Love in Shoes (Cinta di dalam Sepatu)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 9 April 2015

Gerimis hujan terlihat dari luar rumahku, Semakin lama air itu semakin banyak mengeroyoki bumi, seharusnya ini menjadi hari minggu yang menyenangkan, Namun sepertinya ini akan menjadi hari libur yang membosankan. Huh Sial!.
“never say never… yeah..”
Ponselku tiba-tiba berbunyi, langsung saja kuahlihkan pandangan dari kaca dan mencoba mengambil handphone di depanku. Terlihat sebuah pesan masuk

Echa: ya.. Sekarang hujan, jadi berangkat gak?
Me: hm… Tanya tante aja deh,
Echa: kata tante sih tunggu ujan reda,
Me: Mau tunggu sampai jam berapa mak?
Echa: Ya, kalau lewat jam sepuluh masih hujan kita batalin aja deh..
Me: ya udah, Mudah-mudahan aja ujannya berenti..
Echa: ye, Do’a ku menyertaimu

1 jam, 2 jam, 3 jam ku menunggu hujan reda, kulihat jam sudah menunjukan pukul sebelas, kulihat juga hujan malah semakin deras mengguyur, Sepertinya hari ini aku ditakdirkan untuk tinggal di rumah. putus sudah harapanku. Damn!.
“Membosankan” ucapku sambil melangkah menuju kasur

Keesokan harinya
“kring!!! kring!!! ”
Suara alarm di kamarku berbunyi, yah itu tandanya ini sudah pagi…
“What, Pagi!!? Ya! sial aku ketiduran.. ah, ini semua gara-gara hujan!” ucapku setengah sadar

Kulihat jam baru menunjukan pukul setengah enam pagi. Aku masih bisa santai sedikit karena di luar sepertinya hujan tak muncul walaupun badan bau karena dari kemarin belum mandi. Seperti biasa aku mulai merapikan tempat tidurku mandi, shalat lalu makan.

“Tik.. tik… tik…”
Perasaanku tak enak, apakah diluar hujan lagi? atau itu cuman suara lagu tik tik tik, pikiranku mulai ngawur, akhirnya kulihat dari jendela. ternyata benar…

Itu hanyalah suara lagu “tik tik tik bunyi hujan”, suara itu sepertinya berasal dari tetanggaku.
“huh, syukurlah” ucapku bernapas lega

“bu.. aku berangkat, Assalamu’alaikum..”
Untungnya jarak dari rumah kesekolah SMP cukup dekat, jadi aku bisa berangkat jam setengah tujuh ada hari senin ini.
“Sial! ku lupa membersihkan sepatu!! AAAahhhh!! Hujan!! aku benci hujan!!” gerutu kesalku dalam hati

“Duk!”
Tiba-tiba kakiku tesandung batu, mungkin ini karena aku terlau memikirkan sepatu, arghhh. Benar-benar sial. Akankah hariku lebih sial lagi?.

Tak terasa akhirnya aku sampai juga di sekolah ku, dan tentu saja aku langsung masuk ke dalam kelasku yaitu kelas VIII B.
“Assalamu’alaikum, hai semuanya, selamat pagi, apa kabar?” Ucapku singkat ketika masuk ke dalam kelas
“Wa’alaikumsalam”
“Eh yaya, maaf ya kemarin gak jadi” ucap echa salah satu teman baikku
“Iya gak papa kok” jawabku ramah
Aku dan echa melanjutkan mengobrol atau mungkin bergosip ria bersama teman-teman yang lain.

“eh, tau gak orang yang ganteng itu?”
“oh ya?”
“bnerannn”
“Ciusss?”
“Yup..”
“…”
“biasa aja keles”
“hahahaha, bener itu, catet”
“beneran!?”
“Apa???”
“gak mungkin…”
“…”

KRING!!!
Setengah jam setelah aku mengobrol akhirnya datang juga waktu yang sangat tidak ditunggu yaitu “Waktunya Upacara”. huh. suara bel itu benar-bener penghancur suasana.
“aku dulan ya, ya…”
“iya… duluan aja”
“Dimana ya?, tadi seingatku disini, lalu sekrang kemana?” Ucapku dalam hati
“Hei! lagi nyari apa ya?” ucap echa sambil menepak pundakku
“ini, ini, Sepatu HILANG!!! arrhhggg” jawabku frustasi
“Bukannya itu ya sepatu mu?” Tanya echa sambil menunjuk sepatu kucel di depan kelas VIII A
“Bukan, Sepatu lebih bersih sedikit, dan juga ada namaku di bawah sepatunya” Jawabku panik sambil terus berusaha mencari.

“Perhatian Untuk semuanya siswa-siswi segara menuju lapangan upacara…”
Pengumuman itu membuatku semakin khawatir. Apa yang terjadi? apakah ini karena permohonanku?. hm…
“ya, ku duluan ya, maaf gak bisa bantu nyari lebih lama” Ucap echa sambil pergi meninggalkanku
Rasa kekhawatiranku semakin menjadi jadi, apa yang harus ku lakukan? bukan itu, Apa Salahku?. Hiks.
“apakah ini sepatumu?” Terdengar suara laki-laki di depanku
Sesegera mungkin aku mencoba menutupi kesedihanku dan mulai menatap laki-laki itu.
“Em… iya benar, kenapa kau bisa tau?” Tanyaku sambil terus menatap laki-laki itu
“ya, karena sepatuku tertukar dengan sepatumu, aku baru sadar ketika sudah setengah jalan ke lapangan, Sepatu ini terasa lebih sempit dan begitulah, maaf ya, aku ceroboh, heheheh” Jawab laki-laki berkulit putih itu.
“oh, ya, gak papa kok” Ucapku ramah, tetapi sebenarnya hatiku sangat kesal sekali karena dia telah membuatku khawatir.
“Kalau gitu ayo cepat kita berangkat upacara sebentar lagi akan dimulai” Pinta dia
“hm!” Ucapku mengangguk yakin
‘Siapa Sebenarnya Dia?’ Tanyaku dalam hati.

Setelah Upacara berakhir, seperti biasa semuanya masuk ke dalam kelas masing-masing, Entah kenapa dari tadi aku terus memikirkan orang berkulit putih yang tak sopan mengambil juga memakai sepatuku itu. Aku penasaran siapa namanya?. aku heran kenapa dia bisa sampai salah?. pusing…

Pelajaran pertama, istirahat lalu pelajaran kedua dan ketiga kini telah terlewati dengan perasaan senang dan tak ada kesialan lagi, dan tak terasa juga waktunya aku pulang ke rumah. Ketika aku memakai sepatu, aku merasa di dalam sepatu ada sesuatu yang mengganjal namun ini lebih halus, benda apa ini? apakah ini adalah salah satu kesialanku lagi?. Apa ini?.
‘Sebuah Kertas!’ Teriak batinku
‘Kertas apa ini?’ tanyaku dalam hati
“ya… Ayo cepet, lelet amat, ditinggalin nih,” Teriak salah satu temanku dari kejauhan
“Iya, iya, bentar” Ucapku sambil memakai sepatu dan mengantongi secarik kertas itu lalu berlari mendekat ke arah temanku.

Akhirnya aku pun sampai di rumah.
“Assalamu’alaikum” Ucapku sambil membuka pintu
“Waalaikumsalam…”
Dengan segera, ku langsung masuk ke kamar dan mengunci pintunya.
Dengan rasa penasaran aku mulai membuka secarik kertas itu. Ternyata kertas itu tidaklah kosong ada kata-kata yang tertulis

“Namaku Acap kelas VIII A, no hp: 085720837731, jika kau ingin tau :p”

“Apa ini?” tanya batinku heran
“Apakah laki-laki berkulit putih itu yang mengirimnya?”.

Keesokan harinya di sekolah
“Yaya?” terdengar suara laki-laki memanggilku
“hm.?” jawabku
“em, apa kau menerima suratku?” tanya pelan sedikit berbisik
“yang mana?” tanyaku lagi
“yang ada di dalam sepatumu” Jawabnya malu, terlihat jelas mukanya itu merah karena kulitnya putih,
“oh, jadi itu kamu, bagaimana kau bisa tau namaku?” Tanyaku lagi
“Aku tau dari Zahra” Jawabnya singat
“oh…”
Dia hanya tersenyum kepadaku lalu pergi meninggalkanku
“ternyata benar dia…” ucapku dalam hati.

Hari demi hari ku lewati, Sudah satu bulan orang yang bernama acap itu mengenalku, setiap harinya ada saja surat yang dia kirim ke dalam sepatuku. Tak ada cara lain apa. Namun anehnya aku seperti menyukai caranya itu, setiap pulang sekolah hatiku selalu berbicara “Apa yang acap kirim hari ini?”. Akhirnya lama-kelamaan aku pun menjadi akrab dengannya, dia juga sering menggangguku dan menjahiliku dengan cara menyembunyikan pensil, penggaris sampai sepatuku dan tentu saja aku pernah marah kepadanya namun hanya sebentar karena setelah ku marah acap memberiku coklat sebagai permintaan maafnya tentu saja aku tak mungkin bisa menolak. Namun aku tak menyangka acap bisa sampai segitunya, dan hari ini seperti biasa acap selalu menyelipkan suratnya di sepatuku, kali ini surat itu berisikan:
“Kutunggu kau di taman sekolah besok ketika jam istirahat pertama…”
Deg…
Entah Kenapa hatiku seperti berdegub lebih kencang, apakah yang akan terjadi hari esok?.
“Degg degg deg deg deg deg”

Keesokan Harinya
KRING!!! Bel tanda istirahat pertama pun berbunyi
Dengan perasaan gugup, ku mencoba berjalan menuju bangku dekat taman sekolah, terlihat disana ada seorang laki-laki berkulit putih tanpa bulu menungguku disana, entah apa yang ada di pikirannya, menyuruhku untuk datang kesini. Padahal dirinya bisa datang ke kelasku.
“em, anu, ada apa ya? apa ada hal penting yang ingin kau beritahu?” Tanyaku mengawali pembicaraan
Aku duduk di sebelahnya, dia menatapku tanpa berkedip, ada apa dengannya?
“em, anu, kalau gak ada yang mau dibicarakan lebih baik aku pergi saja” Ucapku sambil mencoba berdiri dari tempat dudukku
“Tunggu dulu! Duduklah sebentar” Pintanya dengan nada sedikit gugup
Akhirnya ku tak jadi pergi. Keheningan terjadi di antara kita berdua selama beberapa detik.
Kulihat acap sedang menarik napasnya dalam-dalam. Entah apa yang sedang ada di pikirannya.
“em, yaya ada sesuatu yang ingin aku katakan ketika pertama kali bertemu kamu”
“e, sebenarnya a, ku, a, ku… su..dah, Jatuh cinta Padamu sejak pertama kali bertemu” Ucap acap melanjutkan kata-katanya. Acap membungkuk di hadapanku
“Jadi, Maukah kau menjadi Pacarku?” ucap acap sambil memegang tangan kananku, Matanya terus menatapku
Deg
Hatiku berdebar semakin kencang dan kencang, rasanya seperti sedang bermimpi..
Dengan perasaan gembira, haru dan berdebar, Aku hanya bisa mengangguk pelan, menandakan aku mengiyakannya keinginannya.
“Yeaa!! Thanks yaya” Acap terlihat gembira sekali
Tanpa sadar, ternyata dari tadi teman-temanku memperhatikanku dari belakang. tentu saja mukaku menjadi merah semerah merahnya…
“yuhuuu Selamat ya, semoga langgeng” Ucap Zahra sambil keluar dari persembunyiannya lalu menghampiriku
“Selamat!!!”
“Semoga langgeng..”
“PJ Menunggu lo!!”
“Ciee yang punya pacar baru…”
“…”
“Cieee”
Teman-temanku tak henti hentinya memberi ucapan selamat kepadaku dan acap, kami berdua seperti pasangan selebritis yang baru saja resmi pacaran. hahahaha.
“Makasih semuanya”

1 minggu berlalu, 2 minggu berlalu, 3 minggu berlalu dan 1 bulan sudah aku dan acap berpacaran
“Happy Anniversary!” aku sangat bahagia bisa memiliki pacar sebaik dan seperhatian acap walaupun kadang-kadang nyebelin banget. Setiap bulannya selalu banyak masalah yang menghiasi hubungan kita berdua namun, semua masalah itu dapat kita berdua atasi bersama. Sampai pada bulan ke 5 ketika aku sedang melihat-lihat facebook milik acap aku menemukan sebuah pesan seorang perempuan yang genit banget dan acap malah membalas pesan terbesut, tentu saja pesan itu buat aku jengkel sekaligus kesel!.

Girl: “Hai,”
Acap: “Siapa y?”
Girl: “Masa gak kenal, aku kan pacar kamu..”
Girl: “Bales donk yank…:* ”
Girl: “hai, colek balik donk yank…”

Jujur saja waktu itu aku langsung membalas pesan tersebut dengan kata-kata kasar berharap, cewek itu gak ganggu acap lagi.
“hei, nyadar diri donk.. *******!”
Eh cewek itu malah memutar balikan fakta, jadi dia yang marah-marah, Seperti dia itu benar-benar pacarnya acap padahal bukan. Ketika ku Tanya acap dia bilang dia gak kenal sama cewek itu, tapi acap malah terus ngebales inbox cewek itu. ya! aku cemburu!.

1 Minggu sudah aku terus mengabaikan acap karena cemburu, ku menunggu acap bicara denganku namun ternyata dia tak sms, telfon ataupun berbicara,hubungan kami berdua semakin memburuk perharinya, semakin sakit hatiku karena dia mengabaikanku, itu semua karena orang ketiga di facebook itu!.

Setelah 2 Minggu aku menunggu, ternyata acap masih saja mengabaikanku. Ada apa dengan dia?. Harusnya dia mengerti perasaanku. kenapa dengan dia?.aku hanya bisa termenung dan menangis.

Setiap harinya aku terus menangis karena sakit hati, sampai di minggu ke 3 aku pun sudah tak kuat menahan rasa sakit ini, Akhirnya kutuliskan surat untuk acap

“Kurasa Hubungan kita tidak bisa dilanjutkan lagi, Sekarang Kita PUTUS, maaf bila ku telah banyak merepotkanmu, by: Yaya”

Kutaruh surat itu di dalam sepatunya.

Sehari Setelah ku mengirim surat itu, Sms, Telfon, Inbox dan lain lain dari acap terus mengalir dari handphone ku, acap juga mengirim surat melalui sepatuku
“Kenapa kita harus putus? Apa alasannya? Mengapa kita putus tanpa sebab dan alasan?”
Ketika ku membaca surat itu ku hanya bisa menahan tangis, kenapa acap tak mengerti juga?

Hujan pun turun dikala ku sedang menangis, akhirnya ku mengirimkan sms kepada acap:

“Hal yang terbaik yang pernah kulakukan adalah mencintaimu dan menjadi pacarmu, dan Hal terburuk yang pernah kulakukan adalah mencintaimu dan menjadi pacarmu juga.”

Dia membalasnya..

“oke, kalau begitu kita Putus namun kita masih bisa jadi teman kan?”

Aku membalasnya lagi

“Tentu.”

“Berawal Dari Sepatu, Berbuah Suka dan Cinta
Menjadi Bersatu, dan Berakhir Duka”

Selesai

Cerpen Karangan: Diyo Sukma
Blog: diyo-sukma.blogspot.com

Cerpen Love in Shoes (Cinta di dalam Sepatu) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Teori Bahagia

Oleh:
Tahukah kamu apa yang bisa membahagiakan seseorang? Untuk para pengusaha, mungkin bahagia adalah saat omzetnya sampai puluhan atau ratusan juta per bulan. Untuk bapak-ibu guru, mungkin bahagia saat anak

Love

Oleh:
Dua tahun sudah Gisella Anastasia bersekolah SMA Kartini salah satu sekolah terpandang dan tergengsi di daerahnya, hari ini secara langsung melalui hasil rapat osis di sekolahnya ia telah terpilih

Mutiara dan Bunga (Part 2)

Oleh:
Sejak pagi kami semua mempersiapkan pakaian yang hendak dikenakan saat lamaran Halimah nantinya. Aku begitu antusias memilihkan kebaya terbaikku untuk Halimah. Dia tampak senang dan penasaran. Berkali-kali dia menanyakan

Puisi Tanpa Nama

Oleh:
Cinta telah membawa sebuah penantian panjang dalam hidup Rahma. Penantian yang tiada ujungnya. Penantian yang tiada titik temu dalam perjalanan mencari sebuah petunjuk. Kebimbangan dan kegalauan menggelayuti dirinya. Mengusik

The Poor Jane

Oleh:
Ini sudah larut malam, tapi Harold belum datang juga. Aku sampai lelah menunggunya. Sejak dua jam yang lalu, aku sudah duduk di bangku yang terletak di taman kota ini,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Love in Shoes (Cinta di dalam Sepatu)”

  1. diah islamiyati says:

    cerpenx seperty cerita kisah cinta q.

  2. Syifa says:

    saya ingin tulis cerita di sini tapi gimana caranya,,saya ingin berbagi cerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *