Mentari di Tengah Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 24 March 2014

Langit mendung menghiasi suasana indah nan sejuk kota Bogor. Sisa-sisa air hujan masih membasahi dedaunan yang menghijau. Udara dingin mulai terasa namun sang surya mengalahkannya.

Seorang gadis berkerudung berjalan menyusuri jalan yang sunyi seakan tak ada manusia disana selain dia. Gadis itu memandang sekeliling seakan tempat itu adalah tempat yang sudah sangat ia kenal.

“Pak, permisi… dulu disini ada rumah pohon kan? Dimana ya sekarang?” Tanya gadis itu kepada seorang petani yang kebetulan sedang lewat.
“Apa yang adik maksud rumah pohon di pohon rambutan?”
“Iya pak, bapak tau?”
“Adik jalan aja terus ke timur nanti adik akan ketemu rumah pohon itu.”
“Terimakasih pak… saya permisi… assalamualaikum.” Kata gadis itu sambil berjalan menuju tempat yang ditunjukkan bapak tadi.

Tak berapa lama gadis itu telah menemukan apa yang ia cari. Gadis itu berjalan berkeliling melihat-lihat. Senyumnya mengembang saat ia menemukan sebuah tulisan di sebuah pohon.
“Tulisan ini ternyata masih ada… aku bahkan sudah lupa pernah iseng nulis ini.” Batin Gadis itu.

Gadis berkerudung itu seakan bernostalgia tentang masa lalunya. Saking asyiknya ia bahkan lupa tujuan ia kembali ke tempat itu setelah bertahun-tahun ia tinggalkan. ingatannya tentang cinta monyet di masa kecil terputar kembali di ingatannya.

Suara dering hpnya membuyarkan semua lamunan gadis cantik itu. Ada telepon dari Ayahnya yang menyuruhnya untuk segera pulang ke rumah karena ada sesuatu yang ingin beliau bicarakan. Dengan sedikit terpaksa gadis itu bangkit dan berjalan pergi meninggalkan tempat kenangan itu.

Tanpa gadis itu sadari gelang yang sedari tadi melingkar di tangannya terjatuh tepat di dekat tangga rumah pohon itu.

Berselang beberapa menit setelah kepergian gadis itu seorang lelaki muda datang menghampiri rumah pohon itu. Lelaki itu berjalan menghampiri tangga dan menemukan gelang milik gadis tadi.
“Gelang ini?” gumam lelaki itu sambil mencari-cari pemilik gelang itu.
Namun tak ada satu orang pun yang ia temui di tempat itu. Dengan keyakinan yang besar lelaki itu berlari meninggalkan rumah pohon itu. Dering di hpnya tak bisa menghentikan langkah kakinya hingga langkahnya terhenti di sebuah rumah yang dulu sering ia datangi.
“Assalamualaikum..” salam cowok itu
“Waalaikumsalam… mau cari siapa ya?” Tanya seorang ibu separuh baya
“Tante Santi? Saya Hasan tante…”
“Hasan putranya mbak Asih?”
“Ia tante… tante kapan datang?”
“Kemarin malam… ayo masuk dulu… udah lama kan kamu gak main kesini… terakhir sebelum kami pindah ke Surabaya kan…?”
“Iya tante…” kata hasan sambil mengikuti tante santi masuk ke dalam rumah.
“Kok sepi tante…? Raisya kemana tan?”
“Kamu kesini pasti cari Raisya kan? Dia baru aja pergi sama ayahnya”
“Pergi? Kemana tante?”
“tante juga kurang tahu… mungkin bentar pulang…”
“ya udah tante kalau gitu saya pamit aja… saya ada janji sama temen.. nanti malam insyaallah saya kesini lagi… assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”

Hasan pergi meninggalkan rumah itu dengan sedikit rasa gembira. Orang yang selama ini ia tunggu-tunggu kehadirannya akhirnya dia kembali juga.

Seorang gadis cantik berambut panjang berjalan menghampiri hasan yang sedang melamun di depan rumahnya. Sambil tersenyum gadis itu menutup mata Hasan.
“Udah deh gak usah pake nutup-nutup mataku… aku tau ini kamu…” kata hasan santai
“Kok kamu bisa tau sih?”
“Iya lah… ada apa?”
“Kok ada apa sih? Kamu lupa kamu kan udah janji mau makan malam sama aku… kamu lupa? Please deh sayang penyakit lupamu itu jangan kambuh lagi donk.”
“Iya udah aku siap-siap dulu… kamu tunggu sini okey.” Kata hasan sambil bangkit dari tempat duduknya. Sedang gadis cantik itu tersenyum senang.

Gadis berambut panjang itu adalah Aurel… gadis yang sudah menjadi kekasih Hasan beberapa bulan yang lalu saat tanpa sengaja mereka bertabrakan di perpustakaan kampus. Sejak saat itulah tanpa menyerah Aurel terus mendekati Hasan hingga kini dia berhasil memiliki lelaki yang memiliki tahi lalat kecil di kening sebelah kanan itu.

“Sayang kamu kenapa sih? Kok dari tadi diam aja? Makanan kamu juga gak kamu makan dari tadi. Ada masalah?” Tanya Aurel saat mereka telah makan di cafe.
“Ah enggak Cuma lagi kurang enak badan aja aku… kamu udah selesai makannya?” kata Hasan menyembunyikan kegelisahannya
“Udah… ayo kita pulang.. kamu kan juga lagi gak enak badan…”
“Makasih ya kamu udah mau ngertiin aku… yuk kamu aku antar pulang.”

Hasan benar-benar bingung dengan hati dan pikirannya yang sedari tadi hanya ada ingatan-ingatan masa kecil bersama gadis cinta monyetnya dulu. Bahkan Hasan sudah tak sabar ingin bertemu dengan gadis itu. Setelah mengantar Aurel pulang Hasan langsung meluncur menuju rumah Gadis masa kecilnya.

“Assalamualaikum…” kata Hasan setibanya di rumah bercat coklat
“Waalaikumsalam… maaf cari siapa ya?” Tanya Gadis berkerudung yang membuat hasan terpana.
“Cari Raisya… bisa bertemu dengan dia?”
“Saya Raisya… anda siapa?” Tanya gadis itu bingung.
“Kenalin gue anak cowok yang loe tinggalin 8 tahun yang lalu…”
“subhanallah… kak hasan? Kamu kak Hasan?”
“Iya gue Hasan sya…”
“ayo kak masuk…”
“Makasih..”
“Darimana kakak tau aku udah balik kesini lagi?”
“Jangan panggil gue hasan kalau gue gak bisa tau dimana lokasi loe sekarang… loe lupa kita itu punya ikatan batin yang kuat…”
“Bohong banget…”
“Ini milik loe kan? Gue nemu ini di tangga rumah pohon tadi sore… thanks ya loe masih nyimpen gelang ini…”
“Gelang itu kan amanah dari kakak… dan aku punya kewajiban untuk menjaganya.”
“Loe berubah banget sekarang? Gue aja sampe pangling lihat loe tadi. Loe tambah cantik…”
“Kakak juga berubah kok… aku tadi kan juga gak ngenalin kakak.”
Obrolan-obrolan pun terus berlanjut. Mereka saling bertukar cerita seputar pengalaman mereka selama perpisahan itu. Mereka saling melepas rindu yang telah lama mereka pendam bertahun-tahun lamanya.

Pertemuan itu ternyata tak berhenti sampai di malam itu saja. Mereka sering bersma seperti 8 tahun yang lalu. Kedekatan mereka membuat Hasan sering berbohong kepada Aurel kekasihnya. Kerinduannya pada Raisya ternyata mampu menghilangkan semua perhatian yang dulu selalu ia tujukan kepada Aurel

Perubahan sikap Hasan mulai dirasa oleh Aurel. Hasan kini tak lagi sama seperti Hasan yang dulu. Kini Hasan jarang mengiyakan permintaan Aurel dengan berbagai macam alasan. Raisya pun juga merasakan ada yang disembunyikan oleh Hasan. Sikapnya yang dulu terbuka kini sedikit tertutup kepadanya.

“Kak…” Tanya Raisya suatu hari saat Raisya bersama Hasan.
“Ada apa?” Tanya Hasan santai
“ini foto siapa?” Tanya Raisya sambil menunjukkan sebuah foto gadis cantik berambut panjang.
“Dari mana loe dapet foto ini?”
“Kemarin gue gak sengaja nemuin di bawah meja saat loe pergi… ini cewek loe?”
Hasan tak menjawab pertanyaan Raisya. Raisya memandang mata Hasan penuh tanya. Hasan mengambil nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan Raisya.
“Iya dia cewek gue… 3 bulan lalu gue sama dia jadian.” Kata Hasan memandang wajah Raisya yang mulai mendung.
“Hmmm…” kata Raisya sambil memalingkan wajahnya dari tatapan mata Hasan.
“maaf…” Kata Hasan
“maaf? Emang loe salah apa sama gue?”
“Gue…”
“Ternyata kamu disini… tadi aku ke rumah kamu tapi kata bibik kamu lagi keluar… ternyata kita malah ketemu disini… ini siapa?” Kata Aurel mengejutkan Hasan dan Raisya
“Dia…”
“Gue Raisya… gue bukan siapa-siapanya dia kok tadi kebetulan aja tempat ini ramai makanya gue numpang duduk disini… ya udah gue pergi dulu… makasih tumpangannya.” Kata Raisya sambil pergi meninggalkan Hasan dan Aurel
“Maafin gue kak… gue harus bohong…” Batin Raisya
“Kamu kenapa kok bengong gitu…”
“gak papa… kamu ada apa nyariin aku?”
Aurel menceritakan perihal dia menemui Hasan. Sedang Raisya berlari menjauh dari tempat itu sambil menahan air matanya.

Raisya menghentikan langkah kakinya menuju rumah pohon tempat dimana ia dan Hasan sering bertemu.
Raisya memandang sebuah tulisan di pohon besar yang menopang rumah pohon itu. Air matanya mengalir. Sakit di hatinya begitu menyiksa. Penyesalan di dalam hatinya seakan tertawa melihat keterlambatannya.

Titik-titik hujan mulai membasahi dedaunan hijau. Langit seakan ikut merasakan kesedihan Raisya. Di dalam dinginnya hujan Raisya meratapi semua takdir yang tak lagi berpihak kepadanya. 8 tahun ternyata telah mampu membuat Hasan melupakan semua janjinya kepada Raisya.

“Sya gue tau loe ada di atas… turun sya… ada yang perlu gue jelasin ke loe sya… please turun sya…” Teriak Hasan di tengah derasnya air hujan.
“Sya gue tau loe kecewa sama gue… gue tau gue salah… gue tau gue udah ingkar janji tapi gue gak pernah lupa sama janji gue ke loe 8 tahun lalu sya… kalaupun gue pacaran sama Aurel itu karena… karena… karena gue jenuh… gue jenuh nungguin loe yang pergi tanpa kabar… gue takut penantianku tak berujung… makanya saat gue tanpa sengaja mengenal Aurel gue merasa sosok loe ada di dalam diri loe… sikap loe yang manja… cengeng.. cerewet.. semua ada pada dia… gue tau loe tetaplah loe… gadis unik yang selalu dan selamanya gue cintai sya… gue cinta sama loe sya…” Kata Hasan tetapi tak ada jawaban dari Raisya.

Raisya hanya meneteskan air matanya. Dia bingung dengan semua yang terjadi… dia senang karena ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan… tapi di sisi lain dia juga gak mau jadi manusia yang egois bagaimanapun Hasan telah dimiliki oleh Aurel meski cintanya untuk Raisya bukan Aurel.

Di tempat yang tak jauh sesosok gadis cantik berambut panjang itu menangis di tengah hujan. Hatinya sangat sakit, kekasih yang selalu dipujanya ternyata tak mencintainya selama ini.
“Sya… tolong loe turun sya… gue gak mau loe giniin gue… cukup sya 8 tahun loe ninggalin gue… gue gak mau kehilangan loe lagi… kalau perlu gue mau mutusin Aurel sekarang juga asal loe mau maafin gue…”
“Jangan… aku mohon jangan…” Kata Raisya terisak sambil melangkah menuruni tangga.
“Jangan… loe jangan mutusin Aurel… dia sangat mencintai kamu… aku gak mau kedatanganku di dalam hidupmu lagi menyakiti hati orang lain… cukup biar gue yang tersakiti… loe jaga dia..” kata Raisya sambil menangis.
“Tapi Sya… aku…”
“Kak… bagiku udah cukup… aku udah sangat bahagia kakak masih mencintaiku… aku bahagia denger itu semua…”
“Aku yang harusnya pergi bukan kamu Sya… aku yang tiba-tiba aja datang di kehidupan kalian… aku yang udah buat keadaan ini semakin sulit… aku yang udah buat Hasan ingkar janji…”
“Aurel? Gue bisa jelasin semua ini ke loe…” kata Hasan panik
“San loe gak perlu jelasin apa-apa ke gue… gue udah tau semuanya… gue yang harusnya minta maaf. Harusnya gue gak maksa loe buat cinta sama gue… gue yang akan pergi… kalian berhak bahagia…”
“Tapi kak… Kak Hasan sebenarnya…”
“Sya… cukup… gue gak papa kok… gue yakin suatu saat nanti entah kapan Tuhan pasti ngirimin gue seseorang yang jauh lebih baik dari Hasan… jaga dia baik-baik San…” Kata Aurel sambil memeluk Raisya di tengah derasnya hujan.
“Makasih kak…” Kata Raisya

Di tengah hujan yang mulai mereda, Dua hati yang pernah terpisah lama itu pun bersatu kembali setelah beberapa kali berperang dengan batin mereka masing-masing. Tuhan telah menunjukkan kuasanya… Dia telah mampu menyatukan dua hati itu. Mentari itu bersinar cerah di tengah derasnya hujan sore itu.

-Tamat-

Cerpen Karangan: Nur Ratnawati
Facebook: Nur Ratnawati

Cerpen Mentari di Tengah Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Tidak Harus Memiliki

Oleh:
Suasana gaduh dan riuh seketika berhenti ketika guru yang terkenal paling killer itu masuk ke dalam kelas. Aku yang sedang duduk di bangku ujung belakang langsung lari terbirit-birit menuju

Kado Terakhir Untukmu (Part 2)

Oleh:
Setelah selesai ku perhatikan semua ucapan ulang tahun itu, kerjaan baru siap menanti yaitu menyatukan kumpulan-kumpulan video ucapan yang masih terpisah namun hal itu aku kesampingkan dulu. Sekarang mencari

Jaket Ungu

Oleh:
Hujan sore ini cukup membuatku menggigil, kucoba menatap langit di luar belum ada tanda bahwa hujan akan berhenti. Aku kembali masuk ke dalam kamarku, membuka sedikit jendela untuk cukup

Cinta Dalam Diam

Oleh:
“Laksana mentari yang menyinari bumi ini, cahayanya yang mampu memberikan semangat kehidupanku. Matanya yang selalu membuatku tak sanggup untuk melihat lebih dalam lagi dan senyumannya membuatku terpaku saat aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Mentari di Tengah Hujan”

  1. ismawati achmad says:

    Ceritanya seru-seru bikin aku ketagihan!!!<3<3

  2. maya says:

    Bagus, bnget kak cerpen ny. Pengen deh kayk kakak.
    Kebtulan q orng ny suka baca cerpen.

    Smangt bwat kk teruslh brkarya dlm bdang sastra
    Oh y kak q pengen bljar buat cerpen ma kk
    Lo kk gx kberatan ajarin q y..
    Ni almat fb q maya nak satap

    Love you kk…
    Moga makin sukses amin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *