Selly dan Slamet

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 26 September 2014

Selly. Ya, cewek itu bisa lu temui di semua sudut sekolah ini. Di madding of the week, of the month and of the year, di acara-acara sekolah, di ruang guru, di dalam perbincangan cowok-cowok sekolah, di antara laki-laki yang sedang berantem memperebutkan perhatiannya, dan satu lagi, lu bisa temuin dia di balik pianonya yang selalu mengalun merdu karena kelihaian jari jemarinya yang lentik.

Selly. Cewek paling popular di sekolah ini. Cantik, kaya, baik, pinter, jago main piano pula. Gak salah kalau banyak banget cowok-cowok popular alias ‘copop’ yang ngedeketin dia. Dan nasib sial bagi cowok-cowok ‘kupop’ atau kurang popular di sekolah ini, karena hanya bisa gigit jari dan ngeliatin si Selly dari jarak minimal 10 meter karena minder. Dan sialnya lagi, gue adalah bagian dari mereka yang menyandang title ‘kupop’.

Slamet. Ya, nama gue Slamet Kliwon Wengi. Emang agak aneh sih, tapi ada alasannya kok. Waktu gue nanya ke kakek gue, alasannya simple banget. Kata beliau, karena gue lahir dengan selamat di malam Jum’at Kliwon. Gue gak habis pikir kalau ‘ngkong’ sampai kepikiran masukin ‘Jum’at’ juga dalam nama gue. Bisa-bisa nama gue adalah peraih nama terunik paling panjang dalam sejarah di sekolah gue ini.

Balik lagi ke SELLY. Arrgh, nama itu selalu membuat warna abu-abu yang gue lihat jadi warna merah, rumput pun bisa berubah jadi bunga mawar jika gue ngelihat dia dari sini.

Gue gak seperti Selly yang bisa lu lihat dimana-mana. Gue ini nih, hanya bisa lu lihat di tiga tempat. Pertama, di pos pantau gue yang lokasinya di pojokan kantin. Tempat gue bisa ngeliat Selly yang lagi digodain sama ‘copop’. Kedua, di kelas dong pastinya. Tepatnya di barisan paling belakang sebelah kanan, alias pojokan lagi. Dan yang ketiga, di depan pintu ruang musik buat dengerin suara piano yang dimainkan Selly.

Selly memang cantik, tapi bukan itu yang gue lihat. Selly kaya, tapi bukan itu juga yang buat gue suka. ‘Emang gue cowok apaan?’. Gue suka sama dia, karena dia kelewat baik di mata gue, dia adalah saingan gue setiap kali juara umum sekolah akan diumumkan. Tapi sayang, gue nggak pernah tahu dimana nyali gue minggat waktu berjarak 5 meter saja dari dia.

Pagi ini cuaca kurang bersahabat. Mendung disana-sini, dan gue sudah terlanjur nggak bawa payung, dan nggak mungkin balik lagi ke rumah demi sebuah payung. Tiba-tiba, saat yang gue was was-in datang juga. Hujan yang lumayan lebat datang mengeroyok dan memaksa gue buat lari cari tempat berteduh. Tapi, sejauh mata memandang hanya ada seseorang yang membawa payung tepat di depanku saja yang bisa gue andelin. Apa boleh buat, gue memutuskan untuk numpang.
“Gue numpang di payung lu ya!”. Kata gue sambil mengusapkan tangan pada baju gue yang sedikit basah karena hujan. Sekilas, tak ada jawaban dari seseorang yang menyelamatkan gue dari segerombolan pasukan air langit itu. Gue pun memutuskan menoleh dan mau bilang ‘makasih’ sama orang yang belum gue lihat dari tadi. Alhasil, gue terperanjat saat mengetahui orang itu adalah Selly, gue kagak salah ngeja, itu Selly S-E-L-L-Y.
“Pagi Slamet”. Sapanya dengan senyuman yang tak pernah gue lihat
Gue hanya bisa bengong, bukan karena kaget dia jalan kaki, itu mah udah biasa. Lebih dari itu, dia ternyata tahu nama gue. Nyali gue kali ini udah benar-benar hangus karena berada beberapa senti dari Selly. Tapi, gue coba nyapa balik dia walau gugup telah mengganjal semua kata-kataku.
“Pa.. pagi juga Sell. El.. Elu kok tahu nama gue yah?”. Nah, dan akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulut gue yang dari tadi diserang oleh si gugup. Dia hanya tersenyum tipis sembari menjawab pertanyaan yang membuat gue bahagia banget.
“Ya jelas lah gue kenal sama lu. Selain lu langganan saingan gue, lu kan yang biasa ngintipin gue waktu main piano Met”.
Bagaikan disambar petir, jawaban Selly tadi membuatku keget sejadi-jadinya. Gue hanya bisa diam menghadapi kenyataan kalau gue tertangkap basah seperti maling yang digrebek warga satu kampung.
“Lu jangan takut, Met. Gue nggak marah kok sama lu”.
Gue hanya manggut-manggut dan tersenyum kecut. Selly melanjutkan lagi monolognya. Ya, karena gue dari tadi hanya bisa diam, diam dan diam.
“Nanti kita pulang sekolah bareng ya. Kamu mau apa enggak?”.
Kali ini gue hanya melongo, nggak tau lagi mau ngomong apaan. Padahal kalau dilihat-lihat banyak banget copop yang ditolak tawaran dinner ataupun sekedar lunch di kantin. Berarti gue ini adalah kupop yang lagi beruntung aja. Sebenarnya, dari tadi hati gue udah bilang ‘mau’ tapi bener-bener tuh nyali, kabur seenaknya tanpa permisi dulu ke gue. Selly kembali menekankan pertanyaannya yang membuat gue seakan jatuh di tumpukan bunga-bunga yang wangi.
“Gimana Met?”.
“Mau”. Jawaban singkat gue yang paling susah buat diucapin.

Selly benar-benar sudah menunggu gue di depan sekolah dengan payung yang menaunginya. Gue langsung menghampiri Selly dan berjalan pulang. Hujan dari tadi pagi belum juga reda, membuat perjalananku dengan Selly sangat lambat. Tapi, tiba-tiba hujan membasahi gue dan gue lihat Selly menutup payungnya dan memegang tangan gue.
“Met, hujan-hujanan yuk!”. Ajaknya yang langsung menarik gue dan berlari-lari. Gue nggak habis pikir, bagaimana mungkin Selly dan gue yang sudah memakai seragam putih abu-abu sebahagia ini menikmati hujan. Seperti anak kecil yang baru diizinin sama orangtuanya buat hujan-hujanan.

Entah kebetulan atau tidak. Akhirnya gue sampai di daerah yang biasa gue kunjungin kalau lagi suntuk. Disana ada danau buatan dengan taman yang mengelilinginya. ‘Semoga Selly suka’, batinku.

Hujan tinggal gerimisnya saja. Dan gue sudah duduk manis disini bersama Selly. Diluar dugaan gue, Selly bukan hanya suka. Tapi, suka banget malah. Gerimis hari ini adalah gerimis paling indah yang pernah gue rasain. Karena, setiap kali gue menoleh ke kanan ada Selly disana. Dan, gue layaknya harus berterima kasih banget sama Tuhan. Karena, Dia telah mengirimkan kami pelangi yang sangat indah di atas danau sana. Untuk aku dan juga Selly.
Aku berbisik lirih dalam hati. Sambil menatap senyuman Selly yang seindah pelangi, seteduh danau dan ‘petrichor’
“Seindah apapun kamu di mata mereka Selly. Gue nggak akan berubah menjadi seperti mereka, apalagi pemikiran mereka. Gue bawa lu kesini aja, gue udah bahagia banget. Suka nggak sukanya lu, gue akan tetap seperti ini. Lu harus percaya itu”.
Tiba-tiba Selly tersenyum dan berkata.
“Met, makasih ya udah buat aku tersenyum dengan tulus di hari ulang tahunku ini”.
Perkataan Selly tadi adalah kejutan terakhir di ujung hari ini. Gue membalas senyum Selly dan tidak berkata apapun selain ‘sama-sama’ dan ‘Zhu ni shengri kuaile Selly’. Semua ini diluar dugaan gue. Tapi gue bahagia banget bisa ada di dekat Selly hari ini. Hari ulang tahunnya.

Cerpen Karangan: Aini
Blog: nurainidiah21.blogspot.com

Cerpen Selly dan Slamet merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pacar Bukanlah Segalanya

Oleh:
Hari itu aku sedang mengikuti MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Aku berada di gugus 3 bersama sahabat karibku Putri. kakak pembimbingku adalah kak riko dan kak citra. Kak riko

Someone in September Rain

Oleh:
“Ha? Kamu diajak kenalan sama dia Cel?” Hahah!!” tawa Jesslyn mengejek. “Ih kamu ngejek deh. Aku serius. Dia belakangan ini sering ngechat aku tau! Ini semua berawal ketika aku

Usia 18 Tahun

Oleh:
Hari ini tepat hari kelahiranku. Hari dimana seluruh masyarakat Indonesia merayakan kemerdekaan RI. Aku merasa beruntung karena aku dilahirkan di tanggal Ir. Soekarno memproklamirkan proklamasi. Namaku Keisya. Sebagian orang

Karena Terbiasa

Oleh:
Hei, aku Via. Saat ini aku kelas satu SMA. Aku ingin berbagi cerita sedikit tentang kisah cintaku saat SMP dulu. Waktu itu aku kelas 8 SMP. Aku mempunyai teman

Short Love

Oleh:
“ann… buka pintu lo ann!” teriak mira dan nam sembari menggedor-gedor pintu kamar ann. Sebenarnya ann malas membukakan pintu untuk kedua sahabat anehnya itu, habisnya mereka pasti akan mengacak-acak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Selly dan Slamet”

  1. enny andriyana says:

    Baca cerpen ini yah !

  2. arsyfira d'arnadal says:

    Iya enny cerpennya udah ku baca kok.cerpennya bagus + keren and gokil deh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *