Sugar Boy

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 3 February 2019

Aku menyeret koper merahku memasuki rumah yang sebentar lagi akan kutempati. Mataku bergerak mengamati sekeliling. Luarbiasa. Rumah ini sangat luas dan rapi. Aku bahkan sampai terkagum-kagum dengan orang yang membersihkan rumah ini. Sepertinya orang itu punya kekuatan super hingga bisa tahan membersihkan rumah sebesar ini.

“Halo,” seorang wanita yang sudah nampak berumur menghampiri kami dan meyalami kami. Ya, kami. Aku, kakak sepupuku—Mbak Lusi, dan anak perempuannya. Aku tidak benar-benar sendiri sebenarnya.
“Bagaimana kabar kalian?” tanya wanita itu lagi. Yang sudah kuketahui namanya adalah Bude Min. Kakak dari Kakak Iparku.
Mbak Lusi tersenyum lebar. “Baik Bude.”
Bude Min lalu menatapku. Senyum lebarnya kembali merekah. “Ini Mauren kan?” jemarinya menunjukku.
Aku mengangguk kaku sebagai jawaban.
Bude Min terkekeh. “Jangan malu-malu ya, anggap rumahmu sendiri.”
Aku mengangguk lagi. Ya ampun, aku bahkan merutuki diriku sendiri yang cenderung pemalu ini. Kenapa rasanya sulit sekali untuk bicara macam-macam. Kurasa inilah resiko yang akan dihadapi para pemalu. Susah bicara pada orang baru.

Sekarang aku sedang berguling-guling di atas kasur. Tadi, Bude Min mengantarkanku ke kamar ini. Bude bilang, ini sekarang kamarku. Dan katanya, aku bebas bereksplorasi dengan kamarku. Ya ampun, sungguh bahagia hatiku.
Ya, aku di sini memang akan menginap, mungkin lebih tepatnya tinggal sementara. Berhubung aku baru akan memulai masa kuliah di kota kelahiranku ini. Jarak dari rumah sampai kampusku memang terpaut jauh, jadilah sepupuku menyarankan untuk tinggal di rumah Kakak Iparnya yang kebetulan sekali, rumahnya dekat dengan kampusku nanti.
Suami Bude Min memang bekerja di luar kota. Jadi jarang pulang. Di rumah ini hanya ada Bude dan kedua anaknya. Yang pertama masih duduk di bangku menengah pertama, sedang yang kedua masih duduk di bangku sekolah dasar. Bude sendiri punya usaha butik di kota, mau tidak mau Bude harus sering berada di sana untuk mengurusnya.
Kedua anaknya pun dititipkan padaku. Huft. Sungguh miris bukan? Inilah yang sudah kupastikan terjadi. Bude pasti akan menitipkan kedua anak itu padaku. Astaga, aku bahkan tidak punya keterampilan untuk menjadi Babbysitter.

Puas berguling-guling, aku beranjak bangun. Mengeluarkan pakaianku dari koper dan menyusunnya di atas kasur. Aku membuka almari putih yang berukuran besar menurutku, dan menata pakaianku di dalam sana.
Setelah rampung, aku memilih kembali menghampiri kasur dan merebahkan tubuhku di sana. Tiduran sejenak sepertinya nyaman. Ya, sangat nyaman sekali.

Suara dentingan sendok dan garpu membuatku mendongak dan mendapati Bude Min tersenyum geli padaku. Tentu saja itu membuatku menjadi salah tingkah. Akhirnya hanya senyum kikuk yang dapat tersungging di bibirku.
“Dimakan Mauren. Emang kamu gak lapar?”
Aku mengangguk kaku. “Iya, Bude.” Lalu menyuapkan sesendok nasi itu ke mulutku dengan tak kalah kikuk.

Bagaimana tidak kikuk. Coba bayangkan, di hari pertama mengungsi ke rumah Bude, bukannya membantu memasak makan malam, aku justru asyik tidur. Ketiduran lebih tepatnya. Aku jadi serba salah. Kalau dimakan, aku merasa tidak enak karena tahu-tahu langsung makan tanpa membantu sedikitpun. Tapi kalau tidak dimakan, Bude daritadi sudah menyuruhku menghabiskan makananku. Huft. Aku jadi bingung.

“Mbak Mauren, dimakan dong. Nanti malah kumakan lho,” itu suara Geni. Anak kedua Bude Min yang menurutku paling mirip dengan Bude. Kenapa? Karena sedari makan tadi, Geni yang paling banyak bicara dengan Bude. Dia juga senang bercanda. Geni sangat supel menurutku.
Alhasil, sepanjang makan malam ini, Geni dan Bude Min yang paling banyak mengisi kekosongan. Sementara aku? Hanya akan bicara atau menimpali beberapa dari ucapan mereka yang menurutku cocok untukku bahas.

Sedari tadi aku merasakan hawa tidak enak di meja makan ini. Bukan. Bukan karena Bude dan Geni yang banyak bicara. Tapi tatapan seseorang yang kurasa terus mengawasiku. Gerak-gerikku lebih tepatnya.
Aku dapat dengan mudah tahu siapa dia. Dia yang mengawasiku. Karena di ruangan ini tidak ada orang lain lagi selain kami. Bukan Bude dan Geni yang sedari tadi menatap penuh pengawasan padaku. Tapi Rou.
Ya, Rou. Anak lelaki Bude Min. Saat kualihkan mataku padanya, saat itulah kutahu kalau memang Rou yang sedari tadi menatapku. Tapi saat kutatap balik, dia justru menunduk. Kembali memakan makanannya dengan hening. Tanpa merasa pernah terjadi sesuatu.
Aku mengedikkan bahu. Mungkin Cuma kebetulan. Kurasa awalnya memang begitu. Tapi ternyata, Rou terus melakukannya sepanjang makan malam ini. Sumpah, itu membuatku semakin canggung di sini. Rou memang tidak banyak bicara sedari tadi, selain jika Bude bertanya padanya.

Aku jadi menyadari satu hal. Dan satu hal itu adalah pertanyaanku untuk saat ini. ‘Apakah Rou tidak suka karena ada orang asing sepertiku di dalam rumahnya?’

Mataku kembali terbuka. Entah sudah keberapa kalinya di malam ini. Aku tidak bisa tidur. Mungkin efek pindah rumah jadi begini. Biasanya aku selalu tidur awal. Dan sekarangpun begitu. Tapi aku tetap saja terjaga. Bahkan aku tidak merasa mengantuk sama sekali.

Kuraih gelas yang ada di atas meja sebelah tempat tidurku. Kosong. Padahal tadi masih banyak. Mungkin efek tidak bisa tidur jadi air di gelas habis saja aku tidak sadar.
Aku paling malas sebenarnya kalau sudah naik kasur tapi harus turun lagi. Yah, mau bagaimana lagi, aku terlanjur haus. Tenggorokanku kering minta diisi. Akhirnya dengan setengah hati, aku menuruni kasurku dan beranjak menuju dapur.

Satu hal lagi yang paling tidak kusukai karena tidak bisa tidur. Kalau dapur di manapun ternyata lampunya dimatikan. Gelap. Huft. Aku malas sekali. Tapi sudah terlanjur di dapur, jadi kuputuskan untuk terus melangkah. Lagipula tidak terlalu gelap juga. Masih ada sebagian cahaya bulan yang menerobos masuk.

Selesai menuang air dari teko, aku meminumnya cepat. Lalu kembali mengisi air ke dalam gelas dan membawanya ke kamarku. Semuanya berjalan lancar. Ya, lancar kalau saja aku tidak menubruk sesuatu di depanku saat hendak berbalik.
Aku mendongak. Berusaha melihat apa yang kutubruk itu. Aku jadi menyesal punya tubuh yang mungil begini. Apa-apa harus mendongak dulu. Untung saja leherku sehat.

Jantungku berpacu cepat saat menyadari apa atau lebih tepatnya siapa yang kutubruk tadi. Rou! Matanya menyipit tajam menatapku. Dan manik hitamnya terlihat berkilau saat terkena sedikit pantulan cahaya bulan yang pas menyinari maniknya.
Aku kesulitan bicara. Bahkan gelas yang kupegang saja bergetar karena aku yang gemetar. Aku berdehem agak keras supaya bocah ini sadar kalau dia suka sekali menatapku begitu. Sumpah! Aku kikuk kalau Rou yang menatapku. Kenapa? Karena aku merasa dia tidak menatapku seperti Bude atau Geni biasa menatapku. Aku justru takut ditatapnya lama-lama.

“Ada apa, Rou? Belum tidur?” akhirnya suaraku bisa keluar. Walau agak serak karena efek ketakutan.
Rou terlihat mengangkat sebelah alisnya. Tapi matanya tetap saja mengarah padaku. Ada apa denganku? Apa ada sesuatu yang menarik padaku hingga bocah SMP ini saja menatapku mengerikan begitu.
“Mbak sendiri ngapain di sini?”
See. Aku bisa stres kalau lama-lama di sini. Aku tanya malah dia balik tanya. Sudahlah tidak penting juga. Lebih aku kembali ke kamar dan tidur. “Minum, haus. Sudah ya, saya mau tidur.”
Aku hendak melangkah melewatinya. Tapi dia justru mengikuti langkah kakiku. Aku ke kanan dia ke kanan, ke kiri dia ikut juga. Grr … ini bocah maunya apa?

“Permisi Rou, saya mau lewat.” Suaraku sengaja kukeraskan. Jaga-jaga kalau saja dia tidak mendengarku tadi.
Rou malah tersenyum. Bukan. Bukan senyum menawan yang biasa para lelaki tampan sunggingkan. Ya, Rou memang tampan. Harus kuakui itu. Tapi saat ini dia justru terlihat mengerikan di mataku. Senyumnya. Smirk yang dia tunjukkan membuatku gemetar.
“Mbak di sini dulu.”
Hell. Dia gila atau apa? Tidak sadar kalau dapur gelap? Dia pikir aku suka gelap? Big no! Tanpa mempedulikan Rou mau melakukan apa, aku lebih memilih untuk melangkah maju. Lebih baik tidur.

Sebenarnya berhasil. Ya, seharusnya jika saja Rou tidak kembali memanggilku. Sebenarnya aku ingin sekali menghiraukannya. Biar saja. Tapi aku malah berhenti dan membalikkan tubuh ke arahnya.
Rou tersenyum. Hanya senyum tipis. Tapi menurutku itu cukup menawan. Mungkin karena aku tidak pernah melihatnya tesenyum. Atau karena Geni bilang, Rou tidak pernah tersenyum jika bukan pada orang yang diinginkannya. Jadi, apa Rou menginginkanku? Mungkinkah dia menerimaku di rumah ini seperti Bude dan Geni menerimaku?

“Mbak bisa buat susu?”
Ha? Aku tersadar dari lamunanku. Susu? Rou suka susu?
Aku memutar bola mata kikuk. “Err … ya,”
Entah hanya mataku yang rusak atau apa. Tapi aku melihat senyum Rou melebar.
“Tolong buatkan ya, Mbak. Aku tunggu di sini.”
Demi apa? Rou minta aku buatkan dia susu? Dia pikir aku pembantunya? Huft. Tapi aku tidak tega padanya. Kenapa? Karena dia sudah duduk manis di atas kursi dan menatapku dengan senyumnya yang pertama.
Sungguh, aku takut saat Rou tersenyum begitu padaku. Tidak bisakah dia tersenyum normal saja?

“Rou, jangan senyum begitu.” Pintaku saat sedang mengambil gelas dan menarik termos mendekat ke pantry. Lampu dapur juga sudah kunyalakan. Tapi hanya satu dari dua lampu yang biasa dinyalakan di dapur. Rou yang minta. Dia bilang silau.
Hanya perasaanku atau apa, tapi aku sempat mendengar dia terkekeh pelan. Sangat pelan kalau saja aku sedang tidak fokus tadi, mungkin aku tidak akan mendengarnya.
Sungguh, rasanya aku ingin kembali saja ke kamarku. Benar, aku merasa kalau Rou sepertinya menatapku. Tatapannya seperti tepat menembus punggungku yang membelakanginya. Ya, mungkin itu biasa saja. Jika dia menatapku dengan normal seperti Bude dan Geni. Tapi ini lebih seperti … aku sulit menjelaskannya. Yang jelas, aku gemetar sekarang.

Aku bingung. Entah karena aku masih baru di sini atau karena aku lebih ketakutan, sampai-sampai aku tidak bisa menemukan kotak susu yang akan kubuat untuk Rou. Saat sedang sibuk mencari, mataku tak sengaja menangkap pantulan diriku dan Rou dari lemari kaca.
Dan, dugaanku benar. Rou memang menatapku! Entah sejak kapan, tapi saat dia menyadari kalau aku memergokinya yang menatapku dari pantulan lemari kaca, dia bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat.
Hell! Dia membuatku semakin ketakutan. Aku diam saja. Berdiri mematung di tempat dengan gelas di genggamanku. Saat kulihat tubuhnya yang memang lebih tinggi dariku tepat berada di sebelahku. Tangannya terulur ke depan dan membuka laci kecil di depannya. Dia menarik sesuatu keluar dari dalam sana lalu menyerahkannya padaku.
Aku tidak berani melihat wajahnya. Alhasil, aku hanya menatap polos pada kotak susu yang Rou sodorkan padaku. Astaga. Mau taruh di mana wajahku ini? Aku jadi malu sekali.

“Mbak cari ini kan?”
Aku hanya mengangguk cepat lalu segera merebut kotak susu itu dari tangannya. Tanpa buang waktu lagi, aku segera memasukkan empat sendok susu bubuk itu ke dalam gelas lalu menuangkan air panas dan mengaduknya dengan cepat.
Iseng kulirik Rou di sebelahku. Dan, lagi-lagi dia membuat jantungku mendadak berhenti. Dia sedikit membungkuk dan menyandarkan kepala pada sebelah tangannya. Smirk yang sedari tadi menakutiku itu kembali muncul. Tangannya terulur menyentuh helaian rambutku yang jatuh di bahu lalu memainkannya lembut.
“Mbak cantik.”
Deg!

Aku benar-benar menghentikkan gerakan mengadukku pada susu itu dan menyodorkannya dengan cepat pada Rou tanpa melihatnya sedikitpun. Aku langsung melesat menuju kamarku. Tidak kupedulikan lagi Rou mau memanggilku atau apa, yang jelas aku harus istirahat.

Sepertinya aku sedang stres, atau dia yang gila. Mudah sekali dia bicara begitu, apa dia tidak berpikir bagaimana dengan kesehatan jantungku. Sungguh, belum pernah ada yang bicara seperti itu padaku. Dan sekalinya ada, justru bocah SMP labil yang tidak lain dan tidak bukan adalah anak Bude Min. Rouland!

Pagi ini kami sarapan bersama. Berkumpul di meja makan seperti semalam. Hanya saja bedanya, Geni dan Rou sudah rapi dengan seragam sekolah mereka, dan Bude yang hendak berangkat pagi untuk mengecek butiknya. Sedangkan aku? Aku bahkan hanya sikat gigi dan belum mandi.

Memang, kuliahku dimulai dua hari lagi. Aku bahkan tidak bisa serapi keluarga ini saat pagi hari. Kalian tahu siapa yang membangunkanku? Rou! Dia menyelinap masuk ke dalam kamarku dan membangunkanku. Aku tidak mengerti bagaimana caranya dia bisa masuk padahal pintu sudah kukunci.
Dan aku tidak tahu bagaimana bisa dia membuat jantungku marathon di pagi hari. Saat aku membuka mata tadi, sudah kudapati Rou yang rapi dengan seragamnya, duduk di tepi kasurku dan memainkan puncak kepalaku. Gila bukan? Tentu saja saat mataku terbuka sepenuhnya, aku langsung loncat turun dan berlari ke kamar mandi.
Sungguh, awal pagi yang sangat memacu penyakit jantung.

“Oh ya, Mauren … nanti Bude pulang sore, paling di rumah adanya Geni sama Rou.”
Aku tersenyum. “Gak masalah Bude, aku justru ada temannya.”
“Tapi Ma, hari ini aku ada kerja kelompok. Paling pulangnya sore juga.”
Aku mengerucutkan bibir sebal dalam hati. Kenapa juga Geni harus ada kerja kelompok. Kalau begini lalu bagaimana?
“Ya sudah, masih ada Rou.”
Deg!
Aku jadi gemetar lagi. Kenapa bukan Rou saja yang minggat dari rumah? Kenapa nasibku begini ya Tuhan.

Selesai sarapan dan membersihkan peralatan makan, aku pamit ke kamarku. Tadinya ada sesuatu yang kutinggalkan di sana dan hendak kuambil. Agak lama aku di kamar. Paling sekitar sepuluh menitan.
Begitu menuruni anak tangga menuju ruang keluarga, aku dibuat membelalak lebar. Bagaimana tidak, kalau saat ini Rou sedang duduk manis di sana dan menyunggingkan senyum khasnya begitu melihatku di sini.
Buru-buru aku menghampirinya, “Kenapa belum berangkat?” kepalaku bergerak ke sekeliling. Mencari Geni dan Bude, tapi mereka sudah tidak ada.
“Udah berangkat.”
Mataku refleks menatapnya. “Siapa?”
Rou berdiri dari duduknya. “Mama sama Geni.” Dia menatapku lekat. Aku malah bingung. Ini bocah sebenarnya kenapa?
“Terus kenapa kamu belum berangkat?”
Rou menggeleng pelan. Dia menunjuk lehernya dengan telunjuk. Aku bingung. Maksudnya apa?
“Apa?”
Rou menghela nafas pelan. “Pasangin dasi.”
Idih! Dikira aku pembantu beneran. “Maaf, pasang sendiri aja. Saya mau nyapu.”

Baru aku akan berbalik kalau saja tangannya tidak menahan lenganku hingga kembali berbalik menghadapnya. Aku menatapnya kesal. “Apa sih?!”
“Pasangin dasi.”
Aku mendengus kesal. “Saya bukan pembantu kamu, maaf ya.”
“Yaudah. Kalau gak mau pasangin, aku gak mau sekolah.”
Hell! Dia mengancamku! Apa-apaan bocah ini?! “Yaudah kalau gak mau sekolah, silahkan.” Aku tidak mau kalah.
Smirk itu kembali muncul. “Beneran? Berarti Mbak lebih suka aku di sini? Oke.”
Rou duduk kembali. Tapi matanya tak lepas dariku. Aku acuh saja. Ucapan Rou membuatku berpikir keras. Apa maksudnya? Sampai aku kembali menatapnya yang ternyata dia masih juga menatapku. Mataku membelalak lebar. Aku mengerti maksudnya!

“Rou kamu serius gak mau sekolah?” aku bertanya dengan panik.
Rou hanya mengangguk. Tangannya lalu melepaskan tas yang sedari tadi dipakainya. “Aku mau ambil remote.” Setelah itu dia berdiri dan mengambil remote yang ada di atas televisi lalu kembali berjalan kemari.
Aku menganga. Dia serius dengan ucapannya! Astaga. Kenapa bisa ada bocah seperti ini?!

Akhirnya aku yang mengalah. Saat Rou hendak duduk tadi, kutarik dasi yang melingkari lehernya ke atas. Alhasil dia kembali berdiri. Tanpa pikir panjang, segera kubuat simpulan pada dasi itu. Selesai, aku mendongak. Penasaran dengan ekspresi bocah itu. Apa terkejut?
Sepertinya terkejut. Ya, terkejut. Tapi bukan Rou. Itu aku! Aku yang terkejut. Kenapa? Karena aku tidak sadar saat mendongak, Rou juga sedang menunduk. Alhasil, hidung kami bersentuhan dan aku refleks mundur.
Aku membalikkan tubuhku. Pasti wajahku sudah merah sekarang. Sambil menenangkan debaran jantungku, aku berkata, “Udah kan? Sana berangkat!” aku bahkan tidak menatapnya sedikitpun.

Hening. Apa Rou sudah berangkat? Ragu aku menoleh ke belakang. Kosong. Mungkin dia sudah berangkat. Ya sudah. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku.

Kulirik jam dinding yang ada di ruang keluarga. Pukul dua siang. Acara apa yang bagus untuk dilihat jam segini? Bosan. Alhasil, aku hanya memindah-mindah chanel televisi tanpa minat.
“Nonton apa, Mbak?”
“Hah?!” Sontak aku langsung mengangkat tubuhku yang tadinya tiduran di sofa jadi berdiri dengan sigap. Mataku melotot kaget. “Bikin kaget aja! Kalau pulang itu ucap salam dulu! Ini malah nyelonong masuk aja! Untung gak dipukulin tadi! Dikirain maling!”
Rou malah tertawa. Sungguh, baru ini aku melihatnya tertawa. “Udah, Mbak? Panjang banget.”
“Apanya yang panjang?”
“Tuh, iklannya kepanjangan.”
Aku mangap. Rou malah melenggang pergi menuju kamarnya. Kadang bocah bisa ngawur juga omongannya. Aku malah bingung. Lebih baik duduk lagi.

Aku fokus melihat tayangan televisi sampai sofa di sebelahku ikut bergerak. Aku menoleh. “Makan dulu sana.” Hebat. Baru kali ini aku bisa perhatian dengan orang lain.
“Nanti.” Rou menatapku, “Mbak, udah makan?”
Aku mengangguk. “Udah. Udah kenyang malah.”
“Yaudah, kalau gitu aku makannya nungguin Mbak lapar lagi.”
“Hah?” aku menoleh bingung, “Kamu makan aja sana.” Aneh anak ini.
“Nanti, kalau Mbak udah lapar lagi,”
Astaga. Alamat aku harus mengalah lagi ini mah. “Yaudah, ayo makan.”
Rou menatapku berbinar. “Serius? Tadi katanya Mbak udah kenyang?”
“Lapar lagi.”

Aku segera bangkit dari dudukku dan melangkah menuju dapur. Rou mengikuti di belakangku. Dia langsung duduk di kursi sementara aku mengambil dua piring. Kusodorkan satu piring padanya dan mengisi piringku sendiri dengan nasi. Hanya sedikit. Jujur, aku masih kenyang sebenarnya. Tapi kasihan juga kalau Rou tidak makan.

“Kok gak ambil nasi?” aku bertanya saat sadar kalau sedari tadi Rou hanya duduk diam menatapku. Ya, menatapku. Aku bahkan jadi terbiasa ditatap seperti itu oleh bocah ini.
“Ambilin.”
Aku mangap lebar. “Ya ampun. Kamu manja banget sih, Rou?!” aku menggeram kesal.
“Anggap aja latihan, Mbak.”
“Latihan apa?!”
“Jadi istriku yang baik di masa depan.”
Astajim. Ini bocah kebanyakan nonton drama atau apa. Kenapa jadi melantur begini bicaranya. “Kamu ngomong apa sih, Rou?”
“Jadi pacarku ya, Mbak?”

Mulutku menganga lebar. Mataku membelalak. Aku tidak menyangka bocah ini bisa bicara begitu. Bahkan diusianya yang jauh lebih muda dariku. Diusianya yang seharusnya belum mengerti hal seperti ini.
Dan diusiaku yang belum pernah mengecap indahnya cinta. Kenapa justru untuk pertama kalinya harus dengan sugar boy seperti Rou?!

The End

Cerpen Karangan: Permaisita Tiaras
Blog / Facebook: Permaisita Tiara
Halo, salam kenal! Saya baru pertama menulis untuk cerpenmu.com, biasanya saya menulis di Wattpad. Terima kasih sudah membaca cerita saya. Ingin kenal lebih dekat? Let’s check out!
Facebook: Permaisita Tiara
Wattpad: Tiarapermai
idline: permaisitatiara

Cerpen Sugar Boy merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Diammu Adalah Pertanyaan Terbesarku

Oleh:
Perkenalkan namaku Senja Alyandra Yussuf aku seorang siswi di sekolah ternama di Bandung. Aku menyukai dunia pramuka selain itu aku masuk pramuka karena dia yaa, dia orang yang selama

Sunset

Oleh:
Hening menyapa senja ini, warna langit yang biru pun mulai memudar, matahari mulai menghilang perlahan lahan. kupu-kupu kuning bermotif indah itu meliuk liuk mengikuti irama sungai bawah jembatan rell

Pupus Harapan Di Ujung Negeri

Oleh:
Telah lama aku tersugesti mencintai seorang gadis manis, yang hanya bisa kucintai. Memandang wajahnya lewat terangnya layar handphoneku, meredupkan semangatku untuk menggapainya. Karena yang aku tahu, bukanlah aku yang

Siapa Namanya?

Oleh:
Ia memandangi situasi sekitar, langkahnya pasti dan terlihat anggun. Ia merasa semua orang mulai memandanginya karena kecantikannya, ia terus berjalan dengan pedenya dan saat ini malah semakin menjadi, ia

I Hate Because I Love You

Oleh:
Suatu pagi yang cerah di SMA ternama di Jakarta. Hallo, namaku Almeira Nadya Putri, panggil aja aku Nadya. Aku punya sahabat yang namanya Bella Gionniva, Bella nama panggilannya. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *