Talk Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 9 October 2017

“Albitari Diandra dan Reyhan Andriano.”
“What? Nggak mau!” Suara seorang manusia terdengar menggelegar di dalam kelas. Gadis itu tak terima dengan keputusan yang diberikan Bu Anita —wali kelas mereka. Tari menarik kursinya sejauh mungkin, sedang Rey cuma memandang aneh tingkah gadis itu.
“Lo kira gue mau, sebangku sama cewek jadi-jadian kaya, lo? Ogah gue!” Rey bergidik, tak bisa membayangkan, bagaimana repotnya harus berbagi tempat duduk sama Tari. Rey akui gadis itu memang cantik, bahkan sejak mereka kenal pertama kali, Rey sudah jatuh cinta dengan sosok Tari. Tapi … Setelah melihat tingkah gadis itu selama setahun, saat itu juga cowok itu mengubur mati-mati impiannya untuk menggaet Tari jadi ceweknya.
“Eh, tu mulut kelebihan pelumas kali ya? Licin amat lo ngomong!” Balas Tari dengan tatapan tajamnya.
“Njay! Mau ngalahin gue lo ya? Sok-sokan ngelawak. Yang ada sifat lo tuh yang kaya lemari es!” Teriak Rey tak kalah ketus dengan suara Tari.

Seketika tawa pecah terdengar di penjuru XI-A. Geli-geli gimana gitu melihat tingkah dua manusia, yang sudah dua tahun sekelas tapi tetap saja nggak bisa akur. Kadang beberapa siswa suka risih, kalau dua orang itu sudah adu mulut. Mana dua-duanya egois, sama sekali nggak ada yang mau ngalah. Herannya lagi, Rey dan Tari, kena karma apa sampai bisa masuk dan duduk di tempat yang sama pula. Ajaib!

“STOP! Tidak ada penolakan. Tapi, kalau kalian berdua tetap bersikeras pisah tempat duduk, silakan keluar dari kelas saya!” Teriak Bu Anita, membuat semua siswa diam. Seketika Tari langsung merasa keder. Dengan langkah gontai dia menarik kursinya agar mendekat ke Rey. Akhirnya gadis itu duduk diam-diam di samping Rey. Cowok itu cuma mendelik, kemudian mengalihkan perhatiannya ke depan.
“Bisa gagal diet gue kalau harus setahun duduk bareng nih cowok rese. Cobaan gue berat banget, sih?” Tari menekuk wajahnya dia atas meja. Tak bisa membayangkan, setahun ini harus dihabiskannya bersama cowok itu. Seketika perutnya menjadi mulas. Dan dia memutuskan untuk izin ke WC, karena memang sudah kebelet banget.

“Bro, bro. Lo inget nggak, malam ini kan acara pembukaan kafe depan sekolah. Gue ada ide nih,” ucap seorang siswa lelaki. Kebetulan saat itu kelas XI-A sedang sepi, karena seluruh anak lebih memilih mengisi perut disaat jam istirahat. Sementara kedua manusia itu —Ditto dan Gio— memutuskan untuk menjaga kelas saja. Biasanya sih, mereka berdua bareng Rey akan malak Adik kelas sebelum ke kantin, tapi hari ini Ditto dan Gio nggak mood malak. Jadi, hanya Rey sendiri yang ke kantin.

“Apaan? Lo mau ngajak gue nge-date?” Seketika Ditto pengen muntah mendengar pertanyaan dari Gio.
“Lo kira gue cowok apaan, man? Gini-gini, gue masih waras, walau single, gue tetap nggak bakalan ‘jeruk makan jeruk’. Rencananya, gimana kalau kita suruh si Rey sama si Tari aja yang pergi?”
“Hemm, boleh juga tuh. Lagian, malam ini kan malam minggu pasti tuh anak, cuma guling-guling di kamar!” Gio mengangguk senang.
“Oke nggak tuh. Siapa tau, mereka berdua jadi deket. Hahah. Nggak pernah gue sesenang ini, coy!” Teriak Ditto memeluk Gio. Mereka berdua tak sadar saat itu,
Tari muncul, diikuti oleh Rey yang masih menyedot es jeruk tengah melongo menatap ke arah dua sahabatnya itu.
Rey mendadak mual melihat aksi pelukan mereka berdua. Cowok itu melempar asal plastik esnya, bergegas masuk ke dalam, dan langsung melepaskan pelukan sohib dunia akhiratnya itu. Mau taruh di mana muka Rey, kalau melihat dua pengikutnya itu dianggap penyuka sesama jenis. Sedang Ditto dan Gio cuma cengengesan, menampilkan jejeran gigi kinclong mereka.

“Ditto, lo tuh apaan sih! Lepasin gue, nggak!” Tari berusaha lepas dari tangan Ditto yang terus menyeretnya untuk ikut dengan dia.
“Jangan banyak tanya. Pak, Bu, Tarinya saya pinjem bentar ya. Tenang aja, ntar saya balikin lagi,” izin Ditto ke orangtua Tari.
“Udah lah Tari, kasian kan teman kamu. Capek-capek datang ke sini. Pergi aja, lagian kan besok nggak sekolah juga.” Ditto langsung mengacungkan jempol, mendengar ucapan Mama Tari. Sedang gadis itu, cuma mesem-mesem, kesal banget dia sama Ditto.

Kaki Tari menyeret ke lantai, dia sama sekali tak berniat untuk datang ke tempat ini. Walaupun dia juga diundang sama pemilik kafe, tapi tetap saja, tempat kaya gini benar-benar tidak cocok untuknya. Mata Tari makin melebar, saat melihat dua orang berdiri tak jauh dari motor Ditto berhenti. Ditto kembali menarik paksa gadis itu, dan yang dilakukan Tari hanya menurut. Tenaganya sudah habis, karena berusaha menolak ajakan Ditto tadi.

Rey yang tadinya cengengesan nggak jelas bareng Gio, seketika pungli saat melihat kedatangan Ditto dan Tari. Matanya tertuju tepat ke arah Tari, seketika dia menganga lebar, bahkan ilernya nyaris menetes kalau nggak dia tahan. Meskipun Tari cuma pakai baju kodok, dengan atasan kaos biru lengan panjang, tapi tetap saja kecantikan gadis itu tidak pudar. Rey mulai bimbang, Tari ini manusia atau bukan sih? Kok cantiknya nggak ilang-ilang? Pikir Rey.

“Bro, kayanya ada yang lupa dunia deh. Asyik ngeliat cewek sih!” Celetuk Ditto. Sontak Rey tersadar dengan lamunannya.
“Lo ngapain ada di sini? Atau jangan-jangan, kalian sengaja ya ngejebak gue, buat ketemu nih bocah rese!” Tari menunjuk tepat ke hidung Rey, membuat cowok itu seketika bersin, dan langsung menjauhkan hidung mancungnya dari tangan Tari.
Tari bergidik, bagaimana bisa tangannya mengenai hidung Rey. Untung saja hidung cowok itu tak berdarah, atau lebih parahnya jarinya masuk ke lubang hidung Rey. Aish! Tari merasa mual membayangkan hal itu.

“Enak aja lo manggil gue bocah. Yang ada lo tuh bocah. Tuaan siapa? Gue atau lo? Hah?” Tanya Rey. Tari diam, mendadak dia menggeleng.
“Alah, cuma beda 1 hari doang, dibilang tua!”
“Ets, satu hari itu berharga, man. Biar kata beda satu detik, tetap aja gue dulu yang lahir!” Balas Rey.
“Apaan, bilang a….”
“Please deh ah! Lo berdua tuh apa nggak bisa akur sih? Gue bosen ngeliat lo berdua tuh ribut mulu. Kalau lo berdua nikah, jangan-jangan salah dikit, maen tonjok. Gila! Nggak bisa gue bayangin, man.”
Gio geleng-geleng kepala mendengar ucapan Ditto yang sangat amat benar sekali. Tari cuma diam, sedang Rey tak berkutik sama sekali. Dia sendiri saja bingung, kenapa mereka berdua nggak bisa akur. Padahal, setahunya perkenalan mereka baik-baik aja deh.
“Udah ah, kita tinggalin aja mereka di sini!” Ditto langsung menarik Gio menjauhi dua manusia itu. Tari menyesalkan kepergian Ditto, dan sekarang malah harus berhadapan dengan cowok rese ini.

Tari melirik ke dalam kafe, muda-mudi seperti mereka ramai sekali. Lampu kelap-kelip seketika membuat mata Tari kelilipan. Memang sih, dia bukan berada di diskotek, tapi tetap saja suasana ramai seperti ini, malah membuatnya pengen lari saja. Karena tak tahu harus berbuat apa, akhirnya Rey menarik gadis itu untuk duduk dengannya. Mereka sekarang duduk di salah satu bangku yang memang disiapkan oleh pemilik kafe.

Terlihat sang pemilik kafe tengah menyapa para calon pelanggannya, sambil sesekali tertawa lepas. Beberapa orang sedang berjoget, berpegang tangan, dan banyak macam lagi yang mereka lakukan. Pandangan Tari mengabur, dia mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Sungguh, dia benar-benar tak nyaman berada di sini. Tari menoleh ke arah Rey, dia menelan ludah saat melihat tatapan tajam cowok itu.

“R..Rey, bisa pindah nggak? Gue bener-bener ngerasa pusing di sini,” ucap Tari, Rey melirik sekilas, kemudian memandang ke arah lain.
“Yuk, gue juga benci tempat kaya begini.” Rey langsung menarik tangan Tari untuk pergi dari sana. Entah ke mana Rey akan membawanya, yang jelas Tari pasrah saja, daripada dia gila karena kelamaan melihat orang-orang berjoget.

Rey melepaskan tangannya saat mereka sampai di sebuah mini market. Rey masuk ke dalam, sedang Tari memilih duduk di tangga tempat itu. Dia menggosok pelan tangannya yang mulai kedinginan. Seketika Tari menyesal, karena tidak membawa jaket.
Saat dia sedang asyik menggosok telapak tangan, tiba-tiba sebuah cawan plastik, muncul di pandangannya. Tari menoleh, dan melihat Rey sedang menyodorkan kopi ke arahnya.
“Thanks.” Tari langsung mengendus pelan, kemudian menyeruput kopinya dengan ganas.
“Minumnya pelan-pelan, ntar lidah lo sakit, masih panas itu,” ucap Rey sambil meniup-niup kopinya.
Tari cuma senyum, habisnya dia bener-bener kedinginan, jadi rasa panas di kopi sama sekali tak dirasakannya.

Satu jam itu mereka berdua habiskan sekedar berceloteh ringan, seakan tak ingat bahwa keduanya adalah musuh. Bahkan Tari tak sengaja memegang tangannya pun, Rey tak peduli. Mereka berdua benar-benar larut dalam kehebohan, yang membuat satpam depan toko mulai uring-uringan, mendengar mereka berisik.

“Ternyata, lo itu asyik juga ya? Kirain kaku, tapi ternyata lo lebih lucu dibanding gue!” Ujar Rey tersenyum. Untuk pertama kalinya, Tari merasa aneh saat melihat cowok itu senyum.
“Biasa aja. Eh, kayanya udah malam deh, gue balik ya? Takut dicariin, nyokap.” Tari beranjak dari tempat duduknya, namun sayang kakinya malah terpeleset di atas tangga. “Aww! Anjay! Kaki gue!” Umpatnya. Seketika cewek itu menutup mulut, dan mulai memegang kaki kirinya.

Tari mencoba menggerakan kakinya, namun yang dirasakannya malah sakit kaya dilindas bajaj. Riwayatnya, Tari pernah sekali waktu SD dilindas bajaj, untung dia nggak kenapa-napa. Gadis itu meringis, Rey langsung berjongkok, memeriksa keadaan gadis itu.

“Ya udah, gue anterin pulang. Naik!” Seru Rey, berjongkok di depan gadis itu. Tari menatapnya bingung, apa harus Tari digendong cowok itu? Ya kali, masalahnya badan Tari nggak kurus-kurus amat.
“Nggak usah Rey. Pamali. Yang ada kaki gue sembuh, malah besoknya lo yang pincang,” ucap Tari menolak. Kasihan saja melihat Rey harus menggendongnya.
“Nggak bakalan, gue cowok. Lo tenang aja, sekarang pulangnya gue gendong. Oke!” Tari menyerah, akhirnya dia naik ke punggung cowok itu.

Rey masih berjalan menggendongnya, bahkan peluh sesekali menetes di wajah cowok itu. Tari mulai merasa tak enak, dia minta diturunkan saja, namun Rey bersikeras untuk mengantarnya sampai ke rumah. Sambil sesekali menaikkan Tari yang nyaris melorot, Rey terus bergumam hal-hal lucu. Sepertinya hidup cowok itu selalu senang, dari tadi dia ngakak terus sih.

“Rey, ternyata lo itu baik banget. Malah gue mikir, yang nggak-nggak tentang lo,” ucap Tari dengan perasaan bersalah, karena sudah memikirkan yang tidak-tidak atas cowok itu.
“Masa sih? Makanya, udah ada peribahasanya itu, jangan nilai seseorang dari luar. Yang keliatan jahat, belum tentu jahat. Lagian, mana mungkin gue ngebiarin lo jalan pincang kaya gitu!” Celetuk Rey.
“Iya, sori. Jadi, sekarang kita temenan dong nih?” Tanya Tari sambil berpegang ke pundak Rey.
“Temen doang? Nggak lebih gitu?” Pertanyaan Rey sukses membuat Tari menganga, bukan karena apa, dia cuma bingung apa maksudnya.
“Lebih apanya, Rey?”
“Nggak, abaikan!” Rey terus menggendong gadis itu, entah sejak kapan Rey merasa senang, yang jelas saat Tari mengatakan bahwa mereka berteman. Senyuman Rey langsung terukir di bibir tipisnya.

End

Cerpen Karangan: Fanny Farianty
Facebook: Fanny Farianty

Cerpen Talk Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kebahagiaan Sementara

Oleh:
Seperti biasa, aku ke sekolah dengan mengendarai angkutan umum. Aku berjalan dari rumah menuju halte tempatku biasa menunggu angkutan yang jaraknya tidak begitu jauh, “Cuaca hari ini sedikit mendung.”

Tim Hijabers VS Tim Coolest Boy

Oleh:
Pada suatu hari, hiduplah sebuah tim basket unggulan di SMPN Pengetahuan. Tim basket ini bernama Tim Coolest Boy yang beranggotakan Syakil, Antoni, Muharim, Doni, dan Orky. Mereka kelas 7-D.

Cinta Yang Kupendam

Oleh:
Wajahnya yang menyejukkan hatiku, sorot matanya yang tajam, dan senyumannya yang memesona. Dialah “A”, teman sekelasku yang kusukai. Semua ini bermula ketika aku baru masuk sekolah di SMP, lebih

Ulang Tahun Ku

Oleh:
Nama ku Bunga… namaku memang terdengar cukup aneh namun sanggat berarti, nama lengkapku Bunga Aprillia. Namun kebanyakan orang memanggilku bunga, tak apa lah toh hanya sebuah panggilan, aku baru

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *