Secret

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Perpisahan, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 29 March 2015

Kapanpun pagi, malam akan tetap datang.
Begitu pun saat kau pergi,
Hati ini berharap kau datang
Maaf mengganggumu,
Do’aku kau menemuiku sempurna.

Lutfi benar-benar meninggalkan jejak misteri di hati Vizza akhir-akhir ini. Cowok berkulit putih dengan rambut berponi itu terkenal sebagai cowok misterius dikalangan teman-temannya. Bagaimana tidak, meskipun sikap ramah dan supelnya kepada semua orang merupakan nilai plusnya, namun cowok dengan seribu pesona itu selalu meninggalkan rasa penasaran bagi setiap yang mengenalnya. Tak terkecuali bagi Vizza, adik kelasnya yang sudah beberapa bulan ini telah berstatus sebagai pacarnya.

Vizza uring-uringan di tempat tidur sejak pulang les sore tadi, Ia benar-benar tidak bisa mengendalikan pikiran dan perasaannya hanya karena sosok Lutfi, cowok cerdas yang hingga kini sering membuatnya kesal meski juga perasaan suka selalu muncul jika Lutfi bisa hadir di sampingnya. Bantal dan papan sterofoam menjadi pelampiasan kegundahan hatinya hingga malam.

Berkali-kali gadis remaja yang kini duduk di kelas XI SMA itu menggigit dan meremas-remas kertas bahkan memukul-mukul kepalanya sendiri dengan bantal tidurnya. Lalu, papan sterofoam tempat Ia menempel koleksi kertas warna-warninya habis Ia tusuk hingga mengotori lantai kamarnya. Namun semua itu tidak membuat hatinya tenang dan bisa menghilangkan bayangan wajah tampan seorang Lutfi di benaknya.

Saat perutnya mulai keroncongan, barulah Vizza sadar bahwa sejak tadi pulang sekolah sesuap nasi pun belum mampir di lambungnya. Ia pun bergegas ke arah ruang makan untuk mengambil sedikit makanan di pertengahan malam itu. Orang-orang rumah sepertinya telah tidur dengan pulas, dan itu membuat Vizza semakin tidak nafsu makan karena biasanya Ia selalu makan bersama orangtua dan adiknya.

Makanan di dalam mulutnya Ia lumat dengan pikiran yang masih saja tentang seseorang yang sudah seminggu ini membuatnya khawatir dan penasaran. Sambil terus mengunyah, pikiran Vizza mengulang memori beberapa bulan yang lalu tentang awal mula kisahnya dengan cowok yang telah menyita pikirannya akhir-akhir ini. Masih sangat jelas di ingatan Vizza saat orang yang tidak pernah Ia kenal sebelumnya tiba-tiba membuatnya menjadi kehilangan kendali akal sehatnya.

Suatu hari saat selesai olahraga, Vizza dan teman-teman kelasnya sedang mengadakan kerja bakti di lingkungan sekolah. Kegiatan itu pun mereka buat se-asyik mungkin sambil berfoto-foto bersama usai kerja bakti. Seorang teman laki-laki Vizza yang merupakan ketua kelasnya pun mengajak Vizza untuk berfoto berdua, terlihat mereka berdua sangat akrab. Ketika itu juga Vizza menangkap sebuah sorotan mata tajam yang menatap aksi Vizza dan temannya dengan sinis dan beberapa saat kemudian membuang muka seperti enggan melihat Vizza begitu asyik dengan teman-temannya terutama teman lelakinya itu.

Vizza cukup penasaran dengan sikap cowok tersebut, Ia tahu cowok itu adalah kakak kelasnya, dan Vizza dulu pernah simpatik kepadanya saat Ia menjadi kakak pembina mos karena sifatnya yang ramah dan cerdas. Namun Vizza tidak mau menampakkan rasa kagumnya lantaran cowok bernama lengkap Nugrah Lutfi Perdana itu sedang dalam status pacaran dengan sekretaris osis yang cukup terkenal di sekolahnya.

Seiring dengan berjalannya waktu serta kesibukan Vizza dalam belajar dan meraih prestasi di sekolah dan beradaptasi dengan teman-temannya, Ia sudah tak perduli lagi dengan Lutfi, bisa dibilang rasa kagumnya hanya sejenak. Namun setelah merasakan ada yang berbeda saat Lutfi memandangnya tajam saat itu, terbesit pertanyaan di hati Vizza sambil mengingat-ingat sesuatu barangkali Ia pernah membuat masalah bagi kehidupan Lutfi yang tidak pernah Ia kenal sebelumnya.

Namun Vizza juga tidak yakin pernah membuat masalah bagi Lutfi hingga membuat cowok tersebut marah karena sehari setelah kejadian tatapan aneh cowok itu, sebuah kisah indah tentang Lutfi hadir di kehidupan Vizza. Hari itu saat Vizza berlari dari gerbang menuju aula sekolah, Vizza jatuh tepat di depan aula yang telah ramai oleh siswa yang hendak mengikuti apel pagi. Tanah yang licin karena gerimis membuat sepatu Vizza tergelincir sehingga Ia tak bisa mengendalikan diri dan jatuh. Seragamnya basah, kakinya yang terkilir semakin terasa sakit bersamaan dengan perasaan malu yang mencekamnya seketika. Rasanya Vizza ingin menangis sekeras-kerasnya karena semua mata saat itu tertuju padanya, dan ejekan serta tawa dari kakak-kakak kelasnya membuat Vizza hampir menumpahkan isak tangisnya seketika. Namun saat memalukan seperti itu, datang Lutfi mengulurkan tangannya dan segera membopong Vizza menuju ruang UKS.
“Jangan biarkan air matamu keluar dengan cuma-cuma di depan orang-orang itu!” Kata Lutfi sambil terus berjalan di samping Vizza yang masih berpikir tentang apa yang sedang dialaminya. Saat itu Vizza seperti seorang putri yang dilindungi oleh seorang pangeran, namun semua itu tidak lama karena setelah Vizza tiba di ruang UKS, Lutfi segera pergi tanpa berkata sepatah kata pun, bahkan Vizza tidak sempat mengucapkan terimakasih. Sejak saat itu pun perasaan aneh mulai tumbuh di hati Vizza.

Tak sampai disitu, rasa penasaran Vizza semakin memuncak saat sang pemilik pandangan tajam itu membuat perasaannya campur aduk tidak jelas. Saat pulang sekolah di hari berikutnya, Vizza hendak pulang bersama teman lelakinya yang kebetulan searah dengan rumahnya, karena hari itu Ia tidak membawa motor ke sekolah. Namun, cowok misterius itu datang lagi dan kini kejadiannya tak pernah dibayangkan oleh Vizza sebelumnya.
“Vizza, biar aku yang mengantarmu pulang.” Tiba-tiba Lutfi telah berada di depan Vizza dengan vespa silvernya sambil menyodorkan sebuah helm untuk Vizza.
Untuk beberapa saat Vizza terdiam, ini kedua kalinya seorang Lutfi hadir di depannya dengan tiba-tiba. Namun, Vizza dengan cepat menguasai suasana. Ia sebenarnya sangat ingin pulang dengan Lutfi, cowok yang sempat Ia kagumi. Namun Ia juga sudah terlanjur janji dengan teman sekelasnya yang ingin mengantarnya pulang.
“Makasih kak, tapi saya pulang sama Gilang aja.” Jawab Vizza dengan setengah hati.
Lutfi pun menatapnya tajam sama seperti tatapan pertamanya, Vizza merasa tidak enak karena takut Lutfi akan marah karena tidak menerima tawarannya.
Namun, “Vizza, jika kamu mengambil helm ini kita pacaran. Tapi jika kamu tidak mengambil helm ini, jangan pernah lihat aku lagi!”
Dug!, Vizza seperti disambar petir di tengah terik matahari. Ia tidak pernah menyangka kata-kata Lutfi barusan mendarat di telinganya, bahkan di telinga sebagian orang di parkiran yang kini menatap Vizza seolah menunggu sebuah keputusan seorang hakim yang menjatuhkan hukuman kepada seorang tersangka. Di depannya telah menunggu 2 sosok yang sangat ingin mendengar jawabannya segera. Namun, tidak tahu harus ikut dengan siapa. Ia sangat menghargai Gilang yang sejak kelas satu berusaha mendekatinya, namun di sisi lain Vizza juga tertarik dengan sosok aneh di depannya yang tiba-tiba memberinya pilihan tersulit selama Ia hidup.

Vizza melihat Gilang dan Lutfi bergantian, Entah naluri darimana yang membuatnya melangkah mengambil helm biru putih di tangan Lutfi dan menatap Gilang dengan penuh harap agar cowok yang selama ini tak pernah menyerah mendekatinya itu tidak sakit hati. Namun Vizza sadar bahwa keputusannya telah membuat Gilang kecewa dan mungkin kini sangat membencinya. Vizza juga tak habis pikir mengapa Ia bisa langsung mengambil keputusan menerima helm yang merupakan tanda jadiannya dengan Lutfi, cowok yang tak pernah Ia kenal sebelumnya.

Vizza juga cukup keki melihat raut wajah Lutfi yang terkesan biasa saja saat Vizza lebih memilihnya daripada Gilang. Setelah Lutfi memasang helm untuk Vizza, mereka berdua pun telah melaju di jalan raya tanpa menghiraukan orang-orang yang menjadi saksi kejadian langka itu. Gilang pun pergi dengan hati luka dan kecewa. Namun Ia sadar bahwa Vizza bukan untuknya.

Hingga berjalan dua bulan, Vizza belum pernah mendapat jawaban dari Lutfi mengapa cowok aneh itu bisa memilihnya menjadi pacarnya. Karena setiap Vizza bertanya, Lutfi hanya tersenyum tipis atau menjawab “Hanya aku dan Tuhan yang tahu” tanpa rasa bersalah sedikit pun karena membuat Vizza tak pernah puas dengan jawabannya. Namun Vizza tak pernah ambil pusing meski Lutfi pun sangat tertutup padanya. Vizza percaya bahwa Lutfi cowok baik-baik meski Ia tidak mengetahui kehidupan pribadi pacarnya itu.

Hingga kini hubungan Lutfi dan Vizza berjalan lima bulan, Vizza belum juga mengerti apa yang ada di dalam pikiran Lutfi. Vizza benar-benar ingin mengetahui bagaimana perasaan Lutfi terhadapnya. Bahkan mengucapkan kata sayang pun Lutfi tidak pernah, namun Lutfi menunjukkan rasa sayangnya dengan caranya sendiri kepada Vizza.

Kisah hubungan Lutfi dan Vizza terkesan biasa saja, namun kisah biasa dan sederhana itu kini membuat Vizza sangat rindu dengan sosok Lutfi yang penuh rahasia. Berkali-kali Vizza mencoba menghubungi nomor telepon Lutfi sejak beberapa hari yang lalu. Namun tak juga ada kabar dari cowok tersebut. Vizza juga tak pernah melihat Lutfi di sekolah akhir-akhir ini. Biasanya sebelum masuk kelas mereka bertemu di parkiran sekedar memberi semangat satu sama lain. Namun sudah seminggu Lutfi tak pernah tampak. Vizza juga malu jika harus mencari Lutfi ke kelasnya, karena memang tidak pernah Ia lakukan sebelumnya. Kini Vizza hanya sabar menunggu kabar dari sang pujaan hati.

Sebulan berlalu, Lutfi masih belum memberi kabar kepada Vizza. Dari temannya, Vizza mendapat kabar bahwa Lutfi telah datang sekolah sekitar dua minggu yang lalu. Namun Vizza tidak pernah melihatnya. Terfikir dalam hatinya bahwa Lutfi mungkin sudah ingin mengakhiri hubungan mereka dengan cara menghindari Vizza. Bahkan Gilang pun kini berusaha mendekati Vizza kembali saat mengetahui Lutfi sudah tidak pernah menemui Vizza lagi.

Setiap pagi Vizza menunggu di parkiran. Ia berharap bisa bertemu dengan Lutfi. Jika kebiasaan Lutfi dulu yang mengacak-acak rambut Vizza sambil memberi semangat tidak lagi dilakukannya, Vizza hanya berharap bisa bertemu dengan Lutfi hanya untuk meminta penjelasan dari cowok misterius itu mengapa menghindarinya hingga satu bulan lamanya. Namun seminggu berlalu Vizza belum juga bertemu dengan Lutfi. Cowok itu seperti hilang di pandangan Vizza.
Vizza memencet-mencet tombol handphone-nya. Ia baru saja membeli phone-card baru untuk menghubungi Lutfi, berharap Lutfi mau menjawab teleponnya kali ini karena jika nomornya yang menghubungi, Lutfi tak pernah mau menggubrisnya. Vizza hanya ingin mengetahui kabar serta kepastian dari cowok yang telah menguasai ruang pikirnya itu.
“Tut.. tut.. tut…!” Nomor Lutfi telah tersambung, namun belum juga diangkat. Vizza mengulang kembali. Panggilan kedua akhirnya dijawab oleh Lutfi.
“Hallo..!” Vizza diam sesaat mendengar suara yang sangat Ia rindukan itu. gemuruh perasaannya benar-benar tak dapat Ia tahan. Ingin sekali Ia mengatakan bahwa Ia sangat merindukan Lutfi, namun kata itu Ia simpan.
“Hallo.., dengan siapa ya?!” Tanya Lutfi sekali lagi karena tak ada jawaban dari si penelepon.
“Kak, ini Vizza. Gimana kabar.. tit.. tit.. tit..!” Panggilan diakhiri oleh Lutfi sebelum Vizza usai berbicara. Vizza semakin bingung dengan apa yang dilakukan oleh Lutfi.

Keesokan harinya, kali ini Vizza benar-benar nekat ingin menemui Lutfi secara langsung. Perasaannya yang begitu kuat sudah tidak bisa Ia tahan, Ia ingin segera menanyakan tentang kepastian hubungannya meski Lutfi masih menyimpan rahasia perasaannya yang sebenarnya kepada Vizza. Awalnya Vizza menunggu di parkiran, Ia melihat Lutfi berjalan dengan santai. Vizza sengaja mengikutinya hingga saat tiba di depan perpustakaan yang cukup sepi di pagi itu, Vizza memanggil Lutfi.
“Kak Lutfi..!” Lutfi berbalik sebentar, Vizza menatapnya dengan penuh harap agar Lutfi menghampirinya. Namun Lutfi tidak beranjak dari tempatnya dan bahkan berpaling. Vizza merasa tidak dihargai oleh seorang Lutfi. Ditambah lagi saat Viza hendak menghampiri Lutfi, cowok berbadan tinggi tegap itu berjalan sekenanya.
“Kak, saya hanya butuh kepastian!” Teriaknya berharap kali ini Lutfi mau mendengarnya walau sebentar. Namun Lutfi telah berjalan menuju kelasnya dengan teman-temannya seperti tidak pernah terjadi sesuatu.
Vizza merasa dipermainkan oleh Lutfi. Lelehan bening mulai mengaliri pipi Vizza, Ia tersedu di samping perpustakaan. Perasaannya yang telah terlanjur dengan Lutfi membuatnya merasa begitu lemah di depan cowok itu. Baru kali ini Ia merasa sangat tersakiti oleh seorang cowok. Sebelum bel masuk berbunyi, Vizza merobek kertas diarinya untuk menulis sesuatu sebelum memutuskan untuk beranjak dari samping perpustakaan.

“Sempat kuyakini bahwa sayap kita ‘kan kuat. Namun saat ini engkau benar-benar meyakiniku bahwa aku tak ada artinya di matamu. Mungkin saat engkau membaca surat ini engkau sudah tak memiliki rasa seperti yang aku alami. Tapi aku harap engkau mengerti sedikit saja apa yang dirasakan oleh hati. Aku tahu, engkau lelaki cerdas, tapi apa mungkin akal tidak bisa menerjemahkan apa yang dirasakan oleh hati?
Aku hanya butuh kepastianmu!
By: Vizza

Sesaat setelah menitipkan sebuah surat lewat teman kelas Lutfi, Vizza beranjak untuk keluar dari lingkungan sekolah menenangkan diri. Ia tidak berharap bisa kembali melanjutkan kisahnya dengan Lutfi, Ia hanya ingin kepastian hubungannya dengan Lutfi. Karena perasaannya saat ini benar-benar tidak bisa Ia kendalikan.

Vizza masih dengan kesedihannya, namun Ia tidak ingin terus terpuruk dengan keadaan yang tengah Ia alami hanya karena seorang cowok. Hari ini Ia berusaha tetap semangat dan menjaga kondisi tubuhnya, karena menjelang semester Ia harus fokus belajar. Meski kini Lutfi yang status hubungannya masih sebagai pacarnya telah menghilang bersamaan dengan lulusnya Ia dari sekolahnya masih menjadi faktor utama keterpurukannya.

Vizza masih saja bertahan dengan setianya walau Ia sadar bahwa Lutfi tak akan kembali padanya. Saat hari perpisahan kelas XII pun Lutfi tidak juga muncul di hadapannya walau hanya sekedar mengucapkan kalimat perpisahan. Namun Vizza tetap menjaga hatinya hingga nanti Lutfi berada di hadapannya entah untuk melanjutkan ataupun mengusaikan hubungan mereka.

Vizza berjalan gontai menuju motornya saat berpisah dengan teman-temannya yang telah berlalu meninggalkannya. Parkiran sudah mulai sepi, Vizza sedikit terkejut saat melihat sosok yang duduk di atas motor di samping motornya. Namun, rasa takut yang tadi mengagetkannya berubah menjadi rasa aneh saat melihat sosok yang penuh rahasia kini berdiri di hadapannya. Rasanya Vizza ingin meluapkan segala rasanya yang selama ini terpendam, tentang rindu, amarah, khawatir, takut serta perasaan sayangnya yang semakin kuat kepada sosok yang memakai jaket coklat di hadapannya itu.
Namun semua rasa yang ingin Ia lontarkan itu memilih terus bertahan di balik sifat sabarnya. Vizza hanya tersenyum menatap Lutfi yang mendekat dan mencium keningnya. Ini adalah kedua kalinya Lutfi mencium keningnya setelah yang pertama dilakukannya saat mengungkapkan rasa sayangnya kepada Vizza yang tak bisa Ia ungkapkan dengan kata-kata.
Vizza semakin bungkam dengan cara Lutfi yang semakin aneh terhadapnya. Menghilang selama beberapa bulan lalu hadir begitu saja seenaknya. Tak terasa, air mata bahagia menetes dengan sendirinya dari kedua bola mata Vizza. Hingga saat Lutfi menggenggam tangannya erat disertai senyuman khasnya yang membuat rindu Vizza yang telah lama berkarat kini luluh bersama percikan rasa sayangnya yang tak ingin Ia sia-siakan kepada sang pemilik hatinya. Ingin rasanya Vizza meneriakkan pada bintang-bintang malam itu bahwa sosok yang Ia rindukan kini telah hadir kembali, meski sampai saat ini Ia belum mengenali sosok Lutfi yang sebenarnya.

“Dek, maafin kakak ya baru bisa hadir di depan Vizza sekarang. Sebenarnya kakak juga kangen sama Vizza, tapi karena suatu hal. Sekarang, hadirnya kakak disini, kakak mau minta maaf sekaligus mau mengundurkan diri sebagai penjaga hatinya Vizza, kakak belum sanggup menjaga hati Vizza untuk saat ini. Mohon Vizza ngerti.”
Seketika rasa bahagia dan rindu Vizza yang tadinya terbayar berubah menjadi rasa yang paling menyakitkan yang pernah Ia rasakan sebelumnya. Ia benar-benar bingung dengan kisah cinta aneh yang Ia alami.
“Dek, Vizza boleh marah sama kakak. Kakak akan terima dek apapun yang Vizza lakukan.” Namun Vizza memilih diam dan menunduk tanpa menggubris kata-kata Lutfi. Ia belum bisa menguasai alam sadarnya.
Hingga setelah beberapa menit, “Kak, saya pulang dulu. Terimakasih buat semuanya. Semoga Tuhan selalu melindungi kakak!” Hanya itu kata yang mampu Ia lontarkan sambil berusaha kuat di depan Lutfi.

Vizza pun melaju pulang dengan motornya setelah terakhir kali menepuk pundak Lutfi yang mentapnya dengan penuh rasa bersalah. Akhirnya, Vizza memilih berhenti sebentar di pinggir jalan untuk menumpahkan isak tangis bahagianya yang kini berubah menjadi air mata kesedihan dan kehilangan. Pacarnya yang penuh dengan rahasia itu kini benar-benar memberinya kepastian untuk meninggalkannya. Dan hingga saat mereka berakhir pun, rahasia perasaan Lutfi yang sebenarnya belum Ia ketahui. Hanya rasa rindu yang menjadi teman Vizza mengingat kembali kisah sederhana antara Ia dan Lutfi, cowok seribu pesona dengan sejuta rahasia.

Selesai

Cerpen Karangan: Nora Permatasari
Facebook: Perii Biru Sangpenjagahatti

Cerpen Secret merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku, Egi dan Pasar Kaget

Oleh:
“Dodol! Bukan gitu caranya!” Egi memukul kepalaku dengan penggaris yang sontak membuatku meringis kesakitan. “Sakiiiittt…” kataku sambil memanyunkan bibir. Egi berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Sekali lagi ia memukul kepalaku

Satu Bulan Dalam kenangan

Oleh:
Masih sangat pagi. Dinginnya juga seperti tak aku kenali. Seolah kota ini membawaku pada ruang berdinding balok-balok es, mungkin karena aku yang tak terbiasa. Hari ini adalah hari pertamaku

Antar Aku Dengan Senyuman

Oleh:
“iya bun.. bunda juga jaga kesehatan ya..!! daaah bunda.. assalamualikum..” ku tutup telpon dari bunda dan segera kurebahkan tubuhku diatas sebuah sofa. Hari ini matahari sangat terik, lumayan juga

Will You Marry Me?

Oleh:
9 Maret 2013 Masih membekas di ingatanku. tanggal dimana kau pertama kali berani menggenggam tanganku, berani mengatakan suatu hal yang membuat aku terkejut dan terdiam tak bisa berucap apa

My Jupiter

Oleh:
Di sini, sekali lagi aku duduk dengan piano di hadapanku. Di hadapan ratusan pasang mata yang telah menanti. Di sini, aku mulai memainkannya. Jariku seakan hidup. Hening, hanya suara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Secret”

  1. daniella wowor says:

    wahh… ceritanya bagus banget. tapi buat part 2 dong soalnya ceritanya kelihatan belum selesai. kan seharusnya happy ending. 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *