Paris, Help Me

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 27 December 2015

“Hidup di negeri orang. Tersesat. Bingung. Jadi gelandangan.”

Otak Sindy tersetrum listrik. Error. Kesalahan fatal dalam dunianya kali ini bermula karena kecerobohannya membeli tiket pesawat. Ia salah memilih jurusan penerbangan, seharusnya ia pergi ke New York, tapi sekarang… ia malah berada di kota mode fashion terbesar. Paris.
“Gila, kenapa gue sebodoh ini, sih?!” Sepanjang jalan Champs-Élysées, Sindy terus mengeluarkan ocehan-ocehannya. Bibir tipisnya tanpa henti menyalahkan dirinya sendiri.
High heelsnya terus menyusuri jalanan asing yang tidak pernah dilewatinya. Sindy bingung harus melangkah ke mana. Ia belum sepenuhnya mengenal kota Paris. Berbahasa Prancis pun ia tidak bisa, kecuali bahasa Inggris.

“Sial, pulsa gue habis. Gue jadi gak bisa hubungi siapa-siapa. Arghtt.”

Koper kecil yang setia menemani perjalanan pahitnya itu ia lempar ke sembarang tempat. Sindy lelah setelah melewati beberapa gedung tua tanpa penghuni itu. Ia tidak punya keluarga, kerabat, ataupun teman di Paris, ia hanya sendiri. Keluarganya tidak mengetahui bahwa sekarang Sindy dilanda frustasi karena terjebak di negeri orang. “Mah, tolong. Anakmu lagi tersesat.” lirihnya, manja. Tiba-tiba saja ada orang dengan beraninya mengambil koper milik Sindy. Orang tersebut langsung melarikan diri membawa harta bendanya.

“Woi! Maling!!” Sindy berusaha mengejar. Namun takdir berkata lain, orang itu sekejap langsung menghilang.

Kini handphone, uang, pasport, dan lainnya raib diambil orang yang diperkirakan berjenis kelamin laki-laki itu. Dia berbadan besar, mengenakan jaket hitam, dan wajahnya tidak bisa dilihat dengan jelas. Sindy mengalami kesialan yang luar biasa pahitnya. Ia juga baru sadar, kota ini ternyata penuh dengan kriminalitas yang menggunung kasusnya. Air mata Sindy akhirnya jatuh juga, ia tidak kuat menahan penderitaan yang berkali-kali lipat rasanya. Paris sukses membuatnya seperti gelandangan. Detik ini Sindy tidak punya apa-apa.

“I’m hungry.”

Empat jam berlalu, belum ada makanan yang masuk ke dalam perut perempuan malang ini. Sindy ingin membeli makanan, tapi ia tidak memiliki uang karena maling sialan itu. Energinya habis terkuras di Jalan NZ Voorburgwal, salah satu jalan terbesar di Paris. Suhu kota Paris sekarang sekitar 6 derajat celcius, suhu yang sangat dingin bagi orang tropis seperti dirinya. Jalan NZ Voorburgwal merupakan pusat penjualan makanan yang sedap dan nikmat. Para penjual di sini kebanyakan menjual makanan mereka dengan membuka kafe atau toko khusus makanan. Dari deretan kiri jalan, banyak terdapat toko kue cokelat terlihat. Sindy meneguk salivanya, menahan keinginan mencicipi kue lezat di balik etalase toko itu.

“Tuhan, andai gue punya uang. Andai gue gak ceroboh kayak tadi.” Sindy akhirnya menyesal. Ia sendiri yang salah karena menaruh koper kecil itu ke sembarang tempat. Sekarang yang tersisa hanyalah nyawa dan pakaian yang membalut tubuhnya. Sindy melanjutkan perjalanannya, berharap ia kembali bertemu dengan maling sialan itu dan memberinya pelajaran. Baru beberapa detik ia melangkah, ada seseorang yang memanggilnya.

“Hey!”

Dengan cepat ia langsung menoleh. Laki-laki tinggi berbaju motif kotak-kotak merah itu menyuruhnya kembali menuju depan toko kue tersebut.
“Apa lo orang Indonesia?” Astaga, betapa terkejutnya Sindy karena bisa bertemu orang Indonesia di kota Paris. Kedua matanya langsung berbinar.
“Iya gue orang Indonesia. Nama gue Sindy Praneia. Apa lo bisa nolongin gue? Gue habis di–”
“Ssttt..” Laki-laki yang belum ia ketahui namanya itu menaruh jari telunjuknya tepat di depan bibir Sindy. “Gue udah tahu semuanya.”
Sindy menaikkan sebelah alisnya. Heran. “Maksud lo?”

“Tadi siang gue ngelihat barang-barang lo diambil orang. Dan lo langsung ngejar dia.”
“Kenapa lo gak bantu ngejar?”
Laki-laki itu mengangkat bahunya, “Entahlah, gue ngerasa malas untuk berlarian di siang hari.”
Sindy mengerucutkan bibirnya. Rasa kesal terhadap laki-laki itu seketika muncul.
“Tapi gue bisa bantu lo.” Laki-laki itu mengulurkan tangan kanannya, bermaksud mengenalkan diri. “Nama gue Rivaldo.”

“Jadi lo itu pemilik toko kue ini?” saat ini Sindy sedang asyik melahap kue yang menggiurkan itu. Perpaduan dark chocolate dengan kacang almond mampu menciptakan rasa yang luar biasa.
Rivaldo tersenyum, “lo punya keluarga di sini?”
“No.” jawabnya singkat. “Gue jadi gelandangan di sini.”
“lo bisa tinggal di apartement gue.”
Sindy tiba-tiba tersedak, buru-buru ia meneguk jus lemon yang disediakan. “What! lo punya apartement di sini?”
Lelaki dingin tapi baik hati ini menggangguk. Rambut hitamnya berkilauan disinari lampu yang terpasang, membuat wajah tampannya semakin terlihat.
“Makasih, ya, Riv. Gue baru kenal lo, tapi lo banyak bantu gue.”
“Sama-sama.” Rivaldo sibuk menatap senyuman Sindy yang hangat. Sepertinya ia merasa ada kupu-kupu terbang di perutnya.

Tiga minggu Sindy lewati hari-harinya di Paris, kota terbesar di dunia. Sindy juga membantu Rivaldo menjadi karyawan di toko kue cokelat. Walaupun banyak bantuan yang diberikan kepadanya, Rivaldo tetap memberi gaji. Sindy berniat menolak uang tersebut, tapi Rivaldo memaksanya dengan alasan agar Sindy bisa menabung untuk biaya tiket pesawat ke New York. Malam ini Sindy membuat makan malam berupa sup hangat. Namun kegiatannya sempat terganggu karena Rivaldo datang ke kamar apartementnya. Rivaldo membawakan sesuatu yang sangat familiar, yaitu koper kecil yang dibawa Sindy saat tersesat di Paris.

“Riv, itu beneran koper gue?!” pekik Sindy, tidak menyangka. Ia langsung memegang koper tersebut untuk memastikan, “Astaga, ini memang koper gue. Lo kok bisa nemuin ini, sih?!”
Ekspresi kaget terlihat dari wajah Sindy, sukses membuat Rivaldo tertawa geli. “Gue lapor tentang kasus kemalingan lo itu ke polisi. Gak lama, polisi udah dapat koper sama malingnya.”
“Uangnya memang udah ludes sama maling. Tapi, berkas penting kayak KTP, pasport, dan lainnya itu utuh, kok. Handphone lo juga masih ada.” ucapnya melanjutkan.
Tiba-tiba saja Sindy langsung memeluk badan tegap Rivaldo. Awalnya Rivaldo kaget dan ragu, namun ia akhirnya membalas pelukan hangat itu.
“Big thank’s, ya, Riv. Gue benar-benar berhutang budi sama lo.”

7 Desember 2010.
Hari dimana Sindy akan menuju New York, kota dengan julukan The Big Apple itu. Ia sudah membeli tiket pesawat, tentuya ditemani oleh Rivaldo agar tidak terjadi salah jurusan penerbangan lagi. Persiapan sudah dilakukan oleh Sindy. Dan hari ini juga hari terakhir ia bertemu dengan Rivaldo, lelaki sejuta kebaikan itu.
“Sebelumnya gue mau berterima kasih karena lo banyak ngebantu gue dari ngasih gue makan dan tempat tinggal, nemuin koper gue, dan bahkan lo ngebeliin gue tiket pesawat.” ucap Sindy. Tinggal setengah jam lagi ia akan berangkat. “Iya, Sin. Gue senang kok ngebantu anak ceroboh yang nyasar di Paris.” balasnya, jahil.
Sindy mencubit lengan Rivaldo, “Dasar lo!”

Hening. Rivaldo lalu membuka suara, “Sebentar lagi pesawat lo bakal take off.”
Sindy melirik sekilas arloji miliknya, “Iya, nih. Gue duluan, ya, Riv.”
Lelaki itu mengangguk. Sorot matanya kembali fokus ke senyuman hangat Sindy.
“Gimana cara gue ngebalas jasa lo?” tanya Sindy, kedengaran iseng.
“Gak perlu.”
“Baiklah.”

Sindy menarik koper kecilnya itu menuju pesawat yang akan membawanya pergi. Ditatapnya punggung perempuan itu yang perlahan menjauh, lalu ia menghembuskan napasnya berat.
“Lo cukup ngebalas perasaan gue, anak ceroboh.”

“Paris menunjukkan gue kesialan, tapi Paris juga mengajarkan gue untuk tidak ceroboh lagi, haha.” -Sindy Praneia.

The End

Cerpen Karangan: Raysazahra
Facebook: Raysa Zahra II

Cerpen Paris, Help Me merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Sehari

Oleh:
Renita berangkat pagi-pagi. Di pintu gerbang, Nampak mang Udin sedang menyapu halaman sekolah. Ia mengenakan kaos biru yang sudah kusam. “pagi pak”, sapa Renita ramah. Mang Udin menjawab salamnya

Hujan

Oleh:
Hujan deras mengguyur kota Ponorogo. Hujan disertai angin kencang itu membuat Icha ketakutan dan memilih untuk tetap berada di kelasnya meskipun teman-temannya semua memutuskan untuk pulang walau dalam keadaan

Romantic Summer

Oleh:
Kemarau di bulan September. Nayla menutupi kedua wajahnya dengan tangan. Berusaha menepis sinar matahari yang menerangi wajahnya. Sejujurnya dia paling tidak suka dengan cuaca panas seekstrim ini. Selain membuat

Pertemuan Singkat

Oleh:
Kukuruyukkk Suara ayam membangunkan tidurku. Sebenarnya itu bukan suara ayam sungguhan, melainkan suara alarmku. Kubuka jendela, kutatap langit biru berselimutkan awan putih yang lembut, kuhirup dalam-dalam udara segar, pelan-pelan

Bukit Bintang

Oleh:
“Kakak kelas sialan. Kenapa MOSnya harus manjat bukit segala sih!” gerutu Aline. Tangannya terus menancapkan tongkatnya ke tanah dan mendaki gunung itu. Peluhnya bercucuran kemana-mana. Sivia yang berada di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *