My Caramel Macchiato

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 13 May 2020

“Aku mau putus sama kamu…!!!”, ungkapnya di depanku. Aku bahkan belum duduk lama di kursi itu, bahkan aku belum sempat memesan apapun dan pesanannya juga belum sampai. Hujan pertama di bulan itu membuatku basah kuyup saat menemuinya. Aku rela menerobos hujan karena sesuatu hal penting baginya yang akan ia katakan. Aku bahkan belum menyeka tetes hujan yang masih jatuh dari sela-sela rambutku. Semenyedihkankah aku sampai harus diputuskan di situasi yang menyedihkan ini?. Bahkan bunyi petir seakan menjadi backsound dari adegan ini. Bahkan orang-orang mulai menatap kami. Bahkan…

“Kamu dengar aku kan, aku ga pernah cinta sama kamu!!!”, tegasnya dengan tampang tak berdosanya ia menyadarkan aku dari lamunanku, aku kembali ke dunia nyata. Aku harus mengendalikan perasaanku, meski di dalamnya hancur tapi aku tak boleh terlihat menyedihkan di depannya. Aku harus bertahan.

“Ini soal Maya, kan!!”, selidikku, ia sedikit terkejut. Baiklah, kalau ini adalah akhir aku siap dan semua uneg-unegku tentang perselingkuhannya dengan teman baikku, Maya, mengalir begitu saja dan semua umpatanku tentangnya keluar begitu saja.

“Ohh, ternyata kamu udah tahu, bagus deh. Jadi aku ga usah capek-capek jelasin sama kamu”, jelasnya. Baiklah itu tadi hanya khayalanku saja yang sok keluarin uneg-uneg dan kenyataannya aku hanya diam tak percaya sebegitu mudahnya ia menggampangkan perselingkuhan mereka di depanku. Aku sudah tahu dari 2 bulan lalu tentang itu tapi aku berharap itu hanya sesaat dan Diza bisa sadar kembali. Tapi percuma saja itu kembali jadi angan-angan saja.

“Aku juga udah mau tunangan sama dia jadi tolong loe restuin kita”, terangnya. Amarahku seakan ingin meledak namun sakit hatiku membuatku ingin menangis. Kami diam sesaat ketika pesanan Americano panas diletakkan di depan kami, air mata sudah ada di pelupuk mataku ketika ide itu muncul dalam pikiranku. Aku menimbang-nimbang ide kopi itu.

“Baiklah, kita putus. Gue ucapin selamat buat loe brengsek…!!!”, senyumnya tersungging namun berubah tiba-tiba ketika aku bangkit dan menyiramkan kopi itu di kemeja putihnya. Ia pun blingsatan menahan panas dan menahan malu.

“loe udah gila Kar…!!”, ia beranjak pergi dengan wajah kesal. Ahh aku sedikit senang. Tapi sekarang tinggal aku sendiri dengan kekacauan ini. Aku memanggil waitress lalu memesan Americano lagi, itu adalah favorit kami berdua sebenarnya sih hanya Diza, aku berpindah tempat menuju sudut kafe yang agak sepi dan berdampingan dengan dinding kaca besar yang buram berembun.

Perasaanku masih kesal penuh amarah, Diza yang udah khianatin loe kenapa loe harus nangis. Tapi hujan di luar sana membuat hatiku melumer, pertahananku hancur, aku menangis sejadi-jadinya bukan karena teringat kenanganku tentang Diza 1 tahun ini, tapi pengkhianatan yang dilakukan oleh mereka. Apa begitu menyedihkannya kah aku?? Sampai-sampai harus dikhianati oleh orang orang terdekatku. Apa sebegitu naifnya kah aku?.

Tangisku semakin keras, aku tak peduli dengan tatapan orang kepadaku toh aku tak mengenal mereka. Seseorang menghampiriku, membawakan pesanan ke mejaku, aku mengamati minuman dan tahu kalau itu bukan pesananku. Seseorang tolong dong ngertiin aku.
“Mas!!, aku pesannya Americano…!!”, desahku, tangisku menjadi-jadi. Penglihatanku buram karena penuh dengan air mata tapi aku bisa melihat orang itu duduk di depanku kemudian meletakkan sekotak tissue di depanku. Aku meraihnya dan mengambil beberapa dan mengelap ingusku yang muncul. Aku tak peduli dengan pria di depanku menganggap aku jorok.
“Karamel macchiato lebih cocok buat loe yang sekarang ini, tapi americano sih emang lebih cocok buat nyiram cowok tadi. Loe tadi keren…”, ia mengangkat jempolnya. Tangisku mulai reda, tiba-tiba seseorang menganggapmu keren di situasi menyedihkan itu adalah hal yang paling menyenangkan, aku pun merasa kisah cintaku tak semenyedihkan itu. Aku tersenyum.

“Loe mau ga dengerin cerita gue…”, pintaku. Aku tak berharap banyak ia akan menjawab yah, siapa juga yang mau mendengar curhatan cewek yang baru diputusin sama pacarnya.
“Ok, yang penting loe nikmatin minumannya, gue sendiri loh yang bikin, gue Arya, salam kenal…”, ungkapnya sambil menjulurkan tangannya. Aku meraih tangannya merasakan tangan hangatnya dan senyumannya yang menghangatkan hatiku.
“Karenina, panggil aja Karen”, aku tersenyum sambil menyeruput karamel macchiato yang katanya buatannya, manis dan menyejukkan perasaanku.

Aku pun memulai ceritaku tentang pengkhianatan Diza dan Maya, sampai menjalar ke kehidupanku yang sedikit banyak menyedihkan dan ia juga mengisinya dengan lelucon yang membuatku tergelak. Jadi jangan heran kalian mungkin akan melihatku sebentar-bentar menangis sebentar-bentar tertawa. Hari itu aku mengeluarkan segala uneg-unegku tentang duniaku. Maaf saja aku adalah orang yang mungkin paling gampang percaya sama orang.

Semenjak 3 jam perbincangan hangat itu, akupun bisa move on lebih cepat dan tak terlalu memikirkan patah hatiku karena aku sadar hubunganku dengan Diza hanya obsesi sesaatku saja. Itu yang Arya analisis di hari pertemuan pertama kami. komunikasiku putus dengan Maya sama sekali terlebih Diza. Aku malah menemukan hubungan baru dengan Arya.

3 hari kemudian aku kembali ke kedai kopi itu sejak hari curhat 3 jam itu. Aku tak melihat sosoknya.
“Cari mas Arya, yah…”, tanyanya, meletakkan daftar menu di mejaku. Aku sedikit malu sepertinya dia mengingatku dengan adegan drama yang aku lakukan 3 hari yang lalu di kedai ini. Dan sepertinya dia yang memberikan aku Americano siap siram kepadaku.
“Ehmm… iyah, hari ini dia ga kerja yah, mbak..??”, tanyaku penasaaran.
“Ohh, kalo weekdays sih ga kerja mbak. Dia cuma bantuin keluarganya ngurus kafe jadi Cuma hari weekend dia kerja disini”, jelasnya kepadaku, pegawai ini terlihat lebih muda dariku dengan logat jawanya yang kental, ia senyum-senyum menatapku.

“Mas Arya ganteng kan mbak?? baik lagi orangnya.!”, lanjutnya. Baiklah adik ini mulai menggodaku. Aku harus segera menyingkirkannya sebelum dia terus mengungkit kejadian tempo hari
“Karamel macchiato-nya 1”, pintaku dan dia mengiyakan.
“Tapi bukan buatan mas Arya, ga pa pa kan, mbak…”, sergahnya dan segera pergi. Aku melototinya dari jauh dengan artian jangan bahas itu bisa ga!! malu tau. Ini baru hari selasa terlalu lama aku harus menunggu weekend lagi. Kenapa aku tak bertanya sama pegawai itu. Ahh, dia pasti menggodaku lagi.

“Karen…!!”, suara itu menyapaku, aku mengenalinya itu Arya, kukira dia tak ada, kenapa sekarang dia ada disini.
“Hai, Arya…!!”, sapaku balik, ada perasaan senang ketika bertemu dengannya lagi, meski aku tak membuat janji dengannya untuk bertemu lagi tapi ini hanya inginku. Ia memberikan kode ke pegawai apa pesanannya itu yang artinya yang biasa yah..

Penampilan Arya sore ini cukup berbeda, 3 hari yang lalu ia menggunakan kemeja putih dengan lengan kemeja tergulung, celana kain hitam dan celemek khas para pegawai café sedangkan hari ini ia dengan jeans coklat dengan dalaman kaos oblong putih dengan jaket senada dengan jeansnya dengan gaya cepak. Intinya dia ganteng banget dan aku baru sadar. Selamat tinggal Diza aku dah dapat pengganti loe yang baru. Kataku dalam hati.

Ia menghampiri tempat duduk yang sama seperti terakhir kita bertemu. Ia memesan yang sama denganku, karamel macchiato di cuaca yang dingin seperti ini.
“Bukannya minuman ini lebih cocok buat cewek yah”, godaku.
“Kalo soal selera sih, gue ga pusingin apa kata orang kalo gue suka kenapa harus mikir lagi, nikmatin aja kali..”, jelasnya. Pikiranku melayang saat bersama Diza karena ingin merasa cocok aku memaksakan diriku menyukai Americano yang pahit itu dan melupakan kesukaanku dengan yang manis-manis.

“Sedingin apapun cuaca bahkan sepanas apapun, gue tetap pilih itu soalnya gue suka gimana dong…??”, ungkapnya pasrah.
“Gue juga suka kok sama macchiato”, ungkapku… “karena seseorang”, bisikku dalam hati. Sambil menyeruput caramel macchiato, kami memandang keluar hujan rintik yang menemani dan berbincang bincang ringan. aku mencuri pandang dengannya dan bergumam dalam hati “my KarMa”.

Cerpen Karangan: Rika A.
Blog / Facebook: Rika Anggari

Cerpen My Caramel Macchiato merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selalu Sama

Oleh:
Di suatu sore yang sejuk, datang kawanan air kecil yang turun dari langit indah berwarna kemerah-merahan itu. Air-air itu turun dengan sangat sopan, tidak membuat gaduh dan tidak juga

Suratku Untuk Ku

Oleh:
Hari itu, hari Selasa siang. Sepertinya matahari tak mempunyai cukup sinar untuk menerangi bumi pada hari Selasa itu. Rintik air hujan berirama berjatuhan turun dari langit, diiringi nada-nada gemuruh

Listen To Me

Oleh:
Namaku Reva, aku duduk di bangku kelas dua di salah satu SMP favorit di daerahku. Kata temanku aku adalah salah satu siswa yang hits di sekolahku, katanya hampir seluruh

Pupus Harapan Di Ujung Negeri

Oleh:
Telah lama aku tersugesti mencintai seorang gadis manis, yang hanya bisa kucintai. Memandang wajahnya lewat terangnya layar handphoneku, meredupkan semangatku untuk menggapainya. Karena yang aku tahu, bukanlah aku yang

45 Derajat Senyummu Merubah Arah Kompasku

Oleh:
Pada saat itu hari sabtu Sepulang sekolah, aku merencanakan mengajak sacna, andika untuk berkemah di gunung manglayang, jelas mereka pun mau karena kami bertiga memiliki hobi yang sama, kami

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *