Sentuhanmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Korea, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 27 June 2017

Bau semerbak dari parfumnya yang sangat kusukai dulu sekarang tak ada lagi. Ia sudah berubah. Bukan hanya sikap dan penampilannya, merk parfumnya pun sudah berubah. Entah apa dan siapa yang menjadi penyebab Mark yang kutu buku itu berubah sepenuhnya. Hingga 180 derajat.

Jika dihitung, 3 bulan sudah Mark tidak mengotak-atik lemari bukunya. Biasanya, tiap pulang kerja part time di sebuah minimarket, ia selalu mencari novel-novel di lemari dan melanjutkan kegiatan membacanya. Selalu seperti itu. Setahuku, Mark tidak pernah tega melihat buku-bukunya berdebu. Ia selalu membersihkannya secara rutin.

Tapi, kali ini dia benar-benar berubah. Sebagian dari koleksi komiknya ia berikan kepada orang lain. Itu memang perbuatan yang baik, tapi buku-buku yang sering dibacanya dulu hampir tak ada lagi. Buku yang tersisa di dalam lemari dapat dihitung dengan sepuluh jari, bahkan tak sampai.

Inginku menyentuh lengan kekarnya dan ‘menghantam’nya dengan berbagai pertanyaan. Mengapa ia tak lagi membaca bukunya? Mengapa ia berubah? Dan juga, mengapa ia tak mempedulikanku lagi?

“Aku pulang …” Terdengar suara Mark di depan rumah. Ia membuka pintu perlahan, masuk, lalu menutupnya kembali. Suara decitan pintu terdengar jelas. Cho Ta Ra, kakak perempuan Mark menyambut kedatangannya dengan pelukan hangat.

Kedua orangtua mereka tak lagi tinggal di rumah ini. Cho Dae Kyung, sang ayah, telah meninggal beberapa tahun lalu. Kim Nae Jeon, sang ibu yang berprofesi sebagai pengacara menikahi lelaki asal Indonesia dan menetap di sana. Walaupun begitu, Kim Nae Jeon tetap perhatian dengan kedua anaknya. Mark dan Ta Ra pun tak masalah jika memiliki ayah kedua.

Kak Ta Ra ‘melemparkan’ sapu yang tadi dipakainya ke arahku, lalu pergi ke menuju dapur. Ingin aku meringis kesakitan, tapi tak bisa. Tak mungkin bisa.

5 menit kemudian, Kak Ta Ra keluar dari sisi dapur dengan membawa dua gelas ice coffee andalannya.

Hanya dua gelas? Dimana gelas untukku? Aku juga ingin merasakannya. Merasakan dinginnya segelas kopi.

Setelah meneguk habis segelas ice coffee, Mark menatap Kak Ta Ra sejenak. Kak Ta Ra yang menyadari itu segera membuang pandangan.

“Jangan menatap kakak dengan pandangan begitu, Mark-ah,” ketus Kak Ta Ra sembari menyikut perut Mark.
Kekehan kecil keluar dari bibir lelaki itu. “Aku ingin ke luar sebentar malam ini.”
“Sebentar ya? Cuman sebentar,” peringat Kak Ta Ra layaknya seorang Ibu.
Mark menatapku sejenak.
Hah?
Di saat aku mulai terbiasa diabaikan, dia malah menciptakan rasa itu lagi padaku. Rasa dimana aku berpikir harus memilikinya.
“Mau bawa tas? Nanti kakak isiin jaket sama snack kesukaan kamu itu lho,” tanya Kak Ta Ra yang dijawab dengan anggukan mantap Mark.

Jam delapan malam. Tepat. Saat ini, Kak Ta Ra sedang ada di halaman rumah bersama kucing peliharaannya.
They’re enjoying a clear sky now.
Selagi Kak Ta Ra bermain dengan kucingnya, Mark ada di ruang tamu bersama denganku. Ya, walaupun ia tak mengakui keberadaanku. Raut wajahnya terlihat gelisah, seperti menunggu sesuatu yang tak pasti. Tetesan keringat mengucur dari dahi dan membasahi hampir seluruh wajahnya.
Uhm.

Sekarang jam sembilan malam lewat sepuluh menit. Aku sedang bersama Mark sekarang. Terjebak dalam hujan yang begitu deras. Sebenarnya, aku tak menyangka bahwa Mark akan pergi bersamaku. Sambil menunggu hujan reda, kami mencari sebuah tempat untuk berteduh.

Ketemu!
Sebuah restoran ramen kecil-kecilan yang belum tutup.

Hujan bertambah deras. Deras sekali. Setelah sang Matahari menyinari Bumi dengan begitu lama, sekarang giliran mereka yang mengguyuri Bumi dengan tetesan-tetesan yang begitu dingin.
Tangan kekar Mark sedikit mendekat ke arahku. Aku rasa. Tiba-tiba saja ia menyentuhku. Sebuah sentuhan yang mampu menghangatkan diriku.

Aku berdoa kepada Tuhan agar dapat mengembalikan lelaki yang di sampingku ini bisa seperti dulu. Mark yang heboh setengah mati ketika ada novel yang baru terbit. Mark yang sering membuat kesal Ta Rae karena selalu meminjam uangnya untuk membeli novel itu, tapi sekarang Mark acuh tak acuh terhadap apapun. Ia juga jarang bicara dengan Ta Rae. Bukan Mark yang seperti itu yang kuinginkan.
Mengapa Tuhan membuatnya seperti orang asing bagiku padahal ia tahu bahwa aku tak mampu melupakan ia yang dulu?

Hujan mulai reda. Petir pun enggan menyambar lagi. Orang-orang yang berteduh di sini mulai pergi setelah meneguk segelas teh hangat yang sudah dipesan tadi.

“Ah, Yoon Kyo-ah!” Raut muka Mark yang tadinya resah dan gelisah langsung berubah seketika. Lesung pipinya terlihat olehku. Kiri dan kanan.
Manis sekali. Sungguh.
Wanita dengan rambut yang sedikit ikal itu berlari kecil ke arah Mark. Ia mengumbar senyum manis sambil menatap Mark, kemudian memeluknya.
Ya. Mereka berpelukan dengan mesra tepat di hadapanku. Aku sangat yakin wanita itulah yang telah mengubah seluruh hidup Mark. Keyakinanku itu bertambah saat wanita itu bertanya pada Mark apakah ia membawa buku lagi. Mungkin wanita itu tidak suka buku.

“Kau tahu? Ayahku sudah membelikan sebuah rumah mewah untuk kita nanti. Kau bisa tinggal di sana sama kakakmu!” seru wanita itu sumringah.

Untuk kita?

“Untuk kita dan anak kita kelak, ‘kan? Untuk soal pindah, kakakkulah yang akan memberi keputusan.” Mark tersenyum lebar. Barisan giginya yang putih dan rapi itu terlihat jelas dan membentuk sebuah sudut senyuman. Membuatnya terlihat sangat menawan.

Anak kita?

Aku melihat mereka berdua yang tengah mengobrol dan bercanda sambil meneguk teh hangat. Terlihat juga Mark yang sesekali menyuapkan ramen untuk wanita ramping itu.
Saat ini, Mark terlihat sangat bahagia. Tuhan mengabulkan doaku, tapi tidak sepenuhnya. Seharusnya, Mark bahagia bersamaku dan ia bahagia dengan sikapnya yang dulu.
“Mark sungguh mencintai wanita itu. Hubungan mereka juga serius. Wanita itu pasti bisa membuat Mark bahagia,” kataku kesal dan serasa ingin berteriak kencang.

Meskipun aku tahu bahwa tak ada seorang pun yang dapat mendengarkan suara dari sebuah buku yang mencintai pemiliknya.

THE END

Cerpen Karangan: Rachmi Mutiah Fadillah
Facebook: Rahmi Mutiah Fadillah

Cerpen Sentuhanmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sang Miliuner

Oleh:
Pernahkah kau bermimpi untuk menjadi dirimu sendiri? Pernahkah kau merasa tidak sanggup membedakan antara esensi diri dan batas imajinasi? Kutenggak kaleng b*r kedua yang kubeli sore ini. Setelah pulang

Marie Kucingku Sahabat Sejatiku

Oleh:
Marie dan Maya adalah sahabat yang baik. Walaupun mereka berbeda dunia, Marie adalah seekor kucing putih yang imut dan lucu yang membuat Maya, gadis kecil berusia 8 tahun itu

Teror Terencana

Oleh:
Di sebuah kota di Amerika Serikat terjadi sebuah teror. Anak-anak nakal di kota itu tiba-tiba menghilang. Salah satu dari anak yang hilang itu adalah Alex. Alex adalah pemimpin dari

Lemari Ajaib

Oleh:
Nayla baru saja mempunyai kamar baru. Kamarnya bernuansa biru, karena Nayla sangat menyukai warna biru. Dan ia dibelikan ayahnya sebuah lemari berukuran sedang. Saat malam hari, Nayla mendengar suara

The Orphanage House

Oleh:
“Elena, lakukan dengan benar!” Uh, ya ampun. Suara menggelegar Bibi Clara benar-benar seperti musik orkestra gratis yang berdesing di telingaku. Tidak elite sekali menyuruh seorang gadis untuk membersihkan seluruh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sentuhanmu”

  1. Ahn Lyra says:

    astaga ini marklee kan? mark lee nct? sediii:’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *