Sketsa Cinta (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 6 May 2017

Di kelas yang sebagian siswanya sedang sibuk dan rusuh pada jam istirahat untuk pergi ke kantin, aku melihatnya, aku melihatnya lewat di samping kelasku, dia sepertinya akan ke kantin yang ada tepat di belakang kelasku. Aku hanya memandanginya dari jauh, mengaguminya dalam diam, aku tak berani untuk mendekatinya, jangankan mendekati, hanya untuk mengucapkan ‘selamat pagi’ padanya saja aku tak berani, aku benar-benar minder.

“hanya karena dia seorang ketua osis? Ayolah ritaa jangan payah kayak begitu, katanya sekarang zamannya emansipasi, tapi kok yaaaa kayak begini…” kata sahabatku gisya yang sedang sibuk dengan tasnya entah mengambil apa. Dia mengikuti arah pandangku, dan aku baru saja menceritakan tentang cinta dalam diamku ini, ya, cinta perlu usaha untuk mendekati, dan salah satu usahaku agar dapat bertemu dengannya minimal sekali seminggu –karena tak bisa setiap hari aku dapat melihatnya meskipun kita satu sekolah – adalah aku menjadi anggota osis, dan ya dialah salah satu motivasiku untuk masuk osis di SMA NURANI BAKTI ini.
“yyeeyyy ini beda lagi urusannya. Mau ditaro dimana muka gue kalo kak doni malah nolak? Dia itu ketua osis, bisa abis gue diledekin anak-anak satu sekolahan kalo sampe tau kak doni nolak gue. Terus gue juga masih kelas 10, gimana kalo kakak kelas yang juga suka sama kak doni itu ngelabrak gue?” Aku membela diri
“ah, makan aja tuh gengsi dan ketakutan lo yang terlalu besar. Lo gak akan tau kalo lo gak pernah nyoba.” Gisya mencubit pipiku dengan gemas lalu melenggang pergi ke kantin. Aku hanya diam, gisya gak akan pernah tau rasanya menjadi aku, karena dia udah punya pacar, dan lagi gisya itu cantik, tak perlu susah untuk mendapat perhatian dari orang yang dia sukai, satu hal lagi yang aku pikirkan, aku terlalu takut resiko yang akan aku dapatkan jika aku benar benar menyatakan cinta, tapi gisya bilang aku harus mencoba, hhmm bagaimana caranya, aku perempuan, dan aku tak bisa sok sok akrab dengan kak doni, aku tak punya bahan obrolan dengannya, aahh cinta itu pelik sekali. Sambil menunggu gisya kembali dari kantin, aku menghabiskan waktu istirahat dengan menggambar wajah kak doni, hmm sampai kapan aku begini?

Kak Doni adalah the most wanted boy di sekolahku, selain pintar, dia juga ramah sekali kepada semua orang, hanya cewek bodoh yang tak suka dengan kak doni. Gisya saja yang sudah punya pacar kalau aku tanya ‘suka gak sama kak doni?’ dia menjawab ‘Cuma cewek idiot yang gak suka sama cowok yang nyaris sempurna kayak kak doni’ see? Beruntungnya siapapun cewek yang nanti menjadi pacar kak doni. Aku menyukainya sejak dia menolongku saat aku kecopetan di angkot pada awal masuk sekolah, waktu itu masih masa orientasi, aku turun dari angkot dan hendak membayar, namun saat aku cari, dompetku tidak ada! Hilang! supir angkot sudah marah-marah, tiba-tiba,
“ini bang, ongkos sama nona ini, abang harusnya jangan marah marah, nona ini baru kecopetan, ambil aja kembaliannya,” anak laki laki ini masih membelakangiku, abang angkot masih mengomel saat menerima uang dari lelaki itu lalu kemudian melaju kencang, aku yang masih shock karena dompet hilang ditambah terpesona dengan sikap penolongku, aku terdiam di tempat aku turun tadi, belum bergeser sedikitpun, aku bahkan belum mengucapkan terimakasih. Lelaki itu berbalik, aku tak tahu bagaimana rupa dewa dewa yunani jaman dahulu, namun jika di jaman ini masih ada dewa, aku yakin lelaki di hadapannku ini adalah salah satu dari dewa dewa yunani yang bertugas di indonesia, tampan sekali, tunggu, aku sudah berkedip belum ya?

“dompet kamu hilang?” tanyanya, matanya menatapku, aku mengangguk dan tak melepaskan pandangannku darinya sedetik pun, “nanti lagi, pegang tasnya hati hati, ini, buat ongkos kamu pulang,” dia menyodorkan uang lima puluh ribu,
“gak usah kak, nanti saya telpon orang rumah untuk menjemput saya ke sini,” tolakku halus, aku tak mau merepotkannya dengan menerima uang itu. Dia sudah membayar ongkos angkotku saja itu sudah lebih dari cukup.
“tapi kamu nanti gak ada uang buat istirahat,” dia tetap memaksa, aduuh memalukan sekali pertemuan ini,
“aku bawa bekal,” aku berbohong, cukup rita, cukup, kamu jangan merepotkan dewa penolong ini lebih jauh lagi.
“coba mana?” dia melirik tasku, dan menunggu aku membuka untuk menunjukan kotak bekal. Aku tertawa canggung dan membuka tasku yang tentu saja tidak ada kotak bekal di dalamnya, “mana kotak bekalnya?” tanyanya lagi, aku tertawa lirih,
“saya lupa bawa kayaknya, tapi tadi perasaan udah saya masukan ke dalam tas kok,” aku membela diri, menutupi kebenaran bahwa memang aku tak pernah bawa bekal ke sekolah, berat!
“makanya ini ambil aja, saya gak mau ada peserta MOS yang pingsan karena gak makan siang dan merepotkan panitia MOS. Kegiatan kali ini lumayan berat dan harus punya tenaga ekstra, kalau kamu mau berterimakasih, ambil uang ini dan usahakan tidak pingsan agar tidak merepotkan panitia ya,” jelasnya, oooh begitu, jadi karena dia gak mau aku pingsan dan merepotkan panitia lainnya, ookee! Dia meraih tanganku dan menyimpan uang lima puluh ribuan itu di telapak tanganku lalu mengepalkannya, “jangan dibuang, itu uang bukan tissue,” dia tertawa, lalu berbalik dan berlajan menuju gerbang sekolah yang tak jauh dari tempat kami turun angkot tadi, ah aku lupa tanya siapa namanya, efek terlalu shock dengan kejadian malang dan beruntung yang datang bersamaan.
Aku berlari mengejarnya, menepuk lenganya, dia berbalik dan melihatku ngos ngosan,
“kenapa,” wajahnya heran melihatku merunduk sambil heboh mengambil napas, “uangnya kurang?” tanyanya lagi, apa?! Ada apa dengan pemikiran dewa ini?!
“enggak, hhh, ini lebih dari cukup, hhh, Cuma mau tanya, kakak salah satu panitia masa orientasi ini?” lalaki itu mengangguk, “nama kakak siapa, besok kalau kita ketemu saya ganti uangnya, hhh,” jelasku dengan nafas tersengal,
“Doni, Doni Ardiansyah, jangan terlalu di pikirkan, santai aja, saya gak berharap kamu ganti kok,” kak doni tersenyum dan berjalanan menuju gerbang, dia menyapa satpam yang sedang berdiri mengawasi murid murid yang datang pagi ini.

Aku tak pernah berkesempatan untuk menyapanya ataupun mengobrol dengannya selama masa orientasi berlangsung sampai sekarang, hanya saja uang lima puluh ribu yang dia pinjamkan dulu sudah aku kembalikan lewat surat, para peserta orientasi wajib menuliskan surat cinta untuk panitia, dan itu kesempatan yang aku ambil untuk mengembalikan uang dan mengucapkan terimakasih, dan mungkin kak doni tak akan ingat gadis yang pernah ditolongnya dulu, tapi aku akan selalu ingat, dan saking selalu ingatnya itu membuatku menyukainya.

Aku melihat sketsa wajah kak doni ke 102, aku tak mempunyai keberanian untuk bilang cinta, aku harus puas dengan sketsa-sketsa wajah kak doni yang telah aku gambar untuk menunjukan apa yang kurasa padanya.

“fotoin sya!!! Fotoin!!!” aku menarik-narik seragam gisya sambil berbisik. Kak doni ada di dekatku, dia juga sedang makan di kantin sekolah. Tuhaaaaan betapa indahnya hari ini, ini pertama kalinya aku bisa dekat kurang dari satu meter dengannya, menyenangkan sekali bisa melihatnya dari dekat meskipun mataku pegal karena harus lirik-lirik ke samping terus, satu jam lagi aku pastikan mataku ini pasti jereng, tapi sayangnya, gisya yang lebih dekat dengan kak doni dari pada aku, dengan bantuan kamera samping di handphone milik gisya aku pasti bisa mendapatkan foto kak doni. Meski muka gisya agak cemberut, tapi dia menuruti apa yang aku pinta.

“yang suka siapaa… yang jadi ribed siapa.” Omel gisya di perjalanan menuju kelas. Aku menghiraukan omelannya, bisa panjang kalau aku menjawab. Aku sedang asik melihat wajah kak doni dari sisi samping, tampan sekali… besok foto ini sudah ada di dompet dan buku harianku.
“nanti gue cetak fotonya.” Kataku setelah selesai membluetooth semua foto kak doni. Gisya semakin cemberut karena aku mengabaikannya.
“lo suka kak doni karena dia ganteng ya?” tanyanya, sambil melihat melihat foto kak doni di handphonenya,
“kan gue udah pernah ceritain kenapa gue suka sama dia,” aku lelah menjelaskan pada gisya alasanku menyukai kak doni, mungkin ini sudah pertanyaannya yang ke tiga puluh empat, gisya tak akan percaya dan dia akan bilang,
“tapi masa karena Cuma dia pernah nolong lo dan minjemin lo duit doang?” itu pertanyaan yang sama ke tiga puluh empat kalinya juga, bagaimana caranya agar dia mengerti. Aku menariknya duduk di bangku pinggir taman, dan untuk kesekian kalinya menjelaskan.
“gue suka karena sikapnya, dia mau membantu siapa aja bahkan yang gak dia kenal sekalipun, telepas dari dia ganteng apa enggak. Dia ganteng karena Tuhan udah menciptakan dia seperti itu, kalo dia wajahnya biasa biasa aja gue tetep suka, karena gue suka dia dari pribadinya, bukan dari wajahnya, mengerti?” ini jawaban ke tiga puluh empat kalinya juga.
“klise! Bilang aja karena dia ganteng,” gadis cantik berkucir kuda ini masih tetep ngotot, susah banget sih bikin dia ngerti. Ilham emang luar biasa bisa menaklukan gadis ngototan kayak gisya.
“terserah lo ah.” Pasrah saja, aku meninggalkannya yang masih terkesima melihat foto foto kak doni di handphonenya.

“eh! Lo suka sama doni gak??” tanya kak arum tiba-tiba saat aku sedang piket di ruang osis, aku kaget bukan main, kak arum langsung tersenyum, sepertinya dia sudah tau jawabannya dari ekspresiku. “wow, banyak juga ya yang suka, luna punya banyak banget saingan nih.” Katanya lagi, kak arum dan kak nita cekikikan menggoda kak luna yang sedang mengetik di komputer, kak luna mendelik ke arahku dan melirik tajam pada sahabatnya –arum dan nita- yang masih cekikikan geli mengingat banyaknya orang yang menyukai kak doni. “berat hidup ini ya Na,” goda kak arum, kak luna masih –pura pura- sibuk dengan komputernya dan sesekali melirikku. itu cukup membuatku down, banyak orang juga yang suka? Belum lagi kak luna? Sekretaris osis yang cantik itu. Aku sebaiknya mengalah.

“kenapa sih lu?” gisya memegang keningku, mungkin dia heran melihatku diam saja setelah piket di ruang osis. “kesambet?” tebaknya asal, aku menggeleng lemah, tapi seperti biasa dia tak akan percaya begitu saja, “kan gue bilang jangan kelamaan diem di ruang osis, banyak yang nungguin tau, lo gak denger cerita si anto dulu, yang waktu dia lagi nginep di sekolah terus dia liat komputer di ruang osis nyala sendiri padahal lagi mati lampu?! hiiiyyy?! sereemm tauuu!” dia bergidik ketakutan sendiri, aku melihatnya lelah, kalau untuk urusan hantu, dia tak akan berani bertanya lagi, dia akan selalu percaya tanpa menyelidiki kebenarannya. Gadis cantik yang aneh, dari pada imajinasi gisya ngelantur ke masalah hantu hantu yang ada di sekolah lainnya, aku lebih baik menceritakan apa yang kak arum bilang.
“ya udah, kalo lo mau nyerah, nyerah aja deh, lagian kayaknya kak doni juga lagi suka sama seseorang tapi dia gak berani bilang.” Kata-kata gisya menambah sakit pada hatiku.
“tau darimana lo?” aku tak bisa menerima.
“twitternya,” jawabnya enteng. Aku menunduk, aku memang jarang melihat twitternya kak doni. “niat gak sih lo suka sama kak doni? Kenapa gue yang lebih apal dari pada elo?” gisya ngomel lagi.
“gak punya pulsa,” jawabku singkat. Gisya mencubit pipiku gemas.
Kak doni lagi punya seseorang yang dia suka? Siapa??

“hai, cepet banget datang buat rapat,” suara kak doni mengagetkanku saat aku sedang menunggu untuk rapat mingguan di ruang osis, aku betah diam di ruang osis, ruangannya nyaman dan ber-ac, juga dilengkapi dengan komputer plus internetnya yang cepat, karpet yang empuk, serta bantal-bantal untuk tidur, kalau benar apa kata anto ada penungu di sini, aku tak akan heran, tampat nyaman kayak begini bikin siapapun betah. Aku menoleh sambil cepat menyembunyikan sketsa wajah kak doni yang sedang aku gambar tadi.
“i..iya kak,” jawabku gugup, ini baru pertama kalinya aku bicara dengan kak doni setelah kejadian waktu dulu.
“kamu suka gambar?” tanyanya lagi, aku hanya mengangguk. Salah satu sifat yang aku suka dari kak doni adalah dia tak pernah bilang ‘gue-lo’ ke semua orang. Tapi itu berbahaya juga karena bisa membuat banyak orang GR atau salah paham. “berarti bisa dong buat poster untuk kegiatan minggu depan?” tanya kak doni, lagi-lagi aku hanya mengangguk.

Cerpen Karangan: Lucky Panji Tresna Putri
Facebook: Tresna Putri
penggemar segala jenis novel, hobby travelling, nonton film , makan dan dengerin musik,
bekerja di perusahaan swasta jakarta dan sedang gencar berdoa agar dapat merilis novel . aamiin 🙂

Cerpen Sketsa Cinta (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sentuhanmu

Oleh:
Bau semerbak dari parfumnya yang sangat kusukai dulu sekarang tak ada lagi. Ia sudah berubah. Bukan hanya sikap dan penampilannya, merk parfumnya pun sudah berubah. Entah apa dan siapa

06.25 AM Ali

Oleh:
Gadis itu memelukku sangat erat, seakan takut aku pergi. Sebagai balasannya aku kembali memeluknya, membelai helai rambutnya yang terasa lemnbut. Mungkin aku memang membutuhkan saat seperti ini, aku harap

Dunia Lamaku

Oleh:
Langit yang berawan melindungi kami dari terik matahari saat upacara bendera dilaksanakan. Seluruh peserta upacara menatap lurus sambil memberi hormat kepada sang merah putih. Aku bersiap untuk menyanyi. Perlahan

Jodoh Pasti Bertemu (Part 1)

Oleh:
Nama gue Reysa Amira Putri Sucipto tapi gue lebih suka dipanggil Caca. Gue adalah anak keturunan Menado, Jawa, dan Jerman. Gue anak kelas 3 SMA seharusnya gue kelas 2

3 Kopi

Oleh:
Awalnya aku salah seorang pecinta jus, iya… jus apokad dengan banyak susu kental cokelat. Gak tahu itu pagi, siang, atau malam, atau bahkan tengah malam, gak lihat itu cuaca

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *