Ulang Tahun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 1 August 2016

“An, apa yang kamu inginkan?” Tanya Ahmad pelan saat Ana sedang melipat baju di kamar.
“Haa? Maksud mas?” Ana menjawab dengan bingung sembari menaikkan alis sebelah kirinya.
“Yaa… maksudku, ehm.. apa yang kamu mau? Insya Allah akan aku penuhi..” kali ini Ahmad tersenyum tulus, lalu membelai pipi Ana yang sedang memerah itu.
“Mas, ada ada aja sih… aku cuman mau tidur sekarang, mengantuk..” Ana tertawa kecil seperti mengejek.
“Kau besok berulang tahun bukan? Ayolah, katakan apa yang kamu mau?”
“Sudahlah mas.. tak perlu seserius itu.” Ana mengelengkan kepalanya pelan dengen senyum tipis khasnya.
“Ann, dengar. Aku serius. Aku tak pernah memberimu apa-apa, karena aku bingung apa yang sedang kamu butuhkan. Kau, selalu membuatkan masakan dan kue ketika aku ulang tahun. Sedang aku?..” belum sempat Ahmad melanjutkan, Ana menutup mulut Ahmad dengan lembut menggunakan tangan kanannya.
“Kalau begitu, akan aku katakan apa yang aku mau.” Ana menatap mata suaminya dengan pandangan tegas. Ahmad mengangguk dengan ragu-ragu sembari menahan debaran di dada.
“Apa yang dikatakan Ana?” Tanya ahmad kepada hatinya.
“Aku ingin… selalu dekat denganmu..” hening sejenak sebelum kemudian senyum di antara keduanya muncul dengan bahagia menahan haru. Ana memeluk suaminya erat dan mengelus rambut Ahmad dengan kasih sayang. Lalu Ahmad menangis di bahu Ana dengan tergugu.
“Betapa aku mencintai wanita ini ..”

Sebenarnya, ada gurat kekecewaan yang tergambar di wajah Ahmad saat tahu bahwa ternyata jawaban Ana diluar dugaannya.

“Aku sudah menabung untuk membelimu sesuatu, walau aku tak tahu itu apa sayang.” Ahmad menatap mata istrinya dengan khidmat dan tak melihat istrinya mengecutkan senyumannya. Mata Ana berkaca-kaca, namun air matanya belum jatuh dan hanya menggenang di sudut matanya.
“Kau menabung? Benarkah?” Ana agak tercengang mendengar pernyataan Ahmad itu. Menurut Ana, ini sungguh berlebihan menabung hanya untuk memberikan kado ulang tahun. Lalu air matanya mulai tumpah dan menetes sedikit demi sedikit
“Mas.. ini hanya ulang tahun. Lebih baik uang itu kamu alihkan saja untuk tabungan pendidikan anak, ya kan?” Kali ini Ana serius dan menarik senyumnya.
“Tidak. Mungkin penghasilanku tak seberapa, tapi ini sebagai bukti aku benar-benar sayang padamu. Apa kau tidak ingin aku sayangi? Aku cintai?” Tangan ana diremas sangat kuatnya, hingga Ana merasakan sedikit sakit. Akhirnya Ana menyerah. Ia sadar bahwa lelaki seperti suaminya mungkin hanya ingin memiliki peranan penting dalam kebahagiaan keluarganya.
“Aku mengerti..” Ana menunduk dengan berpikir keras, kira kira barang apa yang pantas diminta kepada suaminya.
“Mengerti bagaimana An? Kau mau emas? Sepatu bagus? Atau baju? Apa saja An, akan aku usahakan.”
“Kalau gitu.. hmm maaf ya jika merepotkan. Aku hmm minta perbaikan laptopku mas.. sudah sebulan tak mau menyala. Yang kamu janji akan pergi ke tempat servicenya dari seminggu yang lalu..” Ana ragu-ragu menjawab, kepalanya kadang ditundukkan dan kadang pula diangkat dengan malu malu.
“Astaghfirullah An. Baik hari ini aku pergi untuk memperbaikinya.“ Dengan sigap Ahmad berdiri lalu mengambil jaket di gantungan untuk bersiap-siap pergi.
“Mas..” Ana seketika menarik tangan kiri suaminya untuk kembali. “Ini jam setengah sebelas malam!” Suasana tiba tiba menegang dan hening, tapi ada senyum tertahan di sudut bibir suaminya.
“Hahahaaa, aku bercanda an.” Ahmad tertawa terkekeh-kekeh melihat raut kepanikan yang tiba tiba muncul dari istrinya.
“Ish..” Baju-baju yang sudah dilipat Ana, dilemparkan begitu saja ke arah suaminya itu. Ahmad semakin geli melihat Ana cemberut seperti anak kecil, lalu membelakanginya begitu saja. Ahmad merangkulkan kedua tangannya ke leher Ana dan merebahkan dagunya di bahu istrinya.
“Maaf ya.. tapi aku sungguh-sungguh kok ingin memberikanmu hadiah.” Ana kekeh untuk tidak menggubrisnya, namun nalurinya menariknya untuk berbicara. “Iya sudah, tidurlah. Besok kamu pergi kerja kan?” Kata-kata itu tak membuat lelaki yang merapat di belakangnya itu menurutinya, justru malah menggelengkan kepala tanda tak ingin.
“Kau harus liat dulu an”
“Lihat apa?”
“Ini” Ahmad menyodorkan sebuah benda persegi 14 inch dari belakang ke pangkuan Ana.

“Haah, mas, ini..?“ Ana sempat kaget lalu segera membalikkan tubuh tanda tak percaya. Tapi ia tidak mau terlalu percaya diri dulu, siapa tahu laptop ini punya orang lain atau punya kantor suaminya.
“Ini baru, aku beli untukmu..” Ahmad memiringkan kepala menatap Ana yang bingung seperti membantah dugaan Ana.
“Lalu kenapa kamu tanyakan lagi tentang keinginanku kalau kamu sudah membelinya?“
“Kalau tidak begitu, aku tak benar-benar tahu apa maumu. Tapi ternyata dugaanku tepat kan? Sudahlah, laptop lamamu itu sudah tidak bisa diperbaiki. Spesifikasinya jauh dibawah laptop sekarang, An.”
Ana tersenyum sangat bahagia ke arah suaminya hingga terlihat giginya karena tak sanggup berdebat lagi dengan lelaki ini.
“Sungguh benar-benar dia ini..”

Cerpen Karangan: Annisa Shabrina
Blog: asshabrina.tumblr.com

Cerpen Ulang Tahun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Almost Is Never Enough

Oleh:
Hampir saja, mana pernah cukup? Aku menatap jendela kamar. Terlihat laki-laki berlari menuju teman-temannya. Hatiku mulai berseru lagi. Siapa dia? Siapa dia? Pertanyaan itu terus muncul dalam otakku yang

Anata To Christmas Eve

Oleh:
TENG! TENG! TENG! Dentuman bunyi lonceng Gereja pun berdetak memecah heningnya malam. Menandakan bahwa malam sudah cukup larut. Namun, aku masih ingin berada di sini. Di tengah kesendirian dan

Pergi Tak Kembali

Oleh:
Sebuah cerita bermakna Yang ingin ku tulis Bukanlah sebuah mimpi Yang terbang melayang Hanya di atas angan-angan Rasa sepi di tengah keramaiaan ini Buat ku tau apakah aku bisa

Menanti Pangeran Bersayap Jingga

Oleh:
Di bawah guratan langit jingga berkuaskan rindu, langkahku tertatih. Berjalan perlahan menuju jembatan yang dipenuhi lilin-lilin. Sungguh, ekor mataku tak kuasa lagi menembus suasana lengang nan tak bernada ini.

My Beloved Friend

Oleh:
Di sebuah studio foto jepretan kamera tak henti-hentinya mengabadikan potret sepasang model cantik luar biasa yang sedang berfose. Semua orang berdecak kagum melihat hasilnya yang begitu sempurna tapi salah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *