Aku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 21 June 2017

Dia, bukanlah serangkaian dari kelopak mahkota cerah yang menghiasi pinggiran kerasnya aspal abu dengan hembusan debu. Dia, bukanlah sekelompok awan cerah yang ikut menari-nari di atas pancaran nyanyian mentari pagi dan dia bukanlah merupakan suatu balutan pemata indah nan kemilau yang menyilaukan setiap mata yang memandang. Mungkin bagi sebagian orang, tidak ada yang akan pernah bisa memahaminya seperti aku. Bagiku, dia adalah seseorang yang dapat kumengerti dan pahami tanpa harus berkata. Dia dan pikirannya bukanlah sebuah perkara rumit untuk dipecahkan dan bahkan hal ini sudah menjadi kegemaranku sehari-hari seperti candu yang memikat.

Dia adalah seseorang yang berbeda dengan realitas yang berjalan berdampingan di sampingnya. Mereka tidak akan pernah tau. Mereka hanya akan memandangnya sama seperti udara yang hanya akan berlalu lalang tanpa sekelebat bayangan. Dia meletakkan senyuman yang hangat dan lebar di setiap sudut ruang pengelihatan namun tidak di dalam hatinya. Dia memamerkan segala keteguhan dan kegigihannya dalam setiap perkataan yang dia lontarkan namun tidak dalam pemikirannya. Keahliannya yang paling tidak dapat dipungkiri adalah untuk melakoni setiap tindakan yang ia lakukan bagi mereka tanpa memperlihatkan adanya noda. Mereka tersenyum, mereka tertawa, mereka tidak tahu.

Dia memiliki kelemahan terbesar yakni menjadi yang terkuat di antaranya. Terkuat dalam segala hal dan berusaha menghidupi panggung sandiwara yang belum pernah dia perankan sebelumnya. Namun, usahanya kini menempatkannya pada posisi yang tidak akan pernah bisa ditarik kembali mundur. Usahanya itu menanamkan keyakinan dalam alam bawah sadarnya untuk tidak akan pernah mengatakan hal yang tidak digemari oleh mereka. Perkataannya merupakan ukiran merdu yang memberikan warna pada kekosongan udara yang mereka dengar. Namun lebih jauh dalamnya dari itu, dia merasa hmm, bukan tersiksa, mungkin tertekan. Ya, tertekan lebih tepat kurasa.

Dia, bukanlah seseorang berhati emas atau sekuat baja. Dia hanyalah selembar kertas yang mampu dilumatkan seketika. Lucunya, dia dapat menampilkan kertas sebagai sebuah pilinan tanah liat yang dapat dibentuk sesuka hati sesuai dengan keinginan mereka.

Sebagian dari mereka mulai sedikit memahaminya, dia mengetahuinya. Akan tetapi, terkadang dia hanya ingin berlari sekuat tenaganya untuk menghindari meraka. Dia tidak menyalahkan mereka. Mereka bukanlah masalahnya tetapi apa yang ada dalam dirinya. Kelemahannya yang tidak pernah ia perlihatkan menjadikan satu-satunya hal yang mengikatnya hingga menusuk ke dalam darah dagingnya dan membuatnya menjadi satu dengan dia, tubuhnya. Aku ingin memegang tangannya ketika ia berlari dan membawanya ke dalam ketenanganku. Sayangnya, aku tidak bisa. Mengamatinya dengan lekat melalui kaca besar dan melihatnya bertumbuh dan berkembang sudah cukup membuatku memamerkan gigi-gigi depanku untuk menyadari bahwa cerminan itu merupakan sebuah refleksi.

Dia

Cerpen Karangan: Gadis Nesciostella

Cerpen Aku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dua Muka Cinta

Oleh:
Senyampang masih ada larik-larik bernyawa cinta, walau temaram sekali pun, bertahan merupakan pilihannya. Juwita memang relatif, tak butuh elok wajah, tak harus berpostur ideal, dan tak selalu mesti berjejal

Isak Bayi

Oleh:
Tengelamnya senja. Cengkram sunyi malam datang menghantam di tengah hutan rimba. Memekik seketika, binatang anjing bersahut-sahutan bergeming berganti kawin. Nada katak, jangkrik dan cicak serentak menyambung irama. Hampir setiap

Janji di Pelabuhan

Oleh:
Sore itu ia duduk di teras rumah, bertemankan kopi yang sekali-dua diseruput dengan mata tetap tertuju pada deretan abjad dari sebuah novel. Tiba-tiba pandangannya berkhianat pada sosok perempuan muda

Konstanta Kontinuitas

Oleh:
Malam ini, ketika sepasang mataku sedang menatap potretmu dalam bingkai kayu, muncul sesuatu hal dalam benakku. Takdir ini adalah sebuah rumusan hidup, begitu pun dengan cinta. Setiap cinta pula

Allegro

Oleh:
Bisa kuhitung dari awal pertemuan kita hingga saat ini. Kau yang tak pernah kusangka-sangka hadir begitu saja. Barangkali sejak pertama aku tidak pernah menyadari bahwa ternyata kau begitu hebat,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *