Yes I’am Dreaming

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 29 December 2016

Kuseka air mataku yang terjun bebas begitu saja dari pelupuk mataku. Benar-benar menyedihkan, aku bahkan menangis dan selalu menangis karena satu hal. Karena pria itu, aku terlihat sangat menyedihkan. Aku tak ingin selalu seperti ini, aku sudah berjanji tak akan menangisinya lagi. Namun apa dayaku, dengan melihat fotonya saja air mataku langsung terjun bebas membasahi pipiku.

“Kenapa aku terlihat lemah sekali? Aku membencimu tapi aku juga sangat mencintaimu, aku sudah tak sanggup lagi. Tolong pergi dari pikiranku!! Hiks, hiks, hiks” racauku tak jelas.

Aku beranjak pergi menuju dapur. Setelah menangis lama, aku merasa sangat haus. Sesampainya di dapur, aku langsung meneguk segelas air putih. Lega, benar-benar lega rasanya. Ketika aku hendak pergi menuju kamarku lagi, aku mendengar suara ketukan pintu.
“tokk tokk tokk tokk”
“Siapa sih yang dateng siang bolong begini?” pikirku.

Aku berjalan menuju pintu, kuputar knop pintu tersebut dan membukanya.
“Kau!.” Betapa terkejutnya diriku, dia, pria itu, dia yang selalu kutangisi, dia datang ke rumahku, aku tak percaya, apakah ini mimpi?.
“Tes” air mataku meluncur begitu saja dari pelupuk mataku.
“Kenapa kau menangis? Kumohon jangan menangis lagi! Aku jauh-jauh datang kesini hanya untukmu. Apa kau tak menginginkanku? Kalau begitu aku pergi saja” ucap pria itu.
“Tidak, kumohon jangan pergi! Aku ingin kau tetap disini.” kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku ini.
Dia, pria itu hanya tersenyum ke arahku. Tuhan, senyumnya begitu manis, bahkan lebih manis dari gula. Kuharap aku bisa melihat senyumnya setiap hari, pasti hidupku akan lebih bahagia.
“Aku masih tak percaya kau datang, apa yang membuatmu menemuiku?” kuberanikan diriku bertanya padanya.
“Ketika aku menginjakkan kakiku ke tanah yang sama denganmu, aku langsung teringat denganmu.” jawabnya.
“Blushh” pipiku pasti sudah seperti kepiting rebus sekarang ini. Aku benar-benar malu sekarang ini.
“Maafkan aku, aku tak akan bisa melihatmu malam nanti.” aku hanya menunduk, aku takut melihat matanya.
“Kau akan menjadi tamu spesialku malam nanti, jangan khawatir! Kau pasti akan melihatku” ucapnya.
“Ba, ba, gaimana bisa?” aku memberanikan diriku menatap matanya.
“Tak usah dipikirkan! Lebih baik kau ikut aku sekarang!” Dia menarik tanganku, entah dia akan membawaku kemana aku juga tak tau. Aku bahkan tak menolak sedikitpun ketika dia menarikku begitu saja tanpa persetujuanku. Aku terus menatap tanganku yang dia genggam erat, sangat erat. Jantungku berdegup lebih cepat, seakan ribuan kupu-kupu berterbangan di dalam perutku.

Dia menghentikan langkah kakinya, sontak saja aku juga menghentikan langkahku.
“Dimana sekarang aku? Kenapa tempat ini begitu asing?” pikirku.
“Kita sudah sampai, aku ingin mengenalkanmu kepada teman-temanku. Ayo!” lagi-lagi dia menarik tanganku. Aku baru sadar, apa tadi katanya. Teman-temannya, berarti aku akan bertemu mereka semua. Dia memutar knop pintu dan membukanya, waktu seakan berhenti sekarang ini. Ini benar-benar seperti mimpi saja.

“Hai, Fadli. Dia siapa?” Tanya pria yang sedang duduk sambil membaca majalah. Sontak semua orang melihat ke arahku.
“Kenalkan dia Jennie. Dia yang selalu aku ceritakan.” ucap Fadli, dia masih saja menggenggam tanganku.
“Salam kenal, Jennie” ucap mereka sambil tersenyum ke arahku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum ke arah mereka.
“Kau tunggu disini, aku ingin bersiap-siap sebentar saja.” dia pergi menuju salah satu kursi dan mendudukan dirinya disana. Lalu seseorang menghampiri Fadli dan meriasnya. Tak lama Fadli sudah siap, dia tersenyum ke arahku dan berjalan menghampiriku.
“Ayo! Sebentar lagi konserku akan segera dimulai.” Lagi-lagi dia menggenggam tanganku erat sekali.

Dia membawaku ke kursi penonton tepat di depan panggung. Dia memintaku untuk duduk di sini dan melihatnya dari sini. Aku menunggu konser dimulai dengan perasaan gelisah serta aku masih tak percaya. Aku harap ini bukan mimpi. Tak lama banyak orang yang masuk kearea konser, kebanyakan yang datang adalah wanita. Beberapa menit lagi konser akan dimulai, aku duduk tenang di kursiku.

“Ahhh.. Ahhh.. Ahhh..” terdengar suara wanita-wanita disini menjerit ketika pria-pria yang tampan dan juga menggemaskan itu menampakkan dirinya di panggung. Aku bisa melihat Fadli dengan jelas disana, aku tersenyum ke arahnya. Mereka memulai konsernya dengan beberapa nyanyian, langsung disambung dengan sesi santai-santai.

Fadli berjalan ke arahku dan memintaku untuk naik ke panggung, awalnya aku ingin menolak tapi Fadli langsung menarik tanganku begitu saja. Sekarang aku benar-benar malu, ditambah suara jeritan wanita-wanita disini semakin besar. Dia membawaku ke tengah panggung, mata semua orang tak lepas dari kita berdua.

“Disini aku ingin mengungkapkan sesuatu.” ucap Fadli yang membuat jantungku berdetak tak karuan.
“Jennie, ..” tambahnya semakin membuatku gemetar.
“Jennie, aku sangat men..” Belum sempat Fadli meneruskan perkataannya, ada sesuatu yang melempar kepalaku.
“Awhh, sakit sekali. Ibu, kenapa kau melemparkan guling kepadaku?” ucapku marah kepada ibuku.
“Kalo dibangunin tuh langsung bangun, jangan tidur mulu! Ini udah hampir siang, cepet mandi!” balas Ibuku.
“Apa? Bangun? Tidur? Siang? Mandi?. Jadi aku tadi Cuma mimpi? Ahh, padahal tadi hampir aja. Ibu sih bangunin aku segala, nunggu bentar lagi kan bisa!”
“Ahhhhhhhh” aku berteriak tak jelas, kecewa dan sedih semuanya campur aduk.
“Jangan teriak mulu, mandi sana!” Ibuku berteriak dari luar kamar.
“Jennie gak rela kalo tadi cuma mimpi, kalaupun cuma mimpi kenapa gak diselesaiin sekalian. JENNIE GAK RELA.”
“Hiks.. hiks.. hiks..”
“Disuruh mandi malah nangis, cepet mandi!” teriak Ibuku lagi.

TAMAT

Cerpen Karangan: Anisa Fitriani
Facebook: Anisa Fitriani

Cerpen Yes I’am Dreaming merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Payung Karat

Oleh:
Halaman parkir motor itu sudah sepi sejak setengah jam yang lalu. Semua motor sudah dinaiki pemiliknya dan melaju pergi meninggalkan Hall Badminton itu. Seorang tukang parkir masih terlihat duduk

Nana dan Nina

Oleh:
Di salah satu sekolah swasta Yogyakarta, ada 2 anak yang menjalin persahabatan sejak mereka bertemu saat kelas X di SMA-nya. Nina dan Nana. Mereka bersekolah di sekolah islami. Tidak

Putri Naswa

Oleh:
Pada zaman itu ada seorang putri naswa yang buruk rupa,hingga pada suatu hari dia bermimpi bertemu seorang pangeran “cantik kemarilah!”katanya sang putri melihat kekanan kiri,tidak ada orang selain ia.

Pupus Harapan Di Ujung Negeri

Oleh:
Telah lama aku tersugesti mencintai seorang gadis manis, yang hanya bisa kucintai. Memandang wajahnya lewat terangnya layar handphoneku, meredupkan semangatku untuk menggapainya. Karena yang aku tahu, bukanlah aku yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *