Under The Osaka Sky

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Jepang, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 25 April 2013

“Klik, Cekeeetttt, Jeblog…” pintu kamarku terbuka. Spontan aku terbangun dari ranjang, padahal mataku baru saja mau memasuki alam mimpi. Dan lagi-lagi itu Yuuna, dia kembali mengganggu malam indahku.

“Bisakah kau lebih sopan ketika masuk kekamarku, aku baru saja mau tidur,” cerocosku padanya.

“Pintu kamarmu juga jarang di kunci, jadi tak masalahkan aku masuk,” jawabnya enteng.

“Kau selalu saja begitu Yuu. Ya sudah kamu mau cerita apa lagi sekarang, waktumu lima belas menit!” kataku sambil memeluk guling.

“Tidak! aku cuman ingin kau menemaniku belanja keperluan besok. Bisa kan Ren?” ajaknya sedikit memelas.

“Sebenarnya bisa sih, lagi pula besok sekolahku lagi libur. Tapi, kenapa tidak bersama pacarmu saja sih?” dengan ringan kulepaskan pertanyaan itu.

“Dia lagi sibuk. Lagi pula aku lebih nyaman denganmu kalau belanja,” jawabnya tersenyum.

“Apa?” tanyaku sedikit heran.

“Tidak apa-apa. Ya sudah aku tidur dulu ya,” jawabnya dan langsung berlalu setelah pintu itu dia buka, dan menutupnya dari luar.

Sikapnya memang sedikit menyebalkan. Hampir setiap malam dia datang kekamarku dan terkadang lebih lama. Ya sekedar untuk mencurahkan hatinya, perasaannya, bahkan kegundahannya juga dia bagikan padaku.

Cerpen Under The Osaka Sky

Sejujurnya aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Terlebih kamar yang kutiduri setiap malam ini adalah miliknya. Aku hanya jadi penumpang di sini, bersyukur aku diizinkan tinggal di rumah ini dengan percuma. Setidaknya waktu itu aku yang menemukan barang berharganya, bukan orang lain.

Sebelum kembali berbaring dikasur. Aku buka jendela, kemudian meloncat dan diam di atas genting rumah. Menatap kelangit Osaka, dan memastikan langit tidak berawan malam ini. Aku tidak peduli dengan bintang dan bulan, aku hanya peduli dengan matahari besok pagi.

*

“Hoam,” aku bangun pagi sekali. Segera saja kuberanjak dan menuju kekamar mandi. Aku bersiap-siap untuk pergi menemani Yuuna belanja, sesuai ajakannya semalam. Dan sekarang aku sudah benar-benar rapi. Tinggal menunggunya mengetuk pintu kamarku. Tidak! Dia pasti langsung nyelonong masuk. Ugh!

Jam 9 pun tiba. Tapi masih belum ada Yuuna memanggilku. Apa dia lupa dengan rencananya hari ini? Ingin sekali aku mengetuk pintu kamarnya, kalau berani. Tapi sampai saat ini aku selalu merasa kalau itu tidak sopan. Walaupun dia selalu berkata jangan sungkan kalau mau masuk kekamarnya.

Sekarang aku sudah melihat langit cerah di musim semi ini. Kecerahannya menunjukan kalau sekarang sudah pada posisi tengah hari. Tapi kok belum ada tanda-tanda dari Yuuna? Apa dia masih tidur? Ah, lebih baik aku juga tidur kalau begitu.

“Hei bangun-bangun. Ren bangun,” dalam samar saat mataku mencoba kubuka, kulihat Yuuna sedang teriak. Apa? Ternyata aku benar-benar tertidur dari tadi.

“Kenapa Yuu? Apa kau membatalkan rencanamu untuk belanja,” tanyaku sedikit pusing karena bangun tiba-tiba.

“Tidak sama sekali. Ayo sekarang kita berangkat. Malas sekali kamu, jam segini sudah tidur,” jawabnya tanpa beban.

“Apa? Kau ini aneh. Aku menunggumu dari tadi pagi. Sekarang sudah mau malam gini, kamu malah mau mengajaku pergi,” kataku sedikit cemberut dan menggesek-gesek mataku.

“Memangnya siapa yang bilang aku akan belanja pagi-pagi? Ya sudah buang dulu wajah kusutmu sana ke kamar mandi. Ayo, nanti pulangnya aku akan masak Sashimi untukmu,” dari senyumnya terlihat kalau dia sedang membujuk.

“Baiklah. Tapi janji ya Sashimi nya,” jawabku sambil beranjak dari kamar.

“Iya-iya. Kamarmu juga aku beresin deh.”

Malam itu aku hanya membuntuti Yuuna dari belakang, mengikutinya mencari barang yang ia perlukan. Jarang sekali aku bisa jalan berdua dengannya, ini seolah moment yang spesial bagiku. Terlebih wajah cantiknya, bukan hanya membuatku dan pacarnya saja yang terpesona. Tapi seluruh laki-laki di sekolah juga sepertinya begitu.

“Seandainya saja kau bisa jadi miliku Yuu,” hatiku berkata.

Aku mulai melamunkan yang tidak-tidak. Padahal bagiku, tinggal serumah dengannya saja, sudah sangat cukup membuatku bahagia. Apalagi tinggalnya hanya berdua. Ya kedua orang tuanya sengaja membuatnya bisa hidup mandiri, dengan membelikan rumah itu. Dan saat itu dia mengajaku untuk tinggal bersamanya, saat di mana aku mencintainya pada pandangan pertama. Dan biarkanlah hanya aku dan Tuhan yang tahu. Yuuna gak perlu tau!

“Hei Ren! Malah melamun kamu. Ayo pulang.”

“Hah. Apa? Iya baiklah,” Aku tersadar dari lamunanku.

“Ngelamunin apa sih? Aku kan?” dengan pede dia berkata.

“Bisa aja kamu. Nggak Aku lagi melamunkan Sashimi yang akan kau masak.”

“Ahaha… Ya sudah kalau gitu kita cepat-cepat pulangnya,” tawanya membuatku tersenyum. Manis sekali kamu Yuu!

Kami berdua masih berjalan di sekitar Kota. Malam yang ramai untuk sebuah Kota sebesar Osaka. Yuuna membelikanku Ice Cream, baik juga dia. Huft… Aku salah! Karena baru pas gigitan ketiga, dia mengambil Ice Cream ku dan Kemudian dia jilat dan lahap sendiri. Aku mencibir dan dia tertawa terpingkal. Menyebalkan!

“Osaka membosankan yah! Padahal kenapa kamu tak sekolah di Tokyo saja? Mengapa kau malah pindah kesini?” dalam sunyi tiba-tiba dia bertanya.

“Mmm… Kalau aku tidak pindah ke Osaka, mungkin aku tidak bisa numpang gratis dirumahmu, Ahaha” aku tertawa saat menjawabnya. “Lagian orang tuaku juga menganjurkanku untuk sekolah di sini. Ngomong-ngomong kenapa kamu menanyakan itu?”

“Tidak! Aku cuman ingin merasakan tinggal di Tokyo saja.”

“Oh… seperti itu ya.”

Setelah itu suasana jadi hening tak ada obrolan diantara kita. Yang terdengar hanya suara langkah kaki, dan beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Sampai aku beranikan diri untuk menanyakan hal itu.

“Yuuna… Boleh kutanyakan sesuatu padamu?”

“Ya mau nanya apa Ren?” tanya dia dengan eskpresi heran.

“Tapi sebelumnya maaf ya! Apa pacarmu tau kalau kita tinggal serumah?” tanyaku terbata-bata.

“Tidak! Tidak boleh. Kalau tau, dia pasti mutusin aku” jawabnya sedikit tersenyum.

“Tau seperti itu. Aku jadi gak enak Yuu.”

“Ahaha, santai saja Ren. Dia tidak akan tau kok, aku sudah bilang padanya, kalau aku tinggal sama orang tuaku,” jawabnya ringan.

Saat itu masih ada yang ingin kutanyakan, tapi sepertinya dia bertemu dengan teman lamanya. Tepat saat kita mau berjalan pulang.

“Hai… Kamu Yuuna… Yuuna Yamaguchi kan?” sapa temannya itu.

Yuuna sedikit kaget dan mereka langsung berbincang. Karena kupikir akan lama, aku pulang duluan. Dan Yuuna juga memberi isyarat kalau sepertinya dia memang akan lama berbincang dengannya. Sepertinya malam ini aku tidak akan jadi makan Sashimi. Ugh!

Pintu rumah itu sudah kugenggam dengan tangan kanan. Sementara tangan kiriku merayap kesaku mengambil kuncinya. Astaga! Aku kaget saat terdengar suara berisik di dalam. Dan Ya ampun! Pintunya juga tidak terkunci. Tanganku mengambil perkakas dan berjalan pelahan. Suara-suara itu terdengar jelas di dapur.

“Jangan-jangan maling nih,” pikirku.

Tangan kananku perlahan membuka pintu dapur. Tangan kiriku bersiap dengan perkakasnya. Tanpa pikir panjang, langsung saja kubuka dan masuk kedalam… Hah! Yuuna!

“Untuk apa perkakas itu kau bawa kesini ren?” tanyanya heran.

“Bagaimana kau bisa..” aku menarik napas. “Cepat sekali kau sampai Yuu. Kukira kau maling.”

“Sembarangan! Aku tadi dianterin sama teman. Lagi pula mana ada maling yang sudi masak Sashimi buat kamu Ren,” katanya menyunggingkan senyum.

“Hah Sashimi! Boleh aku makan sekarang?” aku sudah siap sedia di meja makan.

“Langsung makan aja. Itu untukmu kan?”

Indah sekali malam ini. Sashimi buatan Yuuna begitu enak. Aku juga tak mengerti dengan hubunganku dan Yuuna. Tinggal serumah berdua, tapi bukan sepasang Suami Istri. Mungkin saja pacarnya juga belum pernah merasakan masakannya. Beruntung sekali aku…

“Ren?” tiba-tiba Yuuna bertanya.

“Kenapa Yuu?” mulutku masih mengunyah Sashimi.

“Memangnya kamu tidak bosan. Single terus,” tanyanya.

“Bosen sih! Tapi ya mau gimana lagi. Belum laku aku nih, Ahaha.”

“Ah gak mungkin! Sebenarnya kamu malas ngedeketin perempuan aja kan?” tebaknya.

“Mungkin!” jawabku singkat.

“Ya sudah! Akhir pekan nanti, kamu aku ajak ke Osaka Castle. Aku ada janji sama teman disana. Nanti aku kenalin, mungkin aja cocok denganmu,” pintanya.

“Serius Yuu?” tanyaku tidak percaya.

“Iya serius. Tapi syaratnya kamu harus merubah penampilan dulu,” lanjutnya.

Pagi yang indah, disaat langit Osaka cerah. Aku bersiap berangkat sekolah lagi. Sesuai tips yang diberikan Yuuna semalam, aku sedikit merubah penampilanku. Seperti memakai gel rambut dan mengangkat poniku keatas. Memakai Hazeline yang Yuuna beri. Dan menggunakan jam tangan, serta perangkat pria keren lainnya. Tampan juga ternyata aku. Percaya diri tingkat tinggi…

Sampailah di sekolah. Beberapa orang melihatku kagum dengan wajah baruku. Beberapa lainnya seperti tertawa, menatapku aneh. Huft.. Biarkanlah!
Selanjutnya ada beberapa perempuan yang tersenyum diatasku. Aku hanya menunduk, tak mengartikan apa maksudnya.

Sial! Tiba-tiba saja salah satu dari perempuan itu ada yang jatuh dari atas. Reflek aku langsung loncat dan menangkapnya. Punggungku benar-benar terasa sakit. Dan kami berdua dilarikan ke UKS saat itu.

“Makasih yah. Sudah menangkapku tadi,” dia terbangun.

“Iya tidak masalah,” jawabku dengan wajah masih kesakitan.

“Oya… Aku Nori Kichida kelas 11 C,” tangannya sudah berada didepanku.

“Aku Ren Kobayashi kelas 12 A,” langsung kujabat tangannya yang halus.

Setelah perkenalan itu, aku langsung banyak mengobrol dengannya. Ternyata dia mudah akrab dan ramah, kebanyakan topik obrolan berasal darinya. Beberapa kali aku mencuri pandang dengannya. Ya ampun manisnya!

Keesokan hari dan di hari-hari berikutnya. Aku jadi banyak menghabiskan waktu di sekolah dengannya. Sekarang aku seperti mulai tertarik padanya, berharap dia juga sama. Dan sekarang kupikir, tak perlu pergi ke Osaka Castle dengan Yuuna. Karena aku sudah punya target pendobrak single’ku, karena Nori kabarnya single juga, dan sebenarnya dia juga pemalu sepertiku.

***

Tibalah malam di akhir pekan. Sudah kubilang aku menolak keras untuk pergi ke Osaka Castle pada Yuuna, tapi tetap saja dia bersikeras mengajaku. Ya sudahlah. Akhirnya tiba juga aku di sana, kemudian seperti janjinya. Dia memanggil perempuan yang akan dia kenalkan padaku. Dari kegelapan taman, perempuan itu menghampiri. Ya ampun Nori!

Aku kaget, sepertinya Nori tidak. Dia sudah tau ini semua, dan Yuuna yang merencanakan ini. Pantas saja dia sekeras itu membujuku pergi. Tapi hatiku begitu bahagia malam ini, dan Yuuna sengaja meninggalkan kami berdua di taman itu. Dia juga punya janji dengan pacarnya.

Kupikir inilah saatnya aku mengungkapkan perasaan pada Nori, rasanya momentnya begitu tepat. Di bawah langit Osaka, dengan saksi bintang dan seperempat bulan, aku ucapkan kata-kata itu. Dan hasilnya…

Aku sudah kembali di kamar, membuka jendela dan duduk keluar diatas genting, dan menatap langit. Bahagia sekali aku malam ini, tak kusangka Nori akan punya perasaan yang sama padaku. Akhirnya, setelah sekian lama, status singleku berubah juga. Seharusnya aku banyak berterimakasih ke Yuuna, kutau dia yang merencanakan ini. Termasuk insiden Nori jatuh, sebenarnya dialah yang mendorongnya dari atas waktu itu. Gila juga ya! Haha.

Sayangnya Yuuna belum juga pulang. Tapi sekian menit setelah itu, dia masuk kekamarku dan menghampiriku lewat jendela. Dia menangis dan langsung memeluku saat itu. Apa-apaan nih anak?

“Ren… Aku putus sama pacarku,” dia terisak saat mengatakan itu.

“Hah… Kok bisa Yuu. Apa karena dia tau kita tinggal serumah,” aku mencoba menebak dengan perasaan khawatir.

“Iya bener Ren,” jawabnya.

“Maafkan aku Yuu, ini salahku. Mungkin aku harus segera pindah dari rumah ini,” kataku dengan penyesalan.

“Hatiku akan lebih hancur kalau kau pindah. Kamu tinggal saja terus di sini gapapa. Lagi pula ini bukan salahmu!” dia berusaha mengusap air matanya.

Sekali lagi tak kusangka akan berakhir seperti ini. Kenapa kejadiannya harus bersamaan saat aku baru saja bahagia memiliki Nori? Kenapa harus malam ini kamu jadi single Yuuna? Apalagi besok aku akan pulang ke Tokyo dan akan lama di sana. Aku akan bertemu keluargaku, menunggu kelulusan sekolah. Dan kamu juga bagian keluargaku sekarang Yuu, yang harus kutinggalkan. Tapi tenang saja, cuman sementara kok…

***

Begitu bosannya aku di Tokyo, apalagi sudah hampir sebulan aku disini. Jujur sekali aku merindukan kehidupan di bawah langit Osaka. Aku rindu pada setiap hal di Osaka. Aku rindu teman-temanku, aku rindu pada sayangku Nori. Dan aku juga merindukanmu Yuu. Sedang apa kamu di rumah itu sekarang?

Aku dan Yuuna hampir-hampir Lost Contact. Jarang sekali aku mengirim pesan padanya. Karena biasanya kita memang jarang SMSan, ya memangnya perlu SMSan sama orang yang serumah? Aku tersenyum membayangkannya.

“Tuuttt,” SMS masuk ke Handphoneku. Hah Yuuna? Bukan itu pesan dari Nori. Hmm… aku kembali meletakan Handphone itu, setelah membalas pesannya. Mungkin aku harus mengirim pesan ke Yuuna sekarang. Aku langsung mengambil kembali Handphone, tapi kubatalkan pesan ke Yuuna. Karena dia telah mengirim pesan dahulu, yang berisi;

“Aku merindukanmu Ren.”

Jariku langsung menari, mengetik balasan, “Aku juga Yuu! Hei Gimana Kabarmu?”

Masih belum ada balasan dari Yuuna. Handphoneku terus berbunyi, tapi lagi-lagi itu dari Nori. Ya sudahlah. Atau apa aku harus pergi ke Osaka sekarang. Gila! Tapi kenapa tidak?

Langsung saja aku berangkat malam itu, menunggu beberapa kendaraan umum. Dan 1 jam itu tak terasa lama, aku sudah sampai. Hanya tinggal berjalan kerumah Yuuna.

“Teneeettt,” bell rumah itu kutekan.

Tak harus menunggu lama. Yuuna membukakan pintu dan langsung memeluku. Pelukannya hampir-hampir membuat keseimbangan tubuhku kacau.

“Lama sekali sih sampainya” ejeknya.

“Kamu tau ini jam berapa Yuu?” tanyaku mencibir.

“Ahaha… Ya sudah makasih Ren, udah mau repot-repot datang,” jawabnya terpingkal.

“Hei… kamu tidak akan menyuruhku masuk ke dalam Ren?” sindirku.

“Tidak! Aku sudah menyiapkan semuanya di Taman belakang. Jadi kita langsung kesitu saja,” dia tersenyum seperti biasanya.

Aku di bawa Yuuna ke taman belakang. Tempat yang paling jarang kita kunjungi. Dan sekarang. Wow, romantis sekali di sini. Ada tikar untuk duduk. Dengan lampu pijar yang indah. Dan sudah ada teh panas di sana.

“Silahkan duduk Ren.”

Kita banyak mengobrol malam itu, Yuuna yang banyak cerita sebenarnya. Dia juga bilang sudah bisa melupakan pacarnya sekarang. Sementara dia bercerita, aku masih sibuk meniup-niup teh yang panas dicangkirnya. Sedikit mencobanya, dan langsung memuntahkannya saat dia mengatakan hal itu.

“Ren. Aku menyukaimu.” singkat tapi menusuk yang dia katakan.

“Jangan becanda Yuu,” timpalku.

“Beneran Ren. Kamu juga suka kan padaku, aku tau kamu gak perlu bilang,” lanjutnya.

Aku hanya diam, menyimpan secangkir teh itu ke meja.

“Aku sudah tidak single lagi Yuu. Kamu tau itu kan, aku milik Nori sekarang,” aku memberanikan diri mengatakan itu.

“Aku tak ingin jadi pacarmu Ren. Kita cukup berteman seperti ini saja. Tapi kamu boleh menganggapku lebih. Kencan denganku juga boleh Ren. Ya, tolong Ren aku mungkin akan lebih kesepian di hari-hari berikutnya,” terangnya tulus.

Aku menarik napas. Dan mencoba mencari jawaban yang tepat dari itu semua, sampai aku bilang padanya.

“Aku juga menyukaimu Yuu! Dari sejak pertama sudah Menyukaimu,” kataku tanpa memikirkan resiko berkata seperti itu.

Yuuna langsung memeluku, dan membuatku jatuh terkapar. Dia berbisik ditelingaku.

“Kamu tak perlu mengatakannya Ren. Aku sudah tau, makasih ya,” kudengar dia terisak saat mengatakan itu.

Sejujurnya aku bingung dengan semua ini. Aku benar-benar tak tau harus seperti apa menghadapi situasi ini. Mungkinkah aku harus mendua? Tapi biarkanlah mengalir. Walau aku yakin ini akan semakin sulit kedepannya. Tapi sementara aku bahagia, dan kembali menatap langit Osaka. Dan bersama lagi dengan perempuan yang kucintai selama ini.

Tuhan tolong bantu aku, dan jangan pernah kau cabut kebahagian ini…

Cerpen Karangan: Ajang Rahmat
Facebook: http://facebook.com/ajangrahmat
Blog: http://boytrik.blogspot.com/
Web: www.ajangrahmat.com
Twitter: @ajangrahmat
Motto Hidup: Sukses adalah spirit saya untuk tidak gagal, dan gagal spirit saya untuk bisa sukses

Cerpen Under The Osaka Sky merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Dan Kamu

Oleh:
Namaku Claudya Rara Rahardi, biasa dipanggil Rara. Aku punya sahabat namanya Reno, cowok super cakep tapi bawelnya ngalahin bebek yang lagi ngoceh. Tapi gak tahu kenapa akhir-akhir ini Reno

Karena Kita (Part 1)

Oleh:
Kau datang dan jantungku berdegup kencang, Kau buat ku terbang melayang… Alunan nada ponsel Tata berbunyi nyaring, menandakan seseorang di seberang sana sedang menunggu untuk sebuah keperluan. “halo..” “halo,

Lembayung Senja (Part 2)

Oleh:
“Nah udah gitu aja. Ngerti, kan?” katanya sambil meregangkan badan. Aku mengangguk sambil merapikan kembali partitur. Lalu menatap Khalil sambil bertopang dagu. “Doain ya, Lil, semoga besok lancar dan

Anakku Bukan Anakku (Part 1)

Oleh:
Taburan bunga yang penuh warna di atas karpet merah, mengisi setiap lorong dan jalan menuju altar. Tempat duduk dan meja yang cantik dengan hiasan sepasang burung merpati bercat emas

Love? Just Be Patient (Part 2)

Oleh:
Rain datang ke rumahku, membawa parcel buah, aku sedang menghibur diri di depan rumah melihat bunga-bunga. “Hi! Rain!” aku setengah terkejut. “Nona sudah terlihat membaik.” Rain membuka pembicaraan. “Iya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *