Lolipop

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 14 May 2013

“Mel, wake up!” suara gaduh Bang Tora sambil mengetuk-ketuk pintu kamarku. Dengan malas ia membuka pintu kamarnya setengah tak sadar. Dan aku kembali menjatuhkan diri ke tempat tidur pink yang berantakan. Lama Bang Tora tak bersuara, aku membuka sebelah mataku. Dia masih asyik memandangiku, menungguku sadar secara penuh. Aku duduk bersandar di tempat tidur sambil memeluk boneka panda berwarna putih kesayanganku.
“Jalan yuk?” ajak Bang Tora dari pintu kamarku. “Let’s go!” teriak Bang Tora setelah lama aku terdiam. Sepertinya aku belum tersadar secara penuh. Aku baru tertidur dua jam setelah begadang semalaman, pikirku dalam hati. Dengan terpaksa aku mengangguk, karena aku sudah berjanji menemani Bang Tora jalan-jalan selama dia berlibur di Semarang.
Segera aku hapus sisa kepedihan dimataku. Saatnya kebahagiaan itu datang, pikirku. Aku menyusul Bang Tora di teras rumah, karena dia memintaku cepat-cepat. Seperti komandan memerintah prajuritnya. Dan akibatnya ponselku tertinggal di kamar.

Sepanjang perjalanan Bang Tora tidak mau menyebutkan tujuan perjalanan kami. Aku hanya bisa manyun memandangi deretan rumah yang kami lewati. Jangan berharap akan ada pemandangan indah sepanjang perjalanan singkat ini. Seperti hamparan sawah yang menguning atau deretan pohon berjajar di sepanjang jalan. Karena hanya ada deretan rumah susun dan kumuh yang terlihat, sejauh mata memandang.
Aku sama sekali tak bisa menebak, ke tempat mana kami akan pergi atau ke tempat seperti apa. Jalanan ini asing bagiku. Walaupun aku sudah 17 tahun tinggal di kota ini, aku tak pernah sekalipun melewati daerah ini. Sepertinya aku harus sering melihat dunia luar, gumamku.
“Sampai…!” teriak Bang Tora mengingatkanku. Kupandangi sekelilingku, tanah lapang. Dan di sudut sana, aku tertegun. Aku tak menyangka Bang Tora mengajakku ke sini. Pasar Malam. Aku mengingat-ingat kapan terakhir kali aku ke Pasar Malam. Sepertinya sudah lama sekali, waktu aku baru berumur 7 tahun.

Saat itu pulang dari Pasar Malam aku nangis sekencang-kencangnya karena tak dibelikan lolipop kesukaanku. Dan sejak itu aku tak pernah mau jika di ajak ke Pasar Malam lagi. Karena pikirku aku tak dibolehkan membeli lolipop lagi. Aku tersenyum mengingat kenangan itu.

Tapi sekarang aku malah ada disini bersama… Bang Tora. Eh, ngomong-ngomong di mana Bang Tora ya? Keasyikan melamun jadi begini nih. Bang Tora tiba-tiba menghilang di antara kerumunan orang di Pasar Malam. Dia yang mengajakku ke sini dan dia tak terlihat batang hidungnya.
Dari pada aku bingung mencari abangku itu, lebih baik aku berkeliling melihat-lihat stan yang ada di sini. Deretan stan baju berbagai jenis ada di sini. Tapi aku sedang tidak ingin berbelanja. Mataku melihat sesuatu yang menarik, sesuatu yang aku rindukan. Lolipop. Sebuah stan menjual berbagai macam bentuk lolipop yang lucu-lucu. Lolipop, I like it.
“Masih suka lollipop neng?” aku menoleh pada lelaki yang berada disampingku ketika aku sedang asyik dengan lolipop-lolipopku. Aku amati dia dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sepertinya wajahnya tak asing, siapa ya? Tanyaku dalam hati sambil mengingat-ingat.
“Aku Alan, masih ingat?” tanyanya setelah melihatku kebingungan. Dan aku melonjak kegirangan. Aku ingat sekarang.

Dengan mengenggam dua lolipop aku duduk di rumah pohon, di samping rumahku. Biasanya jam segini dia sudah ada di depan rumahku dan berlari menuju rumah pohon sambil tersenyum. Setelah itu aku akan turun menyambutnya dan memberinya satu lolipopku. Tapi beberapa hari ini dia tak terlihat. Dia tak lagi menemuiku di rumah pohon.
Hari mulai senja, aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. “kenapa cemberut gitu dek? Dia nggak datang lagi?” tanya Bang Tora melihatku masuk ke rumah dengan wajah cemberut. Aku hanya mengangguk dengan lemas.
Setelah itu aku tak pernah melihatnya lagi. Tak juga mendengar kabarnya, yang aku tahu dia telah pergi. Entah di belahan dunia mana ia berada. Aku merindukannya.

Masa kecil itu seperti berputar kembali didepanku. Sepertinya baru kemarin, pangeran kecilku ini berbagi lolipop denganku. Dia yang setia mendengarkan celotehanku yang tak jelas. Lelaki kecil yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Bermain bersama, berlari bersama, tertawa bersama, dan makan lolipop bersama di rumah pohon.
“Hai..” ujarnya menyadarkanku dari lamunan.
“Hai, apa kabar?” tanyaku basa-basi.
“Baik, kamu? Masih suka lolipop?” tanyanya melihat tanganku penuh dengan lolipop.
“I’m Ok. Ini lolipop kenangan.” Kataku sambil memberinya satu lolipop.
“Lolipop kenangan kita.” Lanjutnya. Kita tertawa mengenang masa-masa kecil yang indah itu. Aku tak menyangka, lelaki didepanku adalah anak kecil yang berbagi lolipop denganku. Masih dengan senyum manisnya.
“Hai Lan, sudah puas ketemu Melodi?” Bang Tora baru muncul di belakangku. Aku sampai lupa kalau tadi aku datang bersamanya.
“Belum Bang, tapi thanks ya buat kesempatannya jalan bareng Melodi.”
“Kesempatan?” potongku.
“Sorry Mel, dia yang minta Abang bawa kamu kesini.” Kata Bang Tora menjelaskan. Ternyata Alan merencanakan ini semua?

“Apa cinta monyet itu bisa menjadi cinta yang sesungguhnya?” tanyanya ragu. Apakah Alan sedang menyatakan cintanya padaku? Seperti mengulang masa kecil itu. Saat itu dia katakan, “aku suka kamu Mel.” Ujar Alan kecil sambil memberikan bunga lili kecil kesukaanku di rumah pohon di samping rumahku. Dan dia melakukannya lagi di tempat yang sama. Di saat kita sama-sama dewasa. It’s crazy, kataku dalam hati.
“Aku serius Mel, aku menyayangimu. Aku tak mau kehilangan kamu lagi Melodi.” Terpancar ketulusan dari matanya. Dan tak ada kata yang mampu ku ucap. Aku hanya dapat menitihkan air mata dan memeluknya erat.

Cerpen Karangan: Tyas HC
Blog: http://negeri-angin.blogspot.com/

Cerpen Lolipop merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangi Setelah Hujan

Oleh:
Namaku Fadara Anastasha. Semua orang sering memanggilku Dara. Aku ditakdirkan menjadi wanita yang memiliki kekurangan. Aku Lumpuh sejak lahir dan tidak akan bisa berjalan selamanya. Entah kenapa aku sangat

Visionary

Oleh:
Seolah terpatri di area abiosfer. Terduduk, termangu bak sebuah manekin uzur yang lama tak terjamah. Aku tidak mendengar, aku mengabaikan bisingan-bisingan yang memekakan itu menyinggung gendang telingaku, mengabaikan teriakan

Lembayung Senja (Part 2)

Oleh:
“Nah udah gitu aja. Ngerti, kan?” katanya sambil meregangkan badan. Aku mengangguk sambil merapikan kembali partitur. Lalu menatap Khalil sambil bertopang dagu. “Doain ya, Lil, semoga besok lancar dan

Bukan Sekedar Sebuah Titipan

Oleh:
Apa hari sudah pagi? Aku mengusap wajahku sejenak dan melihat cahaya fajar mengintip dari balik sela-sela tirai jendela kamarku. Benar, sudah pagi ternyata. Tapi siapa peduli? toh ini hari

Arif Part 1

Oleh:
Aku teringat pertemuan kita pertama kali. Hal yang tidak disengaja hari itu. Seorang temanku meminta untuk ditemani mengambil tugasnya yang sedang di foto copi. Malam malam, habis hujan pula.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *