Syair Cinta Ulang Tahun Pramuka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 14 November 2017

Deru gegap gempita
Indah dalam gemerlap api unggun yang menyala
Naungan rembulan menggugah ambisi nyata
Dalam dekapan malam ulang tahun Pramuka
Aku tak kuasa menatap dan terus menatapmu membuang lamunan asa

Hingga kurekam puisi yang dia bacakan ketika pentas seni malam api unggun itu. Setelah keresapi, kutulis ulang puisi itu ada namaku di setiap awal baris puisinya. DINDA bukankah itu huruf-hurufnya. Padahal dia membaca puisi lebih dari sepuluh menit, namun bait itu yang selalu kuingat hingga kini. Apa ya maksudnya dia menuliskan namaku dalam puisinya?

Apa karena aku suka puisi sehingga dia mencoba mendekatiku dengan puisi-puisinya. Seberapa hebat dia membaca dan menulis puisi. Aku jadi penasaran dengan maksud Kak Puji, Kakak Pembina dari Alumni SMA kami yang berkesempatan mendatangi Ulang Tahun Pramuka di sekolah kami.

Memang dulu ketika aku masih kelas X aku dengan Kak Puji pernah satu tim dalam pembuatan proyek buku kumpulan puisi di Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) di sekolah kami. Kalau ingat masa itu, mungkin aku jadi malu juga, karena saat itu aku dianggap oleh tim, sebagai anggota KIR baru yang sok tahu. Padahal memang bukannya sok tahu, aku sudah menjuarai ajang lomba baca puisi beberapa kali di tingkat nasional ketika SMP, selain itu hampir semua buku kumpulan puisi, prosa liris, dan novel yang ada puisi di dalamnya sudah kubaca. Lebih dari 12 grup di Media Sosial yang berupa komunitas penulis puisi kuikuti. Wajar dong kalau aku lebih banyak menyumbangkan puisi-puisiku. Mungkin senior-senior KIR termasuk Kak Puji agak tersinggung jika aku saat itu terkesan menggurui mereka. Tapi kalau boleh aku jujur aku terpesona dengan puisi Kak Puji yang baru saja dibacakannya. Apalagi kalau memang puisi itu ditujukan kepadaku, mungkin akan kubalas dengan kukirimkan juga puisiku untuknya.

Dinda menyendiri di pojok teras sekolah, di depan ruang laboratorium, yang juga dekat dengan Ruang KIR sekolah. Dia terus menggumam berbicara dengan batinnya sendiri sembari mendengarkan berulang-ulang rekaman puisi yang dibacakan Kak Puji. Tanpa disadari Kak Puji menghampirinya, dan mengagetkan lamunannya.

“Dinda…! kok menyendiri di sini..?”
Mendengar suara itu Dinda bergegas mematikan rekaman yang ia dengarkan, dan memasukkan Hpnya di saku kanannya, tersipu malu, “eh.. Kak Puji…?”
“Puisi itu kutulis tadi sore sebelum acara api unggun, khusus untukmu…”, sebenarnya Kak Puji sudah dari tadi berada di dekat Dinda, hanya saja tidak menyadari jika Kak Puji juga ikut mendengarkan rekaman itu. Dinda pun menjadi gugup malu.
“Oh ya, bagus, Kak… Puisinya…. mungkin di lain kesempatan akan kubuatkan juga puisi untuk Kakak…” dengan tergopoh-gopoh suara Dinda menanggapi Kak Puji. Dinda masih juga berharap dalam hatinya Kak Puji tidak mendengar gumamnya ketika mendengarkan puisi Kak Puji.
“Dari dulu kamu nggak pernah berubah, ya… masih terus setia menjadi pujangga puisi di sekolah…”
“Ah, Kak Puji bisa aja…”
“Kamu pernah baca Novelnya Syeikh Nizami, yang berjudul Maha Cinta Laila Majnun..?” kayaknya Kak Puji mencoba untuk mengajak Dinda ngobrol lebih lama.
“Sudah, Kak… bahkan syair-syair Laila dan Majnun beberapa ada yang kuhafalkan…”
“Oh ya….. kamu ingat syair yang ini:

Kau penyebab sekaratku berkepanjangan,
Tetapi hasratku padamu membuat kau kumaafkan.
Kaulah sang matahari sementara aku bintang malam,
Cahayamu menyurutkan kerlipku yang kelam.
Nyala lilin iri padamu,

Belum selesai Kak Puji membaca puisinya, dinda Menyela melanjutkan puisi itu…

Bunga mawar merekah dalam namamu.
Terpisah darimu? Tidak akan pernah!
Cinta dan kesetiaanku hanya untukmu. Aku bersumpah!
Walau tersiksa, aku akan tetap menjadi sasaran cambukmu,
Ketika mati, aku adalah darah yang mengalir di nadimu.

Mereka saling menatap satu sama lain kemudian tersenyum….

“Dinda, … ketika Majnun menulis syair itu dia menyeret tubuhnya berjalan bagaikan hewan yang terluka. Kesedihan telah menguruskan badannya. Hampir tidak ada nafas dalam kehidupan yang tersisa dari sekujur tubuhnya. Satu-satunya bayangan yang ada di fikirannya hanyalah Laila Wajah Laila-lah yang ia lihat tiap kali menutup mata, dan bayangan Laila-lah yang ia lihat tiap kali membuka mata.”
“ya iyalah, Kak… itu karena majnun rindu untuk berbicara dengan kekasihnya itu, tapi dia bingung mencari caranya. Karena ia menyadari bahwa ia tak akan pernah bisa melantunkan syair-syairnya kepada Laila secara langsung ia meminta angin untuk menjadi perantaranya. Sementara ia melantunkan kidung-kidung cintanya, angin membawa kata-katanya pergi.. namun tanpa jawaban…”
“Itulah yang selama ini kurasakan, Dinda… semenjak aku lulus dari sekolah ini, dan jauh darimu… Mungkin aku lebih gila dari Majnun, ketika membayangkan Laila adalah Kamu, Dinda….” Kak Puji mengatakan itu dengan sangat serius…

Dinda juga yang semula senyum-senyum dia menjadi ikut serius dan terus menatap tajam wajah Kak Puji. Apalagi ketika tangan kanan Kak Puji memegang tangan kiri Dinda yang dia jadikan tumpuan duduk di lantai. Dinda menjadi gugup dan jantungnya berdetak kencang serta gemetaran…

Dinda berusaha melepaskan genggaman tangan kak Puji, dan meninggalkannya sendiri di teras itu, sambil berjalan mundur meninggalkan Kak Puji, Dinda berkata, “Tetaplah jadi kak Puji meskipun kau berjiwa seperti Majnun, maka aku juga akan berusaha menjadi Laila yang akan terus membalas Syair-syairmu, hingga nanti kelak kita dipertemukan lagi di lain waktu… Sampai Jumpa lagi Kak Majnun…”

Kemudian Dinda tersenyum melambaikan tangannya masuk ke kerumunan kawan-kawannya bereuforia di api unggun Ulang Tahun Pramuka…

Cerpen Karangan: Marsono Reso Diono
Facebook: Marsono Aja

Cerpen Syair Cinta Ulang Tahun Pramuka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kembali Dalam Dekapanmu

Oleh:
Pandanganku tak lepas dari air yang menetes ini. Satu jam sudah berlalu dan aku masih memandanginya. Aku tidak merasa bosan sedikitpun. Tentu saja, hujan adalah hal yang paling aku

Tersanjung

Oleh:
Sambil terus menahan senyum dan sesekali mengusap air mata bahagia yang belum juga mau berhenti mengalir sedari tadi. Tanganku juga terus saja sibuk membolak balik selembar kertas yang masih

Where Are You Now?

Oleh:
Beginilah aku di sepanjang tahun, berkutat di meja belajarku dengan laptop di depan mataku. Kursi kantor yang bisa bergoyang itu betul-betul memanjakan tubuhku. Aku bisa seharian duduk berjam-jam bermain

Pertama Kali

Oleh:
Sore itu, hujan datang membasahi bumi. Hujan yang datang cukup besar. Seisi sekolah telah kosong, tapi aku belum dijemput. Aku baru saja selesai dari ekstrakurikuler matematika, pelajaran favoritku sejak

Cinta Karena Nyaman

Oleh:
Gue Fala, masih duduk di SMP. Di sekolah gue ada laki-laki yang mungkin bisa dibilang playboy, gak cakep-cakep amat sih, tapi menurut gua dia punya karisma yang kuat hampir-hampir

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *