Maafkan Aku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 4 May 2014

Malam ini, adalah malam Minggu. Malam dimana semua pemuda dan pemudi bertumpah ruah memenuhi jalanan kota Malang. Tujuannya pun beragam. Mulai dari yang ingin pergi ke tempat-tempat romantis, hingga yang cuma jalan-jalan ke mall dengan kekasihnya pun ada. Sementara aku, Muhammad Awan Bimantara. Orang yang biasa-biasa saja, hanya bisa berdiam diri sambil terus menulis cerita pendek ini. Dan berharap, di esok hari ada bidadari yang menemaniku di malam-malam Minggu berikutnya.
“Ya Tuhan, malang nian nasibku” gumamku menyesali nasib.

Jarum jam telah membentuk sudut 90 derajat, artinya waktu menunjukkan pukul 9 malam. Belum terlalu larut malam bagiku, namun kali ini kuputuskan untuk berangkat ke alam mimpi lebih awal dari biasanya. Sebenarnya masih ada tanggungan cerpen yang harusnya kuselesaikan, namun sepertinya jiwa ini sudah terlalu lama menulis. Jemari ini sudah tak mau lagi menggenggam pensil. Ingin sekali rasanya, sesekali tangan ini menggenggam erat lembutnya tangan perempuan. Ingin rasanya, jemari ini berpautan dengan jari-jari mungil milik kekasihku nanti. Entah kapankah itu, aku yakin bahwa saat itu pasti datang. Hingga akhirnya kuterpejam.

“Tok… tok.. tok” suara pintu kamarku diketuk oleh seseorang dari luar.
“Kakak? Cepat bangun! Ayo shalat subuh, sudah ditunggu mama tuh!” suara adikku yang lantang terdengar dari luar kamar.
“Loh, sudah pagi toh?” kataku tak percaya.

Rasanya, baru sekejap aku tertidur. Sambil mengusap-usap mata, kuseret tubuh ini menuju kamar mandi. Segarnya air wudzhu yang mengalir membasahi muka, telah mengembalikan jiwa ini. Di ruang ibadah, rupanya anggota keluarga yang lain telah menungguku. Di rumah mungil ini, aku tinggal bersama anggota keluarga yang lain. Yaitu Tanti, adikku yang tahun ini menginjak kelas 6 sekolah dasar. Ibuku, yang telah membesarkan aku dan adikku. Juga ada Ayahku yang bekerja sebagai pengusaha ternak ayam potong. 17 tahun sudah aku dibesarkan dari keluarga yang kecil nan sederhana ini. Namun meski begitu, kesederhanaan ini tak pernah sedikitpun mengurangi kebahagiaan kami.

Ketika sholat subuh telah usai, semua kembali pada rutinitas serta kesibukannya masing-masing. Adikku sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya, Ibu sibuk memilih belanjaan di warung sebelah, serta Ayah yang telah direpotkan dengan mencuci motornya. Sementara aku, masih terduduk merenung di depan meja belajar. Tempat dimana karya-karyaku selama ini dilahirkan. Namun sepertinya, karyaku yang satu ini masih menolak untuk dilahirkan. Entah kenapa, terasa sangat sulit bagiku menemukan cerita penutup yang tepat. Otakku senantiasa berputar, namun tetap saja belum menemukan jawaban. Bagaikan jalan yang tertimbun oleh reruntuhan batu, berulang kali kucoba menggalinya namun tetap saja otak ini masih buntu.
“lari-lari pagi ah…” seketika fikiranku berubah, ketika melihat tetanggaku Mbak Lila sedang berlari menghirup udara pagi.
“iya, benar juga. Sesekali lari pagi kan tidak ada salahnya. Siapa tahu udara pagi dapat menyegarkan otakku.” Fikirku lagi.

Akhirnya, lari pagi menjadi pilihanku untuk mengisi minggu pagi yang luang ini. Celana olahraga panjang serta kaos bola lengkap dengan sepatu jogging warna putih telah siap sedia untuk menemaniku menembus dinginnya kabut pagi.
“Aku berangkat dulu, Assalamualaikum!” ucapku setengah berteriak.
Ditemani suara sepatu yang bergerak lincah membalut telapak kaki, kumulai dengan langkah kaki kecil dan santai. Lalu sedikit demi sedikit, bertahap ke lari yang lebih kencang dan langkah kaki yang lebih lebar.

Tujuanku hari ini tidak lain adalah CFD alias Car Free Day. Hari bebas kendaraan ini dilaksanakan oleh warga Malang setiap minggu pagi, dan terletak di kawasan Ijen yang berjarak kurang lebih 5 km dari rumah. Untuk menuju kekawasan Ijen, kali ini aku memilih untuk berjalan kaki. Kusengaja untuk tidak membawa kendaraan, karena ingin mengukur kekuatan tubuh ini. Masih layakkah tubuh ini berlari, setelah sekian lama hanya terduduk di depan meja belajar.
“Huuhhh, huuhhh, huuuhhh…” deru nafasku semakin kencang, keringat sudah tak malu lagi untuk menampakkan wujudnya.

15 menit kemudian, nampaklah kawasan Ijen yang besar dan lengang. Terlihat beberapa orang berlari, bersepeda, ataupun berjalan santai. Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata. Jauh dari kesan polusi dan udara kotor.
“Fiuuhhh…” sedikit suara muncul dari mulut ketika kuusap keringat di wajah. Rasa capek dan malas rupanya telah bersekutu, membuat kaki ini serasa berat untuk melangkah. Namun tekadku sudah terlanjur bulat. Aku ingin tahu seberapa jauhkah kekuatan tubuh ini, meskipun separuh tenaga telah tersedot dalam perjalanan.

Kira-kira baru 5 menit tubuh ini melonjak-lonjak, kebosanan sudah mulai muncul. Dan sifat iseng-isengku pun mulai muncul untuk menghibur diri.
“Wah, ada olahragawati tuh. Kutantang balap lari ah…” keisenganku muncul ketika melihat cewek berbadan ramping sedang berlari-lari kecil di dalam kerumunan.
Secara diam-diam, aku terus mengikuti langkah kaki perempuan tersebut. Rambutnya yang panjang terikat, mengayun pelan bagaikan melambai padaku untuk terus mengikutinya.
“Ah, perempuan cantik seperti ini biasanya kan jarang olah raga. Palingan nanti juga gak bakal kuat 2 putaran” kataku sombong.

Lomba lari iseng-isengan ini pun dimulai. Pesertanya hanyalah kami berdua. Dan sepertinya hanya aku yang mengetahui peraturannya. Bisa dibilang aku cukup curang. Hehehe, curang sedikit kan tidak apa-apa. Hanya ada satu peraturan di dalam lomba lari ini. Yaitu, kecepatan berlari tidak terlalu diperhitungkan. Yang menjadi nilai hitung adalah jarak lari yang ditempuh. Dan siapa yang sudah tidak kuat untuk melanjutkan lari lagi, maka dialah yang kalah. Dan untungnya, perempuan yang satu ini memilih rute yang tepat. Berlari mengelilingi kawasan Ijen dari ujung ke ujung.

Satu kali putaran? masih oke. Dua putaran? masih wajarlah. Hingga akhirnya putaran ketiga, aku sudah mulai kehabisan nafas. Tapi ladies yang satu ini masih tetap saja bugar tanpa mengurangi kecepatan lari sedikitpun.
“Hosshhh, hosshhh, hosshhh..” deru nafasku terasa sudah di ambang batas.
“Gila, kuat juga ya ini cewek” kataku tak menyangka.
“Memang dia yang kuat, atau aku yang lemah?” fikirku.

Namun rupanya gengsiku masih cukup tinggi. Aku tak mau dikalahkan oleh seorang cewek. Ingin sekali rasanya kaki ini terus melangkah mengejar sosok yang tak kukenal ini. Tapi apa mau dikata, jantung sudah tak lagi mau memompa. Komponen penting yang satu ini rasanya sudah mulai aus. Langkah kaki perlahan berubah semakin pelan dan akhirnya berhenti. Rasa gengsi yang tadi masih membludak, kini telah hilang terkalahkan oleh deru nafas. Sementara sosok yang berparas cantik itu, segera menghilang di balik kerumunan. Aku masih menunduk tak menyangka akan dikalahkan oleh cewek.

“Mimpi apa aku semalam? Mau ditaruh mana mukaku, kalau teman-teman tahu bahwa aku kalah lari dengan cewek?” kataku masih tak percaya dengan kenyataan.

Tak jauh dari tempatku berdiri, kulihat bakul seorang penjual jamu berada di pinggiran jalan kawasan Ijen.
“Wah, minum jamu pasti seger kali ya?” fikirku mulai tergiur.
Tanpa berfikir panjang, kuulurkan selembar uang sepuluh ribuan pada si penjual jamu.
“Bu, jamu beras kencurnya satu ya?”
Tak lama, satu gelas berukuran besar berisi beras kencur telah berada di tangan. Namun karena tempat duduk yang terbatas, duduk di pinggir trotoar pun menjadi pilihan. Belum lama aku terduduk, sebuah suara yang asing di telinga tiba-tiba mengejutkanku.
“Wah, pasti segar tuh minum jamu habis lari-lari pagi” ucapnya.
“Uhuuk, uhukk..” Aku tersedak ketika menoleh ke arah datangnya suara. Ternyata, suara itu berasal dari wanita yang sedari tadi kuikuti.
“Loh, kenapa mas?” tanyanya.
“Enggak, kok mbaknya disini? Bukannya tadi lari ke arah sana ya?” kataku seraya menunjuk ke arah cewek tadi menghilang di balik kerumunan.
“Kok tahu kalau aku tadi lari ke arah sana? Berarti yang dari tadi ngikutin aku pasti kamu ya?”
“Hehehehe, ketahuan deh.” Kataku tersipu malu.
“Tapi lumayan lo mas larinya, bisa lari sejauh itu.” Pujinya.
“Udah deh, jangan meledek. Aku tahu kok siapa yang menang” kataku seraya memasang wajah masam.
“Halah, gak perlu merendah deh. Aku tahu kok, kalau kamu tadi lari dari soekarno hatta sampai kemari sebelum lomba lari denganku. Kalau aku yang jadi kamu, pastilah sudah tepar duluan.” Katanya coba menghiburku.
Aku hanya bisa tersenyum. Tak percaya bahwa ternyata dia lebih tahu dariku sejauh itu.
“Namaku Nada Jelita, mas bisa panggil aku Nada” tukasnya sambil mengulurkan tangan putihnya.
“Oh iya, dari tadi kita belum kenalan. Namaku Muhammad Awan Bimantara. Panggil saja Awan.” Jawabku seraya menjabat tangannya.
“Akhirnya Ya Tuhan, aku bisa merasakan lembutnya genggaman tangan seorang perempuan” kataku kegirangan di dalam hati. Apalagi wajahnya yang manis, dilengkapi dengan tubuh yang indah. Membuatku tak dapat memalingkan pandangan darinya.
“Wan! Kok bengong?” tanyanya keheranan ketika melihat tingkahku yang anehku.
“Ah, enggak kok. Kamu udah pesan minuman?” tanyaku menawarkan.
Belum sempat mulut ini mengatup, ternyata minuman milik Nada telah diantarkan.
“Udah kok, ini dia sudah datang” jawabnya sambil menunjuk minuman yang diantarkan oleh penjual jamu.
“Wah, suka minum jamu juga? Pantesan badan kamu langsing” godaku.
“Ah bisa aja kamu” jawabnya dengan wajah yang tersipu malu.

Obrolan pun tak berhenti sampai disitu, berlanjut kesana kemari. Mulai dari hobby, cita-cita, kesukaan, hingga keluarga. Dan dari obrolan tersebutlah, akhirnya kutahu alamat rumahnya yang hanya berbeda beberapa blok dari rumahku.

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Cukup lama sudah kami bercengkrama menebar tawa. Dan kini waktunya bagi kami untuk kembali melangkahkan kaki. Menuju istana masing-masing, sebelum matahari kian meninggi.
“Pulang yuk!” ajak Nada.
“Ayo, lagi pula sudah mulai siang nih” kataku setuju.

Belum lama kaki kami melangkah, tiba-tiba tangan Nada menarik tanganku yang membuatku berubah haluan.
“Ada apa Nad?” tanyaku penuh keheranan.
“Kamu mau kemana Wan?”
“Ya, pulanglah. Emang mau kemana lagi?” tanyaku keheranan dengan pertanyaannya.
“Yakin mau pulang jalan kaki?”
“Ya, habis. Mau naik apa?”
“Bareng sama aku aja, aku bawa motor kok. Tuh dia” ia menunjuk ke arah motornya.
“Ah enggak deh, lain kali aja” jawabku masih agak ragu.
“Eh Wan, kamu tega apa lihat cewek nyetir sendirian?” katanya membujukku.
“Waduh-waduh, mulai keluar deh manjanya. Iya deh. Aku bareng kamu” kataku pura-pura terpaksa.

Kebetulan juga rasa pegal dikaki masih belum pulih seutuhnya. Mungkin karena ini pertama kalinya bagiku, dan aku cukup memaksakan diri hingga sedikit kecapean. Jadi, kuterima saja tawarannya.
“Wan, kamu bisa bawa motor kan?”
“Bisa emang kenapa?”
“Jadi kamu yang boncengin aku ya?”
“Loh kok gitu? Kenapa aku?”
“Ya kan emang gitu. Dimana-mana itu, cowok yang boncengin cewek. Bukan sebaliknya. Lagian kakiku masih capek nih. Mau ya?” ia kembali memunculkan rayuannya.
“Iya deh, Tuan putri” candaku.
“Bisa aja kamu” balasnya sambil mencubit pelan pipiku.

Matahari yang mulai meninggi, membuat kami harus bergegas untuk pulang. Motor matic mio milik Nada segera kupacu melewati jalanan minggu pagi yang lengang. Nada yang duduk diboncengan belakang, terasa sangat menikmati perjalanan singkat ini. Tangannya masih menempel erat di pinggangku.

Sesampainya di rumah, aku segera turun. Mengucapkan terima kasih serta sedikit berbasa-basi.
“Ini nih, rumahku. Mau mampir dulu?”
“Enggak deh, terima kasih”
“Loh kenapa? Lagian, harusnya yang berterima kasih itu aku. Udah dianterin pulang.”
“Terima kasih ya Nad” terusku.
“Iya enggak papa.”
Setelah kurasa cukup, aku pun pamit dan segera melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Namun baru satu meter kaki ini melangkah, Nada menghentikanku.
“Eh, Wan” dengan nada agak tertahan.
“Iya?” jawabku sambil menoleh kearahnya.
Namun ia hanya tertunduk dan terdiam seribu bahasa. Angin pagi yang sepoi-sepoi sempat meniup rambutnya hingga terlihat wajahnya yang penuh akan keragu-raguan. Perlahan, kulangkah kan kaki mendekati tubuhnya yang masih menunggangi kuda besi miliknya. Kutadahkan tanganku dan kuletakkan tepat di bawah dagunya. Sedikit demi sedikit, kuangkat wajahnya. Hingga aku dapat menatap jelas kedua matanya.
“Hayo ada apa? Ngomong aja lagi. Gak usah takut.” Bujukku agar ia mau mengatakan apa yang sebenarnya ingin diucapkannya.
Wajah manis miliknya yang sedari tadi menunjukkan raut keragu-raguan, kini berubah menjadi senyuman lebar ke arahku.
“Enggak kok, aku cuma mau tanya sesuatu. Bisa kan kalau minggu depan kita ke CFD lagi?”
“Hmm… Bagaimana ya? Habisnya jadwalku sibuk sih” jawabku ragu-ragu sambil memasang wajah bingung.
Disaat itu, kuberanikan diriku untuk melirik wajahnya. Raut wajah yang kecewa cukup jelas nampak padanya.
“Memangnya, kalau aku datang ke Car Free Day lagi. Kamu mau ngasih apa ke aku?” candaku sambil sedikit melemparkan senyuman.
Bagaikan melihat matahari yang terbit kembali, wajah Nada seketika berubah menjadi bahagia ketika aku menyetujui permintaannya.
“Aku traktir jamu deh” jawabnya singkat.
“Ah masak jauh-jauh ke Ijen cuma ditraktir jamu? Es krim atau apa gitu kek” ejekku.
“Udah, minum jamu aja biar kuat larinya” balasnya mengejekku.
“Wah, rupanya mulai mengarah ke kekalahanku di lomba lari tadi pagi nih. Ya udah, cepetan pulang sana. Udah siang, ntar dicariin ama tante lo.”
“Uh, sok tau! Tapi janji ya? Minggu depan harus datang?” tanyanya meyakinkan.
“Iya, putriii…” kataku seraya membungkuk layaknya seorang prajurit menghormati ratunya.
Entah apa yang terjadi, seketika suasana hening. Dalam posisiku yang masih membungkuk, aku tidak dapat melihat apa yang dilakukan oleh Nada. Namun, sepertinya ia hanya berdiam diri. Tak merespon apapun. Rasa penasaran mulai muncul di fikiranku. Kuputar sedikit leher ini hingga kepalaku mendongak ke atas. Dan tiba-tiba.
“Iiiihhh… paling bisa deh bikin aku seneng” puji Nada dengan melayangkan cubitan gemas tepat di hidungku.
“Loohh, hidungku kok dibawa?”
“Kalau mau hidungmu kembali, minggu besok harus datang ya. Sampai jumpa minggu depan”
Seketika, tuas gas ditarik kencang oleh Nada. Kupandangi sosoknya hingga akhirnya menghilang di kejauhan. Tingkahnya yang berbeda dari cewek lain, cukup membuatku tersenyum-senyum sendiri hari ini.
“Terima kasih Tuhan, Engkau telah kabulkan doaku” gumamku dalam hati.

Betapa senangnya diriku hari ini. Dengan bayangan wajahnya yang masih melekat di ingatanku, kumulai melangkah menuju dalam rumah.
“Assaalamualaikum!!!” kataku setengah berteriak.
“Waalaikumsalam” suara adikku terdengar dari arah dapur.
“Wah, Tanti pasti lagi bantuin Ibu masak. Icip-icip dulu ah.”
Karena bau semerbak makanan yang memenuhi ruangan, ditambah lagi dengan perut yang sudah mulai keroncongan. Membuat kebiasaan lamaku yang satu ini tak bisa kuhindari. Dari kecil, hoby icip-icipku ini memang sudah muncul. Apalagi ketika tercium masakan Ibu yang sangat sedap ini.
“Hari ini masak apa mbak?” kataku coba menggoda Tanti yang sedang asyik masak.
Namun bukannya jawaban atau respon yang lainnya, aku justru mendapatkan sebuah keheningan. Hanya kicauan burung gereja yang berdengung di kepalaku.
“Wah, Ibu ama adik mulai bersekutu nih” godaku lagi.
Kulihat mereka berdua sengaja tidak merespon candaanku. Mereka bersikap seolah-olah tak mendengar perkataanku. Bahkan mungkin, mereka menganggapku tidak ada. Entah kenapa, aku sendiri terheran-heran dengan sikap mereka.
“Eh bu, rupanya ada yang spesial nih hari ini. Ada yang dianterin sampai depan rumah loh.” Sindiran Tanti yang masih bersekongkol dengan Ibu. Rupanya mereka sudah menyadarinya, bahwa aku tidak pulang seorang diri.
“Iya tuh, tadi pagi katanya sih pamit mau lari pagi. Tapi kok pulangnya malah naik motor ya?” jawab Ibuku menanggapi.
“Hayooo, pagi-pagi kok udah ngomongin orang. Dosa loh!!” kataku seraya merangkul tubuh keduanya.
“Halaahhhh, gak usah ngalihin pembicaraan deh” kata Ibu yang masih saja menggodaku.
Kami bertiga pun tertawa bahagia bersama-sama. Tawa mereka berdua membuat hariku terasa semakin sempurna. Hari ini terasa begitu spesial, dan itu semua karena kehadiran Nada.

Namun dihari-hari berikutnya, komunikasi aku dan Nada berkurang drastis. Bahkan bisa disebut tanpa komunikasi sama sekali. Apalagi jadwal sekolahku yang sangat sibuk, sangat menyita waktuku hingga nyaris tak ada waktu kosong untuk sekedar hanya menghubunginya. Seiring dengan keadaan itu, hari-hariku juga menjadi seperti semula. Tak lagi ada sesuatu yang spesial. Dan yang lebih parahnya lagi, karena kesibukanku yang begitu mengurung. Hingga cerpenku yang harusnya kukirim minggu ini, belum juga terselesaikan.

Cerpen Karangan: Sugeng Dwi
Facebook: Frank Kiberline
TTL: Blitar, 05 Okt 1997
Saya hanyalah pemula, jika ada kesalahan mohon kritiknya ke facebook saya. Terima kasih atas bantuannya. Ditunggu kritikannya (‘o’)7

Cerpen Maafkan Aku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Me And My Sister’s Friend

Oleh:
Mungkin aku yang salah telah mencintainya. Tapi gadis itu patut tuk dipilih dan dicintai. Bukan hanya aku yang mencintainya, tapi aku yakin semua pria akan memilih gadis seperti dia.

Gerimis Merah (Part 2)

Oleh:
Motor itu masih melaju membelah genangan air yang mulai bermunculan di sepanjang jalan, membawa sejuta harapan untuk bertemu dengan kekasihku yang tentu sudah sedari tadi menunggu. Kini embun di

Aku, Kamu dan Dunia Kita

Oleh:
Pagi yang sejuk sekali, setiap hari aku menikmati alam dan sejuknya pegunungan di Puncak. Ya, aku tinggal di perkampungan yang indah dan tinggal bersama keluarga yang amat sangat bahagia.

Cinta Bersemi Di Penghujung Waktu

Oleh:
Pagi bersinar, tandanya sudah pagi. Aku harus bergegas untuk berangkat ke sekolah, kalau tidak aku akan terlambat. Aku bersekolah di sekolah nasdewschool, aku memang tidak mempunyai teman, satu pun

Bercanda Kok Gitu Sich

Oleh:
Ku saat ini takut… Mencari makna Tumbuhkan rasa yang sesakkan dada Kau datang dan pergi, oh begitu saja Semua ku trima apa adanya… ( Letto ) Siang itu matahari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *