Singkat Cerita di Lapangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 12 May 2018

Hari ini hari senin, tak seperti biasanya aku merasa semangat sekali hari ini. Aku tidak sabar untuk melaksanakan upacara hari ini. Ini aneh lagi, biasanya aku paling malas jika harus berdiri lama-lama di lapangan untuk upacara, maaf aku bukan siswi teladan memang. Oh ya, aku lupa mengenalkan namaku. Aku Nona Salsabila. Biasanya aku dipanggil Sabil oleh orang rumah. Tapi jika di sekolah aku lebih akrab di panggil Bila. Sempat mereka akan memanggilku Nona, tapi aku keberatan, seperti apa saja dipanggil seperti itu.

Sekarang aku telah berdiri tegap di lapangan bersama seluruh siswa sekolahku. Oh iya lagi, aku siswi kelas 12 IPA 3 di salah satu SMA Negeri unggulan di kotaku. Dan aku akan lulus dalam beberapa bulan kedepan. Makanya aku mencoba menikmati saat-saat upacara yang katanya bakal kurindukan saat aku telah lulus nanti.

Sengaja kualihkan pandanganku ke barisan kelas sebelahku, kelas 12 IPA 4. Kelas Fitra, cowok yang beberapa hari ini mencoba mendekatiku.
Aku masih ingat saat dia memaksa untuk meminta nomor teleponku sabtu kemarin. Kubilang minta saja pada Ben, dia punya nomorku. Tapi dia menolak dan ingin mendapatkannya langsung dariku. Jadilah aku berikan nomorku. Kami sebenarnya pernah sekelas waktu kelas 10, tapi tidak akrab karena aku juga tergolong gadis yang lumayan pemalu saat baru beradaptasi. Tapi itu dulu, sekarang coba kalian tanyakan namaku kepada siapa saja anak 12, mereka pasti kenal aku. Hahaha PD sekali aku ini, tapi memang sebagian besar mereka mengenalku. Karena aku adalah anak pramuka, anggota OSIS, team voli sekolah, dan anggota drumband. Banyak kan organisasiku, wajar sajalah mereka mengenalku.

Aku celingukan, kumiringkan kepalaku sesekali menjinjit berusaha mencari keberadaan Fitra. Ke mana cowok itu? Katanya semalam “sampai jumpa besok pagi” tapi sekarang tidak kelihatan batang hidungnya. Aku menyerah, sudah beberapa kali aku menoleh ke barisan cowok kelasnya yang cuma beberapa gelintir. Tapi nihil!
Dia tidak ada. Jika ada pasti dari tadi aku sudah melihatnya. Karena jumlah cowok di kelasnya dapat kuhitung dengan kesepuluh jari tanganku.

Aku sedang menyapu koridor depan kelas ketika Fitra menyapaku sambil tersenyum. Ah.. Betapa menawannya dia. Hidungnya mancung, bibir tipis, alis tebal yang indah mirip punyaku dan garis wajah yang jelas membuatnya tampak cool. Pantas saja Erina, kakak kelasku dulu sampai mengejar-ngejarnya. Aku tersadar dari lamunanku ketika tangannya mendarat di pucuk poniku.
“Eh.. hehe.” aku malu ketauan mengaguminya. Aku baru melihatnya setelah kemarin dia tidak masuk karena harus ke Gedung Olahraga kota untuk ikut lomba pencak silat. Dia memang seorang atlet pencak silat andalan sekolahku. Sudah banyak piala yang ia sumbangkan untuk sekolah kami.

“Rajin ya pagi-pagi nyapu. Bener-bener istri idaman.” Aku tertawa mendengar gombalannya dan dia juga ikut tertawa. Beberapa orang yang lewat menyempatkan memandang kami berdua dengan raut wajah yang sulit kuartikan. Mereka senyum-senyum, senyumnya aneh. Beberap berdehem kecil. Yah, mungkin karena tawa kami terlalu besar. Mungkin.
Percakapan kami berlangsung beberapa menit sebelum dia pamit untuk masuk ke kelasnya yang berada tepat di sebelah kiri kelasku.

Selesai menyapu, aku duduk di kursi panjang yang ada di depan kelasku menunggu teman-temanku datang. Dan benar saja, rombongan Niko sang ketua kelas datang. Mereka berbincang sesekali tertawa terpingkal-pingkal.
“Heh.. Pagi-pagi udah pada gesrek.” Kataku pada mereka saat mereka sampai di hadapanku. “Kenapa sih?.” Lanjutku.
“Yeee… Mau tau aja urusan kita.” Jawab Deni dengan wajah menyebalkan.
“Yee.. Mau tau aja urusan kita.” Aku menirukan kalimat Deni tapi dengan suara bebekku.
Mereka tertawa lagi mendengar nada bicaraku yang kusertai dengan mimik wajah kesal.

“Ehh mau ke mana?.” Aku menarik kerah baju Deni yang hendak pergi entah ke mana bersama Niko dan yang lain.
“Kepo banget sih, Bil.!” Sungutnya setelah menghadap ke arah ku.
“Lo tu belom piket. Buang sampah dulu tuh. Kena marah bu Yusi lagi baru tau.” Kataku menjelaskan.
“Ah elaah. Gue belom sarapan, Bil. Ntaran aja napa sihh.” Katanya tambah kesal tapi dengan ekspresi memelas.
“Bu ang du lu.” Aku sengaja menegaskan setiap suku katanya pertanda aku tak menerima alasan apapun. Dan Deni menyerah, ia meminta Niko dan yang lain menunggu sebentar sementara ia membuang sampah. Aku tersenyum geli. Haha..

“Eh, Bil. Dapet salam dari anak sebelah noh.” Kata Ben dengan kikikan menyebalkan disusul tawa yang lain. Aku segera tau maksud perkataan Ben. Pasti Fitra. Yah, akhir-akhir ini aku dan Fitra sering terlihat bersama dan itu menjadi bahan pembicaraan teman kelasku. Kenapa memangnya? Mungkin karena aku jomblo.

Hari rabu, seperti biasa aku akan latihan membina pramuka di sekolah. Karena memang tugas membina sudah menjadi kewajiban jika sudah menjadi kelas 12. Aku tengah asyik menggosip ketika Deni mengajakku untuk bicara.
Dia mengajakku duduk di kursi taman belakang, aku menurut saja.

“Kenapa, Den?.” Tanyaku setelah kami duduk. Bukannya langsung menjawab, Deni malah menatapku beberapa detik sebelum mengalihkan pandangannya.
Aku bingung, apa sih sebenarnya yang mau dibicarakan. Apakah penting?
“Gue…” Deni menggantungkan kalimat nya membuatku semakin bingung saja. Aku masih diam menunggu lanjutan kalimat nya.
“Gue,.. suka sama lo, Bil. Lo mau nggak jadi pacar gue.” Kata Deni cepet tanpa jeda dengan wajah gugupnya. Aku sempat melongo mencoba mencerna kalimat Deni dan sedikit terkejut saat menyadari dia baru saja menembakku.
“Eh…” Aku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tak gatal sama sekali. Sekarang aku yang gugup. Gimana jawabnya ya, Duh bingung gueee. Tanyaku dalam hati.
Kuakui, Deni tampan. Dia baik padaku, kami dulu sempat dekat sebelum aku mendengar kalau dia telah berpacaran dengan Tiana anak kelas IPA 3. Dulu juga berharap sekali bisa menjadi pacarnya. Tapi sekarang, saat aku sudah tak mengharapkan apapun darinya, malah dia bilang begitu. Kesel Den! “Kenapa baru sekarang. Bego’ Lo!.” Aku memaki Deni dalam hati. Aku rasa, sekarang perasaan itu telah redup.

“Maaf..” Kataku akhirnya. Ya, aku menolaknya. Karena ada orang lain yang berusaha menggantikan keberadaannya di hatiku. Selama ini aku terus mencoba menunggu, tapi nyatanya nihil!. Baru sekarang dia katakan itu disaat sakit hatiku karena sempat di PHPin sudah mulai hilang. ‘Lo terlambat, Den.’
Wajahnya berubah muram ketika aku selesai mengatakan maaf, tapi segera diubahnya seolah dia tak apa-apa.
“Oh, Oke. Nggak masalah, gue ngerti kok.” Deni tersenyum. Aku tau senyumnya terpaksa. Aku balas senyum juga.
“Makasih ya, kitaa.. tetap teman ‘kan?.” Kataku seraya mngacungkan jari kelingkingku padanya. Dia menyambutnya dan tersenyum lagi.
“Ya udah, Gue balik lagi ya. Lo, masih mau di sini atau..”
“Balik lah, ngapain gue galau sendiri di sini.” Katanya diiringi tawa hambar. Aku meringis mendengarnya.
“Ah Elo, jangan bikin gue merasa bersalah gini dong!!.” Aku memukul lembut bahunya. Dia terkekeh, kini lebih terasa tulus. Syukurlah.

Seperti biasa, setiap jum’at sore aku selalu datang ke sekolah untuk latihan voli. Mulai jam tiga sampai jam lima sore aku dan teamku latihan. Aku datang agak terlambat hari ini karena harus mendorong motorku yang bocor bannya. Sumpah serapah sempat terucap karenanya.

Sesampainya di lapangan voli, kulihat telah banyak yang datang. Rombongan Vanya sudah datang, kulihat juga ada Riko dan teman-temannya sudah mulai pemanasan. Tapi sepertinya ada anggota baru di team cowok. Siapa pemilik nomor punggung 11 itu? Sepertinya aku kenal potongan rambut dan postur tubuhnya. Aku mencoba memutar isi otakku sambil mendekat ke kerumunan Vanya dan yang lain. Penasaran, aku pun mendekat ke arah Riko dengan dalih menanyakan kemana Pak Zay, pelatih kami, padahal mau lihat cowok bernomor punggung 11 tadi.
Karena kebetulan cowok itu menghadap ke arah Riko sehingga ketika aku berada di belakangnya maka aku agak sulit melihat wajahnya. Belum sampai aku melihat wajahnya, aku melirik sebentar.

Tampaknya Riko melihat gelagatku yang aneh sehingga dia menyorakiku yang membuat aku urung melihat sebagian wajah cowok itu, padahal aku sepertinya tau siapa cowok itu. Parahnya sekarang semua perhatian mengarah kepadaku.
“Ciee.. ngapain dilirik-lirik. Biasanya juga tatap-tatapan.” Perkataan Ryan menghentikan otakku yang sedari tadi berputar-putar.
Langsung kutolehkan kepalaku ke cowok itu, dan benar saja. Cowok baru itu Fitra!. Aku terkekeh malu.
“Sejak kapan lo ikut voli?.” tanyaku dengan wajah heran dengan alis terangkat.
“Sejak dia pengen lebih deket sama lo, Bil.” Kata Vanya dengan suara yang cukup untuk didengar semuanya.
“Uhuk uhuk.!”
“Eaakk…”
“Aseekk. Bilaaa.”
“Cuiuit..”
Seperti itulah kira-kira suara gemuruh setelah Vanya mengatakan kalimatnya. Fitra tertawa geli, tapi aku menahan malu. Aku hanya memonyongkan bibirku ke Vanya yang tengah tertawa di sana.
“Udah. Nggak usah dimonyongin gitu.” Kata Fitra kepadaku dengan wajah menahan senyum.

Pukul 05:02 latihan selesai, rasanya belum puas aku memainkan si bundar itu, tapi hari sudah sore saja. Semuanya melakukan pendinginan dan setelah duduk istirahat di tempat yang menurut mereka nyaman begitu pun aku. Aku mendudukkan pantatku di sebuah pohon tumbang di bawah pohon yang rindang. Aku merasakan sejuknya angin sore itu. Kupejamkan mataku sejenak menikmati sore.

“Nona Salsabila.” Aku membuka mataku ketika mendengar seseotang memanggil nama lengkapku. Kulihat Fitra tengah berdiri dengan senyumnya beberapa meter di hadapanku. Aku mengerutkan dahiku menatapnya bingung.
“Kitaa.. jadian yuk!” Katanya sedikit berteriak.

Hening.

Tampaknya semua yang ada di sini berusaha memahami maksud Fitra. Dan setelah itu, suasana menjadi riuh dengan segala macam kata godaan.
Aku syok, melongo di tempat sebelum Ryan menyadarkanku.
“Si doi nungguin jawaban lo tuh. Keringetnya udan segede jagung gitu. Lo malah bengong aja, Bil.” Kalimat Ryan mengundang gelak tawa yang lain.
Aku tersadar, kemudian mengangguk pertanda ‘kami’. Ehem.. aku dan Fitra maksudnya, resmi jadian. Dan kalian bisa bayangkan sendiri apa selanjutnya yang terjadi. Sorakan tambah menggila.!

Cerpen Karangan: Cholida Nastaini
Facebook: Iin Nastaini

Cerpen Singkat Cerita di Lapangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Kepergianmu

Oleh:
Di tahun ini aku memasuki kelas 8 semester 2, namaku Rayya anita diana dipanggil Rayya, aku bersekolah di SMPN 01, kelas 8A. Aku memiliki sahabat bernama nia aurelia dipanggil

Thanks For Everything

Oleh:
Ya, seperti biasanya aku terduduk di kursiku yang terletak di pojokan paling pinggir di kelas, ditemani buku jurnal dari kulit hadiah dari ayah, sambil menatap semua keributan di dalam

Sepucuk Surat

Oleh:
Kicauan burung membangunkan ku disenin pagi ini, yaaapppss…… MONDAY bagi semua pelajar sih biasa dibilang MonsterDay . Karena aku harus bangun pagi dan menjalankan aktifitas yang luar biasa menguras

Special Day

Oleh:
Pagi yang cerah untuk hari yang istimewa. Yap! Hari ini tepat tanggal 23 Desember, Grace dan David akan merayakan hari jadinya yang ke-1 tahun 11 bulan. Grace yang notabene

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *