur dan meraih saputangan yang kutawarkan. Dengan segera diusapkannya saputangan coklat milikku ke wajahnya yang basah.
“Arigatou gozaimasu, Besok datanglah ke sini lagi! Saputangannya akan kucuci dahulu,”
Setelah mengucapkan kalimat itu, dia berlarian entah mau ke mana. Aku hendak mengejarnya untuk menanyakan namanya. Namun segera kuurungkan.

Hari ini aku menunggunya. Tepat di hadapan patung salju berbentuk Hello Kitty seperti kemarin. Namun sudah lebih dari satu jam, gadis yang berhasil membuatku penasaran itu belum juga datang. Sudah berkali-kali kurapatkan mantel. Siang ini udara terasa sangat menusuk hingga ke tulang. Kalau saja bukan untuk bertemu gadis itu, siang ini aku enggan untuk ke luar dari rumah.
“Konnichiwa. Sudah lama kau menunggu? Gomen nasai!” ucap lembut si gadis dengan senyuman kecil namun terlihat sangat indah. Wajahnya lebih ceria dari kemarin, meski masih jelas tergambar jika wajah itu mengandung kesedihan.
“Konnichiwa. Lumayan, hehe… Daijobu desu.” Aku memasang wajah seceria mungkin agar gadis ini ikut ceria sepertiku.
Dia tersenyum lagi. Lalu matanya memandangi patung Hello Kitty. Raut wajahnya berubah. Senyum yang tadi sempat ada di bibirnya, perlahan telah terhapus. Kini bibirnya beku dan dingin, seperti salju yang terhampar di sekelililng kami saat ini.

Hampir sepuluh menit dia hanya terdiam murung. Aku bingung harus bagaimana. Dengan nekat kusentuh bahunya. Dia menoleh dan menatapku.
“Eh, aku boleh tahu namamu? Aku Satoshi.”
“Yuki.”
Aku terbelalak kaget. Yuki? Nama itu… Ah, kenapa harus nama itu lagi!
“Pasti kamu sangat menyukai salju!” tebakku.
“Emm, iya!”
Aku tersenyum. “Yuki… artinya salju. Dan dugaanku benar, kalau kau menyukai salju.”
Dia tersenyum. Dan kali ini terlihat lebih manis karena matanya menyipit.
“Yuki, aku boleh bertanya sesuatu?”
“Kau pasti ingin bertanya kenapa kemarin aku menangis?”
Aku tertawa. “Iya, benar sekali! Hehehe!”
“Besok kembalilah lagi ke sini, akan kujelaskan. Jika kau bersedia,”
“Tentu saja!”
“Aku pulang dulu, ya!” Pamit Yuki sambil menyerahkan saputangan berwarna coklat yang kemarin kupinjamkan.
Belum sempat mengatakan sampai jumpa padanya, dia sudah berlari dengan cepat dan menghilang di antara ribuan orang yang menjejali area Taman Odori. Aku menarik napas pelan dan mengembuskannya di kedua telapak tanganku.

Hari ini Yuki telah tiba terlebih dahulu. Kukejutkan gadis itu dengan menepuk pundaknya pelan.
“Eh, Satoshi!” katanya terkejut.
“Konnichiwa, Yuki!” sapaku lembut dan semangat.
“Konnichiwa!” balas Yuki dengan senyumnya yang kusukai. Senyum itulah yang selalu terbayang di benakku dari hari kemarin.
Yuki… entah kenapa sejak bertemu dengannya, aku merasakan sesuatu di hatiku. Aku tahu aku menyukai gadis dengan rambut panjang hitam dan gelombang ini, tapi kenapa bisa?
“Satoshi! Kenapa kau diam? Memikirkan sesuatu, ya?”
“Eh, iya. Memikirkan kau, Yuki!”
Dia hanya tertawa menanggapi kata-kataku.

Saat ini kami berjalan menyusuri Taman Odori yang sangat ramai. Bukan hanya orang Sapporo yang berada di sini, bukan pula orang-orang Hokkaido saja. Tapi ada juga pengunjung dari luar negeri. Festival musim dingin terbesar di Jepang ini akan berlangsung selama tujuh hari di Bulan Februari. Ini hari ke tiga, dan masih ada empat hari lagi. Semoga saja empat hari ke depan, aku masih bisa selalu bertemu dengan gadis yang sedang berjalan di sampingku ini.
“Satoshi, kau tidak bersama kekasihmu?” Tiba-tiba Yuki bertanya sejak keterdiamannya sedari kami meninggalkan patung Hello Kitty tadi.
“Iie! Aku dan dia sudah putus sejak awal aki kemarin.”
“Gomen nasai!” ujar Yuki menyesal.
“Daijobu desu. Aku sudah melupakannya sejak bertemu denganmu.”
Aduh! Aku kelepasan bicara. Bagaimana ini kalau Yuki tidak menyukai kata-kataku.
“Kau mau karaage, Satoshi? Atau mau takoyaki?“ Yuki menawarkan makanan khas daerah-daerah Hokkaido, yang di jual di kios dan tenda di depan kami saat ini.
Sepertinya Yuki sengaja mengalihkan arah pembicaraan yang tidak sengaja kuucapkan tadi. “Takoyaki saja, Yuki!” kataku pada Yuki.

Kami menikmati takoyaki dari wadah kertas sambil duduk bersantai di kursi taman. Sambil mengunyah, kuamati Yuki dari dekat. Cantik dan lembut! Namun aku merasa ada hal yang teramat menyiksa batinnya. Seandainya aku tahu dan bisa membantunya, pasti akan kulakukan. Apapun itu!
“Yuki, kau berjanji padaku untuk bercerita hari ini!” tagihku dengan mengedipkan mata jenaka.
“Eh, itu… iya. Aku habiskan takoyaki ini dulu, ya!” jawabnya tersenyum dan aku menganggukkan kepala.
Tiba-tiba angin kencang sekali dan salju turun cukup banyak. Udara seketika berubah menjadi semakin dingin. Kulihat wajah Yuki sangat ketakutan. Kedua telapak tangannya dikepalkan erat dan didekatkan rapat pada mantel birunya. Topi mantelnya yang biasanya tidak dikenakan, sekarang dengan cepat ditutupkan pada kepalanya. Dia terlihat menggigit bibir bawahnya. Benar-benar seperti orang ketakutan.

Salju semakin banyak. Seolah beterbangan dan menempel di mana-mana, termasuk di mantelku dan mantel Yuki. Dingin memang, namun aku termasuk salah satu orang yang menyukai adanya salju. Jadi aku dan Yuki tetap duduk di kursi taman ini. Tapi ada juga beberapa orang yang kulihat menghindari salju. Mereka masuk ke dalam tenda dan kios yang menawarkan aneka macam kuliner khas Jepang.
“Satoshi, kita ke tenda saja!” pinta Yuki dengan suara bergetar.
“Kenapa, Yuki? Bukannya kau menyukai salju?” tanyaku heran.
“Aku…” Bukannya menyelesaikan kata-katanya, Yuki malah menangis.
Kekhawatiran menyergapku. Lalu kubawa tubuh Yuki ke dalam pelukanku untuk menenangkannya. Tak kuhiraukan berpuluh-puluh pasang mata menatap kami. Bagiku hanya Yuki yang penting saat ini.

Hari ke empat, ke lima, ke enam dan sampai hari terakhir Festival Salju Sapporo, aku tak pernah lagi bertemu Yuki. Sungguh aku mengkhawatirkan gadis itu. Aku selalu menunggunya di depan patung salju Hello Kitty. Aku juga mengelilingi Taman Odori ini. Tapi aku tak menemukannya.

Penutupan festival ini sebenarnya sangat meriah meski dinginnya salju tak pernah lepas menyerang kulit. Namun aku merasakan kehampaan sekaligus kerinduan pada Yuki, gadis yang telah membuatku merasakan kembali sebuah perasaan yang menyegarkan hati. Sambil memandangi patung es Hello Kitty yang besar dan lucu di hadapanku, kembali kuingat cerita Yuki kenapa dia menangis ketika melihat patung es ini.

“Hari itu… aku bersama adikku, Hanako. Kami hendak menyaksikan Festival Salju Sapporo. Hanako sangat menyukai patung es berbentuk Hello Kitty. Itu sebabnya Hanako memaksakan diri untuk pergi ke Taman Odori hari itu, meski kondisinya sangat lemah oleh penyakit asmanya. Adikku sudah menderita asma sejak usia sebelas tahun, Satoshi. Aku sangat menyayanginya. Aku tak mau kehilangan dia, sama seperti aku kehilangan kedua orangtuaku. Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Hanako. Tapi takdir berkata lain, belum sempat melihat patung itu, Hanako di tabrak seseorang dan ia terjatuh. Di tambah lagi cuaca saat itu benar-benar bersalju dan amat dingin. Napas Hanako tersengal-sengal sambil memanggil namaku berulang kali. Aku mencari alat untuk membantu pernapasannya. Ternyata alat itu tertinggal di rumah. Beberapa menit kemudian napas Hanako sudah tidak ada lagi. Dan hari itu aku pun harus kehilangan adikku. Hiks…”

Hatiku miris saat mendengar cerita yang dituturkan Yuki dengan berurai air mata. Wajar saja dia begitu. Siapa yang tidak bersedih saat kehilangan seseorang yang amat disayangi. Apalagi Yuki sudah tidak memiliki siapa-siapa. Gadis yang telah menarik hatiku itu telah benar-benar sendirian kini. Seandainya aku bisa, ingin sekali setiap saat aku menemani dirinya. Akan tetapi, aku tak tahu harus mencari dia ke mana. Aku tak pernah bertanya di mana tempat tinggalnya selama tiga kali pertemuan kami di taman ini.

“Jika Yuki ditakdirkan untuk menjadi jodohku, aku percaya kami akan kembali bertemu…” Aku bergumam dan berharap di dalam hati.

Kutinggalkan Taman Odori ketika jarum pendek di jam tanganku menunjukkan angka delapan. Sengaja aku pulang saat langit sudah menjadi gelap seperti ini. Aku masih ingin menunggu Yuki, meski ku tahu dia tidak ada di sini. Hari ini sudah lebih dari sepuluh kali aku bolak-balik ke tempat patung es Hello Kitty. Aku sangat berharap Yuki ada di sana menungguku di hari terakhir festival. Tapi sepertinya penantianku ini hanya berakhir sia-sia.

Dengan langkah gontai, kutinggalkan salju-salju di Taman Odori. Saat langkah kakiku keluar dari area taman, kudengar sebuah suara memanggilku. Hatiku berdesir dan aku tak berani menoleh ke belakang. Aku pun tetap melangkah tanpa berniat untuk berhenti. Ya, itu karena aku takut ini hanyalah ilusiku saja. Namun, suara itu masih ada, masih meneriakkan namaku dengan sangat jelas dan indah. Seperti sebuah kidung yang menenangkan.
“Satoshi! Satoshi…!”
Kuhentikan langkah. Berdiri terpaku di atas salju yang sudah membeku. Dengan perlahan aku menoleh ke belakang, ingin membuktikan sebuah harapan yang tengah bermain di pikiranku. Dia… dengan rambut gelombangnya yang basah dan dihiasi putihnya salju yang menempel, berlarian menuju ke arahku.
“Satoshi…” Dia kembali menyebut namaku dengan lirih sembari menatap lekat pada mataku.
“Yu… Yuki, kau?” ucapku dengan suara bergetar. Ingin rasanya aku berteriak. Aku terlalu bahagia karena bisa bertemu kembali dengan gadis ini.

Yuki tersenyum manis sekali. Aku memandangi wajahnya. Matanya memancarkan sebuah kerinduan untukku.
“Gomen nasai, Satoshi! Tiga hari kemarin aku sengaja menghilang dan tak mau bertemu denganmu. Itu karena aku ingin melupakan perasaanku. Tapi ternyata aku tak bisa melupakan pertemuan kita begitu saja. Aku tak mampu menghapus bayang-bayang dirimu.”
Kata-kata yang diucapkan Yuki seakan menjadi melodi terindah, juga sebagai jawaban atas keresahanku akhir-akhir ini. Segera kubawa tubuh Yuki ke dalam pelukanku.
“Yuki, kau tak perlu melupakanku. Jangan kau lupakan aku! Kokyuu shinai made, tetap jangan kaulupakan aku! Daisuki dayo, Yuki!”
“Benarkah itu, Satoshi?” Yuki melepaskan pelukanku dan menatapku dengan tatapan tak percaya.
Aku mengangguk dan tersenyum. “Kau tak akan sendirian lagi, Yuki. Aku akan menemanimu selalu.”
Dengan segera Yuki memelukku erat. “Ima made arigatou, Satoshi!”

Salju-salju yang telah membeku di sekitar Taman Odori menjadi saksi kisah kami berdua. Kisah kasih yang baru saja akan di mulai. Dan kali ini aku merasakan bahwa gadis yang memelukku saat ini adalah sebuah takdir terindah untukku. Semoga saja!

Index :
1. Taman Odori, Sapporo, Hokkaido : Sebuah taman yang berada di Sapporo, Hokkaido. Tempat berlangsungnya pameran ukiran es dan salju berukuran sangat besar.
2. Fuyu : Musim dingin.
3. Festival Salju Sapporo : Festival salju terbesar di Jepang yang diadakan di kota Sapporo, Hokkaido. Berlangsung selama seminggu pada awal Februari.
4. Gomen nasai : Maafkan aku.
5. Arigatou gozaimasu : Terima kasih.
6. Konichiwa : Selamat siang.
7. Daijobu desu : Tidak apa-apa.
8. Iie : Tidak.
9. Aki : Musim gugur.
10. Karaage : Jenis makanan gorengan yang di goreng dalam minyak panas.
11. Takoyaki : Makanan berbentuk bola-bola kecil dari adonan tepung terigu dengan potongan gurita di dalamnya.
12. Kokyuu shinai made : Hingga napas telah berhenti.
13. Daisuki dayo : Aku benar-benar menyukaimu.
14. Ima made arigatou : Terima kasih untuk segalanya

Cerpen Karangan: Murni Oktarina
Blog: murnioktarina.blogspot.com
Facebook: Murni Du Di Dam
Murni Oktarina, gadis yang dilahirkan 22 tahun silam, tepatnya di Palembang tanggal 27 Oktober 1990 adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Penyuka warna pink ini tengah menyelesaikan kuliahnya di Universitas Sriwijaya Inderalaya. Penulis bisa dihubungi di email-nya murnioktarina@ymail.com, di blog pribadinya murnioktarina@ymail.com dan di akun facebook-nya http://www.facebook.com/murni.dudidam.7. Salam kenal 🙂

Cerpen Kokyuu Shinai Made merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Golden Swan

Oleh:
Suara teriakan gadis ini terdengar nyaring beradu dengan petir menyambar memecah hujan. “aarghh! baju seragamku jadi kotor! dasar pengendara mobil tidak tau sopan santun” jeritnya dengan nada penuh kemarahan

Air Mata Penyesalan

Oleh:
Nama gw Riko, gw kuliah disalah satu universitas di batam.. And gw pnya cwe Namanx Debby. Selama ini gw sll sempatin waktu ketemu Debby meskipun cuma bentar aja. Kami

Terbungkus Bisu

Oleh:
Dear diary!! 30-05-2013 Hari ini adalah hari yang ga akan bisa aku lupain, buat pertama kalinya aku lihat Rangga nangis, buat pertama kalinya aku ngomong kasar sama Rangga, dan

Memori Masa Lalu

Oleh:
Aku berjalan gontai dengan tatapan kosong menyusuri sebuah pusat perbelanjaan dan tiba-tiba dari arah yang tidak kusangka-sangka, “bruggghhhhhhh” seorang laki-laki menabrakku dari arah arah yang berlawanan, sepertinya ia terburu-buru,

Love After Move On

Oleh:
Mike. Adalah nama yang pernah menjadi bagian hidupku. Dia adalah orang yang pernah mengisi hari-hariku dengan cintanya. Tapi cinta tidak selamanya indah. Saat lulus SMA, aku dan Mike memilih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kokyuu Shinai Made”

  1. oan wutun says:

    saya suka cerpen ini.. salam kenal..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *