Thanks Miko (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 16 March 2014

Aku masih memandangi wajah miko, yang sedikit lebab di pinggir matanya yang aku tampar tadi. Tapi hal membuatku mengalihkan lamunanku ketika tiba-tiba saus di burger miko menempel di hidungnya, dan nampak berantakan. Aku tersenyum dan sedikit tertawa.
“My I help U sir?” sedikit bercanda aku memegang tangan Miko dan mengajarinya cara memegang burger yang benar. Aku tak tau saat itu aku benar-benar larut dalam kisah ini. Aku melupakan Dio kekasihku, masalah ortuku semuanya, dan disinilah aku bisa tersenyum, dengan Miko, temanku, ya sekedar temanku.

“Eh kuda lumping, ceritakan kisahmu” aku menagih janjinya.
“Aku sama sepertimu, Cuma kita berbeda antara orang serba punya dengan orang yang cukup seperti aku” Miko memulai ceritanya.
“huh, aku sama, punya kekasih ehmm bukan, temen, tapi udah sangat deket, cewek, aku begitu menyayanginya, semua aku lakukan untuk membuatnya bisa mengerti betapa aku menyayanginya. Tapi waktu tidak bisa berbohong Mel, dia meninggalkanku demi seorang cowok yang mungkin lebih segalanya daripada aku, ortunya sempat marah sama dia, karena ortunya menghargai aku sebagai seorang cowok yang berani berbicara langsung dengan orang tuanya. Dan itu tidak ditemui di cowok lain. Dan aku…” belum selesai, aku memotongnya.
“Kesimpulannya aja kuda lumping.. kamu punya pacar nggak hahahaha” ejekku.
“Bukane ora due mel, tapi urung due”. Miko menjawab
“berati kamu sesok arep golek cewek gitu?” bahasaku pun masih ngelantur. Kami pun terlarut dalam canda tawa saling ejek dan kadang sedikit serius.

Tiba-tiba.. Kwingkwingkwingkwing… kwing kring.. Dio menelponku
“Hallo”
“Beb, besok aku ada libur, sore kita makan ya, besok aku jemput kamu di kos ya, jam 8 malam. OK?” Dio menyahut.
“E.. ee..eee iya beb.. besok aku tunggu kamu di kos ku. Beliin coklat kesukaanku ya.” Jawabku.
“Siap sayang, kamu lagi dimana?”
“E.ee.ee lagi cari makan di Amplaz beb..”
“Hahah.. ya dah beb.. met apa aja ya mmuuaacchh”
Dio menutup telponnya. Aku tau dia masih mencintaiku. Entahlah aku bingung di situasi seperti ini.

“ehmm.. Mel, udah malam, mari kita pulang!”. Miko mengajak
“bentar Miko.. aku mohon, jangan inbox aku, dan jangan sms aku untuk besok, tunggulah aku sms kamu, aku takut, Dio tahu hal ini” pintaku.
“Oh.. ora po po, sante wae.. kita kan teman, aku jaga rahasiamu ndut, santai aja” jawab Miko.

Dan malam itu aku dan Miko berpisah. Karena aku dan Miko membawa motor sendiri sendiri.
“Mel, duluan ya.. hati-hati pulangnya..” Miko pamit
“Iya, hati-hati miko”. sahutku.
Drudut.. drrruuudut.. drruuut.. drruuuutt. tiba-tiba motorku tidak bisa dihidupkan.
“hah.. ada apa dengan kuda besi ini, perasaan bensin masih penuh”
Druudutt.. druudut..
“aduh sialan..” kesalku.. sambil menendang ban motor
“May I Help U madam?” suara datang dari belakang.
“Miko..? aku kira kamu udah duluan tadi”. Sambutku gembira
“Dasar beruang gendut, apakah kamu kira aku sejahat itu, setega itu sama kamu? Aku tadi cuma muter area ini dan berada tepat di belakangmu. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian, karena seorang tuan putri tak pantas berjalan sendirian..” Miko menjawab.
Aku belum pernah menemui cowok yang begitu perhatian, aku belum pernah menemui dalam hidupku. Dia temanku, Miko.
“Mari kita cek, tadi aku dengar kamu ngomong bensin masih, otomatis tidak ada masalah di karburator, so.. bahan bakar ok, apa yang dibutuhkan untuk menyalakan bahan bakar?” Miko tersenyum.
“Percikan api Pak Guruuu.” Aku pun tersenyum.
“ow.. percikan api dihasilkan dari busi, apa mungkin busiku yang mati?” aku melanjutkan.
Aku pun mulai mengecek dibantu Miko yang memancal pedal stater dan aku yang menempelkan busi ke besi mesin.. dan benar tidak ada percikan api.
“Oh Tuhan, aku tidak bawa busi cadangan” gumamku.
“Pake aja punyaku, masih baru, aku menggantinya kemarin”. Miko menyahut.
“Hah, bagaimana kamu pulang Miko?”. Aku menjawab
“Aku punya cadangannya, cukup untuk beberapa mil sebelum benar-benar mati.. hihihi..” Miko nyengir.
Aku gak tau ternyata Miko tau sedikit banyak tentang motor, saat aku tanya ia cuma menjawab, “Tidak ada yang perlu kita sombongkan dari apa yang kita miliki Mel”.
Sesosok teman yang memberi warna dan rasa dalam hidupku, persahabatan dan cinta mungkin inilah yang lebih tepat. Kami pun pulang, Miko tetap di belakangku untuk memastikan aku sampai di kos dengan selamat.
Besok aku harus bertemu Dio, kekasihku yang sebenarnya, Thanks Miko untuk malam ini.

Tin tin. tin tiinn..
Honda Jazz hitam milik Dio sudah terparkir di depan kos, dan aku pun siap berangkat untuk malam ini, tentunya dengan gaun indah karena acara makan malam ini pasti sangat mewah.
“Kita makan malam dimana, sayang?” tanyaku ceria, ya meskipun sama-sama di Jogja, tapi kita jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.
“Ke tempat spesial, beb, nanti kamu tau sendiri kok. Nikmatin aja!” sambil menyulut rok*k Dio mulai menyalakan mobilnya.
“Sayang, kamu ngerok*k? Sejak kapan?”
“Ehh.. sekedar penghilang stress di Kuliah beb”.
“Bukanya kita berjanji, senakal apapun kita, kita hindari rok*k, mir*s dan free s*x beb, itu komitmen kita, orangtua kita juga udah tau beb”. aku mulai keheranan dengan sifat Dio yang berubah.
Dio tidak menjawab dan mengalihkan pembicaraan.

Selang beberapa menit, tibalah kami di tempat yang tidak mirip sama sekali dengan rumah makan ataupun sejenisnya.
“Sayang, bukannya kita mau makan malam?” aku heran.
“Ya sayang mari kita bersenang-senang dulu!”
“apa maksudmu Dio?”
“Ayo lah sayang kita nikmati malam ini!”. Dio menyeret tanganku, dan aku sadar tempat yang dituju Dio adalah Hotel, dia bermaksud mengajakku melakukan perbuatan kotor, dan ternyata Dio sudah mabuk sejak menjemputku tadi.
Aku pun memberontak.
“Lepaskan aku Dio..Lepasskkaaan” Aku memberontak sekuat tenaga.
Plaaakkk.. Dio menamparku, dan membuatku tersungkur di jalan,
“Ayo masuk.” Suara Dio mengancam
“Kamu bukan Dio yang aku kenal, dan aku menyesal mengenalmu selama ini, aku ke Jogja untuk menemuimu, untuk loe lindungi bukan untuk loe rusak. Loe bukan bagian dari gue lagi.” Aku menangis dan masih memeganggi pipiku yang panas karena tamparan itu.
“Orangtua kita udah sepakat, dan gak ada yang bisa melarang kita hiahaha, dan kamu milikku malam ini” tawa jahat Dio memenuhi telingaku.
“Aku tidak akan menjadi milikmu, Anj*ng..” sambil meludahi muka Dio, aku bangkit dan berlari, meyusuri gang demi gang ditemani hujan turun yang semakin deras. Dio masih mengejarku, aku beruntung karena Dio sudah dalam kondisi mabuk, sehingga berkali-kali terjatuh mengejarku.
“Mikooooo”. Aku menangis dan berteriak memanggil Miko berharap dia menolongku malam ini. Aku terus berlari dan aku tidak tau kemana aku berlari, kemana arahku karena 2,5 bulan tidak cukup untuk menghafal seluruh jalan di Jogja.

Melihat Dio sudah menjauh dariku, aku pun memelankan lariku, aku terjatuh dan tersungkur di sebuah gang sempit. Hujan masih turun dengan derasnya seolah-olah setia menemani rasa sakitku. Aku membuka Hpku dengan tangan dan luka-luka kecil goresan yang berdarah karena terjatuh di jalan, dan aku ketikkan KERINCI 46 lalu aku kirimkan ke nomor Miko, aku berharap Miko bisa tahu bahwa aku berada di dekat tulisan Kerinci nomor 46, aku tidak tau itu apa. Dan aku pun tak sadarkan diri.

Jika kau menjadi istriku nanti..
Pahami aku, saat menangis.. wo u woo
Jika kau menjadi istriku nanri..
Jangan, pernah berhenti memilikiku
Hingga ujung waktu..

Terdengar seorang cewek menyanyikan lagu masa kecilku, aku mulai membuka mata, terlihat sama-samar seorang cewek dengan rambut lurus dikepang sedang menyanyikannya dengan lirih. Suara burung berkicau menambah meriah, dan tembusan sinar matahari menyilaukan mataku.
“Dddiiimana aku”. Tanyaku lirih. Sembari bermaksud bangun dari tidurku.
“Kak, pelan-pelan. Biarkan obatnya bekerja.”
“Kak Amel berada di kos ku” lanjutnya.
“Siapa kamu? Dan kenapa aku disini?” tanyaku pada cewek itu.
“Aku Annisa Putri kak, aku adiknya kak Jadmiko!” cewek itu polos dan tersenyum.
“Kakak tadi malam tersungkur di dekat tempat aku PKL, di depan sebuah taman kana-kanak KERINCI, nomor 46. Ingat?”. Nisa menjelaskan sambil menyodorkan segelas teh hangat yang lagsung aku minum.
“Ya, aku ingat.. apakah Miko…” belum sempat aku bicara, Nisa memotongnya.
“Tadi malam kak Jadmiko memang sengaja main ke tempat kosku, biasa mengantar makanan, itu kebiasaan kak Jadmiko di malam minggu selama aku PKL, kebetulan waktu itu hujan deras, sehingga kak Jadmiko memutuskan untuk menunggu hujan sedikit reda, tiba-tiba

[flash back]
“Amelia… KERINCI 46, apa maksdunya..?”
“Nisa, apa yang berhubungan dengan KERINCI 46” kak Miko bertanya
“eehmm.. apa ya kak” aku masih bingung
“NISA, CEPAT KITA NGGAK PUNYA WAKTU BANYAK” kak miko membentak, sepertinya kak Miko ngerasa ada yang gak beres dengan sms dari kak Amelia.
“Kak, setahuku itu nama sebuah Taman Kanak-kanak sebelah utara tempat aku PKL kak”. Aku ingat karena waktu itu aku sempat lewat dan melihat plakat berwarna hijau di dekat ayunan.
“Bawa aku kesana secepatnya, jalan tercepat”. Perintah kak Miko

Akhirnya aku membonceng kak Miko dan menunjukkan jalan tercepat yang biasa aku lalui dengan sepeda motor saat berangkat PKL. Dan disitulah kami temukan kan Amelia dengan kondisi badan membiru dan wajah memar. Dan kami bawa ke kos ku. Aku berikan handuk dan suruh kak Miko untuk keluar mencari obat di apotek seberang jalan. Aku gantikan pakaian kan Amel dengan pakaianku, dan ternyata pas. Kami berikan obat rujukan dari apotek.

[now]
“Dan, kak Jadmiko tidur di luar, di kursi depan kamar ini, sementara aku di dalam menemani kak Amelia” jelas Nisa
“Lalu dimana Miko sekarang?” tanyaku
“Dia berangkat kerja minggu ini dia ada tugas sampingan di Magelang kak!” jawabnya.
“Apakah nanti dia kesini lagi nisa?” tanyaku
“Iya, nanti dia kesini lagi kak” jawabnya polos.

Kami pun asyik bercerita, dan ternyata Jadmiko dan Nisa berasal dari Gunungkidul, sebuah Kabupaten di Provinsi Yogyakarta. Nisa lebih muda 1 tahun dari aku, dia sekarang kelas 2 SMK dan sedang PKL di daerah Jogja juga. Sementara Jadmiko sebelumnya bekerja di bengkel motor di daerah wonosari dan sekarang dia adalah admin bagian keuangan yang merangkap sebagai pemborong proyek. Nisa bercerita banyak hal tentang Jadmiko, semuanya.

Setelah sholat Magrib..
Tok. tok. tok..
“Assalamu’alaikum.. Nisaa”
“Wa’alaikumussalam, ya kak bentar. Sepertinya kak Jadmiko datang kak, bentar ya?” Nisa menjawab.
“Malam semuanya, udah makan.. Nisa, ada nasi goreng kesukaanmu!”
“woooww… ndi timune timune mas, iwake eneng ra?” logat bahasa jawa Nisa yang sedikit aku paham.
“Iwake mbeleh dewe nengomah (ayamnya nyembelih sendiri di rumah)”. canda Miko memecah kesunyian malam itu.
“Heeiii.. beruang kutub, kamu dah bangun ya.. ka chaaawww..” ledek Miko.
“Arrggghhh.. auauauauauau.. kamu gak tau ya aku lagi sakit.. hah..”. Aku membalas,

Nisa pun keluar dan menggambil piring untuk kita makan bersama.
“ehmm Miko..”
“Ya” Miko yang saat itu sedang menunduk membuka nasi goreng pun menoleh menyambut panggilanku

Emm… tanpa pikir panjang aku tambatkan bibirku di bibir miko, aku.. aku pejamkan mata dan ya.. aku menciumnya.. aku mencium bibirnya.. kau telah merubah duniaku Miko, aku tak peduli dengan ceritamu, aku tak peduli dengan latar belakangmu, seperti katamu, bahagia itu tergantung bagaimana kita memposisikannya..
“Mell.. kamu?”
“a.a.aa..aa… maaaff Miko maa maam maaf..” aku menunduk malu.
“hemmm..emm.” Miko hanya tersenyum kecil
“hahahaa.. hem.. ow iya.. nih, hp kamu dah jadi. Tadi malam kena air, jadi harus diservis dulu..” terus Miko
“Tapi.. aku ndak punya uang untuk menggantinya Ko, uang aku, tertinggal di mobil Dio”. Sahutku
“Dio?” tanyanya
“Ia, dia pacarku, tapi lebih pantas disebut anj*ng…”. aku pun menceritakan kisahku tadi malam.

Teng. teng. trenteng.. Sendok yang dipake Nisa terjatuh karena Nisa pun tertegun mendengar ceritaku. Seolah mereka tek percaya. Tapi itulah kenyataannya.
“Sebenarnya Dio gak Cuma 1 atau 2 kali mengajakku melakukan itu, tapi aku selalu menolaknya. Dan saat di Jogja, saat aku jauh dari orangtuaku, Dio memanfaatkannya”.
“Hem.. dasar cowok kurang ajar itu kak”. Nisa menyahut.
“Healah.. selesain dulu makanmu..” tangkas Miko.
“Ow iya kak.. masalah hp itu gak usah diganti, yang penting sekarang udah bisa dipake, trus bentar…” Nisa mengambil sesuatu.
“Ini dompet kakak, aku menemukannya di selokan waktu aku keluar tadi. Mungkin seseorang membuangnya. Amelia Swas Goodiya. Atm dan semuanya masih utuh. Tapi uangnya gak ada kak” Nisa menyodorkan dompetku.
“Mungkin Dio membuangnya..” aku pun menangis dan aku istirahat untuk malam yang kedua bersama Nisa dan Miko, tapi Miko seperti malam kemarin, dia tidur di luar dengan selimut kecilnya. Selamat malam Nisa, selamat malam Miko.

4 hari sudah aku numpang di tempat Nisa, dan aku berpamitan serta berterimakasih kepada Nisa dan Miko untuk kembali ke kos, karena aku harus menyelesaikan PKL ku yang tersisa 2 hari lagi. Nisa mengantarku sampai tempat kos ku.
Aku mengambil sisa uangku di ATM dan masih ada uang 2,5 juta. Aku rasa aku cukup berhemat bulan ini. Aku membeli tiket pesawat untuk balik ke Jakarta 3 hari lagi. Dan masih ada cukup uang untuk jajanku

Tutt.. tutt
“hallo mah”
“Mel, uangnya masih nggak nanti mamah transfer 5 juta cukup nggak?”
“Masih mah, cukup untuk 3 hari dan aku pulang mah”
“Gimana Dio Mel, OK?”
“Eee.. Mah.. jangan sebut nama anj*ng di telingaku mah.. aku akan pulang dan aku kan cerita mah..”
“Kenapa sayang.. ok.. right, mama tunggu kedatanganmu sayang..”
“ya mama”
Tut tut tutut

“Miko.. semuanya menjadi baik karenamu. Tuhan selalu mendampingimu. Miko aku tak tau bagaimana caraku berterimakasih padamu atas semua ini. Kamu mengajarkanku tentang arti bahagia yang sebenarnya, tentang arti persahabatan dan cinta. Aku akan menulis kisah ini dalam buku harianku dan akan aku simpan sebagai kenangan terindah. Heemm, Miko, hari ini aku pulang ke Bekasi, dan aku sengaja tidak sms atau telpon kamu, aku takut mengganggu pekerjaanmu. Jam 3.15pm pesawat berangkat. Sampai jumpa kawan, di lain waktu.. Beruang gendut tidak akan melupanan kuda lumping.. hihihi.
Aku mengirimkan inbox ke FB Miko, tempat dimana pertama aku mengenalnya.

Saat ini di bandara Adisucpto jam sudah menunjukkan pukul 2.45pm. setengah jam lagi waktu untuk bisa melihat indahnya kota Jogja dengan kisahnya. Serasa tak ingin pulang. Tapi aku harus pulang menceritakan kisahku pada papa mama dan kisah si anj*ng busuk Dio.
“AMEEEEELLL”
“KAK AMEELLL”
Terdengar suara memanggilku dari kejauhan. Ooo my God. Miko dan Nisa.
“Mikoo..” aku terharu Miko ada di depanku..
“aheh aheehh aheehh.. eh beruang gendut.. nih.. jangan lupakan kami ya..?” Miko memberikan boneka kecil berbentuk beruang kutub putih dan bentukknya lucu.
“Kak Amel.. kalau ada waktu libur.. jangan lupa ke Jogja ya.. Jogja With Love hahaha” kata Nisa
Hahahahaha kami pun berpamitan, aku memeluk Nisa dan bersalaman dengan Miko.

Pesawat pun mulai terbang dan aku masih melihat lambaian tangan Nisa di bawah sana. Thanks Miko, Thanks Nisa. Kisah ini tidak akan hilang dalam sejarah hidupku.. kisahku di usia 17 tahun.

Akhirnya, aku lulus dari SMK sebagai juara 1 umum tingkat sekolah. Banyak perubahan yang terjadi setelah aku dari jogja. Teman-temanku mulai enjoy denganku dan aku pun tidak lagi kasar seperti dulu. Sementara Miko, ya.. dia sudah jarang nongol di FB, mungkin kesibukannya, tapi aku yakin dia tidak melupakan kisahku.

“Mel, di pesta kelulusanmu ini, ada 1 hal yang ingin mamah tanyakan.” Mamahku
“Ehemm.. apa ma?”
“Kerena kamu berhasil menjadi juara 1, mama dan papa memutuskan untuk memberimu kebebasan dalam memilih study lanjutan atau kuliah. Kamu ingin kuliah dimana?”
“JOGJAKARTAAAAA MAMA” aku bertiriak tak peduli dengan pesta keberhasilanku.

TAMAT

Cerpen Karangan: Deden Sutrisna
Facebook: Sutrisna Deden
Saya Deden Sutrsina, Asli Yogyakarta. Punya mimpi suatu saat punya buku hasil karya sendiri

Cerpen Thanks Miko (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Telah Ingkar Janji

Oleh:
Namaku Syifa, aku anak pertama dari 4 bersaudara. Aku punya sahabat bernama Dilla. Meskipun kami bersahabat di akhir sekolah saat SD dulu. Dilla pernah cerita kalau dia suka dengan

Selamat Tinggal

Oleh:
Aku sungguh bersemangat saat ibu berkata bahwa aku harus pindah sekolah. Ini pertama kalinya aku harus pindah sekolah. Bayangkan saja, dari aku TK sampai aku SMA kelas satu, aku

Tentang Kita

Oleh:
Saat pertama bertemu, aku tidak pernah berpikir akan seakrab dan sedekat ini dengan mereka. Mulanya semua sama seperti teman yang biasa aku temui. Tapi.. entah apa yang membuat diri

Aku, Kamu dan Kenangan

Oleh:
Indonesia… negeri kaya dengan dua musim. Musim hujan dan musim kemarau. tak ada musim yang paling ku sukai. Musim kemarau aku benci debunya. Musim hujan aku benci petirnya. Tapi

Ketika Hati Harus Memilih

Oleh:
Matahari senja menyapa seakan ingin membangunkanku. Dengan enggan ku buka selimut yang melingkar di tubuhku perlahan-lahan. Lalu ku gosok kedua mataku sembari menatap jam yang tergantung di dinding kamarku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *