Psikosis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 6 February 2017

Hujan deras membasahi seluruh tubuh Leia. Padahal hari ini ia harus pulang secepat mungkin. Atau hukuman menantinya. Leia mencoba menerobos hujan. Tapi ia sama sekali tak dapat menahan rasa dingin yang merasuki tulangnya dengan perantara air. Dengan pandangan sedikit kabur oleh hujan ia melihat sebuah kafe kecil di pinggir jalan. Untuk saat ini tak ada pilihan lain selain berteduh. Dengan tergesa-tergesa ia menuju teras kafe itu. Seorang pelayan kafe sempat terlihat terkejut ketika melihat Leia namun selang beberapa detik pun pelayan itu tersenyum.

“Di luar hujan lebat sekali, kamu bisa masuk angin. Mari masuk.” Ujar pelayan kafe itu pada Leia.
“Di luar hujan, kau bisa masuk angin.”
Leia sempat tertegun sesaat. Entah kenapa. Tapi ia dapat merasakan de javu yang menyerang pikirannya. Di hari itu, di saat hujan deras. Kapan? Dengan siapa? Ia tak tahu. Pelayan itu memandang Leia heran.

“Ada apa? Kafe sedang kosong dan kami punya teh hangat. Mau?” Ujar pelayan laki-laki itu sekali lagi. Leia segera tersadar dari lamunannya. Lalu mengangguk dengan kaku dan mengikuti pelayan itu memasuki kafe.

Leia duduk di salah satu kursi dekat jendela. Seragam sekolahnya yang basah kuyup sedikit tidak terasa ketika ia memasuki kafe. Rambut pendek sebahunya ia rapikan sedikit. Pelayan itu datang lagi sambil membawa secangkir teh.
“Diminum dulu, tidak beracun, kok.” Ujar pelayan itu santai seperti mengerti apa yang Leia khawatirkan. Leia hanya nyengir mendengarnya. Bagaimanapun pikiran buruk yang terlintas di pikiran Leia benar-benar tidak sopan. Ia tahu itu tapi tetap diam saja.
“Terimakasih,” ujarnya pelan sambil menghirup uap yang keluar sedikit-sedikit dari cangkir. Tidak asing dan terasa begitu erat. Bau dari teh itu kembali membuatnya berpikir. Memikirkan hal yang ia rasa berusaha tuk ia lupakan. Apa itu? Dan teh ini…
“Chamomile?” Leia memastikan. Pelayan itu tersenyum dan mengangguk.
“Chamomile bagus untuk mencegah flu. Kami biasanya menyajikannya ketika sedang musim hujan. Juga orang-orang yang berteduh ke sini sepertimu.” Perawakan tubuh pelayan itu yang tinggi dan berambut sedikit panjang dari pria pada umumnya. Tapi, sedikit ganjil ketika pelayan ini memanggil Leia dengan sebutan ‘Kamu’. Atau memang sudah kebiasaannya? Tunggu! Pikiran apa ini? Sekali lagi, pikirannya seakan berusaha pergi ke hari-hari yang telah berlalu. Yang sama sekali tak ia ingat.

“Teh Chamomile ini bisa mencegah flu. Bagus diminum disaat hujan seperti ini.”
Suara itu datang kembali. Potongan ingatannya perlahan kembali. Sedikit. Tapi entah kenapa ia merasakan sesak di dadanya.

Pelayan itu kembali mempersilakan masuk seorang pelanggan pria. Pelayan itu kembali membawa secangkir teh Chamomile. Tampaknya ia satu nasib dengan Leia. Basah kuyup. Leia tidak begitu memperhatikan pelanggan itu. Kini pandangannya di sita oleh pemandangan hujan di luar. Dingin tapi hangat. Itu yang ia rasakan.

“Hujan itu bukan filosofi kesedihan atau perpisahan. Cuma orang awam yang mengatakan hal seperti itu. Kadang hujan juga membawa kehangatan.”

Kembali pada hari-hari yang ia rasa tak pernah terjadi. Rasa panas yang menyesakkan sedikit demi sedikit merasuki hatinya. Percikan air yang berbondongan jatuh dari langit. Bagai menari-nari di dalam hatinya yang retak. Kembali memutar kaleidoskop nan jauh terkubur di dalam hatinya. Sosok itu perlahan-lahan muncul dengan samar lalu sedikit demi sedikit mulai jelas. Ya. Orang yang mengubah seluruh pemikirannya, hidupnya, dan keyakinannya. Yang sempat hadir menjadi bagian dari diri hidup Leia. Yang sempat menjadi sebuah pelangi setelah hujan. Juga hujan itu sendiri baginya.

“Hey, apa kamu tidak pernah merasa hampa?” sekarang ingatan itu kembali. Pertanyaan yang sampai sekarang membuatnya tak bisa berpikir kembali mengusik. Hari-hari itu berputar kembali dalam kepalanya. Bagai adegan skenario yang terus menerus diulang. Di adegan yang sama.
“Hampa? Entahlah. Aku tidak tahu.” Perkataan polosnya di hari itu pun kembali terngiang. Raut wajah sosok itu pun masih terbayang di dalam ingatannya. Raut wajah heran plus khawatir. Yang membuatnya aneh. Tepatnya merasa dirinya aneh.
“Iya hampa, sama seperti kesepian. Kau tahu perasaan itu, kan?”
Ia menggeleng ketika ditanyai hal seperti itu. Leia memang tidak pernah mengerti sesuatu yang menyangkut perasaan. Ataupun perbedaan antara nyata dan tidak nyata. Sosok itulah yang mengajarkannya. Sesungguhnya jika saja di hari itu ia tak menggeleng ataupun mengatakan ‘tidak tahu’. Mungkin hari ini bisa berubah. Mungkin.
“Benar juga, ya. Kamu tidak mungkin merasakan kesepian.”
“Tidak juga, kok. Jujur saja di kelas aku sering sendiri saat istirahat.”
“Benarkah? Kenapa?”
“Entahlah. Sepertinya aku memang berbeda dan tidak bisa menyatu dengan orang lain. Umm, sulit bergaul.”
“Begitu ya. Kau memang berbeda. Tenang saja. Kau lebih baik dari siapapun.” Bohong.
“Atau sebaliknya.”
“Kenapa berpikir begitu?”
“Maafkan aku.” Sekali lagi dada Leia terasa sesak. Serangan bertubi-tubi masuk ke dalam hatinya. Ia menggigit bibirnya. Ia merasa hampir tak bisa bernafas.
“Lagi-lagi kau meminta maaf ketika kau tak mau membicarakannya denganku.” Leia hanya bisa diam dan menangis di dalam hati saat itu. Juga saat ini.
“Sudah berapa banyak kata maaf yang kita lontarkan satu sama lain?” sangat banyak. Sangat banyak. Sangat sangat sangat banyak kata maaf yang telah Leia dan sosok itu katakan. Hanya untuk mempertahankan hubungan mereka.
“Leia, apakah aku benar-benar nyata untukmu?”
“Cukup,”
“Apakah aku fiksi untukmu?”
“Cukup!”
“Apakah aku berguna untukmu?”
“Hentikan!”
“Pembohong.” Leia tak dapat menahan tangisnya dan menempelkan pipinya di meja kafe. Ia telah mengiris hatinya dengan perlahan. Ingatan yang seharusnya tak ada pun ada dengan sendirinya. Andai saat itu ia dapat mengatakannya. Tidak! Ia pikir kata-kata itu takkan berguna sama sekali. Walaupun dia tahu pun. Semuanya tidak akan berubah.
“Perasaan kesepian yang sesungguhnya bukan karena kau sendiri. Tetapi, ketika kau tahu ada banyak orang di sekitar bersamamu, namun kau masih merasa sendiri.” Perkataan sosok itu kembali menyindirnya.
Evash. Seorang pria yang terlampau empat tahun dengannya. Yang ia pikir adalah orang paling kekanak-kanakkan dan paling aneh di dunia ini. Menyibak apa arti hidup untuknya. Setiap kata yang Evash katakan mengubah hidup Leia. Namun, walaupun ia begitu mencintainya di dunia ini. Tetap harus dilepaskan. Leia yang memutuskan untuk menutup diri dari Evash saat itu. Tanpa sadar menyakiti Evash dan membuatnya meninggalkan Leia. Itu sudah ada di bagian rencana Leia. Ia tahu konsekuensi apa yang harus ia tanggung. Tapi, karena ia mencintai Evash lebih dari apapun. Ia melakukan ini. Membuatnya melepasnya. Itu semua hanya karena. Ia tak mau menyakiti Evash lebih dalam lagi. Ia hanya ingin membuat rasa cinta Evash padanya menjadi rasa benci yang teramat sangat pada Leia. Itu tak apa. Ia tahu ini menyakitkan tapi tak masalah. Satu hal yang membuat ini terjadi. Alzheimer.

Gadis berumur tujuh belas tahun ini mengidap Alzheimer. Ia tak sanggup mengatakannya pada Evash. Karena itu ia melepaskannya. Ia ingin Evash melupakan segala hal tentang Leia sebelum Leia melupakan segala hal tentang Evash. Ini menyakitkan. Tapi ia akan segera melupakan semuanya. Ia tak sanggup menerima kenyataan bahwa Evash akan kehilangan dirinya dengan cara itu. Lebih baik membuat semuanya tak nyata. Dengan begitu ia pikir semuanya akan baik-baik saja. Dan rasa sepi itu tak akan pernah ada untuk Evash. Ia sangat yakin akan hal itu. Walau itu menyakiti dirinya sendiri. Walaupun konsekuensinya dirinyalah yang harus merasakan rasa sepi yang teramat sangat. Ia ingin mengatakan bahwa ia merasa hampa. Ia merasa sepi. Saat ini, ia bagai berkelana di celah antara khayalan dan kenyataan. Semuanya terlihat abstrak. Semuanya terlihat berhenti, bahkan waktu. Bagai menunggu ajalnya datang. Tak ada kepastian bahwa hari esok akan datang. Perasaan memahami yang ada saat itu, mungkin mereka sudah melupakannya. Dan mungkin Leia tak akan pernah menolehnya lagi walaupun ia ingin. Semuanya akan menjadi tak nyata bersamaan rasa sepi yang akan terlupakan ini. Pasti.

“Leia?” samar-samar suara familiar terdengar. Ia terbangun dari tidurnya.
“Akhirnya kau bangun, aku pikir kau pingsan karena flu. Hujan sudah berhenti, tapi sebentar lagi akan gelap. Aku akan mengantarmu ke rumahmu. Tunggu di sini sebentar.” Ujar pelayan itu yang tetap sama namun kini ia dapat mengingatnya. Yang mengubah hidupnya, pemikirannya, dan segalanya. Apakah ini nyata? Seseorang yang tak nyata kini kembali. Tapi sejujurnya, Leia tak pernah bisa membedakan kenyataan dan fantasinya.
“Evash?”

Cerpen Karangan: Cannisa Ann
Facebook: Shinji Nakashima

Cerpen Psikosis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tetap Menunggu

Oleh:
Aku selalu meyakinkan hati ini, bahwa hujan pastilah akan berhenti. Api yang mengamuk pun pasti akan padam. Begitu pun keyakinanku terhadapnya, laki-laki yang selama ini bersamaku. Ah! Mungkinkah hanya

My Bodyguard Girl (Cause…)

Oleh:
Jika air dapat menjadi bencana, Jika api dapat menjadi petaka, jika tanah dapat menjadi tangisan, dan jika angin dapat menjadi jeritan. Lalu apakah kau menjamin seekor anjing penjaga tak

Diary

Oleh:
Hati ini rasanya seperti dirobek pisau tajam, hingga luka dan berdarah. Di malam dingin berselimut kabut gelap, aku tak berhenti meneteskan airmata saat membaca buku bersampul hijau yang tersimpan

Bukan Luth

Oleh:
Gema azan memenuhi udara. Lantunan ayat suci menepis garangnya matahari senja yang kini terseret ke ufuk Barat. Berganti senyum redup sang rembulan. Usai menunaikan salat magrib. Aku membaca ayat

Etire Dan Senja

Oleh:
Langit memerah pucat. Lanskap mengambang membayang dan iring-iringan burung pipit melayang lesat di antara gumulan awan. Suara-suara perlahan melaun di pucuk cemara. Aku terpikat lekat dalam suasana. Diam, dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *