Mimpi dan Fana (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 12 August 2019

Ini adalah mimpi. Bagaimana aku tau?

Aku berdiri di bawah himpunan dedaunan. Rasanya rindang, seperti sebuah tameng yang melindungiku dari terpaan sinar matahari. Tapi, layaknya sebuah benda yang tertarik oleh gravitasi, dedaunan itu mulai rontok. Rontok satu persatu sampai hanya menyisakan dua helai daun saja.

Aku tak mengerti.
Kiasan ini terlalu sulit untuk kupahami.

Jadi begitulah, aku tau kalau ini mimpi karena aku telah melihat hal itu. Hal yang hampir tak mungkin untuk terjadi di dunia nyata. Intinya, ini adalah dunia yang fana.

Aku berjalan sendirian di antara hijaunya padang rerumputan. Baunya menyeruak, mematahkan seluruh pandangaku kepada pemandangan yang terpampang di hadapanku.
Terdapat gunung dengan puncak es yang mengelilingiku, dan juga ada danau kristal yang membuat siapa saja yang melihatnya terpana. Termasuk aku.
Ya, aku terpana. Terpana terhadap pemandangan indah di mimpiku sendiri. Ini sungguh bodoh, tapi ya itulah kenyataannya.

Aku duduk sendirian di tempat ini. Kubiarkan setiap hembusan angin, menghembuskan rambut panjangku sampai membuatnya berantakan. Sejujurnya, aku tidak begitu peduli dengan keadaan rambutku saat ini, lagipula ini hanyalah mimpi.

Kurasakan suatu rasa kesepian yang mendera hatiku. Aku butuh seseorang, yang mau menemaniku melihat segala pemandangan indah di tempat ini.

Seseorang, datanglah kemari. Menemaniku.

Srek! Sebuah suara kecil mengganggu pikiranku. Aku menoleh menuju sumber suara itu. Aku melihat seorang laki-laki asing yang sedang berdiri tepat di hadapanku.
Ia memberikanku tatapan yang datar. Seolah mengharapkan aku membuka mulutku dan menyapanya.

Aku berdiri, hendak menyapanya namun tak jadi kulakukan. Karena aku berpikir, ini adalah mimpi dan orang yang sekarang sedang berdiri di depanku ini tidaklah nyata, ia hanyalah khayalan yang terbentuk layaknya sebuah potongan puzzle di mimpiku.
Tapi segala kemungkinan tidak sepenuhnya benar bukan? Akan kutanyakan apakah ia nyata atau tidak.

“Apakah kamu nyata?”
Sebuah suara berkumandang memasuki telingaku. Itu bukan suaraku, melainkan suara berat laki-laki sebaya yang sekarang sedang berdiri di hadapanku.
“Hah?”
Tunggu! Seharusnya aku yang menanyakan itu, tapi mengapa?
“Hei seharusnya aku yang bertanya itu! Mengapa kamu berani membaca pikiranku? Ini kan mimpiku.” Kataku dengan agak agresif.
Ia terlihat terkejut. “Apa? Mimpimu? Yang benar ini mimpiku.”
Mimpinya? Yang benar saja! Memangnya siapa yang memiliki sudut pandang dan penokohan di sini. Jelas-jelas ia melanggar ketentuan sifat tokoh yang aku idamkan di mimpiku.

Aku kembali menatap matanya, ia juga terlihat sedang menatapku. Aku hendak berkata kembali, tapi sebelum itu ia sudah memotong kata-kata yang belum sempat untuk aku ucapkan.
“Wajahmu memerah.”
“Ugh!?”
Aku menutup seluruh wajahku dengan telapak tangan. Ini jelas-jelas memalukan. Mimpi apa ini? Aku juga tidak mengharapkan ia berkata seperti itu. Harusnya aku yang mengendalikan kejadian di mimpi ini.

Kurentangkan tanganku ke arahnya, lalu secara spontan sebuah kata-kata terucapkan. “Jadilah sebuah tikus.”
Hening sejenak, laki-laki itu menatapku dengan bosan dan heran.
“Hah? Apa itu? Kenapa kamu mau mengubahku menjadi tikus?”
Kuhembuskan nafasku dengan pasrah “Tidak apa-apa.”

Aku pun langsung duduk meringkuk, terduduk di atas dan diantara rerumputan hijau. “Aku tidak mengerti. Mimpi apa ini? Mengapa terasa begitu nyata.” Kueratkan pegangan tanganku pada kain bajuku. Lalu kudengar suara langkah kaki yang mendekatiku, derapannya begitu lembut, seolah derapan itu bisa menyesuaikan dengan tempo degupan jantungku saat ini.
Kudongakkan kepalaku ke arah laki-laki itu. “Kenapa?”
Mendadak ia tersenyum. Aku tersentak kaget, bagaimana tidak? aku kira ia adalah tipe laki-laki yang tidak bisa tersenyum. Jika dilihat dari raut wajahnya yang datar akan mudah ditebak bagaimana sifatnya.

“Kamu tahu?” Ia membuka suaranya. “Ini pertama kalinya aku tersenyum.”
Tidak mungkin! Memangnya bagaimana kehidupannya? Aku tidak bisa membayangkan sebuah kehidupan tanpa senyuman.
Ku menatapnya dengan tatapan ketidak percayaan. Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi aku benar-benar tidak percaya.
“Benarkah?”
Ia mengangguk. “Ya, aku tidak mempunyai waktu untuk tersenyum di dunia nyata, oleh karena itu aku selalu mencoba untuk tersenyum di dunia mimpi. Ya, walaupun itu terasa sangat sulit.”
Dunia nyata, dunia mimpi. Tunggu dulu! Jadi, laki-laki ini bukanlah khayalanku.

“Tunggu dulu. Kalau kamu dan aku ini asli, lalu apa yang terjadi? Apa yang sebenarnya terjadi di mimpi ini?”
“Mungkin yang terjadi…”

Suara alarm yang mengguncang pikiranku. Aku terbangun, sebagian mataku mulai terbuka dan menyesuaikan diri dengan banyaknya cahaya yang masuk ke dalam mataku.
Remang-remang mimpi. Oh mimpi ya? mengenai mimpi, sepertinya aku mengingat sesuatu.
Sesuatu mengenai laki-laki dan, hmm… Oh aku ingat! Aku bertemu dengan seorang laki-laki aneh di mimpiku. Wajahnya sedikit samar-samar tapi cepat atau lambat aku pasti akan mengingatnya. Mengingat semua tatapan dingin yang ia berikan padaku. Dan kata-kata yang ia lontarkan padaku.

Berbicara mengenai kata-kata, ada sebuah kata-kata monoton yang sedari tadi berputar-putar di telingaku. Mungkin kata-kata ini begitu pendek, atau bahkan terpotong, tapi entah mengapa kata-kata itu dengan begitu mudahnya teriang-iang di kepalaku.
“Mungkin yang terjadi…”
Sungguh tak terelakan, kata-kata yang begitu penting selalu terpotong disaat yang tak terduga. Begitukah cara kerja mimpi?

Sebuah tatapan sendu terlukis di wajahku tatkala aku berkaca di depan cermin.

Akan kuceritakan dari awal. Aku terbangun di pagi hari, mengingat semua mimpi-mimpi dan dengan tanpa alasan yang jelas, aku menangis.
Ya, aku menangis.
Aku menangis karena mengingat mimpi itu. Sejuta perasaan tercampur aduk menjadi satu di dalam sebuah tempat bernama mimpi. Mungkin itulah yang membuatku menangis, karena mimpi tadi berhasil mengaduk-aduk perasaanku. Tapi sesuatu seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Ku menatap pangkal tanganku yang kugunakan untuk menyeka air mataku. Terlihat sedikit tetesan air mata yang membekas di sana.
Rerinduan pohon diterpa oleh jutaan hembusan angin. Mungkin hidupku ini seperti angin, tak dapat dilihat tapi kalian dapat merasakannya.
Oh aku tidak boleh bernostalgia terlalu lama. Segera kupakai seragam SMA-ku lalu mengucir rapi rambut panjangku.

Suasana perkotaan langsung terasa tatkala aku menginjakkan kaki keluar rumah, menunggu datangnya bus dan belajar di sekolah.
Sampai akhirnya kudengar sahutan suara teman sekelasku. “Reina! Kamu hampir terlambat.”

Malam yang kutunggu telah tiba. Aku berdiri tegap layaknya seseorang yang sedang menyiapkan dirinya untuk masuk ke dalam ruang kesunyian.
Pukul 09.00. Waktu dimana hampir separuh manusia mulai tertidur. Termasuk aku. Tapi, aku mempunyai sebuah alasan tersendiri kenapa aku begitu gugup untuk tidur.
Aku mau bertemu dengan laki-laki itu. Bertemu dengannya, bertatap muka dengannya. Walaupun aku tau kalau kemungkinan mimpi itu terulang kembali juga sangatlah kecil.
Juga laki-laki itu. Apakah ia menungguku? Apa ia sudah bersiap tertidur untuk bertemu kembali denganku?

Kutopang kepalaku di atas bantal, menutup badanku dengan selimut lalu memejamkan mata.
Hitam, pekat.

Apa aku sudah tertidur? Ah tidak! Tidak mungkin seorang manusia seperti aku bisa tertidur secepat itu. Tapi saat aku membuka mataku, tempat yang terlihat familiar bagiku, terpampang dengan jelas di depan mataku.

Tempat ini.
Tempat dimana mimpiku kemarin.
Aku sudah bermimpi.

Aku tersenyum, berjalan kesana kemari layaknya seorang anak kecil yang baru saja datang ke rumah neneknya. Mungkin akulah anak kecil itu.

Suatu hal kembali terbesit di pikiranku. Laki-laki itu, oh aku tau! Tujuanku ke sini adalah untuk bertemu dengan ‘dia’. Ku berlari ke seluruh tempat di mimpi ini.
Mencarinya, mencari dirinya.
Harus kutemukan, laki-laki itu.
Dimana kamu?

Aku tidak bisa menemukannya. Sudah kucari ke seluruh tempat, seluruh celah. Tapi tak kunjung kutemukan. Lalu aku-pun menangis. Kusinkronisasikan suara tangisanku dengan suara degupan detak jantungku. Aku kecewa, aku kecewa karena tak bisa menemuinya. Seharusnya sejak awal aku sadar, kalau manusia tidak bisa mengulang mimpinya lagi, sama persis seperti kehidupan.

“Kenapa kamu menangis?”
Suara itu.
Kudongakkan kepalaku. Sebuah wajah yang menutup arahnya cahaya, membuatku tak sanggup untuk melihat wajahnya.

“Siapa kamu? Apa kamu orang jahat? Pergi!” Kubentakan kata-kata itu kepada orang asing tersebut.
Kudengar sebuah hembusan nafas kasar yang keluar dari mulut orang itu. “Benarkah? Kamu benar-benar melupakanku?”
Suara dingin itu. Tunggu aku mengenalinya, suara yang pernah kudengar sebelumnya. Suara itu.
“Hah? Aaaa!!”
Kuhentakan tubuhku ke arah belakang, membuatku jatuh ke arah rerumputan dengan bagian pantat yang mendarat terlebih dahulu.

“Kamu! Laki-laki kemarin. Kamu di sini lagi?”
Ia terlihat bingung, tapi kemudian ia tersenyum. “Bukankah kamu menungguku?”
Aku hendak mengangguk, tapi spontanitas memaksaku untuk menggelengkan kepala. Tidak! Aku benar-benar menunggunya, aku benar-benar mengharapkannya untuk datang. Aku, aku…

“Kenapa kamu datang terlambat?” Kata-kata itu mendadak keluar saat diriku gugup, hal ini kerap terjadi sebelumnya di dunia nyata, tapi tak kusangka akan terjadi juga di mimpiku. Ternyata mitos mengenai kehidupan di mimpi yang berbeda 180 derajat dengan dunia nyata tak berlaku di sini.
“Kenapa? Kamu pikir ini sekolah? Ya, aku harus mengerjakkan pr-ku hingga agak larut jadi beginilah aku terlambat.” Ia memasukkan tangannya ke dalam kantungnya. Ia kedinginan?

“Jadi bagaimana? Kamu menungguku bukan?”
Ugh! Entah telah berapa kali kata-katanya itu berhasil membuatku gugup. Mungkin sekali, dua kali? Hmm… aku tidak ingat. Mungkin..

“Wajahmu memerah.”
Hah?
“Hentikan!” Secara naruliah aku berteriak. “Kau hanya memperburuk suasana.”
Laki-laki itu tertawa. Dan ini untuk pertama kalinya aku melihatnya tertawa selain melihat wajah dinginnya itu. “Maaf, maaf. Aku hanya sekedar memberi tahu.”
Kutatap matanya sambil ku memeluk diriku sendiri. Ada apa dengan senyuman mes*m itu? Mencurigakan.

“Hmm”
“Boleh aku duduk di sampingmu?” Katanya sambil berjalan ke arahku.
Mataku tak henti-hentinya menatap wajahnya. Putih, bening dengan parasnya yang proposional.
“Silahkan.”

“Lelahnya. Tak kusangka aku bisa merasakan lelah di mimpi. Kamu sendiri?”
Aku mengangguk. “Aku sempat berlari-lari tadi. Dan akhirnya aku merasa lelah dan beristirahat. Aku juga bingung, sebenarnya tempat apa ini?”
Dia menatapku dengan gusar. Lalu kembali menatap pemandangan di depannya dengan kosong. Aku yang melihat itu juga hanya bisa mengikutinya. Ikut terlarut ke dalam kesunyian dan kekosongan.

“Anu. Kamu tau?” Ia-pun bersuara.
Aku-pun menatapnya sambil memberikannya ekspresi berkata ‘apa?’.
“Apakah kamu sempat berpikir kalau sebenarnya kita, bertemu di dalam mimpi.”
“Ya!” Kucondongkan tubuhku ke arahnya, mendekatkan wajahku ke arah wajahnya. Tunggu! Ini terlalu dekat.
Dengan segera kutarik wajahku menjauhi wajahnya. Ku-bisa merasakan wajahku yang memerah panas layaknya sebuah kobaran korek api. Aku yakin ia pasti akan mengatakan kalau wajahku memerah. Menyebalkan, ini sungguh memalukkan.
“Ma-maaf.” Ujarku terbata-bata.

Ku merasakan sepasang matanya sedang menatapku, dan seperdetik kemudian ia tersenyum. “Tidak apa-apa. Kebiasaan lama memang susah dihilangkan, bahkan di dalam mimpi. Oh! Daripada itu, wajahmu memerah.”
Menyebalkan! Sudah kuduga ia akan mengatakannya.
“Begitu ya?” Jawabku dengan kikuk lalu terkekeh perlahan.

“Bicara mengenai bertemu dalam mimpi. Kamu juga sempat berpikir seperti itu?”
Kuanggukkan kepalaku. “Ya! Benar sekali, kemarin aku membaca sebuah buku di perpustakaan. Dan ada yang pernah mengalami fenomena ini. Apa lagi setelah melihat sifatmu yang seperti itu, aku jadi bertambah yakin.”
Ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mencerna setiap kata-kata yang terlontarkan dari mulutku.

“Kalau boleh tau, buku apa yang kamu baca?” Ia bertanya.
“Buku dongeng mengenai mimpi.”
“Hah?”
Ada apa dengan tatapan itu? Sebuah tatapan yang menunjukkan rasa keremehan terhadap diriku. Mengerikan! Sebenarnya aku bukan seorang tipe perempuan pengamat, tapi kalau terpaksa, aku bisa menjadi seorang pengamat wajah yang handal. Itulah diriku.

“Kamu mempercayai sebuah informasi dari buku dongeng?” Tanyanya dengan sedikit jengkel.
“Ya, memang kenapa? Ada yang salah?”
“Tidak.” Jawabnya dengan lesu, lalu terkulai dengan lemas diatas hijaunya hamparan rerumputan.

Tidak tau dari mana keberanian itu muncul, aku-pun ikut tertidur bersamanya di atas rerumputan sambil menatap hijaunya langit.

“Hei!” Kami menyinkronisasikan suara kami. Ya, kami bersuara secara bersamaan.
“Kamu dulu.” Ujarnya kepadaku.
“Tidak, kamu dulu saja.” Tawarku.

Seperti yang ia lakukan tadi, ia kembali menatap birunya langit dengan beberapa banyak awan di atas sana. Menghembuskan nafasnya beberapa kali lalu kembali menatapku.

“Sejak pertama kali kita bertemu, aku belum pernah mengetahui namamu.”
Oh itu benar! Sejak pertama kali kita bertemu sampai sekarang, kita hanya bercakap-cakap layaknya orang asing yang baru saja bertemu di persimpangan jalan raya.
“Ya itu benar.” Timpalku.
“Kalau begitu, boleh aku bertanya. Siapa namamu?”
Itu mudah, aku hanya tinggal memberi tahukannya namaku lalu, selesai.
Ku membuka mulutku sedikit demi sedikit. “Namaku-”

Satu detik, dua detik, mulutku masih terbuka dan belum mengeluarkan sepatah katapun.

Namaku.
Siapa namaku?
Aku tidak ingat.

“Aku tidak ingat namaku!” Ku berkata dengan raut wajah yang menyiratkan perasaan panik. Aku mengubah posisiku menjadi duduk. Lalu berpikir keras untuk mengingat namaku.
“Namaku, namaku, aku tidak ingat. Siapa? Siapa namaku?”
Sial ku tak bisa mengingatnya.

“Tenanglah.” Sebuah tepukan lembut berhasil menenangkanku. Dalam kurun waktu dua detik, aku sudah sanggup menenangkan pikiran dan reaksiku.
“Tenanglah, aku juga tidak bisa mengingat namaku.” Ia menatapku seolah ia mengerti isi perasaanku saat ini.
“Benarkah?”
Ia mengangguk. Lalu berdiri dan merentangkan tangannya kepadaku untuk ikut berdiri. “Maaf ya sudah membuatmu panik.”
Aku-pun tersenyum. “Tidak, tidak apa-apa.”

Kupegang erat tangannya untuk memikulku berdiri. “Jadi bagaimana dengan nama kita?”
Ia terlihat berpikir dengan keras, dan seperdetik kemudian ia seperti berhasil menemukan sesuatu. “Kita buat nama panggilan baru di mimpi kita.”
Nama panggilan baru? Sepertinya menarik.
“Akan kupanggil kamu Kara.” Ia menunjuk diriku dan secara spontan aku menunjuk diriku sendiri.
Aku Kara? Hei tunggu dulu! Seharusnya aku yang memutuskan nama apa yang akan kupakai nanti.
“Keputusanku tidak boleh diganggu gugat. Nama Kara yang kalau disusun menjadi akar yang berarti salah satu anggota tubuh dari pohon. Itu makna nama yang aku berikan padamu.”
Jenis pemikiran model terbaru macam apa itu? Aku tidak pernah mengerti jalur pikirannya. Selalu unik dan sulit kutebak.
Baik akan kuterima sebutan tersebut.
Aku mengangguk.

Ia terlihat senang. Ia menggenggam erat kedua tanganku dan melompat-lompat dengan senang layaknya seorang anak kecil. “Kalau begitu, ayo kita buat hari di mimpi kita terasa begitu indah.”
Aku mengangguk dan tersenyum. Terpaan angin hangat serasa menyempurnakan kejadian berharga yang terjadi di mimpi kita hari ini. Aku, Kara dengan mudahnya tersenyum saat menikmati hari-hari di mimpiku.

Aku-pun merasa sesuatu terlewat. “Tunggu!” Kuhentikan langkahnya.
Ia yang berdiri cukup jauh dariku-pun secara naluriah menoleh. “Ya? Ada apa?”
“Bagaimana denganmu? Nama apa yang akan kamu gunakan?”
Sebuah senyuman terlukis kembali di wajahnya. Aku merasa kalau sejak sekarang ia terlihat begitu mudah untuk dapat tersenyum. “Panggil aku Daun.”
Ia berkata itu seolah dengan tanpa beban, lalu kembali melanjutkan langkahnya.

Daun? Ia benar-benar menggunakan nama itu? Nama yang terdengar sangat aneh kalau didengar oleh orang lain. Tidakkah ia mencoba mengacak huruf-huruf itu agar menjadi sebuah nama yang baku. Tapi sepertinya daun adalah nama yang cocok untuknya.
Ia memilih nama itu, untuk menjadi sebuah pelindung bagi akar agar tidak terkena terpaan teriknya sinar matahari.
Oh ini terdengar berlebihan, tapi mungkin itulah kenyataannya.

Tapi, awal mula ceritaku bersamanya bermula disini.

Cerpen Karangan: Vaesnavadeva Adhyatma
Blog / Facebook: Vaesnavadeva Adhyatma
Seorang penulis yang suka menulis dengan sedikit dialog. Suka menulis cerita mengenai mimpi dan pikiran. Bercita-cita menjadi seorang novelis dan memulai karir dengan menulis cerpen.
Berikan kritik dan saran kalian ya. Itu akan sangat membantu.

Cerpen Mimpi dan Fana (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Destroyers

Oleh:
Bumi, Laut, Daratan, apa arti dari dari semua itu? Apa artinya jika dunia yang indah ini terhiasi oleh sampah, sampah yang menumpuk bagai bukit, sampah busuk bak lautan, sampah

Seperti Bintang

Oleh:
Dira tersenyum kagum saat melihat Ares berhasil memasukan bola ke dalam ring. Dira begitu memperhatikan permainan basket Ares sampai dia tidak sadar bahwa Alin sudah berada di sampingnya. “Asyik

Senja Esok Hari (Part 1)

Oleh:
Bunga tidur menghampiri hidupku setiap hari. Isinya selalu bercerita tentang hal yang sama. Tapi aku tak tahu apa maksudnya. Di sana, aku melihat sosokmu yang selalu berada di sampingku.

WC Pengubah Segala

Oleh:
Sekarang aku berada di sebuah ruangan yang menurutku itu sangat tidak sopan untuk diceritakan, yah… sebelumnya perkenalkan namaku adalah Alvin aku berada di kelas 9A sekarang untuk tempat yang

Valentine

Oleh:
Pada saat menjelang valentine sivia dengan julukan via menyiapkan acara valentine dengan sahabatnya chicco mereka adalah anggota OSIS d sekolahnya, Chicco ketua OSISnya dan Via wakilnya. Mereka bertukar fikiran

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Mimpi dan Fana (Part 1)”

  1. moderator says:

    Permulaan cerita yang menarik… dan membangkitkan rasa penasaran akan seperti apa kelanjutan ceritanya nanti… ^_^

    Thanks for share this story Vaes ^_^

    ~ Mod N

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *