Rindu Di Ujung Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 9 April 2016

Malam semakin larut, cuaca dingin mulai terasa menusuk ke sekujur tubuh ini. Di luar sana raja kodok dan rakyatnya seakan berpesta, mereka bernyanyi riang yang terdengar saling sahut menyahut sehingga membuat mata ini enggan terpejam. Pepohonan di samping jendela kamarku seakan menari tanpa lelah mengikuti arah angin yang bertiup sepoi-sepoi. Sedangkan awan masih saja meneteskan air setitik demi setitik yang perlahan membasahi semua tumbuhan. Sehingga bumi pun ikut mengeluarkan aroma tanah yang disebabkan oleh air hujan tersebut.

Ku tarik selimut tidurku hingga menutupi sebatang badanku, serta ku tutup kuat telingaku menggunakan bantal yang tadinya menjadi alas kepalaku. Aku terus berusaha untuk memejamkan mata ini agar bisa tertidur lelap. Tapi sayang, semua usahaku itu sia-sia, mata ini tidak jua terlelap. Akhirnya aku gunakan cara handalanku. Ya, aku sumbat telinga ini dengan headset dan ku putar lagu-lagu slow dengan volume tinggi. Hingga dini hari barulah mata ini mengantuk dan mulai tidak sadarkan diri.

Belum puas rasanya aku tidur, alarm sudah berteriak-teriak di ujung telingaku. Dengan mata yang masih terpejam aku meraba-raba meja yang terletak di samping kananku dan memencet jam weker berbentuk bola itu dengan ligat dan kembali tidur. Saat itu yang aku inginkan hanya tidur.. tidur.. dan tiduur! Selang setengah jam aku merasa matahari berjalan dekat ke arah kepalaku dan silau cahayanya membuatku terbangun dari tidur nyenyakku. Perlahan ku buka mata dan terlihat ibuku yang sedang membuka tirai jendela kamarku.

“Ahh Ibuuu.. kenapa dibuka? Rendy kan masih ngantuk,” gerutuku sambil kembali menutup mata.
“Ngantuk apanya? Kamu nggak sekolah? Udah jam 7 tuh!” jawab ibu seraya menarik selimutku.
“Appaaa?” sambil membuka mata dan terus berlari ke kamar mandi.

Selesai mandi aku tidak lagi memikirkan lambungku, aku segera memakai seragam sekolah, sepatu dan segera menyandang tas serta berlari kencang ke arah motorku yang terpakir di samping rumah. Aku gas motor Kawasaki biru kesayanganku sehingga membuatnya melaju begitu kencang. Sesampainya di sekolah, ternyata pintu gerbang sudah ditutup oleh satpam penjaga sekolah yang berewokan itu. Seram memang, tapi untunglah satpam itu bersedia membukakan pintu gerbang sekolah karena aku berhasil menyogoknya dengan selembar kertas hijau bermerek yang dapat ditukarkannya dengan sebungkus rok*k. Aku terus berlari kencang ke kelasku mengingat sebentar lagi ulangan matematika akan dimulai.

“Kalau tidak karena tahun lalu aku tinggal kelas, aku mah ogah berjuang seperti ini,” gerutuku di dalam hati sambil terus mendaki jenjang. Tapi tiba-tiba saja tampak seorang perempuan berlari menuruni jenjang yang sedang ku daki dan menabrakku. “Ehh.. hati-hati dong! Untung aja aku nggak jatuh dan berguling-guling ke bawah sana. Kalau tadi itu terjadi, apa kamu mau tanggung jawab?” Sorakku emosi.
“Maaf ya.. maaf,” Jawab perempuan itu dan terus berlalu begitu saja.
“Dasar cewek aneh!!” gerutuku.

Semua mata pelajaran telah berlalu, sebagian murid di tempatku sekolah sudah tampak berjalan ke arah pintu gerbang yang sudah dibuka sejak 5 menit yang lalu. Tapi tidak denganku, aku lebih memilih pergi ke sebuah cafe sebelum pulang ke rumah. Dengan maksud membeli sebuah soft drink dan bersantai-santai di sana sambil mendinginkan kepalaku yang isinya sudah banyak terkuras di sekolah. Matahari sudah mulai terbenam, barulah aku memilih untuk pulang. Setelah memasuki kompleks rumahku, aku melihat sesosok perempuan yang mengenakan seragam seperti yang aku kenakan saat ini. Ia duduk di bangku taman yang tidak jauh dari rumahku dengan rambut hitam lurus tergerai, sehingga aku tidak bisa melihat jelas wajahnya. Sambil terus berlalu aku bertanya-tanya di dalam hatiku. “Sejak kapan di kompleks rumahku tinggal seorang cewek yang sebaya denganku? Satu sekolah pula!”

Seminggu telah berlalu, tapi kini aku selalu melihat sosok wanita yang sama duduk di kursi taman dekat rumahku di setiap senja hari. Rasa penasaran terus menghantuiku. Akhirnya aku memilih untuk mendekati perempuan itu agar aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Belum sampai di samping perempuan itu aku memijak ranting pohon sehingga membuat perempuan itu terkejut dan spontan berbalik arah menatapku.

“Kamuuu!” ucapku sambil menunjuk perempuan itu.
“Kamu ngapain di sini? kamu ngikutin aku ya?” Tanya perempuan itu bingung.
“Ihh.. kegeeran! Aku tinggal di kompleks ini,” jawabku bangga.
“Aku juga tinggal di kompleks ini, itu rumahku!” jawab perempuan itu seraya menunjuk rumah minimalis berwarna merah muda. “Hmm,” responku sambil menganggukkan kepala.
“Kenalkan, aku Ryndu. Aku pindah ke kompleks ini baru 10 hari yang lalu,” ucap Ryndu sambil mengulurkan tangannya kepadaku. “Aku Rendy,” jawabku sambil menjabat tangannya.

Akhirnya kami terus berbincang-bincang dengan duduk di kursi kayu putih yang terletak di tepi taman sambil memandangi matahari yang terus berjalan ke ufuk barat. Dan setelah hari mulai gelap kami pun kembali ke rumah masing-masing. Semakin hari hubungan pertemananku dengan Ryndu semakin akrab saja. Kami semakin sering menghabiskan waktu dengan bersantai di tepi taman sambil memandangi matahari terbenam. Bahkan karena kami sekolah di tempat yang sama, aku pun berbaik hati setiap paginya menjemput Ryndu untuk berangkat ke sekolah bersama. Hingga kini pun hubunganku dengan Ryndu pun bisa dikatakan bersahabat. Sudah setengah semester kami jalani waktu bersama, hingga perlahan-lahan perasaanku makin tak menentu bila berada di dekat Ryndu. Ya, kini aku mulai mencintai wanita berbadan mungil itu.

Semakin hari perasaanku semakin dalam dengan Ryndu. Tapi aku tidak pernah mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya. Hari-hariku selalu ingin bersamanya. Dan bila aku tidak bertemu Ryndu sehari saja, rasa kangen selalu menggebu-gebu di hati ini. Wajahnya mulusnya selalu terbayang di mataku, terlebih di saat aku akan tidur. Aku terasa galau dengan situasi seperti ini. Aku berdiri di jendela kamarku sambil memandangi bulan di langit yang bertemankan bintang-bintang. Itu sangat terlihat indah. Akhirnya logikaku terus berpikir dan berpikir, hingga batin ini berkata, “Mungkin bila aku berani menyatakan cinta dengan Ryndu, pasti hari-hariku akan seindah langit itu,”

Keesokannya terpikir olehku untuk nembak Ryndu. Tapi hari itu aku tidak melihat Ryndu sedetik pun. Aku tanya kepada teman sekelasnya, ternyata Ryndu bolos sekolah. Akhirnya sepulang sekolah aku putuskan untuk singgah ke rumah Ryndu, tapi tidak ada seorang pun yang menyahut panggilanku. Rumahnya sepi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Akhirnya aku keluarkan handphone genggamku dari saku celana sebelah kananku bermaksud menelepon Ryndu, tapi nomornya tidak aktif. Itu semua berlangsung selama seminggu.

Dan selama seminggu itu pula aku hanya duduk sendiri di tepi taman memandangi matahari terbenam dengan penuh kerinduan di dalam hati ini. Keesokannya aku memilih absen sekolah dan hanya berdiam diri di rumah dengan bermalas-malasan. Setelah waktu senja mulai tiba aku tetap pergi ke taman dengan semangatnya dengan harapan bertemu Ryndu di sana. Ternyata feellingku itu benar. Aku bertemu Ryndu di sana, tapi dia terlihat tidak seperti biasanya. Kali ini ia terlihat kurusan dan pucat. Wajahnya terlihat begitu lelah dan sayu.

“Kamu sakit Ndu?” tanyaku khawatir.
“Ahh.. nggak, aku kurang istirahat aja kok!” jawabnya pelan.
“Terus kamu ke mana aja? udah seminggu ini aku cariin nggak ada, handphone kamu pun nggak aktif,” tanyaku lagi.
“Oh.. aku ada urusan mendadak ke luar kota, jadi nggak sempat kabarin kamu,” ucapnya dengan senyum yang dipaksakan.
“Rin, hidung kamu berdarah. Kamu mimisan!” kataku khawatir.

Dengan cepat Ryndu mengusap darah di hidungnya seraya berkata. “Mungkin ini karena kecapean kali Ren,”
“Ya udah, kalau gitu kamu baringan aja di pangkuan aku, biar mimisan kamu nggak ke luar terus,” Jawabku.
“Tapi aku mau lihat matahari terbenam di senja ini, karena aku takut di senja-senja berikutnya aku udah nggak bisa lihat lagi,” Sssrrr.. darahku terasa mengalir lebih cepat serta kudukku terasa merinding mendengar kata-kata perempuan yang aku cintai itu.

“Kamu nggak boleh ngomong gitu!” kataku sambil menariknya ke pangkuanku. Ryndu tampak tersenyum lepas di pangkuanku sambil terus memandangi matahari yang perlahan-lahan mulai terbenam. Akhirnya aku urungkan niatku untuk nembak Ryndu di senja itu. Karena aku tidak mau merusak suasana hatinya. Aku pun ikut menatapi matahari terbenam di senja itu hingga akhirnya tak terlihat lagi. “Udah mulai gelap, pulang yuk Rin,” Ajakku sambil mengelus rambut lembutnya. Tapi Ryndu tidak menjawab apa-apa.

Aku cemas dan panik. Aku terus membangunkan Ryndu, lagi-lagi tak ada respon darinya. Tanpa pikir panjang, aku menggendong Ryndu dan membawanya ke rumah sakit. Dengan ligat Ryndu dibawa oleh dokter dan beberapa perawat ke ruangan ICU. Seminggu telah berlalu, Tapi Ryndu masih saja tak sadarkan diri. Ya, gadis yang aku cintai itu koma melawan penyakit kanker yang dideritanya. Tak ada yang boleh memasuki ruangan di mana Ryndu terbaring dengan banyak alat-alat medis yang menempel di tubuhnya, kecuali orangtuanya. Walau begitu, aku terus memaksa dokter untuk mengizinkanku melihat Ryndu dari jarak dekat.

Kakiku gemetar memasuki ruangan itu, badanku terasa kaku, darahku terasa berhenti mengalir serta mataku perlahan-lahan mulai berkaca-kaca hingga meneteskan air mata. Tak sanggup rasanya melihat gadis yang aku cintai terbaring dengan kondisi seperti itu. Perlahan aku mendekati Ryndu dan duduk di sampingnya, aku genggam tangan lembutnya dan aku tumpahkan segala isi hatiku saat itu kepadanya. Sebelum beranjak dari ruangan itu, aku bisikkan, “I LOVE YOU,” ke telinganya. Ryndu tampak tersenyum tipis, di sudut matanya menetes sebulir air bening. Tepat di saat itu pula urat nadinya berhenti berdenyut, jantungnya pun ikut berhenti memompa darah ke seluruh tubuhnya.
Sejak saat itu aku sangat merasa bersalah dengan diriku sendiri. Semua terasa seperti mimpi, aku rasanya tidak percaya Ryndu pergi dari sisiku secepat itu. Kini tak ada yang menemaniku, aku hanya duduk seorang diri di tepi taman sambil mengenang Ryndu di ujung senja.

Cerpen Karangan: Reny Rahma Yani
Facebook: Reny Rahmayani

Cerpen Rindu Di Ujung Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis Keturunan Karaeng

Oleh:
Lagi-lagi Faisal akan dijodohkan dengan anak pengusaha terkenal dari Makassar. Dini, seorang pengarang buku yang cukup ternama dan memiliki garis keturunan karaeng. Hubungan keluarga Faisal dengan keluarga itu cukup

Akhir Penantian Panjang

Oleh:
Setelah perpisahan itu aku memutuskan untuk memendam perasaanku, karena mungkin cinta ini hanya dariku tanpa diterima maupun diberi. Tanpa ku sadari pula sudah sekian lama ini aku mencoba melupakan

Boo Dan Paii

Oleh:
Yang sekarang bisa aku lakukan hanyalah menangis di kesendirian. Ya menangis sendiri di atas atap di tengah hujan sambil menghisap sebatang rok*k dan mendengarkan musik kesukaanku saat istirahat, tapi

Burung Harapan (Part 1)

Oleh:
Sebenarnya aku lebih suka menjadi pembaca, itulah alasannya mengapa banyak novel di lemari bukuku. Jujur aku lebih suka membaca novel dibanding dengan membaca buku pelajaran sekolah yang sebenernya lebih

Hanya Memandangimu Dari Kejahuan

Oleh:
Aku begitu kagum melihat sosok yang sangat ganteng, sepertinya ini yang namanya cinta pada pandangan pertama. Kami memang satu sekolah namun kami saling mengenal sejak kelas 2 SMP. Dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *