Difusi Pagi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sastra, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 16 March 2018

Hari masih muda dan masih pagi matahari untuk tiba, kau sudah menggamit tanganku untuk menuruni anak tangga, yang jumlahnya ratusan, yang pinggir-pinggirnya cukup tajam karena penuh dengan koral buatan. Kalau tak salah, jarum arloji masih menunjuk angka empat, dan seingatku, kau barusan membangunkanku cepat. Tanpa sempat kugubris setangkup roti yang telah tersedia di meja, kau sudah membawakanku sendal dan kemeja.

Tidak ada yang bergerak selain ombak kecil yang pecah. Tidak ada yang terdengar di telinga selain sepi yang megah. Matamu mengarah ke ufuk timur, ungu horizon dan merah mega mulai berbentur. Sedang aku, aku diam mengamati kamu. Karena sunyi memantulkan kedalamannya sendiri.
Ada dunia yang sulit kujangkau. Ada imaji yang jauhnya terlampau. Matamu mencari di mana biru itu berada. Entah apa yang ada di pikiranmu, Atau mungkin sekedar mengabar pada angin.

Kepiting-kepiting kecil merayapi kakiku yang telanjang. Kau tertawa melihatku misuh-misuh karena mengusirnya. Dan kau, selalu minta ditemani. Aku tahu kau selalu menyukai tempat ini. Namun tak pernah kau jelaskan alasannya. Apakah darahmu lebih berdesir jika kau berdiri seperti ini di pesisir? Apakah jantungmu lebih berdetak jika melihat air laut menyebar derak?

Dan kau mulai bersenandung.
Nyanyian itu membuat lingkaran gema di telinga. Menutup batas akhir dari kemampuanku menjangkau sesuatu. Bersandar pada karang, mengeja yang nyata dengan terbata. Mengejan kata dengan huruf tak terbaca.

Entah apa yang membuatmu tersenyum dan merona. Kau seperti menemukan keasyikan yang paling purba. Senja dan matahari muda, dua hal untukmu yang mahalnya lebih dari apa saja.

Cerpen Karangan: annisa resmana
Blog: annisaresmana.blogspot.co.id
Penyanyi kamar mandi dan fans berat sepiring Aglio lio Tuna. Sering menghabiskan sorenya dengan satu cangkir teh pekat, tidak pakai gula.

Cerpen Difusi Pagi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senandung Untuk Kau

Oleh:
Gelap sudah bergelayut disini, hujan menyisakan genangan genangan air di kolam kolam kecil di halamanku. Tapi aku masih saja mematung menepis kesunyian. Mulai ku julurkan telunjuk mengukir sisa sisa

Surat Kala Hujan

Oleh:
Sembari aku menunggu hujan. Aku memandang tragedi kenangan. Mataku ini bukan lagi seperti saat pertama kau hadir dalam ambang kehidupan. Binarnya mulai terbias akibat kilaun luka yang kau buat.

Rindu Di Balik Hujan

Oleh:
Rintik hujan mewakili rindunya pada seseorang. Pikirannya terbang jauh menembus awan gelap. Termenung di balik jendela menatap tiap tetes air yang jatuh membasahi bumi. Sudah lama ia tidak bertemu

Pendengar

Oleh:
Hujan turun begitu deras. Sampailah di sebuah tempat yang beratap, hingga tak lagi ada butiran air hujan yang jatuh di atas kerudungku. Segera berjalan agak cepat, menghiraukan pemandangan tak

Cerita SMA

Oleh:
Seperti pasar. Satu kata itu yang tidak pernah lepas dari kelas X-5. Bayangkan saja dalam satu kelas terdapat 49 spesies manusia yang berbeda jenis. Terdiri dari perempuan dan laki-laki.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *