You Are My Star (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Galau, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 10 June 2014

Ku menapaki jalan ini..
Terasa begitu sulit,
Aku tak tahu apa yang hendak dicari.
Langkah ini terus saja membawaku pergi dari keramaian dunia, dan berakhir pada duniaku sendiri. ya dunia yang ku buat sendiri.. “khayalan”.
Akhh ku fikir itu bukan yang terbaik,

Ku putuskan untuk ku istirahatkan tubuh ini di sebuah Cafe, ya “cappuccino Caffe”. Mungkin akan sedikit lebih tenang jika aku berada di sini, *batin ku.

Di tengah rintik hujan, di temani dengan secangkir cappuccino Coffe aku duduk di salah satu bangku bernomor 17, ya itu adalah angka kesukaanku.

“Ehmm.. wanginya aroma kopi ini”, ucapku.

Lalu aku mulai mengambil sebuah catatanku, ya bisa dibilang sebuah Diary yang berwarna biru, ku tuliskan tentang perasaanku pada diary ku..

Bandung, 09 Januari 2013
Heii biru,
Kali ini aku akan menulis sedikit tentang perasaanku hari ini, aku tak tahu apa yang terjadi pada hatiku ini, aku bingung..
Mengapa aku tak bisa melupakan dia, dia yang ku harapkan sejak pertama kali bertemu tak pernah tau apa yang sebenarnya ku rasa..
Mengapa terasa sulit, sulit mengungkapkannya..
Andai saja dia tahu..

“Afi..”, seperti ada yang memanggilku
Aku mencari sumber suara tersebut, tapi tak kutemukan siapapun.
“Mungkin hanya khayalanku saja”, pikirku.
Ku lanjutkan secangkir kopi yang ku pesan, tapi terdengar suara itu lagi, suara yang khas.
“Seperti ku kenal pemilik suara ini”, batinku.
Ku toleh ke depan dan ternyata seorang lelaki telah berdiri di depanku.
Dialah yang selama ini ku tunggu. Tama, ternyata dia ada di sini, aku tak tahu apa ini hanya kebetulan saja, atau Tuhan memang yang mengaturnya, semoga saja.

“Sedang apa kamu di sini?”, tanyanya
“Ah, aku hanya sedang menikmati suasana dingin dengan secangkir cappuccino panas, kamu mau?”. aku menawarkannya.
“Boleh, biar aku yang traktir”. pintanya.
Akhirnya aku dan dia menghabiskan waktu bersama, membicarakan hal yang menurutku indah.

“Fi, temani aku ke suatu tempat yuk!”, ajaknya.
“Dengan senang hati”, Afi mengangguk yakin.

Akhirnya mereka sampai di sebuah tempat yang sangat ramai,
“Untuk apa kita kesini? seperti anak kecil saja” ucapku.
“Hahaha, memangnya hanya anak kecil saja yang boleh kesini, sudahlah ayo kita naik balon udara itu”, ajaknya.

Di atas sana ternyata pemandangan begitu indah, wahhh.. tidak kusangka seindah ini jika dilihat di malam hari, bertabur bintang di hamparan langit luas. Aku tidak akan menyia-nyiakan momen ini, ku ambil ponsel ku dan

zprattt.. zprettt.. lumayan untuk ku simpan

Rasa lelah melengkapi perjalanan kita hari ini, tak luput perasaan senang dan senyum di bibirku terus tersungging manis.

“Kau tidak merasa lelah?” tanya Tama.
“Tidak, hari ini terasa menyenangkan untukku, oh iya terima kasih untuk hari ini” ucapku.
“Sudah, kau tak usah berterima kasih seperti itu, karena aku pun merasakan hal yang sama”, tersenyum kepadaku.

Kurebahkan tubuhku di atas ranjangku yang empuk, ku tatap langit-langit yang bertabur bintang di langit kamarku, senyum ini tak bisa lepas dari bibirku.. sekilas wajah Tama terbayang di otakku, hahaha lucu sekali dia.

“Oh iya, dimana boneka itu?” ucapku

aku mencari cari boneka pemberian darinya, boneka berbentuk bintang. Itu memang kesukaanku,

tiba-tiba…

zrttt-zrttt…
“Siapa malam-malam begini menelfonku”, batinnya.
“Hallo Afi, apa aku menggangumu?”, terdengar suara lelaki di sebrang sana.
“Oh, iya tidak, ada apa?”, tanyaku bingung, karena tak ada angin, tak ada hujan dia menelfonku.
“Aku membutuhkanmu, aku tunggu kau di taman dekat rumahmu”,
“Ahh.. kenapa tidak…” belum selesai aku berbicara tapi telah terputus..
“Tuuutt…”, hah dasar anak itu, seenaknya saja dia mematikannya, batinku.

Di Taman
“Hoshh.. hoshhh… ada.. hosh.. apa kamu.. hoshh.. menyuruhku.. ke tempat ini..?” terasa lelah diriku karena terus berlari, mengingat ini sudah malam.
“Cepatlah duduk, ada sesuatu yang ingin aku katakan”, kata Awan.
Hatiku jadi merasa tak tenang, mengapa dengan dia? apa yang ingin di katakannya? membuatku penasaran saja.
“Kenapa kamu fi, capek?”, tanyanya. “Jelas saja aku capek, dia kan yang memintaku untuk segera menemuinya”, batinku.
“Fi, sini duduklah di sebelah ku”, pintanya. Aku pun duduk mengikuti ajakannya.
“Kau lihat bintang di atas langit sana?”
“Iya, memangnya ada apa dengan mereka?”
“Mereka begitu indah, apalagi bintang yang bersinar terang itu”, mengarahkan telunjuknya ke atas langit di sana.
“Kamu tahu mengapa aku mengajakmu kesini?”, tanyanya, dan aku hanya diam sambil menggelengkan kepala.
“I look up to the stars, hoping you’re doing the same”.
“Whattt? Apa maksudmu?”,tanyaku yang memang sebenarnya tidak tahu apa maksud dari ajakannya menyuruhku datang menemuinya.
“kamu lihat bintang yang di atas sana?”
“iya, memangnya ada apa dengan mereka?”
“Mereka terlihat indah, dan… kamu tahu, satu bintang yang bersinar terang itu?” katanya sambil menunjuk ke atas langit sana.
“Bintang itu seperti dirimu, bintang yang selalu bersinar lebih terang di atas langit sana, yang menghiasi indahnya malam.” Jelas awan panjang lebar.
“Apaa? Apa katamu, aku? Apa kamu tidak salah”, Tanyaku tak percaya akan ucapannya tadi.
“Tidak, aku hanya ingin kamu bisa menemaniku malam ini untuk melihat bintang yang indah”.
“Kenapa harus aku?”
“Karena aku menyukaimu Afi,”

Seakan tak percaya dengan apa yang dibicarakan Awan, Afi pun bangkit dari duduknya, dan pergi berlari. Tapi saat Afi akan berlari, Awan menarik pergelangan tangannya.
“Tunggu Afi, kamu mau kemana?”
“Sudah, lepaskan aku. Kamu bohong, selama ini kita selalu bertengkar, kamu dan aku tak pernah akur. Kamu itu menyebalkan, kamu selalu menggodaku.”
“Aku begitu karena aku menyukaimu, jujur Fi… selama ini diam-diam aku menyukaimu, aku mencari gara-gara padamu karena aku ingin mendapat perhatian darimu.”

Afi menangis, karena memang selama ini mereka selalu bertengkar seperti kucing dan anjing. Dan kenapa harus dia yang menyatakan cinta padanya, kenapa bukan Tama, lelaki yang selama ini dia sukai.

“Afi, kamu jangan menangis seperti itu, aku tahu kamu tak menyukaiku, tapi satu hal yang aku pinta darimu, jangan kamu membenciku, dan tetaplah tersenyum seperti ini.” Awan menunjukkan senyum simpulnya pada Afi.

Malam itu pun berlalu, Afi pulang dan mengistirahatkan dirinya dengan perasaan yang penuh rasa bimbang, sebenarnya memang ada rasa di hatinya untuk Awan, tapi rasa cintanya pada Tama lebih besar.

Begitu pula dengan Awan, ada rasa senang di hatinya karena telah mengungkapkan apa yang dia rasakan.

Bagaimanakah dengan Afi? Apakah dia akan menerima cinta Awan, ataukah dia akan menyatakan cintanya pada Tama?

Tunggu kisah ini selanjutnya..

TBC

Cerpen Karangan: Irma Safitri
Blog: imaniezz02.blogspot.com

Cerpen You Are My Star (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Untuk Gama

Oleh:
Kucoretkan kertas ini dengan tinta hitam. Kususun kata demi kata hanya untukmu. Tak pernah terbayangkan sebelumnya untuk aku menulis surat ini. Terkantuk-kantuk sudah aku menulis surat ini untukmu. Sudah

Sebuah Janji

Oleh:
“Sahabat selalu ada disaat kita membutuhkannya, menemani kita disaat kita kesepian, ikut tersenyum disaat kita bahagia, bahkan rela mengalah padahal hati kecilnya menangis…” Bel istirahat akan berakhir berapa menit

Cinta Si Kutu Buku

Oleh:
Hay nama gue aditya rizki, dipanggil adit, gue tinggal di daerah medan, gue mahasiswa sains di universitas ternama di medan, singkat cerita, gue mau ceritain pengalaman pertama gue jatuh

Catatan Alzi Si Berandal

Oleh:
Matahari mulai berayun ke arah barat, sinarnya mulai meredup tapi tetap memancarkan sinar pancarona yang indah terlihat mata. Sepasang pemuda dan pemudi nampak asyik masyuk bercakap-cakap. Mereka adalah Alzi

Terima Kasih Karel

Oleh:
“Luna udah jadian sama Karel, Nes!” Berulangkali kata-kata itu terus terngiang dalam otakku. Aku masih belum bisa mencerna sepenuhnya kata-kata itu. Semuanya terjadi begitu indah, tiba-tiba saja semua itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “You Are My Star (Part 1)”

  1. gita sari aranita says:

    Lanjutan part 2nya mna?

Leave a Reply to gita sari aranita Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *