Senyum Air Surga (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 23 October 2018

Tibalah hari perpisahan kelas XII. Saat itu Eva dan ibunya bertemu dengan Tante Mirna. Mereka berbicara dengan akrab. Dan semudah itu mereka menjadi dekat. Rania yang melihat hal itu jujur saja merasa iri. Tidak pernah sekalipun Tante Mirna seakrab itu dengannya, terlebih dengan orangtua Rania.

“Ran, kenapa? Apa yang kamu lihat?” tanya Zaki yang tiba-tiba muncul di samping Rania.
“Aku melihat mamamu. Dia terlihat sangat dekat dengan Eva. Apa Eva sering ke rumahmu?”
“Pernah, bukan sering. Waktu mengerjakan tugas membuat tape. Dan sekali setelah UN kemarin mamaku menyukainya karena dia orang yang transparan, apa adanya, dan mudah menyesuaikan dengan orang di sekitarnya sekalipun baru kenal,”
“Kenapa kamu jadi memujinya?” tanya Rania sinis.
“Bukan aku yang memujinya, tapi mamaku,”
“Apa kau menyukainya?”
“Apa maksud perkataanmu? Tentu tidak. Mamaku yang menyukainya,” jawab Zaki terbata-bata.
“Tapi bukan itu yang aku rasakan. Memang mamamu menyukainya, tapi kau malah mencintainya,” tuduh Rania.
“Apa? Kenapa kamu justru menuduhku? Ragukah kamu dengan cintaku? Jika tak ada lagi kepercayaan di hatimu untukku, sia-sialah cintaku untukmu,” Zaki langsung meninggalkan gadis cantik di sampingnya tadi tanpa mempedulikannya teriakannya sama sekali dan mengajak mamanya pulang.

Sejak kejadian itu, Zaki yang terluka hatinya karena dituduh oleh Rania mulai renggang hubungannya dengan kekasihnya itu. Mereka sekarang lebih sering bertengkar, tapi akhirnyapun baikan lagi. Begitulah seterusnya. Bertengkar dan baikan.
Namun ketika di perguruan tinggi, Zaki dan Rania yang berada di kota berbeda semakin jarang sekali bertemu. Mereka hanya berkomunikasi lewat media elektronik. Itu pun kalau ada waktu dan tidak sibuk dengan tugas-tugas kuliah. Zaki mencoba untuk tetap menjaga keharmonisannya dengan Rania. Tetapi entah bagaimana, Rania tidak seperti duu lagi. Dia terlalu sibuk dan tidak memperhatikan Zaki.

Suatu malam di bawah sinar rembulan yang redup, Zaki teringat Eva. Apa kabar Eva? Sudah satu setengah bulan mereka tidak berkomunikasi. Tiba-tiba, handphone Zaki berbunyi. Ya, itu Eva. Dia menanyai kabar teman-temannya semasa SMA, termasuk Zaki. Zaki senang sekali, secara tidak sengaja bisa pas begitu. Zaki membalas pesan itu, saling bercerita tentang kuliah, suasana baru di kota yang berbeda, dan banyak hal lainnya. Mereka berduapun hanyut dalam heningnya malam itu.

Dua tahun di bangku kuliah berlalu. Suatu hari, Zaki bertengkar hebat dengan Rania. Rania yang semula sangat baik, ramah, lembut dan perhatian, lama kelamaan berubah menjadi protektif tapi acuh, suka membentak, selalu menyangkal perkataan Zaki, dan merasa paling berkuasa dalam hubungan itu.

“Kamu benar-benar keterlaluan. Masalah sepele seperti ini saja kamu perumit. Aku heran dengan dirimu. Hatimu itu keras. Tidak mau menerima perkataan orang lain dan berbuat seenakmu. Selama ini aku mencoba sabar menghadapimu, dan aku harap aku bisa memperbaiki akhlakmu. Nyatanya, hatimupun terlalu keras untuk itu,” jelas Zaki dengan nada tinggi saat liburan dia bertemu Rania.
“Apa maksud perkataanmu?”
“Ternyata benar kata mama, harusnya aku mendengarkannya,”
“Apa kata mamamu?”
“Apa yang ada dalam dirimu, kebaikanmu, kelembutanmu, itu hanya sandiwara belaka. Terbukti sekarang. Mungkin aku tidak patut mengatakan ini, tapi yang jelas, aku menyesal menjalin hubungan yang penuh dengan kepura-puraan ini,”
“Kepura-puraan?” Rania terkejut.
“Benar. Selama ini aku hanya pura-pura mencintaimu. Aku merasa kesepian, dan aku butuh cinta. Aku tahu saat itu kamu menyukaiku. Maka dari itu, aku mendekatimu. Barang kali aku bisa mencintaimu dengan kecantikan dan kebaikan yang kau tunjukkan. Hampir saja aku bisa melakukannya, tapi kau menghancurkan semua itu dengan jati dirimu. Keangkuhan hatimu dan kepura-puraan sikap manismu. Maafkan aku karena melakukan ini padamu. Tapi, sudah cukup baik kan aku sebagai pacarmu? Dan yang terpenting, maafkan aku karena tak lagi bisa menjadi pacarmu. Terima kasih atas semuanya,”
“Zaki, apa-apaan ini? Maksudmu, kita putus? Kamu tidak mencintaiku lagi? Uhm, kamu tidak pernah mencintaiku? Maafkan aku jika aku salah, tapi aku mohon jangan tinggalkan aku. aku mencintaimu, Zaki,” Rania manangis.
“Aku bukan manusia sempurna. Tempat di mana ada maaf untukmu sudah habis. Aku yakin, suatu hari nanti kau akan menemukan lelaki yang lebih kau cintai dan tentunya lebih baik dari aku. Maafkan aku, Rania. Aku sudah tidak bisa lagi,”
“Apa kau punya gadis lain? Dan semua ini hanya alasanmu?”
“Kau selalu tak percaya padaku. Itu yang paling tidak aku suka,” jawab Zaki santai. “Ini sungguhan. Sesungguhnya, aku mendekatimu karena aku gagal mendekati gadis yang aku cintai. Aku kira kamu bisa menggantikannya, ternyata tidak,” sambungnya.
“Kau kira, aku barang substitusi seperti itu?” tangisan Rania semakin menjadi.
“Aku minta maaf. Dan atas segala perbuatanmu yang telah mengecewakanku, aku telah memaafkannya. Kita putus. Dan sekarang aku harus pergi. Terima kasih, Rania sayang,” kata Zaki dan langsung pergi.
“Zaki! Zaki! Zakiiii!” teriak rania, namun tak ada tanggapan.

Beberapa hari berlalu. Sesungguhnya hati Zaki masih tidak enak dengan kejadian kemarin, memutuskan Rania. Tapi mungkin itu yang terbaik. Ia tidak bisa membohongi Rania, apa lagi perasaannya sendiri lebih lama lagi. Untuk mengurangi kerisauannya, Zaki pergi ke sebuah rumah makan dekat SMAnya yang sering ia datangi bersama teman-teman sekelasnya dulu. Dia duduk sendirian di sudut ruangan. Menunggu pesanan sambil melamun.

“Hai!” teriak seorang keras dan menepuk pundak Zaki.
“Loh, Eva. Di sini juga?” Zaki sangat terkejut.
“Ya. Ingin nostalgia jaman SMA. Haha,”
“Bagaimana kuliahmu? Semesterannya gimana? Asik?”
“Waduh, benar-benar menggila pokoknya. Tapi, syukurlah, sejauh ini baik-baik saja. Kamu sendiri?”
“Pastinya tidak jauh berbeda denganmu, Ki. Oh, ya. Tante Mirna baik?”
“Alhamdulillah, baik,
“Lalu, bagaimana dengan Rania?”
“Kita sudah putus, tiga hari yang lalu,” kata Zaki datar. Tapi mampu membuat Eva terkejut maksimal.
“Bagaimana bisa? Kalian sudah bersama sangat lama,”
“Ini pesanannya. Selamat makan,” ujar pelayan. Membuat Zaki megurungkan niatnya untuk bercerita.

“Zaki, ayo cerita! Setelah makan kamu pokoknya harus cerita,” desak Eva.
“Kamu gitu, ya? Suka maksaya tidak pernah hilang. Sudah, aku ingin menikmati makananku dan melupakan gadis cantik itu. kapan-kapan saja kalau ada waktu yang tepat, aku akan cerita,”
Eva bercerita kepada Lisa tentang pertemuannya dengan Zaki. Lisa pun juga terkejut mendengar berita itu.

“Aku sangat terkejut, Lis. Antara senang dan kaget, membuat aku bingung dan lidahku beku saat itu,”
“Tunggu, Va. Kenapa kamu senang?”
“Uhm,” Eva menghela napas panjang. “Ada hal yang aku pendam selama ini dari semua orang. Bahkan kamu, sahabat terdekatku,”
“Maksudmu?” Lisa menggerutkan dahi.
“Selama ini aku mencoba diam, memendam rasa itu dalam-dalam agar tidak muncul ke permukaan. Tapi aku kini mulai tak tahan menekannya,”
“Lama!” sela Lisa.
“Sejak kelas X, aku jatuh cinta pada Zaki,”
“Hah! Apa aku salah dengar?”
“Tidak. Aku sangat mengagumi Zaki atas segala apa yang ada padanya,”
“Lalu kenapa selama itu kamu justru seolah memusuhinya?” tanya Lisa heran.
“Itu semua karena aku tidak ingin rasaku terlalu dalam. Kau tahu prinsipku, aku tidak akan berpacaran sebelum aku yakin dialah yang akan menjadi jodohku. Tapi Zaki, dia tak mau pergi dari hatiku hingga enam tahun ini. Senyumannya yang selalu menguatkanku. Senyuman air surga itu. aku tak bisa bohong bahwa aku mencintainya,” Eva meeteskan air mata. Lisa hanya diam. “Saat itu aku tak ingin dia tahu perasannku. Dan aku pun tak menyangka, takdir benar-benar berpihak kepadaku. Semua jalan menjauhkan kita, dan dia berpacaran dengan Rania. Aku sakit sekali. Tapi aku memilih untuk tetap diam. Diam sediam-diamnya,” sambungnya.
“Astaga, Eva. Lalu apa rencanamu kedepannya? Tidakkah kau membuka hati untuk orang lain?”
“Sudah aku coba, tapi gagal. Dan aku mulai lelah. Aku hanya akan diam. Menunggu takdir apa yang akan menghampiriku.”
“Aku mohon kau tetap berusaha. Semoga kebaikan menyertaimu.”

Dua tahun setelah hari kelulusan, Lisa menikah. Di sana semua teman SMAnya berkumpul. Termasuk Eva dan Zaki, tentu saja. Belakangan ini, Zaki, Eva, dan teman-teman SMA lainnya semakin dekat kembali setelah lulus kuliah dan kembali ke kota asal. Sesungguhnya hal itu membuat hati Eva senang sekaligus menyiksanya. Ia bisa melihat lagi orang yang dia cintai, melihar senyum air surga yang menyejukkannya di tengah-tengah kebisuan dan ketidak berdayaannya.

“Eva, jangan murung begitu. Ini hari bahagiaku. Tidakkah kau bahagia?” timpal Lisa.
“Tentu aku bahagia. Sangat bahagia. Aku hanya sedang membayangkan betapa bahagianya jika aku menjadi dirimu, Lis.”
“Ya, semoga sesegera mungkin. Aku selalu mendoakanmu, sayangku Eva,”
“Hei, ini ibu-ibu ngrumpi saja?” serobot Zaki.
“Ini, ini kebiasaan. Suka ikut campur dan reseknya tidak sembuh-sembuh,” kata Eva kesal.
“Loh, yang seperti ini yang dicari banyak wanita, Va. Kamu ini bagaimana? Masa tidak tahu? Harusnya kamu bangga punya teman seperti aku,” canda Zaki. Mereka semua tertawa lepas tanpa beban.
Acara berlangsung lancar dan sukses hingga selesai.

“Eva, tunggu,” teriak Zaki mengejar Eva yang akan pulang.
“Kenapa, Ki?”
“Uhm, ini. Bagaimana kalau akhir pekan nanti kita makan di rumah makan dengan sekolah. Aku yang traktir. Bagaimana?”
“Wih, tumben. Ada apa ini? Pajak jadian sama siapa?”
“Jadian apa lagi? Seperti ABG saja. Tidak ada apa-apa. Ingin saja. Ya. Bagaimana?”
“Baik. Jam berapa?”
“Sore saja, ya. Nanti aku jemput. Dag!”
“Dag! Sampai jumpa.”

Tibalah hari di mana Eva dan Zaki janjian.
“Ki, kamu bilang dulu akan bercerita. Ayo, kapan?”
“Uhm, ini saat yang tepat. Lagi pula, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Tentang apa?”
“Dengarkan dulu ceritaku!”
Zaki menceritakan semua kejadian dalam hubungannya dengan Rania. Eva tertegun mendengarkannya.

“Jadi, kamu? Kenapa kamu lakukan itu padanya?”
“Pikiranku buntu saat itu. Gadis yang aku cintai dia sangat jauh denganku. Lagi pula, dia seolah anti dengan yang namanya pacaran. Dia benar-benar memegang erat komitmennya itu. Dia seolah terkurung, bahkan mengurung dirinya dalam sangkat dengan posisi terikat. Tidak ada kesempatan bagiku untuk mendekatinya. Sekarang aku menyesal, kenapa aku tidak menunggunya.”
“Apakah dia sudah menikah?”
“Belum. Tapi hatiku, hatiku telah terodai oleh kebohonganku pada Rania. Dan sekarang aku ingin memperjuangkan dan merebut cinta gadis itu untukku, gadis yang tak pernah lepas dari pikiranku.”
Eva hanya diam. Melihat lelaki yang dicintainya terlihat begitu mencintai gadis lain. Sorot matanya berbicara betapa dalamnya rasa cinta itu. Mungkin, senyum air surga itu suatu saat nanti akan pahit baginya. Pikir Eva.

“Kalau aku boleh tahu, siapakah gadis itu?” tanya Eva lembut tapi penuh dengan tanda tanya.
Zaki hanya diam. Memandang Eva tajam, begitu pula sebaliknya. Pandangan yang penuh dengan teka-teki. Sesuatu terasa telah menekan jantung Eva sehingga tidak bekerja dengan baik.
Tiba-tiba Zaki menarik napas panjang. Dan kemudian berkata dengan perlahan, “Gadis itu adalah, dirimu, Eva. Aku mencintaimu bahkan tidak kamu ketahui.”

Eva terkejut bukan main. Bumi seolah berhenti pada saat itu. inikah yang namanya mimpi? Eva hanya diam terkejut.
“Eva, aku sungguhan. Terserah apa, tapi yang jelas aku mencintaimu. Dari dulu, hingga detik ini dan tidak berkurang sama sekali. Justru semakin bertambah. Maukah kamu menikah denganku?”

Pertanyaan Zaki itu membuat Eva menitihkan air mata.
“Zaki, sesungguhnya aku juga mencintaimu. Asal kau tahu, aku mencintaimu sejak kita kelas X. Dan aku menjauhimu serta seolah membencimu agar aku bisa menjaga hatiku. Aku mencintaimu, sepenuh hatiku, segenap jiwaku. Dan aku sama sepertimu, mencoba melupakanmu tapi tak mampu. Karena hatiku telah memilihmu. Bagiku, kaulah lelaki terbaik bagiku, imam yang mampu membahagiakanku dunia dan akhirat. Itulah yang menjadi keyakinanku,” kata Eva dengan harunya.
Zaki tersenyum lebar, “Jadi, maukan kamu menjadi ibu dari anak-anakku? Menjadi bidadari dalam kehidupanku? Mencintai dan menemaniku hingga akhir hayatku?”
Eva menitihkan air mata. Dan menganggukkan kepalanya tanda ia menyetujui itu. Saat itu terasa angis sejuk memeluk tubuhnya. Melihat senyum bak air surga yang mengguyur hidupnya kala itu, membuatnya terbang dalam kebahagiaan.
Eva dan Zaki memutuskan untuk hidup bersama. Menjalin mahligai rumah tangga yang indah. Tiada yang menyangka ini semua terjadi. Bahkan Lisa, sahabat terdekat Eva. Tiada yang menandingi kuasa Tuhan. Menyatukan dua insan dengan jalannya yang indah. Itulah kisah Eva dan Zaki, sang pemilik semyum air surga.

Cerpen Karangan: Luthviyah Choirotul Muhimmah
Blog / Facebook: Luthviyah Choirotul Muhimmah

Cerpen Senyum Air Surga (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tinta Hitam Untuk Bunda

Oleh:
Sudah selarut ini, bunda masih saja berkutat dengan pekerjaannya. Puluhan karton snack sudah menumpuk di atas meja makan. Bunda selalu bekerja keras. Hampir tidak pernah mendengar kata keluhan dari

Me and My First Love in Cold Day

Oleh:
Hari ini aku agak tidak enak badan. Aku tetap bersekolah. Ayah dan Ibu pergi ke luar kota untuk menjalankan bisnisnya. Sesampainya di kelas aku langsung duduk di bangku yang

A Girl Like Me

Oleh:
Aku dikenal sebagai wanita yang perfeksionis. Bekerja sebagai konsultan membuatku dituntut untuk menjadi wanita yang cantik dan menarik. Bagaikan dewa Narcissus, aku selalu merasa diriku cantik dan tak jarang

Sial Membawa Untung

Oleh:
“Ok class hari ini kuliah kita cukup sampai disini dulu, jangan lupa kerjakan tugas kalian dan kumpulkan di meja saya besok jam 9 tepat, selamat siang” “Siang paak..” ucap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Senyum Air Surga (Part 2)”

  1. Dinbel says:

    Kerenssssss bangetsssssss deh, ceritanya
    Good deh untuk pengarang, di tunggu karya selanjutnya yaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *