Debat Lebat Puisi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sastra, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 19 June 2017

“Permasalahannya adalah puisi itu kau baca?” Sanggahku sambil bersungut-sungut. Sambil membenahi duduknya, romly tetap bersikeras dengan argumen mentahnya, barangkali dia masih belum bisa menerima segala sesuatu mentah harus ada bumbunya dan syarat upaya sehingga segalanya jadi matang.
“Tapi puisi ini, kalau tidak kita baca terus bagaimana kita dapat tahu dan memaknai puisi bagaimana kita dapat mengartikan dari satu bait ke bait yang lain dan bagaimana kita harus menyikapinya pabila kita tidak melihat dulu aksara-aksara tiap sajak alias membaca puisi itu.” Nadanya meninggi sejurus dengan tanggapannya mengenai seceblung perkataan yang mengatakan bahwa engkau tak akan bisa paham dari puisi itu soalnya kau baca puisi itu. Romly yang memang memiliki sifat kebal walaupun dia sendiri agak bebal tidak bisa menerima begitu saja argumen tak bereferensi itu dia yang sebelumnya baru saja mencoba menceburkan diri ke dunia sastra tidak mau begitu saja disanggah oleh orang meskipun itu karibnya sendiri.

Semakin kita berusaha untuk menguasai kata, kita malah tidak akan mendapat apapun, yang harus kita lakukan dan banyak dilakukan banyak penyair terkenal adalah berteman dengan kata itu dan melebur bersama aksara untuk bisa menyelam dalam dan menemukan kesejatian kata. Seperti layaknya pada sebuah ayat tuhan yang mengatakan bahwasanya apa yang baik menurutmu belum tentu yang terbaik, namun apa yang diberikan tuhan, itulah yang terbaik walaupun menurut kita masih kurang, memang sifat kita, manusia serba kurang, ada yang lebih, minta dilebihkan, tuhan adalah pemberi kecukupan bukan pemberi berlebihan seperti kita manusia, dan halnya itu, walaupun kita berusaha memiliki sesuatu, justru itulah yang paling sulit didapatkan, dan apa yang menurut kita sudah paling cocok, justru itulah yang paling berlawanan. Maka dari itu untuk berteman dengan kata, kita harus membaca, begitupun puisi, sastra, kita mulai dengan membaca puisi agar kita dapat paham dengan kata-kata terlontar dari tiap bait.

Aku manggut-manggut mencoba memahami serta meresapi lagi kembali apa yang dikatakan oleh karibku itu, ku menimang-nimang tiap kata dan ku angan panjang. Sulit memang, apa yang disampaikan olehnya menurutku ada benarnya, sembari kuseruput kopiku yang disuguhkan oleh ibu romly. “memangnya apa yang membedakan antara kita membaca puisi itu ataupun tidak?” tanyaku, mencoba mencari penjelasan yang masuk akal, meskipun kebenarannya adalah hal yang kami perdebatkan adalah hal yang tidak masuk akal karena itu memang adalah FIKSI…
“seperti yang kau ketahui, Nur. Sastra itu selayaknya dapat dibaca seperti sajak yang digubah oleh penyair candra malik, soalnya dengan seperti itu para pembaca dapat mengambil makna dari tipa bait, tiap rima, tiap sajak, syair, apapun yang kita tulis selayaknya tidak seharusnya dapat dibaca dan dipahami oelh pembaca sehingga tak hanya ada kata-kata indah saja di sana namun juga ada makna yang berfaedah juga.” Dia menutup argumennya kali ini dengan nada yang menurun bahkan datar sama sekali. Mungkin dia juga sudah menyadari bahwasanya karibnya ini adalah orang yang harus tetap dihargai meskipun dia sendiri tak tahu dengan apa yang disampaikannya.

Pernah kami berdebat tentang sesuatu hal tentang bagaimana kami membedakan sesuatu hal yang dimana intinya sama, dan menyamakan yang seharusnya berbeda. Tidak begitu, kalau menurutku, semuanya adalah sama, soalnya pernah aku teringat firman tuhan yang mengatakan kalau semua sama di hadapan tuhan, benar kan?

Tembok di teras pelataran romly semakin menjingga soal hari makin senja, sedangkan dua karib itu masih duduk anteng berkutat dengan permasalahan pelik dan akan mereka selesaikan hari ini. Cangkir kopi yang disuguhkan oleh ibu romly sudah hampir menyentuh dasar dan mungkin sekarang sudah dingin, soalnya aku tidak begitu menyukai kopi yang tak hangat, bikin kembung kata orang, walaupun belum tentu juga, yang bikin kembung itu justru saat kau minum kopi hangat sekalipun dalam keadaan bertelanjang badan. Romly memang anak tunggal, perhatiannya terhadap sastra terutama puisi sangat ia apresiasi. Oleh karena itu. Dia mengambil jurusan sastra di sebuah universitas terkemuka di kota kami. Selain ia bergelut di dalam dunia kefanaan itu, dia juga bergiat dalam banyak klub-klub maupun kelompok-kelompok organisasi yang bergerak dalam dunia seni berbahasa seperti layaknya penulisan prosa maupun puisi dan apapun yang berhubungan dengan sastra. Maka dari itu, romly juga mulai menulis diksinya sendiri. Walaupun di awal dia kesulitan dapat inspirasi untuk kata-kata yang ia torehkan. Dan itu tak membuatnya patah semangat. Soalnya dia memang lulusan sebuah sekolah kejuruan yang hanya tau mana klacker mana silinder, ini mur, ini baut, itu spion itu knalpot. Dan dia tidak punya modal untuk sesuatu hal dalam sastra, dia hanya mengandalkan modal nekatnya yang sesekali aku ejek dan dia mengatakan bahwasanya yang dia lakukan bukan nekat namun tekad.

“setidaknya kita harus membaca, Nur. Dengan membaca akan menambah khazanah pengetahuan kita. Selain itu juga menambah pembendaharaan kosakata kita sehingga kita tahu beberapa hal karena kita dapat dari membaca. Membaca itu memang susah, aku dulu juga harus memaksa buka mata ini hingga terbelalak untuk mau membaca, lamnbat laun mala situ mereda. Dan aku juga belajar menuliskan beberapa hal dari yang aku baca dengan menyimpulkannya. Membaca itu benar-benar penting Nur, jadi jangan hanya membaca status saja, namun bacalah pengetahuan siapa tahu kita bisa membaca karakter orang.” Dia memindah posisi duduknya, mungkin dia sudah merasakan pegal pada pangkal pantatnya, namun semangatnya berdiskusi denganku tak membuatnya merasakan itu dan tetap bertahan pada kursi rotan yang dibeli almarhum ayahnya sewaktu masih jadi pekerja sebauh mebel.

Mungkin yang aku setujui dari perkataan romly selama ini adalah tentang nasihatnya untuk menggiatkan diri ddengan membaca, memperbanyak membaca entah apapun itu yang penting kita bisas paham dengan tulisannya, dan dengan itu juga akan menambah informasi dan juga pengetahuan yang kita ketahui. Soalnya bahkan dulu junjungan rasul kita wahyu pertamanya adalah disuruh membaca kan, dengan itu sungguh amatlah penting membaca. Namun yang memprihatinkan adalah, banyak di Negara ini yang masih buta huruf, buta tanda, buta rambu, dan itu semua disebabkan karena banyak dari khalayak yang kebanyakan orang tua sudah tak mau dan mampu membaca. Padahal sekarang sudah zamannya baca, entah itu baca status, baca quotes, baca instruksi dari sebuah permainan, dan masih banyak sumber bacaan yang dapat dijadikan sesuatu bacaan, walaupun menurut romly hal itu tak penting, tapi menurutku itu juga adalah sesuatu yang penting karena jika hal itu dpat menambah pengetahuan kita walaupun itu berasal dari status bukankah itu juga ILMU dan juga bisa dijadikan sumber bahan bacaan dan itu juga akan mengurangi dampak buta bacan ini. Walaupun begitu, aku tetap tak setuju dengan orientasi romly berkenaan dengan sesuatu hal yang berkenaan dengan sastra yaitu puisi. Dari sini saya menghadapi semacam konflik yang mencoba memahami dan memaklumi setiap pendapat romly, namun dari sanubariku terdalam, aku meronta dan akhirnya aku sampaikan kata-kata untuk menentang argumen dari sahabatku yang satu ini.

“kalau aku tetap tidak setuju kalau puisi itu dibaca, rom.” Nadaku datar. Romly mengamatiku lamat. Dia fokus pada kedua mataku sebentar, lalu dia ubah posisi duduknya lagi. Mungkin dia sudah kehabisan petuah yang ingin disampaikannya untuk meyakinkanku dengan argumennya. Mungkin dia letih, sebab sudah lebih dari lima jam tidak mungkin lebih dari itu soalnya aku hanya baru menyadari waktuku sekitar beberapa jam lalu, yang jelas aku bertandang ke kediaman romly sebelum duhur.
“baiklah Nur, mungkin apa yang kusampaikan masih belum mengisi otakmu, tapi baiklah tidak apa-apa, tapi setidaknya berikan aku satu alasan yang masuk akal dan dapat aku terima sehingga apa yang kau yakini benar dapat tersampaikan kepadaku. Sebab dari awal kau tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan puisi itu tak untuk dibaca dan tak bisa kalau hanya dibaca, maka darimana kita tahu tentang puisi, diksi, saja”

Cerpen Karangan: Wachid Bin Munjin
Facebook: Muhammad Nur Wachid
saat ini tengah menempuh pendidikan di STAIN Kediri mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris

Cerpen Debat Lebat Puisi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kue Brownies Rasa Bedak

Oleh:
Hai namaku Keirasyta Inesia Mufidah!! Biasa dipanggil Mufi, tapi keluargaku memanggilku sih Rasyta, tapi kalian semua panggil aku Mufi saja… Aku bersekolah di MI (Madrasah Ibtidaiyah) NUR-ISLAMIATULLAH. Kelas 6-Hamzah

Konstanta Kontinuitas

Oleh:
Malam ini, ketika sepasang mataku sedang menatap potretmu dalam bingkai kayu, muncul sesuatu hal dalam benakku. Takdir ini adalah sebuah rumusan hidup, begitu pun dengan cinta. Setiap cinta pula

Dari Sebuah Buku Filsafat

Oleh:
Digeleng-gelengkan kepala Itu pertanda tak mau atau tak suka Diangguk-anggukkan kepala Itu pertanda ia mau dan juga setuju Itu semua isyarat dalam bahasa Tanpa bicara orang mengerti maksudnya Orang

Regret

Oleh:
Hari ini, detik ini, aku duduk di kursi ini, mengerjakan tanggung jawabku sebagai seorang karyawan, menjalani hidupku sebagai Alya Anandita. Untuk sampai ke titik ini dalam hidupku, aku melalui

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *