Memories

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 15 August 2016

Kususuri setapak jalan kecil yang lenggang ini. Tak ada yang berubah dari tempat ini. Sedikit pun tidak. Matahari mulai naik, kupercepat lari kecilku. Entah apa yang membuat kakiku melangkah sampai sejauh ini. Hingga sebuah pohon besar rindang benar-benar menghentikan langkahku. Terpaku tak bergerak sedikitpun. Memaksa seluruh jaringan otakku kembali menjelajahi kepingan hitam putih itu.

Dari tadi mataku sibuk mencari-cari sosok itu. Dimana kau? Hingga berputar-putar tubuhku mencoba menemukanmu di setiap sudut sekolah.
Braakkk…
“Maaf ngak se…” kalimatku terhenti saat mengangkat wajahku dan kau tepat berada di depan mataku.
Huhhh akhirnya.
Tanpa menghiraukan kata maaf dariku, kau sibuk membereskan buku-bukumu yang jatuh. Dan aku? Tentu saja sibuk menatap indah wajahmu.
“Maaf tadi aku buru-buru” ucapmu halus melelehkanku.
“Enggak kok. Aku yang salah” jelas suaraku terdengar gugup.
Bodoh! Harusnya biasa saja.
Kau hanya tersenyum dengan sepasang lesung pipi yang semakin memperindah wajahmu.
“Koko” aku beranikan diri mengulurkan tangan.
“Anne” kau menyambut tanganku. Aku beruntung. Seakan terhipnotis, mataku tak henti menatapmu tampa kedip. Dan kau tau? Senyummu mampu menghentikan rotasi bumi.

Bel sekolah memisahkan pertemuan tampa rencana itu. Sejak itu, kita jadi sering bertemu dalam tak sengaja. Di kantin, perpustakaan bahkan lagi-lagi sepertinya keberuntungan terus menghapiri. Kita pulang bersama. Terlalu banyak kesempatan untuk kita bersama. Lalu mengapa menunda? Aku putuskan menyatakan cinta dan kau juga miliki rasa yang sama. Sungguh aku tak pernah sebahagia ini.

“Aku tau kau di sini” ucapku lirih tampa ekspresi.
“Aku ingin sendiri!” cetusmu.
Tak peduli yang kau katakan. Aku duduk di sampingmu, di sebuah bangku di samping pohon rindang tempatmu biasa melepas masalah. Kita menghadap ke depan. Memandang ke arah yang sama.
“Aku bilang aku mau sendiri!” serumu mulai menangis.
Aku hanya diam tampa sepatah kata pun. Dengan fikiran kosong aku masih di sampingmu.
“Aku tau. Aku juga merasakannya, memang sulit tapi ini kenyataan”. Aku mulai menggerakan bibirku yang kelu hingga kau membenamkan wajahmu di dadaku dengan sejuta butir hening dari mata indah itu.
“Mengapa kita terlahir seperti ini?”. Tanyamu pecah dalam tangis.
“Kita adik kakak. Haha… Konyol!. Kita saudara kandung” teriakmu mengangkat kepala dari pelukku.
Masih jelas kulihat wajahmu tetap basah. Sungguh aku tak bisa melihatmu seperti ini. Aku benar-benar hancur.
“Anne… ini kenyataan. Ini takdirnya. Kita adik kakak. Mama dan Papa bercerai sejak kita kecil dan Papa yang membesarkan aku sudah lama meninggal sejak aku usia 5 tahun. Mungkin Mama dan Papa sudah saling benci hingga mereka tidak menceritakan sedikitpun tentang kita” jelasku coba menenangkan.
“Takdir kau bilang?. Apa itu takdir! Aku benci!” kau beranjak dan pergi meninggalkanku.
“Annee!” panggilku ingin menghentikan namun kau tak peduli.

Takut terjadi sesuatu karena setauku kau suka nekat dan menyakiti dirimu. Benar saja. Kau mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Aku hampir kehilangan jejakmu. Terlebih ada truk yang menghalangi pandangan di jalan super padat ini.
Anne kumohon jangan seperti ini.

Mobilmu berhenti di depan rumah. Aku mengikuti hingga kau masuk ke dalamnya.
Anne..!!
Kau menggenggam puluhan kapsul di tanganmu.
Kau ingin bunuh diri? Tidak aku tak akan biarkan itu!

“Anne apa yang kau lakukan?” aku menggenggam kuat tanganmu.
“Jangan halangi aku!”
Aku gagal menghalangi fikiran singkatmu. Kau berhasil menelan kapsul-kapsul itu. Aku terlambat. Aku memang bodoh! Tak pernah bisa menghentikan sikap nekadmu. Tanpa sadar kau berbaring dengan busa di mulutmu. Dengan fikiran kacau aku membawamu ke rumah sakit. Entahlah. Aku benar tak percaya hal ini. Apa itu takdir? Mengapa ia sangat kejam? Mengapa kita sedarah?. Fikiranku kacau. Benar-benar kacau dengan sejuta ketakutan akan kehilanganmu.

“Ada apa dengan anne” terdengar suara wanita paruh baya menghampiriku di ruang tunggu.
“Ibu…” sungguh kaku lidahku menyebut nama itu.
“Anne mau bunuh diri tadi” sambungku.
Ibu? Kau di depanku sekarang? Sungguh lagi-lagi aku tak percaya. Wanita yang dari dulu kurindukan.

Setelah panjang lebar bercerita ibu menggenggam erat tanganku. Ini pertama kalinya aku merasakan genggaman seorang ibu. Ibu yang melahirkanku dan Anne.

Tanganmu masih dalam genggamanku. Tak bergerak dengan wajah pucat dan alat medis yang melekat.
“Aku akan melanjutkan pendidikan di New York. Bukan maksud ingin meninggalkanmu dalam kekalutan hatimu. Tapi mungkin ini yang terbaik agar kau tidak sesakit ini. Adikku. Aku menyayangimu”
Kau hanya diam. Matamu masih terturup indah. Diam tak bereaksi.
Perlahan kulepaskan genggaman yang sebenarnya aku pun tak mampu dan ke luar melangkah dari ruangan putih tampa hiasan itu.
Dan sejak saat itu aku tak pernah melihatmu lagi.

Kupandangi wajah semu yang perlahan hilang sedari tadi. Ah… mungkin aku terlalu merindukanmu. Kuparkirkan mobil di depan rumahmu. Sejenak mengumpulkan kekuatan untuk berani masuk dan menekan tombol. Mungkin sebentar lagi akan muncul sosok indah di balik pintu. Dan saat aku mengangkat kepala… Wajah yang sedari tadi ada di benak. Wajah yang selalu menemani dalam sepiku. Tak berubah, tetap cantik. Diam. Hanya dua pasang kornea yang saling berbahasa.
“Kakak..” ucapmu kaku.
Aku tersenyum. Dan kau? Baru saja memanggilku kakak?

Kau mempersilahkanku masuk. Aku duduk di sofa. Banyak yang berubah dari tempat ini. Tapi suasananya, tatap hangat.
“Bagaimana kabarmu Anne?” aku mengawali pembicaraan.
“Baik saja kak. Sudah lama di Indonesia?” ucapmu ramah dengan sepasang lesung pipi yang setia memperindah wajahmu.
“Sekitar 3 hari sudah. Aku semakin sibuk. Bagaimana kabar ibu?”
Kau diam. Senyum yang sedari tadi mengembang di wajahmu perlahan hilang.
“Anne” aku menuntut jawaban.
“Ibu sudah meninggal sekitar 5 bulan lalu” ucapmu datar.
Degg..!
Darah dan detak jantung ini seakan berhenti beraktivitas. Aku bahkan tak pernah lagi melihatnya sejak kejadian itu.

Suasana hening. Penuh sesak tak terungkap.

“Aku sudah coba menghubungimu tapi tak bisa” lanjutnya.
Aku masih diam.
“Pesan ibu, menikahlah dan bahagia bersama keluarga baru kakak”
Kali ini hatiku yang tersenyum. Adikku… Kau telah banyak berubah.
Dan di matamu ku dapati cahaya penuh ketulusan.

“Anne, besok aku akan kembali ke New York”
“Cepat sekali. Aku tak ingin tinggal sementara di sini?”
“Ada banyak hal yang harus diselesaikan. Kau jaga diri disini”
Anne tersenyum, begitu juga aku.

Kami melangkah meninggalkan pemakaman ibu. Aku yakin dia akan tenang disini.
“Kau harus datang di pernikahanku”
“Tentu saja adikku”

Tamat

Cerpen Karangan: Suci Ariani
Facebook: Sucy Ariani

Cerpen Memories merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Kita

Oleh:
Pagi ini cuaca redup, embun pagi masih bergantung di pucuk-pucuk daun. Beberapa menit kemudian, mentari menampakan sinar hangat nya. Hening. Masih terlalu pagi. Setelah menelan sepotong roti isi keju

Kembalilah Seperti Setahun Lalu

Oleh:
Aku rindu tatapannya, aku rindu senyumnya, aku rindu suaranya, aku merindukan semua tentangnya. Dia yang tak akan merindukan ku, dia yang tak mengenalku. Aku hanyalah bagian ingatan yang telah

Because Cinta

Oleh:
Matahari seakan terbenam dan terbit menemani keseharian freya yang terkadang baik dan terkadang tidak. Bersama seorang lelaki yang biasa dipanggil dengan sebutan “papa” olehnya dan rumah mewah yang tak

Penyesalan

Oleh:
Hujan rintik tak jua reda, langit gelap tak jua sirna. Hari ini mendung, hari ini langit menangis pilu. Arlina juga menangis, hatinya semendung langit siang ini. Rasa sakit di

Cintaku di Kereta Api Kertajaya

Oleh:
Akhirnya tiba juga Hari yang kunantikan selama ini, rasanya seneng banget karena hari ini aku bisa mudik ke kampung halaman. Rasanya sudah tidak sabar ingin segera ketemu keluarga di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *