My Ketos

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 4 July 2019

BRUK!!
“Ah, sori!”
Aluna segera membereskan buku-bukunya yang berserakan di tanah. Sedangkan cowok yang menabraknya ikut membantunya membereskan buku-bukunya. Setelah membereskan bukunya, Aluna segera bangkit dan mendekap erat empat buku tebal yang dibawanya.

“Sori, ya. Gue nggak sengaja.” Aluna mendongak, berusaha menatap cowok yang tingginya melebihi dirinya itu.
Aluna terpaku. Tatapan mata cowok jangkung itu… indah. Aluna seakan terhipnotis oleh tatapannya.
“Hey! Lo nggak papa, kan? Gue minta maaf banget, ya?” Aluna terkesiap. Cowok itu menatapnya khawatir. Aluna membuka mulutnya hendak bicara. Namun suaranya seakan tercekat di tenggorokan.
“I–iya, gue nggak papa,” ucap Aluna kemudian. Cowok itu menghela nafas lega.
“Sekali lagi gue minta maaf, ya? Gue lagi buru-buru, nih. Sekali lagi maaf banget.” Cowok itu berlalu meninggalkan Aluna yang masih terpaku di tempatnya.

“Lun! Luna!”
Aluna terkesiap mendengar teriakan tertahan di sebelahnya. Seketika dia menoleh dan mendapati Raisa, sahabatnya sejak dia SMP, sedang memanggilinya.
“Eh? Kenapa, Sa?” tanya Aluna menatap cewek tomboy berambut pendek itu.
“Aduh! Lo ngapain ngelamun, sih? Bentar lagi ketua OSIS-nya mau masuk. Kalo sampe panitia MOS liat lo ngelamun, bisa bahaya!” ucap Raisa kembali dengan suara tertahan, takut kalau-kalau ada panitia MOS yang memergoki mereka sedang bicara.
“Oh?” Aluna memiringkan kepalanya tak paham. Namun saat langkah kaki mantap terdengar di ruangan itu, Aluna menoleh ke depan. Di podium di depan sana sudah berdiri seorang cowok bermata sipit namun tegas.

Aluna kembali terpaku. Cowok dengan lesung pipi itu tersenyum ramah. Sorot matanya lembut namun penuh ketegasan layaknya seorang ketua OSIS. Dengan penuh wibawa, ketua OSIS itu menyapa calon peserta didik di SMA Sriwijaya.
“Selamat pagi semua!”
“Pagi kak!!” jawab seisi aula serempak.
Aluna benar-benar kehilangan kendali dirinya sekarang. Tubuhnya terpaku sama sekali tidak bergerak barang se-inchi pun. Dia kembali terpesona untuk yang kedua kalinya.

“Istirahatnya selama dua puluh menit, ya? Tidak boleh lebih. Baiklah, sekarang kalian boleh bubar.”
Manusia-manusia yang awalnya duduk rapi itu kini berdesakan ingin keluar dari aula. Aluna dan Raisa hanyalah dua contoh dari 300 siswa yang ingin keluar.

“Sa, gue lupa belum sarapan, nih. Langsung cari makan aja, yuk?” ajak Aluna memelas. Sedangkan Raisa mengangkat satu alisnya.
“Emangnya lo nggak bawa bekal?” tanya-nya sambil mengacungkan kotak makan bawaannya. Aluna menggeleng pelan. Bibirnya melengkungkan pelangi.
“Aduh, Luna! Udah dibilangin suruh bawa bekal malah nggak bawa! Trus sekarang gimana?” Aluna menunduk, takut kalau-kalau sahabatnya itu mengamuk.
“Temenin gue makan di luar, yuk?” ucap Aluna memohon. Raisa semakin mengerutkan kening.
“Istirahatnya cuma dua puluh menit. Kalo kita jalan kesana tuh butuh waktu sekitar lima menit. Belum nanti pesen, trus makan, trus jalan balik lagi. Ntar kita sampe sini udah masuk!”
Aluna bingung. Jika dia tidak makan, dia pasti sakit. Tapi dia mau makan gimana caranya? Tiba-tiba Aluna mendapat ide.

“Sa, lo bawa bekal apa?” tanya Aluna antusias. Raisa kembali mengerutkan kening.
“Sandwich. Emang kenapa?” jawab Raisa. Aluna melebarkan matanya yang sudah lebar itu.
“Gue minta sepotong! Jadinya gue tetep makan!” ucap Aluna bersemangat.
“Lun tapi gue nggak yakin, deh. Lo kan makan sepotong nggak cukup. Lo tuh makannya banyak,” ucap Raisa ragu dengan usulan Aluna.
“Gak papa, Sa. Biar Cuma sepotong yang penting nih perut keisi dulu,” ucap Aluna lalu merebut kotak makan milik Raisa kemudian membukanya. Diambilnya sepotong sandwich. Namun baru saja akan dimasukkan roti isi itu ke dalam mulutnya, seseorang memanggilnya.
“Dek.” Seorang cewek jakung dengan kacamata di wajahnya menepuk pundaknya.
“Tolong kasihin buku ini ke ketua OSIS-nya yang tadi bisa? Soalnya saya harus urus urusan yang lain,” ucap cewek itu. aluna segera mengangguk.
Setelah menggenggam buku itu, Aluna segera meletakkan roti isi tadi lalu segera pergi mencari ketua OSIS untuk menyerahkan buku itu.

Sudah lebih dari sepuluh menit Aluna berkeliling. Namun tak juga dia lihat sang ketua OSIS yang dicarinya. Istirahat tinggal tiga menit lagi. Kakinya juga sudah lelah. Apalagi perutnya yang sedari tadi berbunyi karena belum makan apapun sejak pagi.

Otaknya sibuk berfikir sebenarnya ketua OSIS yang dicarinya daritadi dimana? Hampir satu sekolah dia kelilingi. Dan sekolah itu sangat luas. Bertingkat, pula! Jadi bisa dibayangkan bagaimana lelahnya Aluna saat ini karena naik-turun tangga dan berkeliling ke semua ruangan di sekolah itu.

Saat kakinya menyentuh lantai dasar di gedung ketiga yang dia kelilingi, Aluna tersadar akan sesuatu. Ada satu ruangan di lantai tiga yang belum dia lihat keadaannya. Siapa tahu sang ketua OSIS itu ada di ruangan itu. Dengan segera, Aluna kembali menaiki tangga untuk kembali ke lantai tiga yang tiga menit lalu dia injaki.

Sukses sampai di depan pintu ruangan itu, Aluna mengetuk pintu. Pintu itu bertuliskan “Ruang OSIS”. Seharusnya ketua OSIS itu ada di dalam. Tubuh Aluna benar-benar lemah sekarang. Tepat ketika pintu itu terbuka, bel masuk berbunyi, dan Aluna melangkahkan kakinya, kaki kirinya tersandung kaki kanannya yang membuat tubuhnya terhuyung ke depan. Namun tubuhnya tidak jatuh ke lantai. Tubuhnya serasa bersandar di dinding yang kokoh. Kemudian, semua menjadi gelap.

Aluna merasakan kepalanya sakit. Pandangannya berkunang-kunang saat dia membuka mata. Sebuah ruangan putih tampak di matanya. Tiba-tiba matanya terbelalak lebar. Aluna segera bangkit untuk duduk.
“Gue di mana?! Gue udah mati, ya?!” teriak Aluna kencang.
Jantungnya berdebar kencang. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Mencari seseorang untuk ditanyai. Namun yang terlihat hanya langit-langit putih dan kain biru muda yang menutup aksesnya melihat ke luar.
Kain biru itu tersingkap. Seseorang muncul di baliknya. Debaran jantung Aluna semakin menjadi.
“Lo belum mati, kali,” ucap orang itu lalu terkekeh. Aluna paranoid. Bagaimana jika dia benar-benar mati? Tapi jika dia sudah mati, kenapa jantungnya masih berdebar kencang?
“L–lo siapa?! Malaikat kematian yang cabut nyawa gue?!” tanya Aluna kemudian bergerak mundur. Sama sekali tidak berani untuk berdiri. Cowok di depannya mengernyit tidak suka.
“Enak aja. Pakaian gue anak SMA gini dikata malaikat kematian,” ucap cowok itu lalu mendengus.
“Dimana-mana malaikat kematian itu pakaiannya hitam, bawanya sabit, mukanya serem. Bukan yang pake seragam SMA, bawanya bolpoin, trus mukanya ganteng kayak gue!” lanjut cowok itu.
“Kali aja lo nyamar!”
“Enak aja!” cowok itu mendekat. Aluna kembali memundurkan tubuhnya. Cowok itu mencengkram kuat bahunya. Aluna semakin ketakutan. Cowok itu mendekatkan wajahnya kepada Aluna.
“Heh, tatap mata gue,” ucap cowok itu. Aluna memalingkan pandangan.
“Nggak mau! Ntar lo sihir gue jadi patung batu!”
“Lo kata gue Medusa?”
Cowok itu menangkup pipi Aluna lalu memaksanya untuk menatap matanya. Aluna berontak, namun percuma. Cowok itu terlalu kuat untuk dilawannya. Akhirnya Aluna menyerah dan memilih membuka matanya.
Tatapan tegas cowok itu bersorok dengan matanya. Menghipnotisnya dalam sebuah lubang raksasa dan memaksanya untuk memasukinya. Aluna benar-benar terpaku dengan tatapan itu.

“Astaga! Lo pasti malaikat yang Tuhan kirim buat gue!” pekik Aluna lalu memeluk tubuh tegap cowok itu.
“Terima kasih, Tuhan! Habis ini Aluna janji bakal lebih rajin buat ke gereja dan berdoa!”
Cowok itu terkekeh mendengar celotehan Aluna. Dilepasnya pelukan Aluna dan didudukkannya Aluna dengan benar. Cowok itu membuka mulutnya hendak bicara ketika Aluna kambali bersuara.

“Lo tau? Tadi gue didatengin malaikat kematian yang nyamar jadi cowok SMA! Trus dia paksa-paksa gue buat liat mata dia! Untung aja lo dateng. Kalo enggak, gue nggak tau gimana nasib gue,” ucap Aluna bersemangat lalu diakhiri dengan mengelus dada. Cowok itu kembali terkekeh.
“Heh, gue ini ketua OSIS lo, tau,” ucap cowok itu yang membuat Aluna terbungkam. Ingatan Aluna kembali saat dia diperintah seniornya untuk memberikan buku kepada ketua OSIS.
Tiba-tiba pipi Aluna memerah.

Aluna makan dalam diam. Pikirannya masih berpusat pada tiga hari lalu, saat hari pertama dia MOS. Dia malu sekali saat tau bahwa ternyata cowok yang ditakutinya lalu dipeluknya itu adalah Caraka, ketua OSIS-nya.

“Lun! Luna!!”
Aluna terkesiap mendengar namanya dipanggil. Dia menoleh pada cewek berambut pendek yang duduk di depannya.
“Aduh, Lun, beneran, deh. semenjak lo pingsan di hari pertama MOS, lo jadi sering banget ngelamun. Sampe tadi pagi aja kaki lo masuk selokan! Kenapa, sih? Ada masalah?” tanya Raisa sebal juga lama-lama dengan sahabatnya itu.
“Eh, enggak, kok. Gak papa,” jawab Aluna lalu kembali fokus pada makanan semangkuk soto yang tadi teralihkan saat dia melamun.
“Beneran deh, Lun. Lo kenapa? Naksir cowok?” tanya Raisa sambil bertopang dagu.
“Eh, enggak, kok!” bantah Aluna cepat sambil melambaikan kedua tangannya. Raisa memicingkan mata.
“Beneran ya, lo suka cowok?” tanya Raisa memelankan suaranya. Aluna menggeleng.
“Enggak.”
“Iya.”
“Enggak.”
“Iya.”
“Enggak.”
“Enggak.”
“Iya.”
Aluna terkesiap.
“Eh?” Dia terkena jebakan Raisa.
“Bener, kan, lo naksir cowok. Siapa? Bilang, dong! Sama temen juga,” ucap Raisa memaksa. Aluna hanya menunduk. Dia malu untuk mengatakan yang sebenarnya.
“Ayo dong, Lun… Demi orang yang manggil elo Luna selain Mama lo nih…” bujuk Raisa memelas. Aluna menggigit bibir bagian bawahnya, merasa ragu.
“Plis dong Lun…”
“Iya, deh,” ucap Aluna kemudian. Dia membuang pandangan ke arah lain.
“Gue… suka sama…”

Cerpen Karangan: Fatimatuzzahra Purnama Putri
Blog / Facebook: Fatimatuzzahra Purnama Putri
Ada yang gak tau ketos? Itu singkatan dari ketua OSIS 🙂

Cerpen My Ketos merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyumannya Lembayung Senja

Oleh:
Bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaring tanda hari berakhir, dengan dihiasi wajah murid yang kusam terlihat seperti hape yang sedang low bat, yah begitulah suasana sekolah kami, Nama ku

Sugar Boy

Oleh:
Aku menyeret koper merahku memasuki rumah yang sebentar lagi akan kutempati. Mataku bergerak mengamati sekeliling. Luarbiasa. Rumah ini sangat luas dan rapi. Aku bahkan sampai terkagum-kagum dengan orang yang

Kembali

Oleh:
Langkahku mengarah lurus pada sebuah gitar tua yang tengah bersender di lemari kayu. Teringat meriahnya suara tepuk tangan yang sering kudengar dulu. Lama memang, sudah dua tahun sejak kali

Sekolah Berkokok

Oleh:
“Bangun, bangun! Sudah siang” ayahku membangunkan aku. Dengan berat aku berusaha untuk bangun meski aku masih ngantuk Aku pergi ke mesjid untuk melaksanakan sholat subuh. Setelah aku selesai sholat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *