Mata

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Romantis, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 7 February 2018

Di atas bukit ini ada sebuah janji yang pernah diucapkan oleh seseorang. Janjinya untuk menjadi mata bagi gadis malang yang tidak bisa melihat itu. Mata yang selama ini gadis itu impikan untuk melihat keindahan dunia. Sejak dia hadir semua kegelapan itu sirna entah ke mana perginya, berganti dengan warna-warna indah yang sebelumnya tidak pernah bisa dia bayangkan.

“Hai, Lisa kenapa sendirian di sini? Nggak takut apa kalau ada hewan buas yang akan memangsamu?”
“Iih.. Ray. Nggak usah nakut-nakutin deh. Ntar kalau ada beneran gimana?” Ujar Lisa bergidik ngeri.
“Sorry, becanda. Lagian mana mungkin ada hewan buas yang berani makan kamu, kan ada aku yang bakal bunuh dia duluan.” Ray duduk di samping Lisa. “Lagian aku kan sudah janji bakal jadi mata kamu.”

“Oh ya, Ray. Aku mau dong ke danau di bawah bukit ini. Aku pingin ke sana, tapi takut jatuh.”
“Ayo kita ke sana.”
Lisa dan Ray berjalan bersisian. Ray tidak berhenti bercerita tentang apa saja yang ada di sekitar mereka saat ini.

“Sekarang kita melewati pohon-pohon tinggi nan rindang, daunnya hijau lebat. Di dahannya ada burung yang sedang berkicauan. Indah kan suaranya?”
“Terus, ada apa lagi Ray? Apakah awannya cerah atau mendung?” Tanya Lisa antusias.
“Awannya cerah. Itu di depan ada turunan, sebentar lagi kita sampai di danaunya. Wah, indah banget Lis danaunya, airnya jernih dan seger.”
“Ayo Ray, cepetan ke sana.”

Ray pun menuntun Lisa ke danau dengan hati-hati, karena jalannya cukup licin. Di pinggir danau sudah ada perahu kecil untuk menyeberang.
“Kamu mau naik perahu nggak?”
“Mau dong.”

Keduanya pun menikmati suasana danau dengan perahu kecil itu. Senyuman tak lepas dari bibir Lisa. Ray yang melihatnya pun ikut tersenyum.
‘Maafkan aku Lis, jika suatu saat nanti aku tidak bisa lagi di sisimu.’

Pagi-pagi buta seusai sholat Subuh, Ray ke rumah Lisa. Ada sesuatu yang ingin dia tunjukkan ke perempuan itu. Walaupun dia belum bisa melihatnya secara langsung, tetapi suatu saat nanti.
“Jangan cepat-cepat dong Ray jalannya.” Keluh Lisa saat tangannya langsung ditarik oleh Ray ketika ia membukakan pintu. Ia sampai tidak sempat mengambil tongkatnya.
“Sudah ayo, ikut saja. Nanti dia keburu hilang.”

Akhirnya mereka pun sampai di lembah yang tidak jauh dari rumah Lisa.

“Ada apa Ray?”
“Stt.. kamu jangan berisik ya. Kita sekarang berada di lembah kunang-kunang. Mereka cantik sekali.”
“Mereka? Kunang-kunangnya memangnya seberapa banyak?”
“Lebih banyak dari yang kamu pikirkan. Pendar cahayanya indah sekali, Lis. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana jika di sini dibangun perhotelan maupun tempat-tempat wisata. Para investor itu sedang mengincar tempat ini.” Ray menghela napas pelan, “Kamu mau janji satu hal? Suatu saat nanti jika kamu bisa melihat, tolong jaga tempat ini dan keindahannya. Biarkan lembah ini jadi tempat hidup mereka.”

“Kenapa kamu ngomongnya seperti itu? Memangnya kamu mau ke mana? Yang menjaga tempat ini kita, bukan cuma aku saja kan?” Tanya Lisa.
“Entahlah, tapi suatu saat nanti aku harus pergi dari sisi kamu. Aku akan kalahin investor-investor itu buat jaga tempat ini.”
“Sebelum kita pulang, ini aku sudah menangkap satu kunang-kunangnya buat kamu. Aku taruh di dalam toples.”
“Waah.. terima kasih Ray.”

Tidak terasa hari berganti begitu cepat. Sebentar lagi Lisa akan berulang tahun yang ke 19. Sedangkan Ray masih juga belum menemukan kado yang cocok untuk Lisa. Mungkin ini ulang tahun terakhir Lisa bersama Ray. Karena Ray berniat melanjutkan studynya ke luar kota.

“Lisa, kali ini kamu menginginkan kado apa dariku?” Tanya Ray suatu hari.
“Apa ya… bebas nih boleh milih apa saja?” Tanya gadis itu antusias.
“Iya bebas.”
“Sebenarnya aku nggak ingin apa-apa dari kamu. Cukup kamu jadi mataku saja, itu sudah lebih dari cukup bagiku.”

“Kalau itu sih sudah pasti, yang lain dong.”
“Emm, Ice cream?”
“Cuma itu?”
“Sebenarnya aku berharap aku bisa melihat suatu saat nanti. Aku sangat penasaran sama kamu Ray.”

‘Mata…’ Batin Ray.

Hari yang dinantikan oleh Lisa pun tiba. Yaitu hari ulang tahunnya. Mereka telah membuat janji untuk makan ice cream bersama di kedai yang tidak jauh dari rumah Ray. Senyum tak pernah lepas dari keduanya.
Namun, ketika Lisa akan menyeberang jalan untuk menghampiri keberadaan Ray, tiba-tiba ada mobil dari arah samping dengan kecepatan tinggi. Ray yang melihatnya pun meneriakkan nama gadis itu dan berlari untuk menyelamatkan Lisa.
‘Bruggh..’
Semuanya terasa gelap.

Ketika terbangun dari tidur panjangnya, Lisa meraba-raba tempat tidur yang ia tiduri.
“Mama.” panggilnya lirih.
Mama Lisa pun segera menghampiri ranjang rumah sakit.

“Iya Lisa ini mama, kamu sudah sadar sayang?”
“Aku di mana ma? Ini seperti bukan kamar aku.”
“Kita di rumah sakit. Kamu baru saja menjalani operasi mata. Ada seseorang yang mau mendonorkan matanya untuk kamu Lisa.”
“Siapa ma..” belum sempat Lisa melanjutkan omongannya, dokter dan perawat datang.

“Apa kabar Lisa? Sehat kan?” Tanya dokter ramah. “Hari ini perban di mata kamu sudah bisa dibuka.”
Dokter membuka perban yang ada di mata Lisa dengan perlahan dibantu oleh suster.

“Dalam hitungan ketiga kamu sudah bisa membuka mata kamu secara perlahan.” Instruksi dokter Ridwan. “1.. 2.. 3”
“Lisa mengerjapkan matanya perlahan, pandangannya yang tadinya buram lama-lama menjadi jelas.
“Ma, Lisa bisa melihat lagi.” Ujarnya senang. Mama Lisa pun ikut senang memeluk putrinya.

Sepeninggal dokter dan suster, Lisa mulai menyadari kediaman mamanya.
“Ray mana ma?” tanyanya.
“Ray.. dia..” jawab mamanya gagap. “Orang yang mendonorkan mata ke kamu itu.. Ray.”
Seketika tangis Lisa pecah. Semua kejadian yang baru dialamainya terputar kembali. suara teriakan Ray dan decitan mobil, lalu suara keras itu. Mamanya pun ikut menangis memeluk Lisa.

“Sekarang Ray di mana ma?”

Sebuah gundukan tanah merah dengan tanda bertuliskan nama ‘Rayhan Putra Sanjaya’ menjadi objek pandangan Lisa. Masih belum mempercayainya, Ray akan pergi secepat ini. Belum sempat ia membalas semua kebaikan lelaki itu. Apakah ini hukuman dari Tuhan karena ia telah lancang meminta lebih, meminta untuk melihat dunia.

Cerpen Karangan: Hikmah Resti Ulfiana
Blog: restimaginstory.blogspot.com

Cerpen Mata merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Titik Terang

Oleh:
“Panas sekali pagi ini.” kata Laura dengan letih sambil merapikan sekumpulan barang yang ia bawa. “Panas pagi baik untukmu Nduk, kata orang-orang ‘Baik untuk kulit’.” kata Nenek Laura yang

Berbagi Rasa (Part 3)

Oleh:
“Kak Dika ngapain kita malem-malem ke SMA-ku dulu kak?” “Turunlah nanti juga kamu tahu.” Kita berjalan menuju tempat di mana dulu kita sering bertemu di pagi hari sebelum aku

Kecuali Aku!

Oleh:
Sepertinya tak ada perempuan yang rela hati sejak kecil belajar menjadi pel*cur. Kecuali aku! Sepertinya tak ada perempuan yang saat tumbuh remaja tak ingin menikmati muda. Kecuali aku! Sepertinya

Guruku

Oleh:
Matahari baru setengah terlihat di timur langit, sinarnya memaksa menerobos rimbunnya dedaunan. Beberapa burung menyanyi sambut pagi yang cerah ini. Di antara pepohonan terdengar suara sepeda yang berisik dan

Bad Luck Keynes

Oleh:
Keynes adalah seorang anak dari keluarga kaya. Ia berusia 13 tahun. Keynes adalah satu murid SEOUL INTERNATIONAL SCHOOL. Disekolahnya kaynes adalah salah satu murid yang terkenal karena kepintarannya. 3

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *