Yes! I’m Your Home (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 9 May 2019

“Sudah Ki, ikhlasin Resa biarkan dia tenang di alam sana” Aku mengelus pundak laki-laki yang jongkok di samping makam. Tangannya meremas tanah makam yang basah, matanya sembab habis menangis. Pemakaman sudah sepi hanya tinggal kami berdua.

“Aku harus gimana Ra?, Resa adalah rumahku dia tempatku untuk pulang, kalau dia pergi ke mana Aku akan menemukan rumahku” suaranya sedikit serak karena habis menangis.
“Aku percaya Kamu bakal nemuin rumah yang baru tempatmu untuk pulang” Aku mencoba menenangkan. Aku mengerti perasaannya. Tidak mudah kehilangan orang yang dicintai untuk selamanya.

“Ayo kita pulang, tidak baik terlalu lama larut dalam kesedihan” Aku berusaha tegar, memberi kekuatan untuk Riski. Walau sebenarnya, Aku juga menangis karena ditinggalkan seorang teman.

“Ra…” ucapnya pelan “Apa kamu mau janji sama Aku?”Aku mengangguk
“Jangan pernah ninggalin Aku, Kamu akan selalu ada untuk Aku, Kamu…”
“Aku janji sama Kamu” potongku cepat
“Makasih” Ia memelukku. Aku sungguh tidak bisa melihat orang yang kucintai menangis, meskipun Ia mencintai perempuan lain.

Satu tahun kemudian
Aku menepati janjiku. Aku selalu ada di samping Riski, dan Riski selalu ada untukku meskipun Kami tidak menjalin kasih. Aku dan Riski kenal empat bulan sebelum kematian Resa. Resa adalah sahabatku. Semenjak Aku kenal dengan Riski Aku langsung mencintainya. Namun, Ia lebih mencintai Resa daripada Aku. Aku pun berusaha untuk merelakan Riski tapi tetap tidak bisa. Akhirnya Aku memutuskan untuk memendam rasa cinta dan sakit ini sendiri. Hingga saat ini Aku masih mencintainya.

Sekarang Riski sudah menjadi Riski yang kukenal dulu. Humoris, konyol, tapi tetap gagah pastinya. Ia sering memberiku satu buah kerikil kecil ketika Ia merasa bahagia kini sudah hampir penuh satu toples berukuran tanggung. Kebiasaan yang aneh.

Suara ketukan pintu memaksaku menyudahi lamunanku. Aku menyeret langkahku yang berat menuju pintu. “Riski…, ada apa?” Aku berdiri didepan pintu.
“Jalan yuk, ke mana gitu. Siang-siang begini gak asyik kalau cuma diam di rumah”
Aku memandang matahari yang sangat terik. “Gak mau ah, panas-panas begini”
“Harus mau Vira, Sana ganti baju” Ia mendorong-dorong tubuhku masuk ke rumah.

Cuaca benar-benar tidak bersahabat kali ini. Tidak sedikitpun awan menutupi matahari. Tanganku yang kurus kunaikkan hingga ke pelepis menutupi wajahku agar tidak terkena sinar matahari yang menyengat. Aku berjalan di belakang Riski, terseok-seok memasuki area pemakaman. Selalu saja Ia mengajakku ke tempat seperti ini. Ke mana lagi? kalau bukan ke makam Resa.

Dia jongkok, sekitar sepuluh menit di samping makam Resa. Mau tidak mau Aku juga mengikuti aktivitas Riski mendoakan Resa. Ia berdiri “Ayo” Aku mengangguk. Aku berjalan di depannya. Aku semakin rapat menutupi wajah dengan tanganku. Tiba-tiba saja sebuah jaket mendarat kasar di kepalaku “Nih pake” ucap Riski padaku. Aku tersenyum tapi tidak menoleh ke belakang. Tidak tahu senyumku tadi untuk siapa. Aku memperbaiki jaket yang sekarang bertenggar manis di kepalaku. Aroma parfum menguar dari jaket Riski. Benar-benar wangi.

“Ini” Aku menyodorkan jaket yang tadi Ia pinjamkan padaku setelah sampai di parkiran. Ia menolaknya “Pake aja, katanya kamu kepanasan”
“Enggak mau, Kamu yang lebih membutuhkan ini Kamu kan cuma makai kaos pendek terus Kamu juga harus nyetir motor”
“Siapa bilang Aku yang nyetir motor, Kamu yang nyetir motor” ujarnya santai
“Apa?” Aku membelalak
“Kamu yang nyetir motor….”
Aku memukul lengannya “Ih Aku sudah dengar, Aku kan gak bisa naik motor, apalagi motor gede”
“Aku ajarin lah, Biar gak tergantung terus sama Aku. Lagian Aku sudah pilih jalan yang sepi. Sini cepat” Aku mengambil alih kemudinya. Kalau memang ia tidak mau menjemput dan mengantarku ke kampus Aku bisa naik angkutan umum kok.

Mula-mula Aku menstarter motornya dengan mulus. Aku mulai menarik gas. Awalnya, semua berjalan baik pada seratus meter pertama. Namun semuanya menjadi kacau ketika Aku berpapasan dengan sebuah becak. Motor yang kukemudikan hilang kendali, oleng kesana-kemari Aku panik. Riski memintaku agar tidak panik. Tapi, Aku tetap saja panik dan sebelum akhirnya masuk ke parit. Aku berteriak keras, untung paritnya tidak dalam juga sedang tidak ada airnya. Namun, kerasnya tanah sukses menggores pergelangan tanganku hingga lecet.

Riski tidak mengalami luka sedikitpun. Ia langsung berdiri dan membantuku duduk di bawah sebuah pohon mahoni di pinggir jalan. Aku menangis, meskipun luka di pergelangan tanganku tidak parah. Bahkan hanya tergores sedikit. Aku menangis bukan karena rasa sakitku melainkan rasa syok yang berlebihan. Ah, tidak ada satu orang pun yang lewat untuk menolong kami. Riski berusaha mengeluarkan motornya dari parit. Setelah motornya berhasil keluar. Ia menghampiriku “Kamu gakpapa kan?, mana yang sakit?”
Aku menunjukkan pergelangan tanganku. Aku masih saja menangis. “Jangan nangis sini Aku tiupin nih biar gak perih” Ia meniup-niup pergelangan tanganku. Tangisanku berangsur reda. “Kita pulang sekarang” ucapnya sambil membopongku kemotor “Ayo Kamu yang nyetir lagi, kalau gak mau ya sudah pulang jalan kaki saja sana” ucapnya menantangku.

Aku berjalan menjauhi Riski sambil menangis. Meneruskan perjalananku, lebih baik pulang jalan kaki daripada harus menyetir motor lagi. “Kenapa sih susah amat digertaknya” Ia menarikku naik motor. “Pake dulu nih helmnya” Ia mengulurkan helm. Aku tidak segera menerimanya. Hingga Ia memakaikan helm ke kepalaku. Aku sudah tidak menangis lagi. Aku sama sekali tidak berbicara. “Jangan marah dong Ra, Aku takut kalau Kamu marah sama Aku. Aku janji deh nurutin apa yang Kamu mau” ucapnya kalah. Aku diam tidak menjawab perkataannya. Tiba-tiba Ia meminggirkan motornya di sebuah warung. “Mampir minum dulu ya?”
“Terserah” jawabku tidak peduli

Ia membawa kotak P3K dari dalam warung. Ia menggamit tanganku mengguyurnya dengan air bersih “Aduh” Aku mengaduh perih. “Tahan gak lama kok” ucapnya lembut. Ia mengobati lukaku dan membalutnya. “Kamu sudah gak marah kam sama Aku” tanyanya setelah membalut lukaku dengan perban. “Emang tadi Aku bilang marah ya?, Aku tadi syok jatuh seperti tadi…”
“Aku minta maaf deh, gimana kalau hari ini kita jalan-jalan?”

Aku melongo menyaksikan tempat yang kami datangi. Aku kira ketika Ia bilang mengajak jalan-jalan maka Ia akan mengajakku ke Mall, cafe, atau ke tempat-tempat keren lainnya. Tapi yang Ia maksud jalan-jalan adalah ke sebuah danau tidak jauh dari jalan menuju pemakaman. Tempatnya sepi banyak pepohonan yang tumbuh di sekitar danau. Air danau yang hijau menambah suasana hijau. Hingga Aku tidak melihat warna yang bukan hijau selain daun pohon yang mulai menguning.

“Memangnya Kamu sebegitu kehabisan uang ya?, sampai Kamu gak mampu mengajakku nonton atau sekadar minum coklat” Aku menanyakan hal yang tidak perlu, mana mungkin Ia kehabisan uang sedangkan kedua orangtuanya sama-sama pengusaha. Bahkan kedua orangtuanya tinggal di luar kota. Makanya Ia begitu terpukul saat kehilangan Resa. Selama ini Ia menganggap Resalah rumahnya.
“Pengen aja ngajak Kamu ke sini” ucapnya menarik tanganku untuk duduk di rumput di tepi danau.
“Lagian Kamu kok bisa nemuin tempat kaya gini?” Aku bergerak menuju danau dan mencelupkan tanganku ke air danau yang segar.
“Sebenarnya ketika Aku pulang dari makam Resa, Aku gak sengaja ketemu tempat ini” Aku tertegun setelah setahun lamanya Ia masih belum melupakan Resa. Setiap bibir itu mengatakan nama Resa hatiku langsung sakit.

“Ikutin Aku biar gak bosan” ucapnya berdiri dan mencari-cari sesuatu. Ia menemukannya, kerikil. Ia mengayunkan tangan dan pyur… Kerikil itu meluncur di atas air. Aku mengikutinya, mencoba melakukannya dengan baik tapi berakhir sangat buruk berkali-kali Aku mencobanya hingga akhirnya Aku menyerah. “Sini Aku ajarin”
“Gak mau, terakhir kali Kamu ngajarin Aku naik motor kita jatuh nyungsruk ke parit, bisa saja nanti kerikilnya malah mendarat di kepalaku. Lagian melempar kerikil ke danau bakal nyebabin pendangkalan danau terus kalau danaunya dangkal airnya meluber kan bisa banjir” ucapku mencari-cari alasan. Aku malu kalau nanti sudah diajarin tapi masih saja tidak bisa melempar kerikil dengan baik.
“Alah itu mah bisaan Kamu saja” Riski mencibirku
“Biarin….”

Cerpen Karangan: N.Ratna.D
Email: novitara08@gmail.com
Blog / Facebook: NovitaRa Dewi

Cerpen Yes! I’m Your Home (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Atas Bianglala

Oleh:
Menurut kalian, apa itu definisi nakal? Nggak ngerjain PR? Ngobrol waktu guru nerangin? Ke kantin waktu jam pelajaran masih berlangsung? Cabut mata pelajaran guru killer? Main-main waktu upacara? Atau,

Mampu Diam

Oleh:
Hiks.. hiks.. suara isak tangis terdengar untuk kesekian kalinya selama hampir satu minggu ini. Cila, begitu orang memanggilnya, gadis kecil dengan rambut panjang tengah terisak menangisi ulah kekasihnya yang

Over Stupid (Part 2)

Oleh:
Akhirnya ketiga lagu tersebut mampu kita garap. Walaupun dengan versi agak mellow, tetapi gue dan Satrio mencoba bersikap dewasa dengan tetap semangat bawainnya. Cuma Wawan yang kayaknya kurang terima

Pacar dan Teman Berkhianat

Oleh:
Aku terlahir sebagai gadis yang bernama devi. Aku sekarang bersekolah di Smp negeri 7. Aku mempunyai 8 sahabat yang sayang banget sama aku. Jam menunjukan pukul 05.00 “devi bangun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *