Teru Teru Bozu Si Boneka Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perpisahan, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 22 January 2018

Hujan kali ini kembali menguyur stasiun. Membuat beberapa masalah dengan becek di lantai-lantainya. Beberapa orang yang sebelumnya menunggu di depan mulai mundur menjauhi cipratan air hujan. Salah satunya dirinya yang kini terduduk lesu di bangku stasiun. Tangannya memegang sebuah kuas dan benda putih. Benda terakhir dari laki-laki itu sebelum kereta tujuan Bandung membawanya pergi.

Hampa. Dadanya sesak tak sanggup membendung air matanya yang mulai berjatuhan. Seperti baru saja kemarin mereka mengakrabkan diri, tapi waktu dengan kejam membawa laki-laki itu pergi.

Disaksikan hujan, badannya bergetar. Memorinya mengulang kenangannya dulu. Kenangan akan lelaki itu yang menghinggapi hidupnya. Sangat singkat.

Entah apa yang terjadi. Tapi semenjak kejadian itu, semuanya berbeda. Semuanya berubah. Karin merasakan ada sedikit simpati di mata lelaki itu. Ya, kakak kelasnya. Nathan. Bagai sebuah keajaiban, laki-laki itu yang dulunya sangat mustahil untuk ia gapai, sekarang bisa berdiri bersisian dengannya. Sama-sama menunggu hujan berhenti.

“Bagaimana dengan liburanmu kemarin? Apa yang kau lakukan?” tanyanya tanpa basa-basi seperti biasa. Ia mengerti laki-laki itu selalu saja bernada sarkastis ketika bicara. Tapi itu yang membuatnya berbeda. Walaupun begitu, ia tak benar-benar begitu. Entahlah, bingung untuk mengutarakannya. Tapi kira-kira seperti itulah yang bisa ia diskripsikan tentangnya.

Karin tersenyum. Titik-titik hujan semakin menderas, membuat nada-nada yang terdengar aneh ketika menabrak atap seng halte.

“Biasa. Hanya menghabiskan waktu dengan menulis cerpen. Kalau kakak?” tanya Karin balik tanpa menoleh. Untuk situasi sedekat ini ia benar-benar tak sanggup menoleh. Bisa saja matanya ini akan berkaca-kaca dan masih tak habis fikir, bagaimana bisa ia berada sedekat ini dengan orang yang ia kagumi satu tahun yang lalu? Masih tidak bisa dipercaya.

“Ehm, tidak melakukan apa-apa. Liburan yang membosankan menurutku. Dan aku menghabiskannya untuk mengambar.” Kali ini laki-laki itu menoleh. Karin tahu dari sudut matanya. Tapi ia tak mau menoleh.

Karin mengangguk-angguk mengerti. Setelah itu terjadi keheningan yang cukup lama. cukup untuk merasakan aura dingin suasana dan dinginnya hujan menyentuh kulitnya.

“Uhm, ngomong-ngomong, kakak jadi ambil kuliah di mana?” tanya Karin memecahkan hening. Matanya menatap lurus jalanan yang basah dan beberapa pengendara sepeda motor yang memacu kencang kendaraan sembari mengunakan mantel membelah hujan.

“Di Bandung. Aku tidak tahu nama fakultasnya apa. Kakakku tinggal di sana. Jadi aku akan kuliah di sana karena kakakku yang akan membiayayiku nanti.” Ucapnya singkat. Karin yang mendengar hanya bisa menghela napas panjang dan bergumam, “Oh,”

Nathan menoleh. “Ada apa?” tanyanya. Karin memberanikan diri menatap laki-laki itu. Seulas senyum terkembang di wajahnya.

“Tidak apa-apa. Mau ambil jurusan seni?” tanyanya kembali ceria seperti biasa. Bukan hal baik kalau laki-laki itu mengetahui kegelisahannya. Nathan mengeleng tegas.

“Kata siapa?” wajahnya yang datar tanpa ekspresi menyudutkan dirinya yang serasa seperti gadis yang sok tahu. Karin mengalihkan pandangannya. Wajahnya bersemu malu.

Tiba-tiba suara keras menggelegar membuatnya menoleh. Laki-laki itu tertawa. Wajah Karin semakin merona. Ini pertama kalinya ia melihat kakak kelasnya ini tertawa setelah setiap hari yang ia tunjukkan adalah ekspresi dinginnya.

“Hahaha, aku bercanda.” Nathan mengusap sedikit air matanya yang keluar karena tertawa sedemikian rupa. Karin mendengus. Tawanya yang menggelegar berubah menjadi senyuman manis yang lagi-lagi baru saja Karin tahu. Ini sih ultrarejeki hehehe.

“Tapi kata-kataku tadi itu tidak. Aku tidak mengambil jurusan seni atau apapun yang berhubungan dengan itu. Tapi aku mengambil jurusan management.” Ungkapan Nathan barusan membuat Karin mengangkat alisnya tak percaya.

“Loh kok bisa?” hampir-hampir saja ia ingin tertawa. Ekspresi laki-laki itu yang merasa teremehkan membuat Karin kelepasan tertawa sampai terpingkal-pingkal.

Nathan mendengus. “Cita-citaku dari dulu adalah menjadi bos di sebuah perusahaan. Jadi ya wajar saja kalau aku mengambil jurusan management. Sementara mengambar itu adalah hobiku. Bukan masa depanku.”

Karin mengangguk. “Ya, kita memang tidak pernah tahu masa depan kita sendiri itu seperti apa. Memang kita sendiri yang merencanakannya. Tapi, untuk terwujudnya, hanya Tuhan yang bisa.”

“Yup. Oh ya, aku boleh minta tolong Rin?” Nathan mengobrak-abrik isi tasnya mencari sesuatu. Karin mengangguk menyanggupi.
“Ya, apa saja.”
“Ini dia.” Nathan mengeluarkan sebuah kuas usang dari dalam tas dan mengacungkannya ke arah Karin. Karin menerimanya dan mengerutkan alis tak mengerti.

“Sudah aku cari ke mana-mana. Tapi tetap saja tidak ada. Bisa tolong carikan. Nanti uangnya aku ganti?” Nathan mengulurkan kuas miliknya sembari menyunggingkan senyum lebar yang sesaat membuat Karin tak dapat mengerjap.

“Iya nanti kucoba.”
“Terima kasih.” Karin mengangguk.

Matanya teralihkan menatap jalan. Hujan sudah mulai berhenti.

“Sudah berhenti. Kakak tidak mau pulang?” Nathan mengangguk.
“Ya tentu saja.”

Kenangan itu melekat manis di kepala Karin sampai sekarang. Ia menatap kuas usang itu dan memutar-mutarya. Bibirnya tersenyum. sementara benda putih di sampingnya, itu adalah pemberian dari Nathan beberapa menit yang lalu. sebelum tubuhnya menghilang di dalam gerbong kereta.

“Terima kasih sudah mengantarku Rin.” Ucap Nathan dengan tulus. Karin hanya mengangguk. Nathan tertawa.
“Jangan bersedih seperti itu. Kapan-kapan aku akan ke sini lagi.” katanya kembali sambil mengacak-acak rambut Karin. Karin mberengut. Apatis dengan kelakuaan kakak kelasnya itu. Jika saja laki-laki itu tahu, kejadian semacam inilah yang tidak ingin ia temui. Perpisahan seperti ini, membuat hatinya patah.

“Mendungnya sangat hitam. Pasti sebentar lagi hujan lebat.” Nathan mendongak menatap langit. Ia ingat sesuatu dan merogoh tasnya mengeluarkan sebuah sapu tangan dan benang dari dalamnya.

“Karin coba lihat.” awalnya ia yang tidak ingin memandang laki-laki itu lama, mau tak mau Karin menoleh dan menemukan laki-laki itu sudah mengenggam sebuah kain dan benang putih.

“Mau apa?”

Nathan tersenyum. “Aku tidak mau hari ini hujan. Orang-orang Jepang selalu mengunakan ini untuk menangkal hujan.” Karin masih tidak mengerti.

“Jadi begini,” laki-laki itu mulai sibuk membuat sesuatu dan setelah berhasil, ia menunjukkannya pada Karin.

“Ini namanya boneka Teru Teru Bozu. Simple. Tapi untuk bisa menangkal hujan atau tidaknya sih aku tidak tahu. Ini buat kamu saja. Sebentar lagi keretaku datang. kamu akan menjadi bahan percobaanku. Jika di sini nanti tak hujan, berarti boneka ini manjur.” Nathan nyengir meneyerahkan boneka itu pada Karin. Seulas senyum mengembang di bibirnya.

Sementara itu, sebuah pengeras suara yang mengumukan kedatangan kereta jurusan Bandung menggema di stasiun. Nathan segera siap-siap untuk masuk ke gerbong. Tak banyak yang dibawa oleh laki-laki itu. Hanya tas besar yang ada di punggungnya.

“Ah Rin, aku pergi dulu yah. Jangan nakal di SMA!” pesannya sebelum akhirnya masuk ke gerbong dan melambaikan tangan perpisahan. Sudah seperti itu sajakan? Apa laki-laki itu mempunyai perasaan yang sama seperti dirinya?

Karin kembali mengulas senyum. Bodoh. Ternyata boneka ini hanya mitos. Hujan tetap tanpa ampun membanjir.

Jika saja boneka ini benar-benar bisa menangkal hujan, bisakah dia menangkal perasaanku padamu dikala hujan kak?

Hujan sudah mereda. Karin bangkit dari bangkunya dan memebersihkan kotoran yang menempel di celana jeansnya. Kakinya melangkah pergi. Membiarkan separuh hatinya yang tertinggal. Air matanya hendak meluncur keluar, tapi ia tahan.

Tidak, aku akan menunggu.

Porong, 12 Januari 2017
Tsuyirika Piyorin

Cerpen Karangan: I’ir Hikmatul Choiro
Facebook: I’ir Hikmatul Choiro
Hai, bisa bertemu aku di fb: I’ir Hikmatul Choiro ig: @tsuyirika_piyorin wattpad: @tsuyirika_piyorin
terima kasih^^

Cerpen Teru Teru Bozu Si Boneka Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Izinkan Aku Mencintainya (Part 2)

Oleh:
Lalu ku buka kedua mataku. Aku sangat takjub begitu melihat apa yang ada di depanku. Sebuah rumah pohon yang dihiasi bunga-bunga merah, putih, pink, kuning, hitam. Eitz… bunga warna

Cinta Hewan

Oleh:
“Halo teman-teman, perkenalkan nama saya Kurnia Citra Inggriani. Dulu, teman-teman SMP ku memanggil Kucing. Gapapa kok kalau kalian ingin memanggilku Kucing.” orang itu murid baru, pindahan SMPN Mutiara. Ia

Siti Oh Siti

Oleh:
Setelah mengantarkan majikannya, Bu Puspita, ke sebuah pusat perbelajaan besar di Jakarta, Eko kembali ke rumah seperti biasa. Tetapi, sesampainya Eko di rumah, rumah itu kosong. Sepertinya Mbok Jum,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *