Pusara Biru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 10 October 2020

Kamboja putih gugur dan layu, semerbak wanginya sirna bersama hembusan sang bayu. Kutilang menjerit bersahutan, air matanya meleleh. Jangkrik dan Capung diam seribu bahasa. Melihat Andi berjongkok pilu di samping gundukan tanah merah berpusara biru, bertuliskan:

MELANI
LAHIR 05-05-1977
WAFAT 07-07-2000

Malam seperti kehilangan bulan dan bintang. Siang bagaikan tanpa matahari. Andi begitu berat kehilangan Istri yang ia cintai. Pikirannya melayang jauh menembus waktu yang tujuh tahun telah berlalu.

Panggung pentas berhiaskan aneka warna. Janur kuning, bunga-bunga bermandikan cahaya lampu. Penonton duduk rapi, anak-anak, muda-mudi bahkan orangtua menantikan pentas Sendra Tari Jaka Tarub karya Penata Tari Legendaris S. Ngaliman. Gemalen mulai ditabuh, Gending Ladrang Manyaran bertalu dengan irama yang tersusun sempurna. Tujuh bidadari cantik mengepakan selendang kuning dengan gemulai penuh pesona. Adegan demi adegan tersajikan riuh dengan tepuk tangan penonton. Hingga tiba adegan asmara antara Jaka Tarub dan Dewi Nawang Wulan. Penonton tersihir oleh kedua penari yang dengan bagusnya memerankan tokoh utama dalam sendra tari tersebut. Andi yang berbadan tegap dan gagah memerankan Jaka Tarub sedangkan Melani yang cantik tinggi semampai menjelma menjadi bidadari Dewi Nawang Wulan. Bunyi gong bergema pertanda kisah asmara sepasang kekasih dua alam berbeda telah berakhir. Semua penonton berdiri serentak memberikan applus dan suitan. Bahkan ada yang berteriak lantang.

“Lanjutkan dalam kisah nyata Andi. Lamar saja dia”. Andi tersentak, jantungnya berdetak kencang. Syaraf-syarafnya seperti teraliri listrik tegangan tinggi. Badannya kaku, mulutnya membisu. Hanya matanya tak berkedip menatap Melani yang tersipu malu.

Andi pemuda tampan berusia dua puluh tujuh tahun. Tiga tahun belajar dengan guru Tari Suwarno dari SMKI Banyumas, pernah juga ngenger di Padepokan Nini Towok. Andi memang multi talenta, selain terkenal jago sebagai atlet Bola Voli dengan smash yang keras menghujam, juga mahir menari. Bahkan dalam ujian Seni Tari Andi memperoleh nilai 99, nyaris sempurna. Melani gadis tujuh belas tahun lulusan SMP yang tidak meneruskan kejenjang pendidikan menengah atas. Terpilih sebagai tokoh Dewi Nawang Wulan, selain yang tercantik dari tujuh pemeran bidadari juga karena paling mampu menguasai karakter Dewi Nawang Wulan dengan Baik. Tanpa disadari oleh Andi, Melani telah jatuh hati dengan Andi. Diam-diam Melani suka mencuri pandang mengintip ketampanan Andi. Tapi sebagai gadis desa yang lugu Melani hanya menyimpan dan menyembunyikan rasa cintanya di dalam hatinya yang terdalam.

Air jernih mengalir membentur bebatuan yang menghampar anak sungai yang mengalir dari kaki Gunung Muria. Di sisi tebing lubuk sungai Andi tengah memancing. Tak jauh dari tempat Andi memancing, tampak Melani dan enam temannya sedang mencuci pakaian, dengan berkemben kain untuk bebasahan. Mereka tampak riang bersendau gurau. Melani berkulit kuning bercahaya bak rembulan. Rambutanya yang panjang sepinggang dibiarkan terurai. Matanya bening bak embun pagi. Hidungnya mancungnya menaungi bibir mungilnya. Andi tersentak ketika ujung joran pancingnya dibetot ikan lele, tarikannya yang kencang menghilangkan keseimbangan Andi. Tubuh tegapnya meluncur menyebur ke lubuk yang dalam.
“Byuuuur” tumbuh andi mengempaskan muncratan air setinggi tombak. Teman Melani tertawa gelak-gelak melihat peristiwa itu. Melani menjerit keras. Dalam hati ia ingin menolong Andi. Tapi rasa malu di depan temannya, menahannya untuk tidak beranjak dari bebatuan dia berpijak. Andi berenang ke tepi tepat di samping Melani. Badannya kuyup, kaos tipisnya melekat membalut tubuhnya yang kekar. Menonjolkan dada bidangnya. Tanpa bersuara Melani melemparkan handuk biru bergaris putih ke arah Andi. Dengan sekali sambar andi meraih handuk tersebut untuk mengeringkan rambutnya yang kuyup.

“Lani kok gak dihandukin sekalian?” ledek Miati salah satu teman Melani. Melani diam tetapi sambil melirik Andi.
“Duh Mas Andi, kalau mancing jangan mikirin Dewi Nawang Mulan dong”. Kecebur deh ledek Ani temen Melani yang lain dengan menyebut peran Melani.
“Makasih dik” Andi mengembalikan handuk Melani. Melani tersenyum manis sambil mengangguk. Getaran aneh kembali merasuki jiwa Andi ketika matanya beradu dengan mata bening embun Melani. Tangan keduanya masih saling memegang Handuk. Ah aku telah jatuh cinta kepada Dewi Nawang Wulan. Andi membatin.
Enam sahabat Melani serentak menyibakkan air ke arah keduanya, sambil meledek dan tertawa. Andi Jaka Tarub yang perkasa dan Melani Dewi Nawang Wulan jadi bulan-bulanan keenam teman gadisnya.

Singkat cerita jalinan cinta Andi dan Melani terikat dengan janji suci pernikahan. Andi memboyong Melani ke Jakarta. Andi mendapat tugas dinas di Jakarta. Dua tahun kemudian lahir bayi mungil buah cinta Andi dan Melani. Kelahiran putri pertama memperkuat jalinan cintanya. Sungguh bahagia pasangan muda ini.

TUJUH tahun kemudian. Langit Jakarta sore itu berselimutkan awan hitam pekat. Kilat menyambar, petir berdentum memekakkan telinga. Hujan deras mengguyur, menghanyutkan debu tebal. Bajaj tua dengan suara sember terseok meluncur menuju Rumah Sakit Husada. Di dalamnya Melani pingsan dengan hidung mengeluarkan darah. Ratna gadis kecil menangis, air matanya membasahi pipi bundanya. Andi meminta agar supir bajaj memacu bajajnya. Pikirannya kacau balau, apapun yang terjadi Melani harus sembuh.

Perawat dan dokter jaga sibuk memberikan pertolongan di ruang IGD. Selang infus dipasang di pergelangan kiri, hidung melani dipasang selang oksigen. Andi dan Ratna bersimpuh di lorong Rumah Sakit berdoa memohonan pertolongan kesembuhan Melani.

Sendi-sendi tulang Andi berasa remuk, Gunung Muria yang tinggi menjulang seakan runtuh menimpa dadanya. Mendengar vonis dokter, bahwa Melani mengidap Leukimea stadium empat. Nyawa Melani tak tertolong. Dia meninggalkan kedua cintanya untuk selama-lamanya. Andi begitu terpukul. Hatinya sangat sedih berurai air mata. Cinta sucinya sesingkat Cinta Jaka Tarub dan Dewi Nawang Wulan. Karena Nawang Wulang harus kembali ke Kahyangan sesuai titahnya.

“Ayah, mari kita pulang” Suara gadis kecil berusia lima tahun membuyarkan lamunan Andi. Andi menyium pusara biru sambil berbisik. “Kembalilah ke Surga Dewiku, tunggulah aku di sana”.

Pati, Juli 2007

Cerpen Karangan: Anan Sukanan
Facebook: facebook.com/skennanda

Cerpen Pusara Biru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bunga Terakhir (Part 1)

Oleh:
Hari itu aku resmi lulus dari salah satu SMA di Solo. Dan rencanaku kedepannya aku ingin kuliah di Salah satu Universitas Di jogja. Tapi menunggu persetujuan orangtuaku. Setelah berdiskusi

Gadis Keturunan Karaeng

Oleh:
Lagi-lagi Faisal akan dijodohkan dengan anak pengusaha terkenal dari Makassar. Dini, seorang pengarang buku yang cukup ternama dan memiliki garis keturunan karaeng. Hubungan keluarga Faisal dengan keluarga itu cukup

Cinta Pertama Dan Terakhir

Oleh:
Hari itu. Kak Ray membawaku ke sebuah tempat. Mataku ditutup menggunakan slayer hitam. Dengan sangat perlahan Kak Ray menuntunku. Ray prasetya. Dia adalah seorang lelaki yang saat ini berumur

Jangan Pernah Lupakan Aku Lagi

Oleh:
Pagi ini, burung-burung tampak berkicau menyapaku. Sinar matahari yang hangat menyelimuti pagi yang indah ini. Aku mulai membuka mata dari tidur lelapku. Kulihat jam dinding biruku menunjukkan pukul 6

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *