Pelangi Setelah Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 7 August 2016

Namaku Fadara Anastasha. Semua orang sering memanggilku Dara. Aku ditakdirkan menjadi wanita yang memiliki kekurangan. Aku Lumpuh sejak lahir dan tidak akan bisa berjalan selamanya. Entah kenapa aku sangat menyukai Hujan. Pelangi? entahlah.. Aku tidak terlalu suka pelangi. mungkin nanti kalian akan tau alasannya.

“Dara” seseorang memanggilku. aku menengok ke arah suara itu. seorang lelaki berdiri di sana. kemudian dia berjalan menghampiriku.
“di sini kamu rupanya” dia tersenyum manis. namanya Dimas Dirgantara. Sahabatku dari kecil yang selalu menemaniku. Dimas mengelus kepalaku lembut.
“lihat hujan lagi ya?” tanyanya. aku hanya tersenyum kemudian mengangguk.
“Ayo masuk ke kelas” Dimas mendorong kursi rodaku.
“Kenapa kamu mencariku lagi? aku tidak akan kenapa kenapa Dim..” ujarku sambil mendongakkan kepala ke atas untuk melihat wajahnya.
“iya ra, tapi jam pelajaran selanjutnya sudah mau dimulai. Dan Rio dari tadi nyari kamu” Aku bersekolah di sekolah anak anak Normal. dan menurutku itu tidak menjadi masalah selama aku masih bisa membaca dan menulis. Aku juga punya Pacar bernama Rio Mahendra. Aku beruntung bisa mempunyai Dimas dan Rio karena mereka berdua bisa menerima keadaanku.

“coba kamu perhatikan Pelangi yang datang setelah hujan. Di saat Jutaan butir air selesai jatuh, pelangi yang indah akan terlukis di langit sana. Hujan bagaikan Air Mata seseorang yang sedih dan Pelangi bagaikan kegembiraan seseorang setelah sedih. jadi, di balik kesedihan pasti akan datang ke bahagiaan”
– Dimas Dirgantara –

“namun jika sudah takdir, pelangi bisa saja tidak akan menghiasi langit lagi setelah hujan. Ada juga kesedihan yang tidak ada obatnya. Aku tidak suka pelangi. Kamu harus seperti hujan yang terus datang meskipun tau rasanya jatuh berkali kali itu sakit”
– Fadara Anastasha –

Entah apa yang sedang aku lamunkan saat ini. yang jelas, aku tidak bisa mendengar perbincangan perbincangan teman teman di kelasku. hingga seseorang menepuk bahuku.

“Dara” Aku tersadar dari lamunanku. ternyata dia Rio kekasihku.
“eh iya Yo. maaf, kenapa ya?” tanyaku ke Rio
“kamu ngelamun ya ra? nge-lamunin apa sih?”
“iya, maaf ya Yo” aku tersenyum lebar.
“gak papa kok ngelamun. asal jangan mikirin yang jorok jorok ya” goda Rio
“hehe enggak kok” aku tertawa renyah. mataku sempat menangkap Dimas yang memperhatikan kami berdua dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan. yang jelas, wajahnya terlihat murung.

Aku dan dimas berada di balkon kamarku. dimas memang sering main ke rumahku dari kecil sehingga ibuku tidak khawatir kalau dimas akan melakukan hal yang tidak tidak. malam ini sangat cerah hingga kami bisa melihat bintang di atas sana.

“dim, kamu pernah nonton film yang judulnya a little thing called love gak?” aku menghadap ke dimas yang sedang asik melihat bintang
“enggak. emangnya kenapa?”
“di film itu ada sebuah dialog yang menyebutkan salah satu metode dari 9 metode cinta. katanya kita harus mencari sebuah tempat dimana kita bisa melihat banyak bintang di sana. lalu gunakan jarimu untuk menghubungkan bintang bintang tersebut menjadi inisial orang yang kamu suka. nanti orang yang kamu tulis itu bisa merasakan apa yang kamu rasakan” jelasku panjang lebar
“memangnya itu bisa beneran ya?” tanyanya penasaran
“gak tau juga sih. tapi aku pengen coba”
“kamu mau nulis inisial R ya pasti”
“iya” aku tersenyum. dia juga tersenyum namun, senyumannya sedikit aneh kali ini.
“sudah malam ra. aku pulang dulu ya” dimas bangkit dari tempat duduknya. sebelum dia benar benar pergi, seperti biasanya dimas mengusap kepalaku dengan lembut.

Aku mengangkat jariku ke atas kemudian menghubungan bintang bintang itu membentuk huruf D.

Aku membaringkan tubuhku di kasur dengan hati hati. Aku menatap langit langit kamarku dan sesekali menarik nafas dalam dalam. Aku mulai memikirkan sesuatu yang terjadi dalam diriku. tentang Dimas.
Aku senang saat Dimas mendorong kursi rodaku, Aku senang saat Dimas memberiku kata kata yang puitis, Aku senang saat Dimas menatapku dengan tatapan lembutnya, Aku senang saat Dimas mengelus kepalaku, Aku senang semua yang dilakukan Dimas. entah ini perasaan apa aku tidak tau. semuanya tersimpan di ruang spesial di hatiku. Aku rasa aku menyukai Dimas. Tapi bagaimana mungkin? Aku sudah mempunyai Rio di hatiku. Namun, perasaanku terhadap Rio hanya seperti layaknya seorang sahabat. Sedangakan Dimas, dia adalah seseorang yang spesial dalam hidupku.

Siang hari yang seharusnya panas tiba tiba mendung. Dimas duduk di balkon kamarnya sambil memperhatikan setiap tetes butiran air yang turun membasahi bumi.

“Hujan. Dara sangat menyukai ini” Ujarnya pelan. Dimas memperhatikan Tiket pesawat di meja nya. tiket menuju ke London.
“Sepertinya benar kalau takdir sudah berkata, pelangi tidak akan pernah muncul kembali. kesedihan yang tidak ada obatnya.” Dimas memperhatikan setiap foto yang ada di albumnya saat bersama Dara.
“Aku harus menjadi hujan yang selalu datang meskipun tau rasaya jatuh berkali kali itu sakit”

Hatiku berdegup kencang saat ingin membicarakan ini dengan Rio. aku harus mengatakan yang sejujurnya bahwa aku sudah tidak memiliki perasaan terhadapnya. mungkin yang dulu itu hanya rasa kagum. aku sudah membuat janji dengan rio untuk bertemu di taman berhubung ini adalah hari minggu.

Aku mendorong kursi rodaku mendekati Rio yang sudah duduk di salah satu kursi taman untuk menungguku.

“hmb..” Aku berdehem pelan. rio langsung berbalik menghadapku.
“Dara. Ada apa ya?” Rio langsung menanyakan apa tujuanku mengundangnya kemari.
“rio, terimakasih kamu sudah pernah membuat moment indah di hidupku. aku sangat menghargai itu dan tidak akan menghapusnya dari ingatanku. tapi maaf, hubungan kita sampai di sini saja” Aku menarik nafas dalam dalam kemudian menghembuskannya dengan perlahan.
“iya aku tau ra. selama ini yang kamu cinta adalah Dimas” Ujarnya. aku sedikit terkejut dengan pengakuan Rio
“Kamu tau itu?” Rio hanya mengangguk kemudian tersenyum.
“kamu harus bilang sebelum terlambat ra” Aku mengernyitkan dahiku bingung
“terlambat? maksud kamu apa yo?” Aku mulai panik
“Hari ini Dimas akan berangkat ke London bersama kedua orang tuanya. Satu jam lagi pesawatnya akan berangkat dan dimas saat ini sudah ada di bandara” Aku benar benar terkejut. kenapa dimas dimas tidak memberitahuku? Keringat dingin keluar dari badanku. aku tidak mau berpisah dengan Dimas.
“hah? Rio tolong antar aku ke sana. aku mohon” Panik. aku sangat panik.
“baiklah. ayo naik ke mobilku. aku bantu kamu” Rio pun mendorong kursi rodaku menuju ke tempat mobilnya di parkir.

Rio mendorong kursi rodaku di bandara yang luas ini. mataku terfokus untuk mencari satu orang yaitu Dimas. 15 Menit Lagi pesawatnya akan berangkat. Rio pun dengan tergesa gesa mendorong kursi rodaku ke ruang tempat biasanya para penumpang menunggu sebelum pesawat berangkat. Dari kejauhan aku bisa melihat Dimas sedang berdiri sendirian melamun.

“Itu dimas. kamu kesana sendiri ya ra aku tunggu di depan” Ujar Rio
“iya. makasih ya yo” Rio pun meninggalkan aku sendiri. aku memutar roda kursiku untuk bisa menghampiri dimas.
“hai dim” sapaku yang sepertinya mengagetkannya.
“Da.. Dara”
“kamu kenapa gak bilang ke aku kalau mau ke London?”
“Aku gak tega sama kamu. nanti kamu sedih”
“tapi aku lebih sedih lagi kalau kamu kayak gini. main rahasia rahasiaan.”
“maafin aku ra” ujarnya lirih. dimas menyamakan tingginya dengan ku.
“Dim, aku nyaman sama kamu, Aku suka sama kamu, aku.. aku cinta sama kamu. aneh memang kalau wanita yang mengungkapkan lebih dulu, entah kamu mau bilang aku ini seperti apa, tapi aku” Belum selesai aku berbicara tiba tiba dimas menempelkan jari telunjuknya di mulutku.
“ssttt.. Aku juga cinta sama kamu Fadara Anastasha” Dimas menatapku dengan tatapannya yang sangat menenagkan.
“tapi kamu mau pergi” Aku menunduk lesu.
“Pergi untuk kembali.”
“sekarang, Pelangi tak akan muncul lagi setelah hujan”
“Tunggulah pelangi itu datang kembali. lalu, kesedihanmu akan hilang” Aku tersenyum mendengar kata kata yang di ucapkannya. Dimas langsung memelukku, akupun membalas pelukannya.
“Hujan berjanji akan menunggu sang Pelangi”

TAMAT

Cerpen Karangan: Fadhila Nur Indah Sari
Facebook: Fadhila
Nama saya Fadhila Nur Indah Sari. Umur Saya 14 tahun. Kelas 8 dan bersekolah di SMPN 01 Mejayan. Hobi menulis semenjak umur 11 tahun.

Cerpen Pelangi Setelah Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Dizel (Part 2)

Oleh:
Di rumah, Dizel kecewa mengapa Deva sembunyi-sembunyi kalau dia memang benar mencintai Forsh. Dizel hanya bisa mengenang masa-masa awal dia bertemu dengan Forsh dan kenangan mesra dengannya. Forsh adalah

Ada Cinta (Part 1)

Oleh:
Cantik. Sungguh sangat cantik. Hanya kata itulah yang ada dibenak Leo saat ini. Laki-laki yang kini menjabat sebagai ketua Osis di sekolah. Ya, Leo adalah laki-laki pintar yang menjadi

Sunset Terindah

Oleh:
Ombak ombak yang saling bekejaran, angin angin yang bertiup lembut selalu bisa membuat hanyut pikiranku, mengingatkan aku atas janji sunset yang pernah terucap di pantai ini! kadang aku ngerasa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *