Stupid Girl

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 29 May 2014

Hera menaiki tangga sekolah dan berjalan menuju ruang perpustakaaan sambil membawa tumpukan beberapa buku. Kemarin ia mendapatkan nilai rendah saat ujian Matematika di sekolahnya dan itu harus membuatnya melakukan remedial minggu depan. Dan mana mungkin ia bisa memperbaikinya dalam waktu 1 minggu ditambah dia benar-benar tidak mengerti pelajaran itu.

Setiba di dalam, Hera langsung bergegas mencari buku yang bisa membantunya memperbaiki nilai. Jika nilainya tidak mengalami kenaikan sama sekali atau bahkan jika turun, itu akan mempengaruhi kehidupannya ke depan. Dan tentu saja dia tidak mau sampai hal itu terjadi.

Hera langsung duduk begitu ia menemukan buku yang ia rasa bisa membantunya. Lalu, ia mulai membuka lembar per lembar kertas. Ia melongo begitu melihat angka-angka yang sama sekali tidak ia pahami.
Hera menghela nafas dengan keras dan semua orang di dalam perpustakaan ini melihat ke arahnya dan memandangnya dengan aneh. Hera menundukkan kepalanya meminta maaf, lalu mereka kembali memfokuskan pada buku
mereka masing-masing.

Hera menarik nafas lega dan kembali melihat buku di depannya. Bagaimana ini ia sama sekali tidak mengerti? Hera melihat ke sekeliling dan melihat seorang lelaki yang baru saja masuk dan berjalan menuju rak buku bacaan. Dengan satu sentakan Hera berdiri dan berjalan menhampiri lelaki itu.

“Hey,” Sapanya sedikit berbisik.

Lelaki itu menoleh ke arahnya dan melihatnya dengan tatapan dingin lalu, kembali mencari buku yang ada di dalam rak. Mengabaikannya.

Hera mengerutkan bibirnya, merasa kesal dengan sikap lelaki itu yang selalu dingin kepadanya. Tapi bukan itu masalahnya, masalahnya saat ini adalah bagaimana cara membuat nilainya naik dan ia lulus ujian remedial. Itu masalahnya.

“Kau sedang sibuk ya?” tanya Hera lagi. Tapi, lelaki itu malah pergi meninggalkannya. Sayangnya, tidak semudah itu menghindarinya. Hera mengikuti lelaki itu yang sedang mencari tempat duduk dan ikut duduk di sebelahnya.

“Mau membantuku?” Tanya Hera tidak peduli dengan sikap dinginnya.

Tidak ada jawaban.

“Aku mohon, sekali saja.” Katanya memohon dan melanjutkan, “Bantu aku memperbaiki nilai Matematika ku ya. Aku tahu kau sangat pintar jadi aku mohon bantu aku, ya, ya.”

Diam.

Hera mendecakkan lidah. “Kau benar-benar jahat. Mana bisa kau biarkan temanmu ini tidak lulus. Aku mohon.”

Lelaki itu menoleh ke arahnya dan menatapnya, “Kau bilang apa? Teman?” tanyanya dingin.

Hera sedikit kebingungan akan menjawab apa, “Eh… kalau begitu terserah kau mau menganggapku apa. Tapi, bukankah kita sudah saling kenal? Maksudku kita sekelas, bukan? Jadi, aku mohon bantu aku, ya?”

Lelaki itu menyimpan bukunya dan menoleh dengan kesal sambil menatapnya tajam. Hera terdiam lalu, menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal dan melihat ke arah lelaki itu lagi.

“Gara-gara kau, aku tidak bisa membaca dengan tenang.” Ucap lelaki itu geram. Lalu, terdiam sambil menatapnya.

Dengan perasaan gelisah Hera tersenyum tanpa salah. Dalam hatinya ia berharap Kevin mau membantu memperbaiki nilainya. Karena ini menyangkut hidup dan matinya.

“Baiklah, aku akan membantumu.” Ucap lelaki itu akhirnya.

Hera melebarkan matanya senang. Ia menatap Kevin dengan perasaan bahagia. “Benarkah? Kau mau membantuku?” Hera menjerit senang dan menggoyang-goyangkan tubuh Kevin saking senangnya. Dan baru disadarinya, orang-orang di dalam perpustakaan ini memperhatikannya lagi dengan tatapan tajam. Hera menunduk malu dan menggumamkan permintaan maaf, lalu ia kembali melihat Kevin dan tersenyum. “Terima kasih.”

Hera memperhatikan Kevin yang menjelaskan dengan detail cara-cara memasukkan rumus. Hera tersenyum, sebenarnya ia tahu Kevin orang yang baik dan sensitif. Kevin tidak akan tega melihat orang di sekitarnya mengalami kesulitan, tapi dia selalu berpura-pura dengan sikapnya yang dingin. Sangat munafik bukan? Ya, dia juga berfikiran seperti itu.

Ia memang sudah lama mengenal Kevin. Sejak 3 tahun yang lalu, saat mereka menginjakkan kaki pertama kali pada bangku SMA dan sejak saat itu juga ia menyukai lelaki itu. Kevin yang pertama kali sejak mereka bertemu tidak berbeda jauh dengan Kevin yang sekarang. Dingin, tampan, pintar dan menyebalkan. Dia lahir di Bandung dan tinggal di Jakarta.
Sebenarnya, tidak banyak yang ia ketahui tentang lelaki ini. Tapi, dia cukup terkenal di kalangan gadis di sekolah ini. Bahkan tidak jarang ada gadis yang bersikap konyol di hadapannya. Ia selalu ingin tertawa sekeras-kerasnya jika melihat ekspresi gadis yang baru saja ditolak oleh Kevin, itu sangat lucu sekali. Termasuk dirinya.

Lamunannya buyar ketika ia tidak mendengar suara lelaki itu lagi. Ia mendongak untuk melihat lelaki itu dan bertanya, “Kenapa?”

“Apa kau memikirkan hal yang lain?” tanya lelaki itu balik.

“Apa?” tanya Hera sedikit terkejut dan menjawab dengan gugup. “Tidak,
aku sedang memperhatikanmu. Ayo lanjutkan.”

Untuk yang sekian kalinya Kevin menghela nafas menghadapi gadis aneh ini, lalu ia kembali menjelaskan.

Hera mengisi soal-soal yang ada pada buku pelajarannya dengan serius. Besok adalah kesempatan terakhirnya. Ia tidak akan mengecewakan semua orang, teman-temannya termasuk Kevin. Lelaki itu sudah banyak membantunya belajar. Bahkan setiap istirahat dan pulang sekolah, dia selalu menyempatkan waktunya untuk mengajarinya. Dan ia akan membuktikan kepada semua orang di sekolahnya yang menganggapnya bodoh. Ia akan membuktikan bahwa Hera Noviaty tidak sebodoh yang orang-orang pikirkan. Orang-orang itu harus membalas ucapannya sendiri. Lihat saja besok!

Tiba-tiba saja, ia merasa tenggorokannya kering. Hera melihat ke arah jam dinding kamarnya. Sudah jam 10 malam. Tidak ada waktu lagi untuk minum. Ayo lanjutkan! Dengan tekadnya, ia mengabaikan rasa hausnya dan meneruskan belajarnya.

Kevin duduk di ruang musik dengan gelisah. Sudah 2 jam lebih kelas remedial dimulai. Apakah Hera bisa mengerjakan soal-soal itu? Ia ragu
Hera bisa mengerjakannya karena ia dengar dari guru-guru, soal-soalnya lebih sulit dari sebelumnya. Tapi, bagaimanapun juga, ia yakin Hera akan lulus ujian remedial kali ini.

Ya, Kevin tahu Hera sangat bodoh. Bahkan lebih bodoh dari kambing. Tapi ia juga tahu, Hera adalah tipe wanita pekerja keras untuk meraih apa yang dia mau. Bisa dibilang dia keras kepala. Ia tahu Hera sangat bersungguh-sungguh belajar untuk lulus ujian remedial kali ini. Dan ia yakin, gadis itu bisa melakukannya.

Terkadang ia aneh dengan sikap Hera yang aneh. Bahkan ia sempat berfikir jika gadis itu tidak normal. 3 tahun mengejarnya, mengikutinya, dan selama itu juga sikapnya selalu tidak ramah pada gadis itu. Tapi, apa hasilnya? Dia malah lebih sering mengikutinya.
Saat itu ia benar-benar berfikir jika Hera sama sekali tidak memiliki perasaan.

Ia tahu, sikapnya pada Hera semakin hari semakin tidak baik. Kenapa ia melakukannya? Karena ia tidak ingin jatuh cinta. Setidaknya untuk saat ini. Ia tidak ingin menyukai seseorang. Maka dari itu, sikapnya selalu dingin pada Hera karena ia tidak ingin jatuh cinta lebih dalam pada gadis itu. Bahkan tidak jarang ia membuat hati gadis itu sakit tapi apa gunanya, gadis itu malah lebih sering mengikutinya dan itu membuatnya lebih sulit untuk menjauh darinya. Tapi, ia suka.

Tanpa sadarnya, sebuah lengkungan kecil terbentuk dari sudut bibir Kevin. Ia tersenyum membayangkan Hera sering bersikap konyol di depannya. Dan saat itu pintu ruang musik terbuka dengan keras dan menyentakkannya dari lamunannya. Ia melihat Hera berdiri di ambang pintu dan penampilannya terlihat kacau. Ia melihat sebuah kertas yang dipegang gadis itu dengan erat yang ia pikir mungkin kertas hasil ujian remedialnnya.

Hera menatapnya dengan sedih dan Kevin berdiri seakan takut apa yang baru saja di pikirkannya terjadi. Ia takut Hera tidak lulus ujian remedial ini. Perlahan Hera berjalan mendekatinya dengan sedih.

“Maaf,” ucapnya sambil menundukkan kepala ketika tiba di hadapannya.

“Apakah kau…?” gumam Kevin tidak melanjutkan.

“Benar,” sahut Hera pelan. “Aku sudah bekerja keras, tapi…” Hera tidak
melanjutkannya tapi, ia memberikan selembar kertas—yang dari tadi ia
pegang—kepada Kevin.

Kevin menerimanya dengan hati gelisah. Ia membuka kertas itu dengan perlahan. Sebenarnya ia tidak perlu membuka kertas itu, karena ia tahu bagaimana has…

Kevin melongo menatap nilai yang tertera pada kertas itu. Lalu, ia melihat Hera dengan tajam. Gadis itu malah tertawa sambil menundukkan kepalanya. Ah, dia mengerti.

“Kau tertipu,” gumam Hera pelan—sangat pelan—tapi, telinga Kevin tajam, jadi dia bisa mendengarnya.

“Kau pikir ini lucu?” tanya Kevin sambil menatap Hera yang masih menundukkan kepalanya. Kemudian, ia melihat Hera yang perlahan mengangkat kepala lalu melihatnya sambil menahan tawa.

“Baiklah, aku minta maaf,” ucapnya setelah tawanya mereda. “Tapi, bagaimanapun juga terima kasih banyak.” Lanjutnya, “Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika tidak ada kau. Terima kasih telah bersedia membantuku.”

Kevin terdiam tidak berkata apa-apa. Ia hanya memandang Hera yang berdiri di hadapannya sambil tersenyum senang.

“Sekarang aku tahu, bagaimana rasanya mendapatkan nilai bagus yang sama sekali belum pernah aku dapatkan sebelumnya. Memang tidak sempurna, tapi aku rasa nilai itu lebih dari cukup untukku.” Katanya lalu terdiam sambil tersenyum, “Terima kasih… Kevin.”

Kevin melihat Hera maju selangkah mendekatinya lalu, memeluknya. Kevin tercengang, sedikit terkejut saat Hera yang tiba-tiba memeluknya. Tapi, ia hanya terdiam, membiarkan Hera memeluknya. Ia memang tidak membalas pelukan Hera tapi, ia senang. Ia senang melihat Hera begitu gembira. Ia senang Hera bisa mendapatkan nilai yang baik. Ia sudah yakin sejak awal, gadis ini pasti bisa melakukannya. Dan Hera sudah berhasil melakukannya.

“Oh ya, dengan caramu yang begitu dingin kepadaku, jangan kau harap aku bisa berhenti mengejarmu. Aku tidak akan menyerah. Kau mengerti?”

“Terserah kau.”

Dan sejak awal, sebelum gadis itu mencoba merebut hatinya, sebenarnya dia sudah berhasil. Hanya saja, ia masih belum bisa mengatakannya. Ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat. Itu saja.

END

Cerpen Karangan: Aryn Chan
Blog: arinapri.wordpress.com
Facebook: https://www.facebook.com/1998aryn

Cerpen Stupid Girl merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kepada Gadis Yang Aku Kagumi

Oleh:
Jakarta, 2015 Bukan sesuatu yang mengejutkan jika aku, Narendra Wijaya menjadi laki-laki idaman para gadis-gadis di sekolahku. Menjadi kapten basket, ketua organisasi siswa, menjadi murid kelas unggulan, dan pasti

Terbalas

Oleh:
Namaku Sandy Widya Nurhaliffa, tapi aku lebih akrab dipanggil eby. Aku adalah seorang murid yang cukup pandai di sekolah menurut teman-temanku. Di usiaku yang sudah menginjak 14 tahun, tentu

Senyum Seindah Pelangi

Oleh:
Semuanya seperti deja vu. Masih terukir dengan jelas di benakku, tentang hari itu. Di saat butiran-butiran air berjatuhan dari langit. Petir pun seolah tak mau kalah meramaikan suasana dengan

Empat Kata Terindah (Part 1)

Oleh:
“Hari ini, kamu akan ikut casting di Plaza Mall” Ucap Bu Natasya pada sang anak “Dan ingat! Kali ini kamu harus dapat peran itu!” Lanjutnya. “Ya, Mah” “Pagi, Mah.

Hurt

Oleh:
Ya siapa lagi kalau bukan dia. Dia adalah cowok ganteng yang pertama kali gue liat sejak pertama kalinya gue masuk kelas X IPB. Awalnya gue cuma deket biasa, ehh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *