The Power of Vivi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 25 April 2018

Berkali-kali Lea memeriksa meja belajarnya, tapi hasilnya nihil. Surat yang ia tulis dua minggu yang lalu, lebih tepatnya surat cinta untuk Rohan, kakak kelasnya sekaligus pujaan hatinya. Ia mulai frustasi dan mulai mengacak meja belajarnya hingga mejanya jadi berantakan.

“Ya ampun! Di mana surat itu? Seingatku kemarin aku letakkan di sini.” Omel Lea sambil terus mencari.
“Apa di kolong tempat tidur ya?”
Meski ragu, Lea tetap memeriksa kolong tempat tidurnya tapi hasilnya nihil.

“Le, kamu sedang apa?” Tanya Bundanya Lea tiba-tiba lalu sedikit terkejut melihat kamar putri tunggalnya mendadak berantakan seperti ini.
“Astaga, Le. Kamu ngapain aja sampai-sampai kamarmu jadi berantakan begini? Gadis perawan sepertimu harus pintar jaga kebersihan, nak.”
Lea tak menggubris omelan sang Bunda. Baginya surat cinta itu lebih penting. Surat itu adalah ungkapan hati Lea selama setahun ini. Kalau sampai jatuh ke tangan salah satu keluarganya, Lea tak bisa membayangkan hal itu terjadi.
Melihat Lea yang tak menggubrisnya, Bunda mulai kesal. Anak gadisnya itu seperti orang putus asa mencari sesuatu yang ia tak tahu apa itu.

“Le, kamu nyari apa? Barangmu ada yang hilang?”
“Barangku ada yang hilang, Bun.” Rengek Lea memelas.
“Makanya kamar itu harus rapi biar barangmu nggak ada yang hilang. Barang apa yang hilang?”
“Amplop kuning, Bun.” Kesal Lea yang akhirnya benar-benar menyerah. Ia duduk di tepi tempat tidurnya lalu mengacak rambutnya.
“Amplop kuning ada gambar bunga-bunga?”
Lea terlonjak kaget sambil menatap horor Bunda. Bagaimana Bunda bisa tahu?
“Iya, Bun. Itu yang aku cari. Bunda lihat? Di mana?”
“Bunda kira nyari apaan. Tadi Bunda lihat Vivi lari-lari diruang tamu sambil bawa amplop kuning gambar bunga-bunga…”
“Apa? Vivi?” Kaget Lea tanpa sadar memotong ucapan Bunda. Bunda sedikit terkejut dan jadi penasaran dengan isi amplop itu.
“Iya Vivi yang bawa.”
“Vivi sekarang di mana, Bun?”
“Tadi Bunda lihat Vivi keluar…”
“Lea pergi dulu nyari Vivi, Bun.”
“Le, Lea, tunggu dulu!”
Bunda makin curiga dengan isi amplop itu. Tapi rasa penasaran Bunda mendadak hilang melihat kamar Lea yang berantakan.
“Anak gadisku…” geram Bunda pelan lalu membereskan kamar Lea.

Sedangkan Lea, dengan perasaan takut, khawatir dan cemas membuatnya ingin sekali memutilasi anjing peliharaannya itu. Vivi memang sering keluar rumah dan selalu kembali jadi ia dan keluarganya membiarkan Vivi ke luar rumah. Ia merutuk, harusnya keluarganya tak memperbolehkan Vivi ke manapun kalau pada akhirnya Vivi mengancam nama baiknya tercoreng.

“Vivi, kamu di mana? Ya Ampun anjing itu.” Geram Lea dengan masih berlari. Matanya masih mengedarkan pandangan keseluruh penjuru komplek.

Guk… Guk…
Meski semua suara anjing sama tapi Lea sangat mengenal suara Vivi. Lea lebih menajamkan indra penglihatannya. Ia yakin itu pasti Vivi dan ia benar. Vivi berada di lapangan basket dengan seorang lelaki.
Mata Lea melotot sampai terlihat mau keluar dari tempatnya saat melihat seseorang yang bersama Vivi di lapangan basket.
“Rohan…” gumam Lea lesu.
Rohan, laki-laki berkulit putih dan tinggi. Ia kakak kelas Lea di sekolah dan Rohan itu salah satu siswa populer di sekolah. Dengan fisik sesempurna itu tak mengagetkan jika Rohan masuk deretan siswa populer.
“Ya Tuhan…” Lea semakin lemas.

Benar kata Bunda, Vivi yang membawa amplop kuning miliknya. Rohan tengah mengusap bulu halus Vivi lalu memangkunya. Sepertinya Rohan sangat gemas dengan anjing berbulu putih itu. Rohan sepertinya mulai tertarik dengan sesuatu yang dibawa Vivi.
“Jangan, jangan berikan padanya, Vi. Aku mohon. Aku mohon.” Mohon Lea yang terlihat konyol memohon pada anjing yang jaraknya cukup jauh dengan tempat ia berdiri.
Tapi harapan Lea musnah. Vivi dengan berbaik hati memberikan amplop itu pada Rohan. Rohan menerima amplop itu dari mulut Vivi sambil tersenyum senang.
“Anjing itu!” Kesal Lea sambil mengacak rambutnya lagi, membuat rambutnya semakin berantakan. Vivi benar-benar menyebalkan.

Rohan tengah membuka amplop kuning itu dengan Vivi yang masih dipangkuannya. Rohan membaca surat Lea dengan serius. Raut wajahnya datar, Lea tak bisa menebak apa yang di pikirkan Rohan saat ini.
Lea sudah tak sanggup lagi jadi dia memutuskan untuk pulang. Lea mungkin pura-pura sakit saja karena tak sanggup bertemu Rohan besok. Lea sedikit merutuk Rohan juga, kenapa ia jauh-jauh latihan basket di komplek ini? Padahal rumah Rohan lebih dekat dengan lapangan basket di tengah kota.

Lea masih ingat dengan jelas isi surat itu yang ia tulis dua minggu yang lalu. Kurang lebih seperti ini:

Aku menyukaimu kak Rohan
Aku menyukaimu dengan sepenuh hatiku
Tapi aku terlalu takut menyapamu karena jantungku tak bisa kukontrol tiap kali kita bertemu
Aku ingin dekat denganmu
Jika aku mengajakmu keluar apa kau mau pergi denganku?

Kurang lebih seperti itu isinya. Lea ingin menangis sekarang. Lea tak tahu jika Vivi bisa mengkhianatinya seperti ini.
Lea berjanji tak akan mau mengurusi Vivi lagi. Dia sudah menganggap Vivi telah mati.

Guk… Guk…
Lea tak menggubris gonggongan Vivi. Lea tetap berjalan menuju kamarnya. Tapi ternyata Vivi mengejarnya dan berhenti tepat di depannya. Lea melihat amplop kuning miliknya ada di antara mulut Vivi.
Kak Rohan pasti menertawakannya tadi, begitu pikir Lea. Vivi meletakkan amplop kuning itu di dekat kakinya. Lea paham kalau Vivi ingin ia membuka amplop itu.

“Kau ingin aku membukanya?”
Vivi menggonggong dua kali dan itu artinya iya.
Dengan berat hati Lea mengambil amplop kuning itu dan membukanya. Ia sama sekali tak berminat karena untuk apa dia membaca surat yang ia tulis sendiri.

Kutunggu di taman kota besok sore
Dandan yang cantik ya 😉

Lea tercengang. Tulisan itu bukan tulisan tangannya dan ia ingat tak menulis kalimat itu.
“Apa ini tulisan kak Rohan?” Gumam Lea seolah bertanya pada dirinya sendiri.
Vivi menggonggong lebih dari lima kali seolah-olah ia ikut senang dengan ajakan kencan dari Rohan untuk Lea.
“Ini tulisan kak Rohan? Dia ngajak aku kencan?” Heboh Lea tak mempedulikan tatapan heran Bunda di belakangnya.
“Aaaaa… Viviiiii…” teriak Lea keras sambil memeluk Vivi erat.
“Terima kasih, sayaaaaang!”
Lea bahagia sekali sampai-sampai menciumi Vivi gemas. Ia tak menyangka Vivi justru membawa keberuntungan untuknya karena perasaannya pada Rohan tersampaikan. Lea tak menduga jika Rohan akan mengajaknya kencan.

“Lea, kamu kenapa? Ayo jelasin sama Bunda. Sekarang!”
Lea harus membagi kebahagiannya dengan sang Bunda bukan?

Cerpen Karangan: Zuly Layla
Facebook: julie.namikaze[-at-]yahoo.com

Cerpen The Power of Vivi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dandeloin

Oleh:
Kaila yang sedang bergegas menuju ke kelas bersama teman-temannya, sempat tercengang saat melihat seorang anak laki-laki di ruang perpustakaan. Ia lalu berhenti dan menatap ke arah anak laki-laki itu.

Mawar Fadil

Oleh:
Suara teriakan itu menggetarkan hati, isak tangis pecah saat langkah kaki ayahku meninggalkan ibu yang sedang mengandungku di usia kehamilan 6 bulan, ayah pergi dengan mengucapkan talak cerai kepada

Dari Kenalan Menjadi

Oleh:
Aku turun dari mobil, suasananya tampak lain dari biasanya. Ya, saat ini aku berada di majenang tepatnya kota kecil di cilacap barat, suasana di kota ini tampak lain dari

Kisah Cinta Masa SMP

Oleh:
Nama gue Laura Oktaviani. Yah, bisa dipanggil Laura. Gue sekolah di salah satu smp negeri di Jawa timur, tepatnya di Kab. Ponorogo, Kec. Ngrayun. Gue cantik, pinter, juga jago

Beach Pangandaran

Oleh:
Weekend minggu kedua dari libur semesteran. Gak ada yang seru dari liburan kali ini. Sahabatku, Alice, liburan ke Sydney. Sedangkan aku? Harus seneng dengan keadaan ini. Aku tinggal bareng

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *