The First Sun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 22 May 2015

Matahari baru saja menampakan dirinya di ufuk timur. Namun, seseorang yang selalu mengaguminya telah ada sejak tadi. Ia adalah seorang gadis remaja berparas cantik dan polos. Flora namanya, ia sangat mencintai matahari, mulai dari sunrise, sunset, bahkan sunflowers

Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, ia selalu menyempatkan dirinya untuk pergi ke sebuah danau, untuk melihat matahari terbit dan tenggelam di tempat yang sama.

Ia tidak pernah bicara pada siapapun. Bahkan ia tidak akan bicara jika tidak terlalu penting. Teman-teman sekolahnya enggan berteman dengan dirinya karena ia dianggap sebagai perempuan aneh tak bersuara.

Namun, hari ini hari minggu, ia tidak perlu pergi ke sekolah yang selalu mengasingkan dirinya. Ia bebas menari-nari di pinggir danau sampai sore. Disaat orang-orang sibuk berolahraga di taman kota dekat danau ini, Flora malah asyik menari-nari sambil membawa 2 tangkai bunga matahari yang baru saja dipetiknya dari halaman belakang rumahnya.

Entah mengapa ia selalu senang melakukan ini, ia selalu bermimpi agar bisa menyentuh matahari. Bukan matahari asli, tapi matahari yang dapat menyinari dan menghangatkan kehidupannya. Seperti matahari di langit yang selalu memberinya kesenangan tersendiri.

Detik demi detik berlalu, namun matahari yang seharusnya makin tinggi, kini menghilang tertutup awan hitam yang hendak mengguyur bumi.
Butiran butiran air hujan mulai menetes, membuat semua orang pergi berteduh ke suatu tempat.

Flora mendongak, mencoba menatap langit, “kemana matahari?” Tanyanya kecewa. Ia sangat membenci hujan, karena baginya hujan selalu membuat mataharinya pergi.

Flora baru saja akan pergi berteduh seperti yang orang lain lakukan saat tahu-tahu sebuah payung memayunginya dari belakang tanpa terduga. Langkahnya tertahan begitu saja. Flora hanya diam dan tak mencoba mencari tahu siapa orang yang memberinya sebuah payung berwarna biru langit itu.

“Hei”

Flora menolehkan kepalanya ke arah suara yang menyapanya tadi. kerutan di keningnya bertambah saat mendapati seorang cowok yang tak pernah ia kenal hadir di hadapannya.
Cowok itu tersenyum ramah, namun Flora? Ia malah pergi tanpa ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.

Ya, Flora menghindar. Menghindar untuk berbicara, menghindar untuk bersosialisasi, menghindar untuk mengenal seseorang itu lebih jauh, dan menghindar akan sakit hati nantinya jika seseorang itu akan meledeknya seperti yang orang lain lakukan. Flora tidak ingin mengenal siapapun, bahkan di dunia ini ia hanya mengenal beberapa orang saja. Ia tidak akan merasa kesepian selagi matahari masih mau menyinari bumi.

Namun, selama Flora melangkah lebih jauh untuk menghindar dari cowok yang ia tak kenal dan tak ingin ia kenal, cowok itu terus berada di belakangnya.. Mencoba mengikutinya, tapi.. Apa yang dia inginkan?

Langkah Flora tiba-tiba terhenti menyadari ada seseorang membuntutinya terus menerus, ia menoleh, dan dilihatnya seseorang yang menawarkan payung biru tadi.

“Hei” sapanya lagi. Ia mengulurkan tangan kanan, dan tangan kirinya tetap memegang payung. Flora melirik ke arah tangan yang mengharapkan jabatan tangannya, tapi tak sedikitpun Flora tertarik untuk berkenalan.

“Nama lo siapa? Gue Arga!” Lanjutnya. Flora tetap diam mematung dan tak ada tanda-tanda ia akan berkata sesuatu. Badannya yang basah terkena air hujan membuatnya menggigil kedinginan, ia ingin segera pulang namun entah kenapa hatinya ingin tetap berada disini.

“Nih pake!” Arga memberikan payung yang terkembang itu pada Flora, dan lagi-lagi Flora diam layaknya orang bisu. Sunyi sejenak, Flora diam begitupun Arga. Mereka saling tatap namun tak ada yang berbicara.

“Gak perlu!” Akhirnya Flora berbicara, walau hanya dua kata tak menyenangkan dan dengan nada sederhana.

“Udah gak apa-apa.” Balas Arga ramah. Ia mengambil tangan kanan Flora dan membiarkan payung biru miliknya dipegang oleh Flora, berharap Flora mau memakai payung itu dan berkenalan dengannya.

Ya.. Untuk pertama kalinya Flora mau menerima kebaikan seseorang. Ia memegang payung itu dengan kaku, dan sedikit grogi. Itu wajar, karena Flora belum pernah berperilaku seperti ini.

“Hmm, lo belum jawab nama lo siapa..?!” Terlihat sebuah rasa penasaran mendalam terbesit di kedua bola mata Arga. Ia tersenyum tulus, dan Flora hanya menekuk wajahnya lalu berlari pulang ke rumah dengan membawa payung biru yang masih berada di tangannya.

Bagi Flora, apalah arti sebuah perkenalan jika perpisahan bisa datang kapan saja. Ini salah satu alasan juga mengapa ia tidak ingin mengenal banyak orang, karena jika seseorang itu pergi, akan terasa sakit bukan?

Suara langkah kaki yang berjalan begitu santai mengiringi perjalanan Flora menyusuri koridor sekolah. Seperti hari biasa, tak ada orang yang memberinya sapaan atau bahkan sedikit senyuman. Ia sudah terbiasa dengan keadaan ini, ia memang selalu diasingkan di sekolah dan dimanapun ia berada.

“Aww!!” Rintih Flora saat bagian belakang tubuhnya dihantam oleh seseorang. Sakit? ya.. Memang sakit. Tapi, sakit itu tak terasa lagi ketika ia tahu orang yang menabraknya adalah Arga, cowok yang kemarin menawarkan sebuah payung untuknya.

“Eh-hey” Arga melambaikan tangannya seraya tersenyum. “Hmm, maaf ya!” Lanjutnya.

Flora menjawab permintaan maaf Arga dengan satu anggukan kecil. Lalu ia pergi ke kelas, sambil menahan sakit juga menahan senyum. Ia tidak mengerti dan tidak tahu apa maksud takdir mempertemukannya dengan Arga, tapi apapun itu.. Sepertinya Flora mulai merasa nyaman dengan keberadaan Arga.

“Arga anak sini? Kok aku gak pernah lihat ya?” Batin Flora. Ia mencoba mengingat ingat apa ia pernah bertemu dengan Arga sebelumnya? Tidak! Ia tidak pernah bertemu dengan Arga selain kemarin dan hari ini.

Flora terus teringat akan sosok Arga, ia ingin membuang jauh-jauh bayangan laki-laki yang selalu mengunyah permen karet itu. Tapi, ia tidak dapat melupakan Arga juga melupakan dua pertemuan dengannya. Arga terlalu susah untuk dilupakan.

Suara seorang guru muda yang tengah menjelaskan materi pelajaran hari ini terdengar nyaring dan bergema memenuhi ruangan kelas, namun sama sekali tidak dapat ditangkap oleh nalar Flora. Ia sebenarnya anak yang pintar, sebanyak dan sesulit apapun kata-kata atau penjelasan guru mudah ia hafal dan ia pahami. Ketidak-fokusannya ini disebabkan oleh kehadiran sesosok Arga yang meninggalkan sebuah keanehan untuk Flora.

Ketika bel istirahat pun, Flora hanya diam di kursinya. Memandangi papan tulis yang dipenuhi rumus-rumus matematika. Ia tidak pernah tertarik ke kantin, sekali pun perutnya lapar. Ia lebih suka ke perpus untuk membaca sesuatu atau sekedar melupakan keinginan perutnya. Bukan karena Flora tidak punya uang, tapi ia memang lebih memilih makan di rumah. Di rumah yang selalu hangat, di rumah yang selalu memberinya kenyamanan.

“Minum dulu..!” Tiba-tiba sebuah botol jus jeruk muncul di atas meja. Flo terkejut dan mengangkat kepala, matanya menyipit ketika mendapati Arga tersenyum dan menaikan kedua alisnya seraya mengunyah permen karet lalu duduk di kursi kosong depan meja Flo.

Flo terdiam dan memiringkan kepalanya ke samping, menatap mata Arga dalam-dalam dan mencoba mencari tahu apa keinginannya.
Biasanya mata adalah cerminan hati, jadi apa isi hati Arga mungkin dapat terlihat dalam sinar bola matanya.
Namun, apa yang dilakukan Flora membuat Arga bingung dan malah melakukan hal yang sama dengan yang Flo lakukan.

“Eh-lo ngapain ngikut-ngikutin gue?” Flo terkejut dan mengembalikan posisi kepalanya seperti semula.

“Lo ngapain ngeliatin gue sampe kayak gitu?” Balas Arga cepat.

“Ya..? Lo ngapain disini?” Jawab Flora tak mau kalah. Dalam beberapa detik, Arga tak berkata apa-apa, lalu detik berikutnya ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

“Eh, iya ya.. Ngapain gue kesini?” Arga berdiri, dan mulai berjalan meninggalkan Flora yang kini tengah kebingungan setengah mati.

“Tunggu!” Flo menghentikan langkah Arga ketika Arga baru saja sampai di depan pintu. Arga menoleh pelan, dengan wajah datar.

“Apa?” Tanyanya.

“Hmm..? Nih botol minumannya bawa!” Pernyataan Flora membuat harapan Arga mati seketika. Harapan bahwa Flo akan menahannya pergi karena ingin berubah pikiran untuk berkenalan.

“Udah minum aja. Gue gak akan minta balas budi kok.” Arga kembali memalingkan wajahnya ke depan. Ia hendak melangkah, namun lagi-lagi tertahan oleh Flora.

“Tunggu..!”

“Apalagi?”

“Nama gue Flora!”

Arga tidak menjawab lagi, ia hanya tertawa kecil lalu pergi meninggalkan Flo seorang diri. Sungguh, itu reaksi yang sama sekali tidak pernah ada dalam bayangan Flora. Mengingat Arga ingin sekali berkenalan dengannya, tapi mengapa saat ia mengatakan namanya untuk pertama kali, Arga mengabaikannya..

Cuaca di Jakarta masih dikuasai mendung yang dengan setia mengiringi hujan ketika matahari melebihi setengah hari, tepatnya nyaris tenggelam.

Flora berdiri tegak mematung, di pinggir danau, ia menatap mataharinya yang mulai pergi. Langit berwarna oranye yang selalu bisa membuatnya tersenyum kini tertutup oleh awan hitam kelabu.

Masih dengan seragam biru dongkernya, Arga hadir di belakang Flo. Memperhatikan setiap detail apa yang dilakukan Flo. Flo memutar badannya perlahan, dan aktifitasnya tertahan dalam beberapa detik karena kehadiran Arga yang muncul tiba-tiba seperti hantu.

“Hai” hanya satu kata itu yang diucapkan Arga, dengan satu senyuman kecil menghiasi wajahnya.

“Hai..” Flo membalas sapaan Arga juga tersenyum tulus. Baru pertama kali ini Arga melihat gadis juteknya tersenyum tulus. Flo kembali fokus pada aktivitasnya memperhatikan matahari, menghirup udara dan menghembuskannya lagi..

“Lo suka sunset?” Arga ikut memandang matahari itu. Matahari yang tinggal menunggu menit untuk benar-benar lenyap.

Flo tertawa kecil, “Bukan cuma sunset, semuanya! Semua yang menyangkut matahari aku suka” jawabnya pelan.

Arga melihat Flo, tanpa mengatakan apa-apa. Seperti mengecek apakah Flo baik-baik saja. Flo tersenyum, dia terlihat bahagia, dia bahagia bertemu dengan Arga.

Flora berfikir, mungkin Arga tidak seharusnya diabaikan lagi. Nyatanya, keberadaan Arga mampu membuatnya bahagia. Arga akan jadi orang pertama yang mampu membuatnya merasa punya matahari kedua jika Arga mau.

“Gue boleh nanya?” Arga memecah keheningan di antara mereka.

“Apa?”

“Kenapa lo suka matahari? Gue perhatiin tiap hari lo selalu ke danau ini buat lihat matahari terbit atau tenggelam.”

“karena ayah suka matahari, dan gue sayang sama ayah. Jadi semenjak ayah pergi, gue jadi suka sama matahari.” Flo tertawa lagi. Arga menatapnya, namun tidak tertawa. Sehingga membuat Flo merasa garing sendiri.

“Dan itu yang ngebuat lo gak bisa bersosialisasi?” Pertanyaan Arga yang kedua ini membuat Flo terdiam. Itu ekspresi yang sama pada saat ia pertama kali bertemu Arga.

“Iya. Gue rasa gue gak butuh teman, karena matahari udah bisa buat gue bahagia. Dan matahari gak akan pernah ninggalin gue. Gak kayak orang-orang yang gue kenal.” Air mata jatuh dan mengalir di pipinya, ia memang selalu menangis setiap kali mengingat satu per satu orang yang ia kenal pergi. Orang yang ia sayang.

“Eh kok jadi curhat?” Flo segera menghapus air matanya. Flo mulai berpikir, sepertinya ia tidak bisa menyembunyikan satu hal pun dari Arga. Entah kenapa..
“Tunggu, tadi lo bilang, lo suka merhatiin gue?” Sambungnya.

Arga mengangguk pelan, “Gue udah lama suka merhatiin lo. Awalnya gue aneh lihat lo, nari-nari di pinggir danau sambil bawa bunga matahari, tapi gak tau kenapa gue jadi penasaran sama lo. Lo menarik.” Jelasnya.

Flo tersenyum, tak pernah ada yang bisa membuatnya tersenyum lagi semenjak kepergian kakak dan ayahnya yang meninggal karena sakit kanker. Bahkan sang bunda pun tak pernah bisa menghiburnya sekalipun ia berbuat hal yang konyol.

“Hmm, kayaknya matahari udah hilang deh. Pulang yuk!”

“Matahari yang lo suka itu memang hanya datang 12 jam dalam satu hari. Tapi gue janji, gue bakal ada buat lo selama-lamanya” Bisa dirasakan ketulusan Arga saat berkata demikian. Ia pun mengedipkan sebelah matanya pada Flo seraya mengangkatkan jari telunjuk dan tengah (sumpah).

Semua berubah. Semuanya berubah semanjak Flo mengenal seseorang yang bernama Arga. Ternyata di dunia ini memang tidak ada yang tidak mungkin. Bahkan, hanya dengan mengenal Arga dalam waktu satu hari, mampu membuat hidup Flo berubah seketika.

“Arga, kita mau kemana?” Flo bertanya sambil menelisik apa yang dicari Arga di kejauhan sana. Ini memang bukan tempat yang asing bagi Flo, ini adalah taman dekat danau biasa ia menikmati mataharinya.

“Udah, ikutin aja.” Jawab Arga singkat.

Arga menggenggam tangan Flo dan menarik Flo untuk melangkah lebih cepat bersamanya. Flo balas menggenggam tangan Arga, ada keterkejutan di raut wajahnya. Namun ia tersenyum ramah lalu terus mengunyah permen karet berwarna merah muda yang sudah ia makan sejak tadi.

“Balon? Aku bukan anak umur 5 tahun, Ga..” Alis mata yang tadi terlihat sejajar, kini berubah naik sebelah, beriringan dengan rasa bingung yang berdesir di hati dan pikiran Flo.

“Emangnya ini balon buat kamu apa?” Cibir Arga seraya memberikan beberapa buah balon warna warni yang ia beli dari tukang balon berumur setengah abad lebih.

“Terus buat siapa?”

Arga mengarahkan jari telunjuknya pada anak-anak kecil yang tengah bermain di taman bersama keluarganya. Dan kerutan di kening Flo bertambah, saat ia tahu apa keinginan Arga.

“Gak mau ah! Kamu kasih aja sendiri.” Belum apa-apa Flo langsung menghadang niat baik Arga.

“Loh? Aku tuh udah bisa bersosialisasi sama orang lain dari dulu, sekarang aku mau kamu juga bisa lakuin itu.”

“Tap.. Tapi.?”

“Udah, cepattt!” Arga mendorong tubuh mungil Flo perlahan. Membututinya dari belakang, dan mengawasainya diam-diam. Takut saja kalau Flo akan berbuat kasar, atau bahkan memakan anak-anak kecil itu.

Ternyata tak seburuk yang Flo duga. Bersosialisasi itu mudah, dan bermain bersama anak kecil juga menyenangkan, ia tak perlu repot-repot memikirkan bagaimana jika nanti ia ditinggal pergi lagi oleh orang yang ia kenal. Ya, perpisahan itu pasti ada. Tapi, bukan berarti kita tidak bisa bertemu lagi. Setidaknya, itu yang diucapkan kak Fay, kakak satu-satunya yang Flo punya dan Flo sayangi.

Mengenal Arga adalah hal terindah bagi Flo. Arga mengembalikan senyumnya yang dulu hilang, Arga mengembalikan kehidupannya yang dulu sepi, bahkan Arga telah meninggalkan sebuah rasa di hati Flo.
Namun, dimana ia kini? Sudah 2 hari Arga tidak lagi menjemputnya untuk bermain atau sekedar memberinya sebuah kabar lewat pesan singkat. Flo merindukan Arga, merindukan semua banyolan konyol yang diciptakan Arga untuknya. Di sekolah pun, Arga jarang terlihat, temannya bilang Arga sedang sibuk latihan basket untuk turnament minggu depan. Tapi sesibuk itu kah dia sampai lupa memberi kabar?

Mata Flo sedari tadi terus melirik ke arah ponselnya, berharap satu buah pesan muncul disana. Tapi, apa yang ia dapat? Nihil! Nihil! Semuanya nihil!
Omong kosong, tak akan ada perubahan jika Flo terus berharap, ia harus memulai sesuatu.

‘Hai, Ga sibuk ya?’ Begitulah kiranya isi pesan singkat yang Flo kirim untuk Arga. Menit berikutnya, Cringg!!

‘Maaf ya, Flo. Aku udah lama gak ngajak kamu main atau lihat matahari lagi. Sekarang kan udah jam 4, aku tunggu di danau ya ‘ balasan Arga ternyata mampu membuat Flo merasa terbang ke langit ke 7. Ia bahagia, sangat bahagia.

Flo tak membuang waktu lama-lama untuk berdandan, ia berdandan seadanya. Natural dan tidak berlebihan. Entah kenapa ia ingin sekali membawa payung, payung yang dulu pernah Arga berikan untuknya. Langit memang terlihat akan hujan, tapi bukan itu yang membuat Flo ingin membawa payung. Hati yang memaksanya.

“Arga!” Flo memanggil Arga dari kejauhan, sambil melambaikan tangan ia mendekati Arga.

“Kamu ngapain bawa payung? Payung aku lagi.” Komentar Arga saat ia melihat sebuah gulungan payung warna biru berada di tangan kiri Flora.

“Gak tau. Hati aku bilang aku harus bawa payung.” Flo tersenyum, “eh, kita jadi kan?”

“Itu dia.. Aku mau bilang, aku gak bisa lihat sunset sama kamu, tiba-tiba ada kumpulan basket lagi, maaf ya ”

Flo langsung menekuk wajahnya dalam-dalam, ia menggigit bibir pelan. Kecewa. Tapi ia tidak bisa egois, bagaimana pun Arga memang harus latihan basket.

Flo mengangguk, “Ya udah deh, gak apa-apa.” Ucapnya pelan. Sekuat tenaga ia menahan tangis, jika ia berkata satu patah kata lagi, maka air mata itu akan tumpah.

Arga mulai melangkah pergi meninggalkan Flo. Jarak mereka kurang dari lima meter, namun terasa sangat sulit bagi Flo membiarkan Arga pergi.

BRUUUKKK!!!

“Arga!!!” Teriak Flo. Mobil Pick-up berwarna hitam menabrak Arga. Tubuh Arga terpental, darahnya mulai berceceran dimana-mana. Hujan turun dengan derasnya, mengiringi langkah demi langkah Flo untuk menghampiri Arga nya yang tergeletak di jalan. Darah Arga yang mengalir terbawa air hujan, ikut mengiringi kepergian Arga untuk selama-lamanya. Flo belum sempat memeluknya, belum sempat mengucapkan kata-kata yang berarti untuknya, belum sempat memberitahukannya bahwa ia mencintainya, dan masih banyak lagi hal-hal yang belum sempat ia beritahukan. Flo menangis, menangis sejadi-jadinya. Untuk kesekian kalinya, ia kehilangan orang yang ia sayang, Arga…

Kepergian Arga membuat Flo kehilangan bagian terbaik dalam hidupnya. Untuk ketiga kalinya, ia berpakaian hitam, untuk mengantarkan seseorang yang ia sayangi ke peristirahatan terakhir.

Air mata itu, air mata itu tumpah lagi ketika dilihatnya sebuah batu nisan yang masih bersih, bertuliskan ‘Arga Pratama’

Kaki dan hatinya tidak ingin meninggalkan makam ini, ia ingin berada disini, menemani Arga, dan membiarkan matahari nya bersinar lagi. Ia terus menangis, sambil meletakan sebuah rangkaian bunga mawar putih, Flo berkata “Aku sayang kamu..”

Saat itu, Arga hadir di sisi Flo, membantu Flo meletakan bunga di makamnya sendiri. Dengan pakaian putih bersih dan dengan mata yang berbinar-binar. “Aku juga sayang kamu, dan aku harap kamu tetap sayang sama aku. karena aku hadir di hidup kamu bukan untuk dikenang. Tapi untuk dirasakan, dirasakan bagaimana kehangatan aku setiap kali aku ada di sisi kamu..” Arga berbisik pelan, Flo tahu Arga memang tidak akan pernah meninggalkannya. Seperti matahari yang selalu ada untuk bumi. Sejak saat itu, Flo tahu.. Ia tidak pernah sendirian, karena setiap matahari bersinar, disitulah Arga hadir untuknya…

THE END

Cerpen Karangan: Ananda Dwi Leani
Facebook: Ananda Dwi Leani

Pengarang: Ananda Dwi Leani
Twitter: @Anandaa_dwi
Follow twitter aku yaa 🙂 aku gak sombong kok, mention langsung follback 😀
Ide Cerita:
Alfarida @Alfaoctavia1
Syifa Dwi N. @syiifaadwii_

Cerpen The First Sun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Luka LDR

Oleh:
Suara gedoran pintu mulai membangunkan gadis cantik itu, terdengar dari luar suara seorang laki-laki yang tak asing lagi baginya, yang sedang memanggil namanya disertai dengan suara ketukan pintu yang

Sms Terakhirku

Oleh:
Mungkin inilah ujian hidupku di dunia, hidup yang serba ada namun keterbatasan kesehatan tak memihak padaku, aku mengidap penyakit leukemia mulai SMA yaitu sekolah menengah atas, aku terlahir dari

Salah Paham

Oleh:
Sebuah kata cinta terpampang besar di depan pintu kamarku. Sebuah ungkapan yang ku simpan selama ini kepada seseorang. Ungkapan yang pertama dan penuh perasaan yang telah ku buat tapi

Rindunya Tak Pernah Ada

Oleh:
Hari yang begitu cerah dipenuhi bunga bunga yang merebahkan dedaunan yang indah menebarkan semerbak semewangi di taman ini. Randi awali hari dengan senyuman yang indah seindah hati randi sedang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “The First Sun”

  1. lulu says:

    Sampe nangis kebawa suasana, cerita ini bnr2 keren, TOP BGT

  2. Widya says:

    Keren sumpaaahhh nyess bacanya.

  3. Giar says:

    ceritax kern tapi sayang ahirx ngak bahagia.

  4. Ray says:

    mantep nih cerita, sampe nangis gue :'(

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *