The Immortal Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 12 April 2015

Langit malam tampak lebih indah dari biasanya saat bulan purnama yang benderang ada disana. Aku dan Mika berbaring tenang di atas mobil pick-up milik Mika yang tengah mencoba untuk menghitung bintang-bintang yang bertaburan. Ia terus mengulangi hitungannya dari awal tiap kali aku menyela, dan ia tampak cukup kesal.
“Mika, berisik ah! Kamu nggak bakal bisa hitungin bintang sebanyak itu..”
Mika berhenti menghitung lalu menghela nafas panjang, “Oke… Aku berhenti, tapi kamu harus jawab pertanyaanku dulu!”
“Oke, siapa takut? Fisika? Kimia? Aku jagonya!”
“Ihh, bukan soal pelajaran tau! Dengar ya.. Apa bedanya bintang kejora dengan mata birumu??”
“Hmm, ya iyalah beda. Itu ‘kan bintang, kalo ini mata..”
“Eits, salah! Jawabannya, kalau bintang kejora itu menerangi banyak orang di bumi tiap malam hari. Nah, kalau mata birumu itu menerangi hidup, jiwa, dan hatiku tiap hari, tiap jam dan tiap detik”
Aku tertawa, “Gombal”
“Ihh, aku serius! Aku kan sayang sama kamu”
“Iya tah?” tanyaku menggoda
“Ya udah kalo gak percaya belah aja dadaku.”
“Trus?”
“Nabrak deh kalo terus”
Aku dan Mika sama-sama tersenyum dan suasana pun hening sejenak.

Tiba-tiba..

BRUK..!!
“Aduh!”
Aku terbangun dan lagi-lagi karena jatuh dari tempat tidur.
Aku pun mencoba untuk berdiri walau sulit karena selimut tebalku melilit tubuhku dan aku harus melepaskannya terlebih dahulu.
Pintu kamar lalu terbuka, “Zee, kamu jatuh dari ranjang lagi?” tanya Mama.
Ya, pintu kamarku memang tak pernah ku kunci agar Mama bisa leluasa keluar masuk kamarku untuk membangunkanku yang walau sudah berumur 18 tahun ini masih saja tidak bisa bangun pagi. Dan untuk lima hari ini, ia tak perlu lagi repot-repot membangunkanku karena sudah lima hari ini aku terjatuh dari tempat tidur tiap pagi dan hal itu membuatku bangun dengan sendirinya.
“Terus aja kayak gitu. Jadi Mama nggak perlu bangunin kamu tiap pagi” lanjutnya dengan mimik wajah senang.
Aku cemberut, “Anaknya kesakitan kok malah senang sih Ma. Lama-lama bisa encok nih!”
“Haha, ada-ada aja. Kamu itu masih muda, belum waktunya encok segala. Mendingan kamu cepat-cepat mandi, deh. Emang kamu nggak takut telat. Liat tuh udah jam berapa” kata Mama sambil menunjuk ke arah jam dinding mickey di kamarku.
Aku hanya mangut-mangut sambil berjalan santai ke dalam kamar mandi, menyalakan shower dan percikan air hangat pun membasahiku.
Namun, pikiranku kembali tertuju pada mimpiku tadi. Momen itu terjadi 3 tahun lalu saat aku dan Mika merayakan usia hubungan kami yang menginjak 13 bulan lamanya.
Aku terus bertanya-tanya apa maksud dari semua ini. Memimpikan kenangan lama bersama orang yang tidak pernah ku temui dalam lima hari berturut-turut tentu bukan hal yang biasa. Aku bahkan tak pernah sedikitpun mengungkit-ungkit tentang Mika akhir-akhir ini. Lalu, ada apa?.

Mika sesungguhnya adalah cinta pertamaku saat aku masih berumur 14 tahun. Dan tepat ketika aku berumur 17 tahun, Mika pergi meninggalkan tanpa kata perpisahan. Dan sejak saat itu kisah kasihku dengannya secara otomatis berakhir begitu saja tanpa banyak kata terungkap dari bibirnya seiring ia tak pernah menghubungin ku lagi.
Terdengar begitu singkat memang, tapi rasanya akan terlalu panjang jika aku harus menjelaskannya secara mendetail. Dan kini momen-momen manis bersama Mika itu merasuk ke dalam mimpi-mimpiku di malam hari seakan menghantuiku dan tak rela untuk dilupakan.

Jam tangan pumaku sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Sudah tiga puluh menit aku berdiri di halte bus depan gerbang perumahanku. Namun tak satu pun bus yang lewat di hadapanku.
Apa mungkin karena hujan ya sopirnya pada males dan bolos kerja? Batinku
“Aduh kurang lima belas menit lagi nih. Tapi hujan masih belum reda juga. Mana sekarang ada ulangan matematika lagi. Sial banget sih aku hari ini. Udah ah aku nekat aja. Daripada entar telat.” Kataku seraya berlari melawan hujan dan angin yang seakan-akan menghalangiku untuk berangkat ke sekolah.

Sekolahku sebenarnya cukup jauh dari rumah. Kurang lebih sekitar 1 km. Namun karena tidak ada pilihan lain aku memutuskan berlari menembus derasnya guyuran hujan yang membasahi seragam sekolahku. Tapi itu semua tak ku pedulikan.
“Daripada aku ikut susulan. Ogah banget” kataku untuk menguatkan semangat ku yang mulai luntur terbawa air hujan.
Pukul tujuh. Aku terlambat lima belas menit. Gerbang sekolah sudah tertutup. Sekolahku sangatlah ketat dalam hal kedisiplinan.

“Pak bukain dong. Saya tadi keujanan pak” kataku memberi penjelasan kepada Satpam yang menjaga gerbang sekolahku.
“Iya saya tau. Tapi kamu sudah terlambat lima belas menit” jawabnya tanpa menghiraukan penjelasanku tadi
“Tapi saya kan kehujanan pak. Emang bapak nggak liat apa baju saya yang udah basah kuyup kayak gini” kataku memelas
“Hm.. ok saya bukain tapi kamu harus ke kantor guru untuk lapor ke guru piket.”
“Iya pak. Saya bakal langsung lapor. Janji deh” kataku kegirangan

Pak Agus satpam di sekolahku itu pun langsung membukakan pintu gerbang sekolah. Aku pun segera masuk dan berlalu meninggalkannya. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepadanya lalu menuju ke ruang guru.
Aku segera memasuki ruang guru dan meminta surat izin masuk kelas. Setelah itu aku langsung menuju kopsis untuk untuk membeli kaos dan celana olahraga sebagai pengganti bajuku yang basah.

“Assalamualaikum” kataku sambil mengetuk pintu kelas XII IPA 3.
“Waalaikumsalam” jawab bu Sinta guru kimiaku.
Aku langsung menuju bangkuku setelah memberikan surat izin yang sudah ditandatangani oleh guru piket di ruang guru tadi tanpa mencium tangan bu Sinta. Karena aku tahu persis bahwa beliau paling tidak suka pembicaraannya dipotong, sehingga aku memilih langsung duduk di bangkuku.

Dua puluh lima menit berlalu. Tiba-tiba suara pintu diketuk.
“Assalamualaikum. Maaf bu mengganggu.”
“Mari pak masuk.”
“Begini anak-anak, mulai hari ini kalian akan mendapatkan teman baru. Untuk lebih jelasnya saya persilahkan kepada Mika untuk memperkenalkan diri” kata Pak Rudi menjelaskan untuk apa beliau kesini.
“Mika? What?” kataku yang sejak tadi tidak memperhatikan kedatangan Pak Rudi.
“Assalamualaikum warahmatullahhiwabarakatu”
“Waalaikumsalam warahmatullahhiwabarakatu” jawab anak-anak kelas XII IPA 3 serempak.
“Perkenalkan nama saya Mika Aditama. Saya pindahan dari Singapore dan mulai hari ini saya akan menjadi teman baru kalian.”
“Nggak mungkin. Dia mau sekolah disini. Satu kelas sama aku? Ya Tuhan apa ini arti semua mimpi itu.”
Aku tertunduk lemas. Namun jantungku berdebar begitu kencangnya seperti mau loncat dari tempatnya.
“Mika kamu bisa duduk di sebelah Satria” kata bu Sinta mempersilahkan Mika untuk duduk.
“Baik bu.” Mika pun segera menuju ke bangku barunya.

Jam pelajaran kimia berakhir dan digantikan oleh pelajaran bahasa inggris. Pelajaran favoritku. Namun tidak seperti biasanya. Hari ini aku tidak konsen untuk menerima pelajaran tersebut. Pikiranku melayang entah kemana hingga aku sendiri tidak tahu.

Ya Tuhan kenapa kau datangkan dia lagi di hidupku? Berarti usahaku buat move on dari dia selama ini sia-sia dong.
Hanya pertanyaan-pertanyaan itulah yang kini berputar-putar di kepalaku hari ini. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi bersikap biasa atau menjauhinya, aku tidak tahu. Yang saat ini aku lakukan adalah pasrah kepada sang penguasa alam semesta. Dzat yang menciptakan bumi beserta isinya.

Dua bulan berlalu dengan cepatnya. Namun hingga saat ini aku masih belum bertegur sapa dengannya. Ia juga tidak pernah menegurku meskipun kami berada dalam satu kelas. Mungkin ia juga sama sepertiku. Saling menjauhi satu sama lain. Namun tidak dengan waktu. Sepertinya ia ingin meruntuhkan tembok yang ada di antara kami. Ia mempertemukanku dengannya di dalam suatu kelompok kerja. Sehingga tidak ada alasan untukku menghindarinya. Awalnya kita saling diam. Namun seiring berjalannya waktu sedikit demi sedikit tembok itu pun runtuh dengan sendirinya. Kami mulai akrab. Saling bercanda dan saling bertukar pikiran. Namun hubungan kami tidak lebih dari teman. Aku tidak ingin terlena dengan situasi ini. Aku tidak ingin kejadian tiga tahun silam terulang lagi.

Suatu ketika Handphone ku berbunyi.
Zee besok kamu ada acara nggak? Kalo nggak ada, aku mau ngajak kamu ke kolong langit. Ada hal yang pengen aku bicarain sama kamu. Mika
Itulah isi pesan yang baru saja aku terima. Aku bingung. Aku bimbang.
“Dibales, nggak, dibales, nggak, dibales, nggak, dibales, nggak, dibales, nggak. Berarti nggak usah” kataku pada diriku sendiri
“Lagian ngapain sih dia ngajakin aku ke situ. Buang-buang waktu aja.” Pikirku
Tapi ingin rasanya aku mengiyakan ajakannya. Hati kecilku yang mengatakan seperti itu. Tapi aku takut. Aku takut tidak bisa mengendalikan perasaanku, pikiranku dan hatiku. Aku takut untuk sakit hati lagi. Aku takut.

Keesokan harinya Mika mendatangi bangkuku. Aku tidak memperdulikannya. Aku tetap asik menulis tugas yang baru Bu Desi berikan.
“Zee kamu semalem kok nggak bales smsku? Kamu nggak mau ya?” tanyanya padaku
“Kan kamu sendiri yang bilang kalo aku nggak ada acara kan? Ya kalo aku nggak mau berarti aku ada acara Mika” jawabku cuek sambil terus menulis
“Oh ya udah. Moga acaramu lancar ya. Oh ya tapi kalo acaramu udah selesai trus kamu mau kesana nggak apa-apa kok. Aku bakal ada disana” katanya seraya meninggalkanku.
Tidak tega rasanya melihat raut wajah kekecewaannya. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Sang raja hari sudah tenggelam di ufuk barat. Namun sinarnya masih terlihat walaupun sudah meredup. Kini tugasnya akan segera digantikan oleh sang raja malam.

Aku masih berdiam diri di dalam kamar. Pikiranku kalut. Hatiku gelisah. Kata-kata Mika tadi menghantuiku. Aku tidak tenang dibuatnya. Ingin sekali aku ke tempat itu. Tempat itu sebenarnya adalah taman dan di tengah taman tersebut ada sebuah danau buatan. Kami menyebutnya kolong langit karena ketika aku dan Mika berbaring disana, langit terasa dekat dengan kita. Dan ketika malam hari, aku dan Mika selalu mengihitung bintang-bintang yang bertaburan disana.
“Apa mungkin dia masih ada disana. Tapi ini kan udah malem” kataku sambil melihat jam dinding mickey mouse ku.
Karena rasa penasaranku aku pun memutuskan untuk ke tempat itu. Segera ku pedal sepeda Bmx milik adikku.

Tempat itu tidak terlalu jauh jauh dari komplek perumahanku. Dalam waktu sepeluh menit aku sudah sampai di tempat tujuan. Langsung ku letakkan sepeda Bmx berwarna merah itu lalu aku segera berlari masuk ke tempat itu. Aku berharap Mika masih ada disini. Namun nihil.
Aku berjalan dengan lunglai hendak meninggalkan tempat itu. Namun tiba-tiba..
“Uhuk..”
Terdengar suara orang batuk. Tapi tidak ada orang disini. Aku sudah mengitari tempat ini.
“Uhuk uhuk..”
“Siapa?”
Tak ada jawaban.
“Mik? Itu kamu kan?” tanyaku lagi
“Uhuk uhuk..”
Terdengar suara orang batuk lagi. Namun kali ini suaranya lebih jelas. Ku cari-cari asal suara tadi hingga kutemukan seseorang tergelak di pinggir danau.
“Mika?”
Langsung ku belari ke arah orang itu.
“Ya Allah.. Mika?”
Langsung ku pangku kepala lelaki yang ku cintai itu. Tangannya dingin. Wajahnya pucat.
“Mika.. Mik bangun Mik!” kataku panik
Tak ada jawaban. Namun tiba-tiba sesuatu menggenggam tangan kiri ku.
“Zee aku tau kamu pasti dateng” katanya sambil tersenyum kepadaku.
“Mik kamu kenapa?”
Tiba-tiba air mataku menetes.
“Zee kamu kenapa nangis? Aku nggak apa-apa kok”
“Nggak kamu bohong. Kamu pasti apa-apa. Buktinya tanganmu dingin terus mukamu juga pucat. Itu apa namanya kalau bukan apa-apa” kataku disela-sela tangisanku.
Mika hanya tertawa mendengar celotehanku. Lalu ia pun memejamkan matanya sambil terus menggenggam tangan kiriku. Namun semakin lama genggamannya semakin lemah.
“Mik? Mika? Mik!!”
Aku coba untuk membangunkannya.
“Please Mik jangan bercanda”
Tetap tidak ada jawaban.
“Mik?”
Ku coba memukul-mukul wajahnya. Masih tak ada reaksi.
Ku coba rasakan denyut nadinya. Namun…
“Mika…!!!”

Tok tok tok tok
Terdengar suara pintu diketuk.
“Masuk” jawabku dari dalam kamar
“Zee ini ada surat buat kamu” kata Mama seraya memberikan secarik amplop kepadaku
“Dari siapa ma?”
Mama tidak menjawab. Ia berlalu meninggalkanku dengan secarik surat yang aku sendiri tidak tahu siapa pengirimnya.
Hatiku berdegup kencang ketika hendak membuka surat yang ada di tanganku. Perlahan dan surat itu pun terbuka.

Dear Zee…
Maafin aku Zee. Aku udah nyakitin kamu. Aku udah pergi ninggalin kamu tiba-tiba. Tapi semua itu aku lakukan karena satu alasan yang mungkin kamu sendiri nggak bakal percaya. Aku mengidap kanker paru-paru. Dan saat ini kanker itu sudah berada hampir di seluruh tubuh ku walau aku sudah menjalani kemoterapi di Singapore. Itulah alasan aku meninggalkanmu, aku harus menetap di Singapore untuk menjalani pengobatan untuk mencengah sel kanker tersebut agar tidak meluas. Tapi sepertinya sel kanker yang ada di tubuhku ini lebih kuat. Maafin aku Zee. Aku udah nutupin semua ini dari kamu. Aku nggak mau buat kamu khawatir dan sedih kalau tiba-tiba aku ningglin kamu untuk selamanya. Tapi kamu harus tahu Zee. Aku akan terus nemenin kamu. Kapanpun dan dimanapun kamu berada. Meskipun aku sudah nggak ada nanti. Aku akan selalu hidup di hatimu Zee. Aku sayang kamu.

Peluk cium

Mika

TAMAT

Cerpen Karangan: Nungki Dianita
Facebook: Dianita Nungki

Cerpen The Immortal Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


“N”

Oleh:
“Jes..Jes.. lihat tuh.. si Alvin ngeliatin aku ‘kan?” Jessica yang baru aja ngamatin mading, langsung memalingkan kepala. Resya memang nggak bisa diem kalau liat cowok yang sudah 2 tahun

Kisah di Bawah Guyuran Hujan

Oleh:
Melupakanmu, ternyata tak semudah apa yang ada dalam tekadku. Kau selalu hadir dalam hari-hariku. Membuatku terluka dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan ini. Aku terdiam sendiri sambil menikmati tetesan

Detik yang Pergi (Part 3)

Oleh:
Tiga bulan berlalu. Kehidupan Franky terasa hambar tanpa kehadiran gadis yang dulu selalu menyambut kedatangannya di rumah. Setiap ia pulang kerja ia selalu memanggil Leah, tetapi saat itu juga

Terikat Tanpa Mengikat

Oleh:
Cahaya redup rembulan menggambarkan suasana hati yang bergemuruh di antara ketidakpastian menerima kenyataan bahwa aku sudah dijodohkan, malam ini terasa seperti mimpi buruk rasanya aku tak ingin bangun dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *