Let’s Go Home My Lady

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perjuangan, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 10 September 2018

Aku memandangi langit kelabu yang sedang mencurahkan kepingan-kepingan es yang berkilauan. Suasana yang tenang dan dingin membuatku merasa nyaman. Ditambah secangkir teh melati panas, rasanya seolah-olah jiwaku sedang ditenangkan oleh alam.

Aku mendengar pintu kamarku diketuk.

“Masuk saja,” ujarku pelan.
“Selamat malam, Nona,” seorang pelayan membungkuk dengan penuh hormat kepadaku.
Aku tidak mengacuhkannya. “Ada apa?”
“Kami berhasil menangkap penyusup yang selama ini mengacaukan perpustakaan pribadi anda.”

Ah, ya. Sudah seminggu ini perpustakaan pribadi yang terletak tidak jauh dari tempat tinggalku selalu berantakan bak diserang oleh angin topan. Awalnya aku tidak begitu terganggu, namun karena sudah terjadi 5 hari berturut-turut, aku tidak dapat membiarkannya lagi. Karena itulah aku menyuruh para pelayanku untuk menangkap pengacau itu.

“Bawa dia ke hadapanku,” perintahku dingin.

Pelayan membungkuk dan berjalan keluar. Dia kembali dengan seorang pemuda yang kelihatannya sedikit lebih tua dariku. Rambutnya abu-abu, kulitnya pucat, dan matanya sekelam langit malam.

“Siapa namamu?”
“Xavier.”
“Mengapa kau mengacaukan perpustakaanku?”
“Aku dengar ada harta yang tersembunyi di perpustakaan itu. Penduduk di desaku kelaparan akibat musim dingin yang tidak berakhir ini.”

Aku merasa agak tersentuh akan ceritanya. Aku adalah anak tunggal di keluarga Ravenmoore, bangsawan yang menguasai seluruh bisnis pertambangan dan batu Mulia di Eropa, yang berarti aku tidak akan pernah kekurangan apapun. Ditambah dengan kematian kedua orang tuaku seminggu yang lalu, aku menjadi pemimpin keluarga Ravenmoore dan bertugas untuk mengatur semua bisnis keluargaku. Percayalah, usiaku baru menginjak 14 tahun. Tapi aku sudah terlatih untuk mengerjakan semua ini, jadi tidak masalah bagiku.

Aku berpikir sejenak, dan mendapatkan sebuah ide yang cukup bagus.

“Katakan padaku, apa keahlianmu?”
“Aku membantu keluargaku berdagang, aku juga pandai berburu dan memanah. Aku pernah masuk militer namun keluar 3 tahun yang lalu,” tuturnya lirih.
“Berapa usiamu tahun ini?”
“16 tahun, Nona.”
“Bagus,” aku beralih kepada Darren, pelayan pribadiku. “Berilah desanya pasokan makanan yang cukup hingga setahun ke depan.”
Darren segera membungkuk hormat. “Tentu, Nona.” Dia langsung berjalan keluar dari kamarku.
“Terima kasih, Nona… terima kasih…!” Xavier yang sudah berlutut kini semakin merapat dengan lantai.
Aku menyunggingkan senyum tipis. “Tentu saja, itu tidak gratis.”
“Aku akan melakukan apapun untuk membayarnya, Nona!”

Bagus, segalanya berjalan sesuai dengan rencanaku. “Kau akan bekerja padaku sebagai asistenku sekaligus pelayanku hingga satu tahun ke depan. Jika kau ingin aku tetap memberi desamu pasokan bahan pangan, kau harus bekerja padaku seumur hidupmu,” tuturku dengan datar.
“Akan kulakukan, Nona!” Katanya dengan penuh semangat.

Sejak hari itu, dia resmi menjadi asistenku. Rupanya, dia memiliki pengetahuan yang luas tentang bisnis. Berkatnya, industri pertambangan keluargaku semakin meluas dan industri bahan panganku semakin dikenal oleh masyarakat.

Dan tanpa kusadari, semakin lama, aku semakin menyukainya. Kini usiaku telah menginjak 18 tahun sedangkan Xavier berusia 20 tahun. Xavier telah menjadi penasehat sekaligus tempatku mencurahkan segala isi hatiku. Sayangnya, tanpa kusadari juga, perang dunia semakin dekat. Xavier sudah merasakan bahwa konflik antara Sekutu dan Jerman semakin memuncak. Dia menyarankan agar aku segera mengungsi ke tempat yang lebih aman. Aku menurutinya dan langsung mengemasi barang-barangku. Xavier mengatakan ada pulau terpencil yang tersembunyi tidak jauh dari Eropa. Kami segera pergi ke sana, seluruh pelayan dan penjaga di mansionku aku ajak untuk mengungsi. Suasana saat ini benar-benar kacau, namun karena kami berada di pulau yang cukup tersembunyi, kami merasa aman. Setidaknya untuk sementara.

Pemerintah di Eropa mewajibkan seluruh pria untuk berperang, dan rupanya Xavier beserta seluruh pria yang ada di mansionku tertangkap basah telah melarikan diri.

Saat itu adalah Kali pertama aku berpisah dengan Xavier.
“Tenang saja Nona, aku akan segera kembali pada Nona,” ujarnya padaku.
Aku masih terus menangis. “Tidak… jangan pergi… itu berbahaya…”
Xavier memelukku. Aku dapat merasakan ketakutannya lewat tubuhnya yang gemetar hebat. “Tak apa. Aku akan kembali hidup-hidup. Aku ini seorang pemanah yang hebat. Aku pasti dapat kembali sesegera mungkin.”

Bukan hanya Xavier, Darren pun harus ikut pergi berperang. Hari itu, aku dan pelayan-pelayan perempuanku, mengalami hal yang amat berat. Karena ketiadaan tenaga laki-laki, kami cukup kesulitan.

2 tahun berlalu, dan perang masih berlanjut. Nasibku dan pelayan-pelayanku di pulau ini tidak begitu baik. Setengah pelayanku tewas akibat penyakit cacar, hanyut di laut saat berlayar, dan sebagainya. Dengan sisa-sisa tenaga yang kami punya, kami membuat sebuah perahu yang cukup besar dan berlayar menuju benua Asia, tempat yang kabarnya cukup aman dan tempat di mana Xavier ditugaskan.

“Nona…” seorang pelayanku yang telah mengasuh diriku sejak bayi memegangi pundakku. “Nona… saya sudah tidak kuat lagi…”
Dengan panik aku menggenggam tangannya. “Tolong bertahanlah! Sedikit lagi, Xavier akan menyelamatkan kita… kumohon bertahanlah…” untuk ketiga kalinya dalam hidupku, aku menangis.

Mrs. Demigore telah terinfeksi virus aneh yang membuatnya semakin lemah setiap hari. Virus itu menggerogoti tubuhnya dan membuatnya semakin menderita setiap detiknya. Dan kini, dia sudah tidak sanggup menanggung semuanya.

“Nona… saya yakin… tuan Xavier pasti akan menyelamatkan anda. Saya harap… Nona dapat selamat… maaf saya… tidak dapat bertahan… lebih lama lagi…” Mrs. Demigore berusaha bernafas walau itu membuat tubuhnya semakin sakit.
Aku memeluknya dengan erat. “Sudah… hentikan… jangan menyiksa dirimu sendiri… kau sudah berjuang hingga akhir… kau bisa pergi dengan tenang tanpa rasa sakit…” bisikku di telinganya dengan perasaan sedih dan sakit.

Mrs. Demigore, pelayan terakhir yang berhasil mencapai benua Asia bersamaku, kini telah tewas. Dia tewas dengan bibir yang menyunggingkan senyum lembut. Ya, segala penderitaannya kini telah lenyap.

Aku berusaha menguburkannya dengan layak, lengkap dengan sebuah batu besar yang kutaruh di atasnya.

Setelah itu, dengan letih aku berjalan melewati hutan, dan akhirnya berhasil mencapai sebuah desa. Aku mulai kehilangan kesadaranku akibat kelaparan dan kelelahan, serta keputusasaan.

Aku terjatuh ke tanah dengan keras. “Tolong…” gumamku lirih.

Aku mendengar derap langkah kaki yang begitu banyak sehingga aku bisa menyimpulkan bahwa aku sedang dikerubungi banyak orang. Aku bisa mendengar mereka berbisik-bisik dengan bahasa yang tidak kuketahui.

“Xa…vi…er…” aku berusaha mengucapkan nama itu, berharap seseorang mengenalnya dan memanggilnya.

Aku merasakan sebuah tangan yang membelai wajahku. Kupaksakan diriku untuk mendongak, dan saat itulah mataku bertemu dengan sepasang mata yang sehitam langit malam.

Aku tersenyum bahagia sekaligus menangis. “Aku… menemukanmu…”
Xavier mengangkat tubuhku dan menggendongku. “Ya, Nona. Kau memang luar biasa.”
“Aku… menemukanmu…” bisikku lagi.

Xavier menunduk untuk menatapku dengan mata kelamnya yang amat kurindukan. Bibirnya yang tipis tersenyum dengan perasaan yang mendalam.

Air mataku mengalir semakin deras saat dia membisikkan 4 kata yang sangat kunanti darinya, “Ayo kita pulang, Nona.”
“Ya, ayo kita pulang, tempat kita tidak akan pernah berpisah lagi,” balasku sebelum duniaku berubah menjadi lautan kegelapan.

Cerpen Karangan: Charissa. E
Blog / Facebook: Choco Caramella
Halo semuanya. Terima kasih bagi yang sudah membaca cerita ini.
Sebenarnya cerpen saya yang sudah lulus moderasi ada 3, salah satunya terbagi jadi 2 part (jd diitung 4 gitu).
Chacha maupun Charissa.E adalah orang yang sama, jadi kalau ada kemiripan gaya bahasa mohon dimaklumi.

Cerpen Let’s Go Home My Lady merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


1800 Detik (OneShoot)

Oleh:
“Perpisahan kita dihiasi lagu ini, masih ingat kan? Dan akhirnya lagu ini juga yang menjadi lagu pertemuan kita..” – Rafli Hari ke tiga ratus enam puluh lima. Tepat satu

The Black Basketball

Oleh:
Jakarta, 16 februari 2000. Hari itu cuaca sedang tidak bersahabat, langit ditutupi awan gelap dan bunyi petir pun saling bersahutan seperti pertanda bahwa akan terjadinya hujan deras. Benar saja,

Relationship Make Stupid

Oleh:
Pacaran. Kadang menyakitkan, kadang bikin melayang. Aku sudah setengah tahun pacaran sama si Mawar. Aku kenal dia karena aku satu sekolah sama dia. Tapi, beda kelas. Dia IPA dan

1000 Bangau Kertas

Oleh:
“Juki, kau tahu apa itu Senbazuru?” tanyaku pada Yuki. Saat kami berjalan menuju halte. Pohon-pohon mahoni dan munggur tumbuh rindang dan meneduhkan di sisi kanan kiri jalan kecil itu.

Gadis Merah Jambu

Oleh:
Sore ini langit serasa ganas, gumpalan gas hitam bergumul menjadi satu di atas dirgantara. Cahaya metrowhite saling sambar menyambar. Memberi kesan mengerikan. Mendungnya gelap sekali, seperti ingin menjadi kawan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *