Mencintaimu Dalam Diam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 18 January 2016

Dunia dan Cinta. Orang bilang mereka berdua saling menguatkan. Dimana ada Cinta di situ ada Dunia. Dan terkadang Cinta yang membuat seseorang Bodoh melihat dunia. Namun Cinta pula yang membuat seseorang menyadarkankan bahwa dunia itu indah tanpa pembodohan. Haaahh Cintaa. Bagaimana bila aku mencintai sahabatku? karena dia mengajarkanku melihat dunia begitu berwarna. Dia menghiasi hidupku dengan pelanginya. Sahabat iyaa sahabat yang aku cintai.

Namaku Genia Putri, aku pun mempunyai 3 orang sahabat. Dan kami sering menyebut FourHappy, karena dimana pun kami berada di situ kamu harus bahagia. Muhammad Refano, Yunita Alfiani, Robbi Putra. Iya mereka. Ketiga sahabatku, dan aku pun jatuh hati terhadap Refano. Aneh memang aku sering menghabiskan waktu liburanku dengan mereka. Apalagi Refano kami sering menghabiskan liburan hanya berdua. Kami pun tahu kami saling menyukai tapi sayangnya kami tak bisa untuk memiliki.

“Gen tunggu.” Teriak seorang pria.
“Ohh Refan, Apa? Kok kayak yang serius gitu? Kenapa kamu ada di deket rumah aku?” tanyaku dengan heran.
“Sekarang kan malam tahun baru, kamu ada acara gak? Hehe sengaja tadi aku mau ke rumah kamu mau nanyain sekarang kamu ada acara gak hehe” balasnya dengan tersenyum.
“Eumhh gak ada sih, paling cuman lihat petasan di depan rumah.”
“Kita ke luar yuk, aku yang izin sama Ayah kamu.” ajaknya dengan penuh semangat.

“Waah serius fan? Haha oke aku mau deh. Kamu jemput aku jam 7 aja gimana?” Balasku dengan kegirangan.
“Siaaap nona cantik. Ya udah aku pulang dulu yaa.”
“Oh iya boleh. Lah kalau nanya gini kenapa gak BBM aku aja? Aneh deh” wajah heran.
“Kan biar bisa lihat wajah kamu hehe, udah yaa dadah” ledeknya, lalu pergi.

Refano hemm. Aneh memang jika dekat denganmu, ada perasaan yang seharusnya aku tak miliki. Kita pun tahu kita mempunyai rasa yang sama, tapi sayangnya kita tidak bisa memiliki sekarang. Singkat cerita jam 7 pun tiba, aku udah siap untuk berangkat dan Refano pun udah nungguin aku di depan rumah. “Yah aku mau jalan dulu sama Refano, pulangnnya malem gak apa-apa kan? Kali ini ajaaa pleaseee” ucapku sambil memohon sama ayah.
“Iyaa boleh, sama Refano kan? Ayah percaya sama dia.” balasnya dengan senyum.
“Yeee makasih ayah, aku sayang Ayah” mencium pipi ayah lalu berlari menghampiri Refano.

“Gimana boleh sama Ayah kamu?”
“Boleh dong, asal sama kamu katanya haha” ledekku.
“Refano titip anak Ayah ya, awas jagain” ucap ayahku di depan pintu.
“Oke siap yah aku jagain deh” dengan tersenyum.
“Iih Ayah emang aku masih kecil, aku berangkat dulu yaah” omelanku.
“Iyaa, Refan jangan ngebut ngebut bawa motornya.”
“Okee siap yaahh. Pamit yaah.”

Di motor kita saling bercanda, tertawa, ledekan satu sama lain. Refano sungguh aneh perasaan ini. Refano sungguh aku ingin memilikimu, tapi aku gak mau menjadi kekasihmu. Karena aku takut, bila aku menjadi kekasihmu, aku takut kita gak sebahagia ini. Mungkin memang harus seperti ini, biarkan rasa ini tumbuh sendirinya, biarkan rasa ini hanya sebatas sahabat. Biarkan semua menjadi urusan Tuhan, Mencintaimu dalam diam itu yang aku lakukan kali ini.

“Gen ehh bengong mulu, kita makan dulu ya. Di cafe ini enak loh, kita pilih tempatnya di atas sambil lihat petasan oke.”
“Iyaa boleh fan.”

Dia pun memasukkan motornya ke parkiran. Kita berjalan sambil bercanda. Aku memilih duduk di dekat jendela karena bagiku ini tempat yang jelas melihat petasan, Refano pun memesan makanan dan minum. Lalu dia menghampiriku.
“Gen lihat tuh petasannya haha. Padahal baru jam 10 belum jam 12 petasannya udah banyak banget” ucapnya dengan penuh bahagia.
“Haha iyaa bener Fan. Pas banget makan di sini.”
Makanan pun datang, dan kita menikmati makanan ini dengan penuh kebahagiaan yang kita miliki. Sesudahnya kita makan, Refano mengajakku ke suatu tempat.

“Gen ikut yuk, bete diem di sini terus, kita keluar yuk” ajaknya.
“Oh iya boleh.”
“Bentar aku bayar dulu” berjalan menuju kasir.
Sesudahnya ia membayar makanan. Kami pun berjalan ke luar. Dan dia mengambil motor di parkiran.
“Gen sekarang kita ke mana?” Tanyanya kebingungan.
“Ihh aku gak tahu, bingung tahu.”

“Kamu mau petasan gak?” Menatapku.
“aku takut haha” balasku dengan tertawa kecil.
“Haha aku juga takut ketang” balasnya.
“Ya udah Ref kita main kembang api gimana? Mau gak?” Tanyaku sambil menatapnya.
“Oke mantap tuh, ayo naik kita cari kembang api” dengan tersenyum.

Kita pun beli kembang api sama korek api, Refano mengajakku ke tempat yang terang namun sepi.
“Gen di sini nih kita main petasannya” ucapnya dengan tersenyum.
“Haha cocok itu. Sini sini aku pengen nyalain kembang apinya.” Mengambil bungkusan kembang api.
“Nih kamu pegang kembang apinya, aku yang nyalain korek apinya” balasnya.

Di malam itu pun kami tertawa, sambil berfoto-foto dengan pose yang agak gila plus Nora. Di situ pun aku sangat bahagia melihatnya. Apa pun kemauanku dia sebisa mungkin ia wujudkan. Ke mana pun aku ingin pergi dia temani. Dan di saat aku merasa takut dia sering mengucapkan, “Genia jangan takut. Siapa pun yang nyakitin kamu, ngata-ngatin kamu aku pukul orangnya pake Helm,”

Haha kadang kata-kata itu yang selalu terekam jelas di pikiranku. Kata-kata itu yang selalu membuatku merasa tidak pernah merasa takut saat bersamanya. Malam ini pun kami bahagia dengan kekonyolan. Kami berulah seperti anak bocah. Refano udah punya pacar namanya Salsa, aku pun sama pacarku bernama Aldian. Tapi entahlah kami merasa bahagia seperti ini bukan dengan pacar kami masing-masing.

“Gen.” ucapnya menatapku.
“Apa fan? Haha nih lihat bagus bangeet” balasku dengan tertawa.
“aku bahagia denganmu, aku tahu perasaanmu. Dan kamu pun tahu perasaanku bukan?” Tanyanya.
“Apa fan? Kamu rasain apa yang aku rasain?” Wajah terkejut, menatap balik.
“aku sayang kamu Genia, tapi aku dan kamu tahu, aku dan kamu paham. Kamu dan aku takut, jika kita pacaran kelak kita gak bisa bahagia seperti ini” ucapnnya menatapku dengan tersenyum.

Terdiam sejenak, aku hanya bisa menatapnya sambil tersenyum. Aku gak bisa balas ucapannya, aku pun hanya terdiam sambil tersenyum melihatnya. “Genia biarkan kita seperti ini, aku akan selalu menjagamu, aku akan selalu ada di dekatmu. Dan aku pun gak pernah biarin kamu disakitin sama siapa pun. Kita tahu impian kita yaitu bersama selamanya. Itu impian kita bukan? Biarkan Tuhan yang menjawab semuanya.” Ucapnya memegang pundakku sambil menatapku.

“Refano. Biarkan kali ini kita seperti ini adanya, biarkan Tuhan yang menjawab setiap doa kita. Menjawab semua impian kita. Di malam ini, di malam detik-detik pergantian tahun aku bahagia mengenalmu, lihat sekarang udah jam 12. Sekarang udah tahun 2016, aku ingin terus bersamamu meski hanya sebatas sahabat. Dan mungkin suatu saat Allah merencanakan suatu hal yang indah untuk kita.” balasku menatap balik dengan tersenyum.

“Geniaa lihat kembang apinya bagus banget kan? Haha aku bahagia malam ini denganmu. Aku akan selalu menjagamu Gen. Ini udah 2016 harapanku sama sepertimu.”

Aku pun hanya tersenyum bersamanya sambil menatap langit yang begitu indah malam ini. Dan sungguh ini sebuah Cinta yang harus tumbuh dengan Diam. Banyak tempat yang aku telah kunjungi dengannya. Tuhan sungguh aku bahagia malam ini. Dengannya aku merasa nyaman, aku merasa bahagia, dan aku merasa tenang. Muhammad Refano sungguh kita memiliki perasaan yang sama, tapi sayangnya kita hanya bisa mencintai dengan diam.

Biarkan semua ini menjadi urusan Tuhan. Biarkan impian kita waktu yang menjawabnya. Yang aku tahu malam ini aku bahagia denganmu Refano. Meski aku harus mencintaimu dengan diam. Meski aku harus mengagumimu dalam keheningan. Aku akan selalu bersabar hingga tiba waktunya cintaku dan cintamu terbuka dengan siapa saja. Mungkin kini kita hanya bisa saling mencintai dalam diam dan keheningan. Tapi aku menikmati kehadiranmu saat ini layaknya sahabat, meski aku harus mencintaimu dalam diamku.

Cerpen Karangan: Novia Fernanda
Facebook: Novia Sepersial Fernanda

Cerpen Mencintaimu Dalam Diam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menyebut Namanya Dalam Sujudku

Oleh:
Hari ini, aku sungguh tak percaya dengan takdir allah. Bagaimana tidak? Dia satu kelas denganku. Ketika kelas 10, tak jarang aku menyebut namanya dalam sujudku, salah satunya agar dia

Diam

Oleh:
Kubuka novel misteri kesukaanku, aku ingin membaca lebih dalam lagi isi dari novel ini. Novel ini adalah novel yang pertama kali kubeli, karena sebelumnya aku tak tertarik dengan bacaan-bacaan

My Girl Nina

Oleh:
Nina namanya, seorang gadis berwajah oriental yang selalu membuatku terpana melihatnya. Dia sering memanggilku “Rio” sambil tersenyum. Aku memang baru mengenalnya, tapi dia begitu istimewa, sampai aku tidak bisa

Cintaku Berumur 40 Hari

Oleh:
Hari pertamaku prakerin seperti hari pertamaku masuk sekolah, ada rasa takut dan ada rasa sedih. Baru pertama aku kos jauh dari orangtua sedih sudah menyelimuti perasaanku dan takut bakal

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *