Senyum Air Surga (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 23 October 2018

“Bagaimana, kau siap?” tanya Eva pada Zaki.
“Uhm, sebenarnya ya belum siap. Masa iya, aku baru masuk suruh presentasi. Tapi, harus siap, memang.”
Pasalnya, pagi itu Eva dan Zaki ada presentasi tugas Bahasa Indonesia. Sejak seminggu yang lalu, Zaki tidak masuk sekolah karena sakit cacar. Jadi, tugas ini sepenuhnya yang mengerjakan adalah Eva. Mereka adalah siswa kelas 12 SMA Kusuma Bangsa. Dan secara kebetulan, sejak mereka satu kelas sejak kelas 10 dulu.

“Hei, Eva! Apa kamu ingat perkataan kita waktu kelas 10 dulu? Saat kamu dengar aku tidak mau iuran untuk tugas kelompok, dan secara spontan kamu bilang tidak mau satu kelompok denganku lagi?” tanya Zaki saat kembali ke bangkunya setelah presentasi.
“Dan kau menjawab dengan sangat ketus, bahwa kau juga tidak sudi bekerja sama denganku. Sebenarya aku tidak sungguhan berkata seperti itu. Tapi, entah kebetulan atau bagaimana, sejak saat itu kita tidak pernah satu kelompok lagi.”
“Dan sampai sekarang ini.”
Mereka berdua tertawa keras. Tanpa sadar, seantero kelas memandang mereka aneh.

Eva menatap Zaki begitu dalam. Sudah sangat lama ia tidak melihat senyum indah itu, senyum yang sangat menyegarkan, dan senyum yang manis penuh arti, batinnya.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu? Ada yang salah?” Pertanyaan Zaki membuatnya terkejut.
“Oh, tidak. Hanya saja, sudah lama kita tidak bercanda seperti ini,” kata Eva gelagapan.
“Aha! Aku tahu. Kamu pasti kangen sama aku, kan? Face up, Va,” canda Zaki.
“Hust, kok PD sekali kamu ini? Sudah, dengarkan presentasinya, noh!” Eva melirik Zaki, dia hanya tersenyum tipis.

Sepulang sekolah, Zaki mengajak Eva makan di sebuah warung ayam bakar dekat sekolah. Tidak ada salahnya, Eva pun menyetujuianya. Dan ini adalah kali pertama dia makan bersama Zaki sejak mereka kenal hampir 3 tahun lalu.
“Uhm, anyway, dalam ragka apa ini traktir-traktir segala?” Eva memulai percakapan setelah memilih tempat duduk.
“Karena kamu telah mengerjakan tugas Bahaa Indonesia kita dengan sangat sempurna,” jawab Zaki singkat.
“Hahaa. Itu sudah biasa. Kamu tidak perlu berlebihan, sudah banyak yang bilang seperti itu.”
“Wah, songong ni anak. Capek deh ngomong sama kamu, Va,” Zaki gregetan.
“Oh, ngajak berantem lo? Oke!” Eva malah geram.

“Hei, kalian ini apa-apaan? Mau makan itu berdoa, bukan bertengkar,” serobot pelayan yang mengantarkan makanan, “Ini, silahkan. Semoga rasanya yang enak mampu mendamaikan hati kalian dan menambah rasa cinta di antara kalian,” sambungnya.
“Cinta?” teriak Eva dan Zaki bersamaan.
Sang pelayan tersenyum lebar dan kemudian pergi. Eva dan Zaki saling memandang sinis. Tapi kemudian tertawa lepas. Sepasang teman yang aneh.

“Eh, Va. Kamu mau kuliah di mana?” tanya Zaki sambil menyantap makanannya.
“Kalau inginnya di FMIPA UI. Tapi pengen juga bisa kuliah di luar negeri. Kamu?”
“Owh, bagus itu. Kalau aku, sastra Inggris Cambrigde University. Hohoo.”
Pembicaraan mereka semakikin dalam dan kehangatan di antara mereka juga kian terasa.

“Hai, Va!” Sapa seorang gadis yang duduk di sebelah Eva, “Ehm, kamu kemarin makan sama Zaki, kan? Kalian pacaran? Wah, parah ni Eva, gak cerita-cerita.”
“Lisa! Aneh-aneh aja deh. Tentu tidak. Kita saja tidak pernah dekat. Tahu sendiri kan bagaimana sikap Zaki ke aku kaya gimana?” Jawab Eva dengan nada tinggi.
“Ya, itu dulu, Va. Mungkin saja sekarang ini, sejak kamu kembali satu kelompok sama dia, mana berdua pula, mungkin dia baru sadar kalau dia suka sama kamu. Dan dia sedang melancarkan aksi untuk mendekatimu,” jelas Lisa.
“Jangan berpikiran negatif. Makan kemarin itu hanya sebagai ucapan terima kasih karena aku telah mengerjakan tugas kelompok kami. Itu saja, tidak lebih.”
“Aku tidak berpikiran negatif,” jawab Lisa cepat, “Coba dengarkan, selama ini Zaki hampir tidak pernah ambil alih dalam tugas kelompok. Tapi dia tidak pernah ada acara traktir menraktir seperti itu. Bisa jadi, kamu mempunyai posisi khusus di hatinya. Aku hanya menerka-nerka.”
“Sebenarnya, Zaki itu baik. Di balik sikapnya yang cuek, tersimpan hatinya yang mulia.”
“Apa kamu naksir Zaki?”
Eva terkejut dengan pertnyaan itu, “Hah? Bukannya dia sudah punya pacar? Yang sekarag sekolah di Yogya?”
“Siapa maksudmu? Febri?”
“Ya. Seperti itu yang pernah aku dengar.”
“Ah, itu sih cerita lama. Sekarang ini kan dia berpacaran sama anak kelas sebelah, Rania. Kamu tidak tah?”
“Hass! Pernah memang aku mendengar berita macam itu. Tapi aku tidak peduli siapa pacarnya siapa. Yang penting aku sekolah dengan aman dan damai. Oh, ya. Kalau kamu tahu Zaki pacaranya Rania, kenapa kamu masih sempat-sempatnya meledekku?”
“Karena kurasa kamu sagat cocok dengan Zaki.”
Eva dan Zaki lebih sering bertengkar dari pada akurnya. Aneh sekali jika tiba-tiba ada orang yang mengatakan mereka cocok menjadi pasangan. Gila.

Suatu hari, Eva, Lisa dan Adit datang ke rumah Zaki untuk mengerjakan praktik membuat tape ketan hitam yang memang hanya bisa dilaksanakan di rumah. Rumah Zaki dianggap paling strategis sebagai tempatnya.
“Wah, ada teman-temannya Zaki. Ayo masuk!” ajak Tante Marni, mama Zaki.
“Ya, Tante. Terima kasih,” jawab Adit.
“Oh, ya, Adit. Yang perempuan ini namanya siapa? Kalau ini Lisa, kan? Temannya Zaki sejak SMP? Belum pernah ke sini ya? Saya Marni, Mamanya Zaki.” Katanya sambil mengulurkan tangan tanda perkenalan dengan Eva.
“Saya Eva, Tante. Rumah saya Kali Rungkut. Dulu juga tidak satu SMP dengan Lisa dan Zaki, jadi memang belum pernah ke sini,”
“Oh, Eva. Cantik sekali. Jangan sungkan-sungkan di sini. Anggap saja rumah sendiri. Adit dan Lisa sudah sering kok main ke sini,”
“Ya, Tan.” Jawab Eva singkat.
“Tante tinggal ke dapur dulu, ya! Sebentar lagi Zaki juga datang dari warung.”
“Aduh, tidak usah repot-repot, Tante. Tadi kami sudah minum es campur di jalan,” Serobot Adit.
“Ah, kamu ini. Siapa juga yang mau membuatkanmu minum, Dit. Tante mau mencuci piring kok!” kata Tante Marni dengan senyumnya yang manis, tak kalah manis dengan senyum Zaki.

“Assalamualaikum,” suara dari depan pintu.
“Waalaikumsalam,” jawab Adit, Eva dan Lisa kompak. Dan melihat arah pintu. Ternyata Zaki.
“Kalian udah datang dari tadi? Maaf menunggu lama. Aku masih membeli ketan dan ragi.”
“Baru saja, Ki,” jawab Lisa.
“Kalau begitu ayo kita mulai. Lebih cepat lebih baik,” ajak Adit.
“Memang harusnya begitu,” sambung Eva.
“Ayo kita ke dapur. Sudah aku siapkan peralatan tempur kita. Haha!” kata Zaki penuh semangat.

“Kalau ada yang dibutuhkan, panggil saja tante. Itu cemilan dan minumnya tante letakkan di meja makan, ya,” kata Tante Mirna lembut.
“Terima kasih, Tante. Dijamin habis, deh!” kata Adit melawak.

Dua jam berlalu. Zaki, Adit, Eva dan Lisa yang sejak tadi memproses tape, masih sibuk dengan tahap akhir pembuatan tape. Tinggal dicampur ragi dan ditutup rapat. Selesai.
“Haduh, capei juga ternyata. Semoga rasanya enak,” ujar Zaki kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa kecil dekat pintu dapur.
“Pasti enak! Siapa dulu juru masaknya, Chef Eva,” kata Eva meninggikan hatinya.
“Huuuu. Apaan, Va. Chef dari langit turun ke empang?” celoteh Adit.
“Tapi dari tadi tante perhatikan Eva yang banyak bekerja di sini. Kamu sering masa, Va?” kata Tante Mirna yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
“Ya, Tan. Dia jago masak. Setidaknya lebih jago dari pada saya. Karena memang saya belum bisa memasak. Hehee,” serobot Lisa.
“Bener, Eva?” tanya Tante Mirna.
“Kalau yang Lisa tidak bisa masak itu benar. Tapi kalau saya jago masak itu salah. Mungkin Cuma biasa bantu-bantu mama di dapur kalau hari minggu. Soalnya Senin sampai Sabtu, dari pagi sampai sore sekolah. Tidak sempat bantu-bantunya. Masalah saya yang paling aktif tadi, itu karena saya sudah pernah membuat tape ketan dulu sekali,”
“Tapi kamu sering dipercaya jadi juru masak jaman SMP dulu di pramuka. Pernah menang juga, kan?” sanggah Lisa.
“Wah, hebat kamu, Va,” kata Adit kagum.
“Ah, tapi lebih sering gagalnya. Masak nasi tidak matang, goreng tahu gosong, masak sayur hambar, dan lain sebagainya,” kata Eva.
“Itu dinamika memasak, Va. Dari kesalahan itu kamu akan tahu solusi untuk memasak lebih baik lagi,” tutur Zaki.
“Tau apa, Zaki, sayang? Kamu masak air saja gosong terus. Sampai sekarang. Mama sampai heran,” kata Tante Mirna.
“Ih, Mama. Buka aib anak sendiri. Itu karea Zaki memang tidak punya passion masak, Ma. Terima saja. Tapi Zaki punya banyak kelebihan lain. Tenang, Ma,” Zaki menjelaskan dengan senyumnya yang selalu merekah.
Mereka berbincang-bincang hingga sore. Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 16.00. Dan saatnya bagi Adit, Lisa, dan Eva untuk pulang.

“Makasih, ya, kalian sudah mau datang ke sini. Kalau mau main ya silahkan sesuka hti kalian. Apa lagi Eva yang belum pernah ke sini. Sering-sering saja, biar lebih akrab dengan tante,”
“Ya, Tante. Kalau ada waktu dan temannya sama main ke sini. Tapi nanti takutnya pacarnya Zaki marah bagaimana?” kata Eva.
“Ah, khan kamu ke sini menemui tante. Bukan menemui Zaki. Kamu anaknya asik, tante suka saja,” jawab Tante Mirna terlihat gembira.
“Hehe, iya. Ya sudah, kalau begitu kita pamit, ya. Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,” jawab Tante Mirna dan Zaki kompak, dan melihat Adit dan yang lainnya pergi hingga tak terlihat lagi.
“Zaki, mama suka sekali denga Eva. Dia baik, lucu, menyenangkan, pintar masak, tidak suka aneh-aneh, benar-benar menantu idaman,” ujar Tante Mirna sambil senyum-senyum sendiri.
“Mama khan baru bertemu dia sekali. Mama belum tahu sih Eva itu seperti apa. Dia itu menyebalkan, sangat menyebalkan. Lagi pula, Zaki khan sudah punya Rania, yang lebih cantik dan lebih pintar dari Eva,”
“Kamu itu sudah dibutakan oleh Rania. Cantik dan pintar secara akademik tidak akan menjamin, Zaki,” jawabnya santai. “Hei, yang suka Eva khan mama, mama tidak memintamu untuk menyukai Eva juga dan meninggalkan Rania. Tapi ingat, kebaikan yang tulus dan yang yang hanya kepura-puraan itu terlihat,” tambahnya.
“Maksud, Mama?” Zaki heran.
“Coba perhatikan, Eva berbicara, bertingkah laku, melakukan sesuatu dengan apa adanya, kelembutannya, terlihat jelas ia melakukannya dengan tulus dan senang hati, tergambar di wajahnya bagaimana kebersihan hatinya tanpa bibirnya mengatakan. Yang dia lakukan itu tanpa maksud apapun dan benar-benar itulah dia. Tanpa ditutup-tutupi dia memang orang baik,” jelas Tante Mirna. “Sekarang, bagaimana dengan Rania? Mama sudah beberapa kali bertemu dengannya, dan yang Mama rasakan sama. Seolah apa yang dia lakukan adalah sebuah drama, dia berada dalam kehidupan yang bukan dirinya. Sikapnya yang baik dan lembut, bukanlah dari hatinya. Tapi hanya dari akalnya. Dia memang orang baik, tapi sikap yang dia tunjukkan tidaklah sebaik jati dirinya. Dapat Mama rasakan keberlebihan dari kepura-puraan itu, Ki,” tambahnya.
“Kenapa Mama bisa berkata begitu? Atas dasar apa? Kenapa Mama malah menjelek-jelekkan Rania?” tanya Zaki heran.
“Mama tidak menjelekkan Rania. Tapi ini kenyataan. Kau lupa, Mama ini suka mempelajari ilmu psikologi? Ya, biarpun hanya dari membaca buku, tapi banyak hal yang Mama tahu. Apalagi dari dirimu, anak Mama sendiri. Bahkan yang tidak kamu ketahui,”
“Maksud, Mama?”
“Sudahlah. Suatu saat kamu akan menyadarinya,” katanya lalu pergi ke kamar.

Hari silih berganti. Ujian nasional kelas XII juga telah dilaksanakan. Para siswa kelas XII diliburkan beberapa saat untuk menyegarkan pikirannya kembali sebelum mendapat tambahan materi tes masuk perguruan tinggi.
“Lis, main ke rumahnya Zaki, yuk!” ajak Eva pada Lisa.
“Mau ngapain? Cie… yang dipuji-puji sama Tante Mirna. Pengen dipuji lagi nih?”
“Bukan begitu. Dulu aku janji mau main ke sana. Ayolah, temani aku. tidak enak kalau pergi sendirian. Ya? Kamu sahabatku yang paling baik, kan?”
“Uhm, baiklah. Kapan? Jam berapa? Naik apa?”
“Minggu depan saja, deh. Info lebih lanjut menyusul. Bagaimana?”
“Uhm, baik. Aku tunggu kabar darimu,”

Siang yang cerah itu Eva menjemput Lisa di rumahnya untuk berangkat ke rumah Zaki. Setibanya di sana mereka disambut oleh Tante Mirna dan Om Zainal, papa Zaki.
“Ini loh, Pa, si Eva yang sering Mama ceritakan,”
“Wah, cantik sekali. Bahkan lebih cantik dari yang ada dalam cerita da dengan segala penjelasan Tante Mirna terlihat sesuai dengan kamu, Va,” ujar Om Zainal.
“Ah, biasa saja, Om. Memangnya Tante Mirna cerita apa?”
“Haha, rahasia. Oh, hai Lisa! Apa kabar? Makin cantik saja. Tapi juga makin item,” canda Om Zainal.
Mereka masuk ke rumah. Berbincang-bincang dan bercanda sepanjang siang. Mulai dari cerita jaman SMA dulu, kisah sehari-hari, sampai rencana Lisa dan Eva melanjutkan kuliahnya. Tapi, dari tadi tidak terlihat Zaki. Ternyata dia sedang berkunjung ke rumah saudaranya di luar kota. Setelah makan siang, Eva dan Lisa berpamitan pulang.

“Tante dan Om senang sekali kalian bisa meluangkan waktu berkunjung kemari. Setiap hari ke sini juga tidak masalah, ya, Pa?” kata Tante Mirna.
“Ya, tentu saja boleh,”
Semuanya tertawa bahagia. Eva dan Lisa pun melajukan motornya meninggalkan halaman rumah Zaki dengan senyum yang merekah.

Cerpen Karangan: Luthviyah Choirotul Muhimmah
Blog / Facebook: Luthviyah Choirotul Muhimmah

Cerpen Senyum Air Surga (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Siapa Dia?

Oleh:
Sesak nafasku sesaat melihat seseorang sedang menggenggam tangannya dengan erat, berambut ikal panjang, tinggi semampai, cara berjalannya bagaikan macan lapar saja. Hanya berdua di taman dekat rumahku, tempatku dan

Worst Class

Oleh:
Terkadang kau pasti pernah merasakan rasa banggan dan sedih secara bersamaan. Kapan? Hari itu di saat kau dinyatakan sebagai alumni, sebagai wisudawan. Sudah pasti kau bangga, siapa yang tidak

Yang Pertama & Yang Sejati

Oleh:
Semua orang pasti pernah merasakan suatu hal abstrak yang disebut cinta. Cinta membuat seseorang menjalani suatu hal yang biasa maupun tak biasa dalam kehidupannya. Aku bisa merasakannya, ya… aku

Fright Night Kemping

Oleh:
Halo kawan-kawan baruku! Nama gua Mochammad Naufal Hanif Musyaffa. Untuk nama panggilan tinggal sebut saja namaku… “Sebut saja namanya MAWAR!!!” timpal temanku iseng. “Emangnya gua korban pelecehan kayak di

Hati Untuk Menyimpan

Oleh:
Manusia terlahir mempunyai hati, namun membutuhkan pikiran untuk mengendalikannya. Manusia juga terlahir mempunyai jiwa, namun membutuhkan perasaan untuk mengendalikannya. Dan meskipun hati dan jiwa itu tidak dikendalikan, tetap saja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *