Sore Itu di Sekolah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Penyesalan, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 30 November 2016

Sekolah sudah sepi sejak sejam yang lalu. Tidak seharusnya kami masih di sini, berdiri saling berhadap-hadapan di tengah lapangan basket yang sedikit becek karena hujan tadi pagi. Tirta seperti sengaja mengerjaiku tadi saat pulang sekolah, menyuruh sahabat-sahabatku mengunci pintu kelas sehingga aku tidak bisa ke luar, tidak bisa lari dan menghindar dari dirinya lagi.

Saat keadaan sudah mulai sepi, ia datang membukakan pintu dan menarikku ke sini. Aku sudah mencoba melarikan diri beberapa kali, namun cengkramannya pada pergelangan tanganku begitu kuat. Aku masih tidak mengerti apa yang diinginkan Tirta dariku. Aku kira perkataanku sore itu sudah jelas. Aku tidak ingin menjadi perusak hubungan orang. Aku tidak ingin menyakiti perasaan perempuan lain. Tidak peduli sekuat apapun perasaanku pada Tirta. Jika ia juga menyimpan perasaan padaku, seharusnya ia lebih jantan. Lelaki sejati tidak mencari perempuan lain terlebih dahulu, baru mengakhiri hubungannya. Namun sebaliknya. Aku hanya terlalu berharap Tirta menjadi sosok yang persis seperti aku bayangkan. Kenyataannya, ia memilih bertahan dengan perempuan itu, menawarkan posisi kedua untukku di dalam hatinya.

“Kenapa harus pake acara tarik-tarik gini sih?” aku berdesis kesal. Aku tatap tajam matanya yang gelap itu.
“Kalau nggak begini, aku nggak akan pernah bisa bicara sama kamu.” Tirta masih enggan melepaskan tanganku. Mungkin ia takut aku akan kabur lagi.
“Kamu mau bicara apa?”
“Bicara tentang kita.”
“Nggak ada apa-apa tentang kita yang perlu dibicarain.”
“Ada.”
“Apa?” Aku mulai emosi. Langit hampir gelap dan aku takut hujan akan turun lagi.
“Aku mau kamu jadi pacar aku,” katanya tegas. Aku menggeleng keras dan berusaha menarik tanganku dari genggamannya.
“Menurut aku semuanya udah jelas sore itu.”
“Sama sekali belum. Tolong dengerin aku dulu, Tisha.” Aku berhasil menarik tanganku dan segera berbalik, siap untuk lari.
“Tunggu!” Tirta memelukku dari belakang. Tangannya mengepung badanku dan kepalanya menyandar pada bahuku. “Aku mohon, dengar dulu,” bisiknya tepat di telingaku, seketika membuatku merinding.
“Apa?”
“Aku cinta kamu, Tisha. Sangat.”
“Tirta…”
“Aku sama dia udah berakhir,” katanya lagi. Aku memejamkan mata, menikmati angin sepoi yang menerbangkan rambutku. Ada sedikit perasaan lega saat mendengar Tirta mengatakannya.
“Orang-orang akan ngecap aku sebagai perempuan perebut pacar orang,” ujarku lirih.
“Apa kamu perempuan seperti itu?” tanyanya. Aku menggeleng pelan. “Kalau begitu jangan dengarkan mereka. Yang penting, aku dan sahabat-sahabat kamu tau kalau itu nggak benar. Karena kami yang kenal kamu seperti apa.” Aku mengangguk dan Tirta memutar tubuhku menghadap padanya.
“Kapan kalian putus?” tanyaku.
“Sore itu, setelah kita bicara.” Tangan Tirta mengelus wajahku lembut, aku tidak tahan untuk tidak tersenyum. “Aku memilih kamu, Tisha. Cuma kamu.” Kemudian bibir kami bertemu dan hujan turun menyertai kebahagiaan kami sore itu.

Ternyata Tirta melebihi harapanku. Sudah 6 bulan kami bersama dan aku merasa sangat bahagia. Seolah hidupku yang dulu hanyalah kanvas putih bersih, kini telah diisi lukisan indah berwarna-warni dan Tirta lah yang melukisnya.
“Pulang sekolah ini kita ke mana?” Tirta sedang berada di kelasku, makan bekal siang bersama.
“Aku nggak bisa. Hari ini kita libur dulu, ya? Besok kalau kamu mau makan es krim di taman, atau pergi makan bakso aku anterin.”
“Kenapa?”
“Kami ada tugas kelompok. Anak-anak pada mau main ke rumah.” Tirta mengambil botol minumanku kemudian membuka tutupnya dan menyodorkannya padaku.
“Makasih,” ujarku dengan senyum manis. “Kamu nggak minum?” Tirta seringkali lupa membawa air minum.
“Kamu dulu, nanti kalau ada sisanya baru aku minum.”
“Ini, minum aja.” Belum sempat aku menyeruput, aku arahkan botol itu padanya. Tirta menggeleng.
“Aku punya cara minum lebih seru,” katanya sambil menaikkan kedua alis dan menatapku nakal.
“Tirta! Kita di sekolah!” desisku salah tingkah.
Oh kami pernah melakukannya saat kami piknik ke taman bulan lalu. Seperti biasa, Tirta lupa membawa air minum. Aku menawarkan minumku dan dia bersikeras agar aku meminumnya terlebih dahulu.
“Jangan ditelan,” teriaknya membuatku kaget saat itu. Air itu justru muncrat keluar dan kami tertawa bersama. “minum lagi,” pintanya. Aku patuh saja. “tahan, jangan ditelan.” Kemudian Tirta mendekat ke arahku, menempelkan bibirnya di bibirku dan menyedot air yang ada di mulutku.
Tentu saja aksinya itu tidak berjalan sempurna karena lebih banyak air yang tumpah ke bajuku daripada tertelan olehnya. “kamu jorok,” aku menolak bahunya dengan wajah merona merah. Untung saja tempat kami waktu itu sangat tertutup.
“Kamu mau coba?” godanya padaku, kemudian ia meneguk air dari botol. Aku menggeleng sambil terkekeh. Tirta justru menarik tanganku hingga kepalaku membentur dagunya.
“Oke… oke…” Aku mencobanya dan berjalan lebih mulus dibandingkan dengan usaha Tirta sebelumnya. Tapi Tirta tidak segera melepas bibirku. Kami menyaksikan senja bersama waktu itu. Sungguh kenangan yang tidak akan pernah aku lupakan.

“Kamu pulang bareng Tirta?” Liana menemaniku di depan kelas yang mulai sunyi.
“Nggak tau. Dia ditelepon nggak nyambung.” Aku melirik jam tanganku sekali lagi. “Kamu duluan aja Lian. Kalau Tirta nggak datang juga nanti aku coba ke kelas dia.”
Aku memutuskan untuk melihat Tirta di kelasnya yang ada di lantai tiga, satu lantai di atas kelasku. Kelas Tirta sudah kosong. Tidak biasanya Tirta pulang duluan tanpa memberitahuku.

“Tisha!” Fajar, sahabat Tirta berlari ke arahku dari ruang OSIS.
“Tirta mana?”
“Tadi dia buru-buru pulang. Aku disuruh kasih tau kamu. Sori telat.” Aku mengangguk dan turun ke kelasku untuk mengambil tas.
“Tisha, bisa bantuin aku kerjain tugas kimia nggak?” Jihan ternyata masih ada di kelas, sedang fokus dengan tugas kimia yang baru saja diberikan guru kami tadi pagi.
“Boleh.”

Kami berkutat dengan tugas kimia selama beberapa jam. Tidak terasa hari sudah hampir pukul 4 sore.
“Makasih ya Tisha.” Aku mengangguk dan tersenyum. Tugaskupun juga selesai karena membantu Jihan.
Jihan turun duluan karena orangtuanya sudah menunggu di depan gerbang. Aku membawa cukup banyak buku karena ada banyak tugas yang masih harus diselesaikan. Perlahan aku turun dari tangga dan mendengar langkah terburu-buru di depanku.

“Dia di mana?”
“Lapangan basket, seperti biasa.”
“Thanks.” Itu suara Tirta dan Fajar.

Aku menghentikan langkahku, menunggu hingga mereka menjauh sehingga tidak menyadari kehadiranku. Bukannya tadi Fajar sendiri yang mengatakan kalau Tirta sudah pulang?
Aku tahu tidak seharusnya aku melakukan ini. Tapi demi mengobati rasa penasaranku, aku berjalan pelan ke arah lapangan basket yang ada di belakang sekolah. Sepertinya Tirta berjalan ke arah sana. Dan benar aku melihat Tirta. Dia berdiri di sana, di tengah lapangan basket, saling berhadapan dengan seorang perempuan. Aku mengenal perempuan itu. Dia Friska, adik kelas kami.

“Friska, dengar kakak dulu.” Tirta menggenggam tangan gadis itu. Aku berjalan semakin dekat agar bisa mendengar apa yang terjadi dengan lebih jelas. Aku bersembunyi di balik pohon kayu putih yang tepat berada di belakang ring.
“Friska udah sms kakak alasannya kenapa. Apa kurang jelas?” Nada gadis itu seperti merajuk dan aku muak mendengarnya.
“Kakak mau kamu jadi pacar kakak!” tegas Tirta, setegas saat dia mengatakannya padaku sore itu. Aku nyaris teriak kalau saja aku tidak segera menutup mulutku dengan tanganku sendiri.
“Tapi Kakak itu pacarnya Kak Tisha. Aku nggak mau dianggap sebagai perebut pacar orang.”
“Kakak akan putusin kak Tisha.” Kakiku sudah tidak sanggup lagi berdiri.
“Kapan?” suara Friska terdengar menantang.
“Sore ini juga.”
“Janji?”
“Janji.” Entah kenapa aku masih sanggup melihat ke arah mereka. Melihat Tirta menarik Friska dalam dekapannya dan mengecup puncak kepala gadis itu. “Kakak pilih kamu, cuma kamu.” Pandanganku sudah kabur karena air yang mengenag di pelupuknya.

Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku saksikan. Sesakit inikah apa yang dirasakan mantan pacar Tirta dulu, saat aku merebut pacarnya? Aku akui, aku sudah merebut pacar orang lain karena saat ini rasanya seperti perempuan itu merebut Tirta dariku. Aku mendapatkan balasan yang setimpal. Mungkin saat Tirta menyatakan cinta padaku sore itu, hubungan dia dengan pacarnya sedang baik-baik saja, seperti kami saat ini. Dan tanpa sebab yang jelas, Tirta mengakhiri hubungannya dengan perempuan itu dan aku justru merasa lega.

Sore itu, di sekolah, aku memulai hubunganku dengan Tirta. Sore ini, di sekolah, aku melihat Tirta baru saja mengakhirinya. Kalau saja sore itu aku benar-benar memikirkan perasaan perempuan lain, mungkin aku tidak akan merasakan hal ini. Kalau saja sore itu aku berpikir jika Tirta rela meninggalkan pacarnya demi aku, kenapa dia juga tidak rela meninggalkan aku demi perempuan lain?
Aku menyesali kejadian sore itu sama besarnya dengan kejadian sore ini.

The END.

12 Agustus 2016

Cerpen Karangan: Dhea CLP

Cerpen Sore Itu di Sekolah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Maaf Untuk Rafaeyza (Part 3)

Oleh:
Sejak saat itu kebersamaan mereka semakin erat, lambat laun Rafa mulai menemukan semangatnya lagi. Mereka berjuang bersama, tertawa bersama, tak peduli selelah apa pun, mereka selalu berusaha bersama. Itulah

Ikhlas

Oleh:
“Dito, sekarang kamu kemas barang-barangmu ya! Jangan sampai larut malam, karena besok pagi kita sudah harus pindah rumah.” Himbauan Papa kepada Dito. “Hmmmm yaudah deh pa.” saut Dito sambil

Hujan Kemarin

Oleh:
Matahari bersinar malu-malu di balik awan kelabu. Aku hanya bisa menarik napas panjang melihat matahari yang tak sepenuhnya akan bersinar terang hari ini. Dengan langkah gontai aku menuju kamar

Mahkota Daun Teh

Oleh:
Aku berdiri di atas sebuah batu tua di tengah derasnya air terjun. Kurentangkan kedua tanganku, perlahan mataku pun kupejamkan. Saat ini aku hanya merasakan kedamaian hidup yang membuatku tak

Aku dan Dia (Part 1)

Oleh:
Rasanya masih terasa hangat sapaan-sapaan manis dari bibirmu kemarin, rayuan yang mampu membuat diri ini meleleh seketika saat kau bilang “i love u” untuk pertama kalinya padaku. Disaat itu,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *