Tanpa Kata

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Romantis, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 4 November 2017

Hujan di sore itu, menggerus hati yang tenang, membangkitkan kenangan dalam awang-awang, menunjukkan sesuatu yang hilang. Di hari dimana aku berkumpul dengan mereka yang juga memiliki tujuan yang sama, tapi entah. Segera setelah aku terpilih dan duduk di sini, ya di sini menikmati hujan setelah penat kurasa siang tadi. Aku tak mengerti mengapa kunikmati hujan pada sore itu, mungkinkah hujan membawa kenangan? Ya, tentu aku ingat betul ketika Ia, sang kekasih hatiku berbagi ruang untukku untuk berlindung dengan payung kecilnya berwarna pink. Namun kurasa sesuatu yang berbeda. Tak disangka, dengan sekejap lamunanku terpecah oleh sapaan hangat dari seseorang.

“Hai, mengapa kamu di sini? Bukankah seharusnya kita berkumpul dengan mereka? Mereka juga ingin mendengar cerita darimu, berbagi kisah denganmu” katanya yang mengajakku ke dalam aula.
“E..e.. aku sedang menikmati hujan. Katanya hujan bisa membuat bahagia pun juga membuat sedih. Aku tak tahu, Mel” balasku yang kemudian merenung kembali.

Dia adalah Amel, Amelia Kusuma, teman satu kampus juga seseorang yang mempunyai nilai tertinggi di antara teman-teman yang lain. Berbagi dengannya merupakan hal yang kusuka apalagi ketika sudah membahas tentang sinema yang kami suka. Aku pun tidak tahu apakah aku sendiri nyaman dengan kehadirannya saat hujan di sore itu.

Kunikmati lamunanku lagi. Seketika terbayang dengan kekasih yang berada di luar kota, sedang apa dia di sana, apakah juga memikirkan hal yang sama. Namun, aku merasakan hal berbeda, aku tak tahu. Sudah lama aku memiliki hubungan spesial dengan seseorang dan hubungan itu masih berjalan hingga sekarang. Entah apa yang kupikirkan saat itu, terlintas di pikiranku bahwa kekasihku memiliki seseorang yang lain, entahlah aku tidak peduli karena saat ini aku hanya mengingat hujan dan kenanganku.

“Bolehkah aku duduk di sini?” kata Amel yang sekali lagi memecahkan lamunanku.
“Boleh tentu, mengapa tidak? Tetapi di sini dingin tidak seperti di dalam sana yang hangat dan bisa kamu dapatkan dari mereka” balasku sambil menunjuk orang-orang yang ada di dalam aula.
“Tidak masalah, selagi ada seseorang di sini. Aku penasaran dengan orang itu yang seolah seperti serigala yang sendirian. Dibalik sosok yang kuat terdapat kesendirian yang mendalam” balasnya
“Serigala itu hanya ingin sendiri, serigala itu tak tahu apa yang harus dibuatnya, serigala itu mencari tempat untuk berteduh setelah berjalan jauh menyusuri hutan dan hanya sendiri…” kataku

Seketika keheningan menyelimuti kami yang berkumpul menikmati gemericik air hujan dan angin yang tidak terlalu kencang. Aku bertanya sesuatu pada diriku sendiri, akankah kenanganku bersama kekasihku itu terkenang sampai nanti atau hanya menjadi sebuah cerita yang menyakitkan. Melihat langit yang terus menyucurkan airnya, aku merasakan seolah langit juga merasakannya. Hujan di sore itu semakin deras tanpa ada satu patah kata sekalipun yang terucap dari kami. Hanya diam yang ada, hanya kenangan.

Dalam keheningan itu, aku memikirkan sesuatu yang lain, apa yang membawa Amel ke sini menemuiku di luar yang dingin. Di luar aula sangat dingin, bahkan hal itu akan membuat seseorang yang terbangun kenangannya akan semakin merasakan pahitnya kenangan. Dingin itu menusuk, semua orang membenci itu namun di sini, kami berdua bersama menikmati dingin itu. Seolah ia ingin menemani serigala yang sendirian, ya serigala itu mungkin memiliki sikap yang dingin namun jauh di dalam hatinya ia meraung dalam kesendiriannya. Aku tak tahu, apakah dia hanya ingin menikmati hujan di sore itu setelah letih dirasa siang tadi mengikuti kegiatan yang panjang atau ia juga memiliki kenangan bersama hujan. Setelah beberapa waktu berlalu…

“Maukah kamu bernyanyi bersamaku disore ini?” katanya dengan memegang gitar klasik yang dibawa oleh kelompok kami.
“Boleh, kalau memang kamu ingin menikmati hujan bersamaku mala mini” balasku
Dengan berbekal gitar klasik, dia mulai memetiknya dan nada-nada dikeluarkan.
“Apa kamu tahu lagu ini?” katanya sambil bermain gitar
“Em… aku tidak begitu tapi sepertinya pernah dengar” balasku dengan menduga-duga
“Coba dengarkan lagi…” katanya yang kemudian mulai mengeraskan suara bermain gitarnya.

Ternyata ia memainkan sebuah lagu dari band Jamrud yang berjudul Pelangi di Matamu. Aku ingat betul setelah hujan adalah pelangi. Namun lebih dari itu seperti seolah menyampaikan keheningan di antara kami berdua. Tanpa ada kata terucap.

30 menit.
Kita disini.
Tanpa suara…
Dan aku resah.
Harus menunggu lama.
Kata darimu…
Mungkin butuh kursus.
Merangkai kata.
Untuk bicara.
Dan aku benci.
Harus jujur padamu.
Tentang semua ini.

Jam dinding pun tertawa.
Karena ku hanya diam.
Dan membisu.
Ingin kumaki.
Diriku sendiri.
Yang tak berkutik di depanmu.

Ada yang lain.
Di senyummu.
Yang membuat lidahku.
Gugup tak bergerak.
Ada pelangi, di bola matamu.
Dan memaksa diri.
Untuk bilang… aku sayang padamu…

Aku pun bernyanyi bersamanya menikmati dinginnya angin di sore hari setelah hujan deras turun. Aku tak tahu apa yang ia maksud melantunkan lagu itu yang memecahkan keheningan. Aku tak tahu apa yang ia pikirkan padaku di sore itu, namun satu hal yang kupikirkan aku menikmati cerita hujan di sore itu.

Cerpen Karangan: Aldhi Wahyu Pratama
Facebook: Aldhi Wahyu Pratama

Cerpen Tanpa Kata merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangi Setelah Hujan

Oleh:
Namaku Fadara Anastasha. Semua orang sering memanggilku Dara. Aku ditakdirkan menjadi wanita yang memiliki kekurangan. Aku Lumpuh sejak lahir dan tidak akan bisa berjalan selamanya. Entah kenapa aku sangat

Deo: Pahlawan Terbesarku

Oleh:
“Teeeeeet, teeeeet, teeeet, teeeeeet…” alarm handphone milik Deo yang terdengar seperti alarm tanda bahaya seperti di film-film Hollywood menandakan sekarang sudah jam 6 pagi. Dengan mata yang masih belum

Harapan Palsu

Oleh:
Tetesan hujan yang tidak berhenti semenjak malam tadi, dinginnya udara kota Bandung yang harus diterjang oleh Anna, seorang janda muda dengan anaknya yang bernama Ibnu yang berusia 2 tahun.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *