Jarum Waktu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 5 March 2016

Engkau sedang menatap tubuhku, bukan? Jangan menatapku terlalu dalam. Entahlah engkau tak boleh bingung dan bertanya, kepada siapa aku berbicara. Ikutilah saranku siapa tahu bermanfaat. Buatlah dirimu sesantai mungkin. Bangkitlah dari tempat dudukmu, seduhlah dengan lembut secangkir kopi dan bakarlah sebatang rok*k. Teguk dan hembuslah asap roko*k itu dan biarkan ia berpadu dalam aroma kopi dan terbang melangit. Kemudian barulah kita mulai bercerita. Tapi, sekali lagi aku ingin bertanya padamu, sungguhkah engkau ingin mendengarkanku? Pastikan, bahwa engkau setia bersamaku saat ini.

Jangan terlalu serius menatapku, yakinlah bahwa engkau akan segera mengenalku. Percayalah aku akan menceritakan semuanya. Tataplah aku dengan santai dan sekali lagi aku meminta, yakinkanlah dirimu bahwa engkau menyukaiku. Jangan terburu-buru, duduklah dengan santai. Nikmatilah kopi racikanmu dan isaplah batang rok*kmu yang masih membara. Biarkan syaraf-syarafmu lentur agar tidak terkesan tegang. Aku mengingatkanmu, jangan melamun itu berbahaya, sebab engkau bisa saja kehilanganku. Engkau tentu belum mengenalku, bukan?

“Ia tak betah pada situasi apa pun. Ia tak mengenal sunyi dan musim. Ia tak mengenal puncak dan musibah. Dan ia tak mengenal damai dan perang. Pada puncak sunyi yang teguh ia tak berimajinasi, padahal malam telah larut. Dari puncak malam, ia menuruni anak tangga: satu, dua, tiga, dan empat. Tubuhnya menggigil hebat saat ia berpapasan dengan pagi. Dari balik tirai ada mata yang meloi dan penuh sayup. Ada bibir yang bergumam. Ah, pagi telah merekah. Ia hanya memiliki dua teman dalam suka dan dukanya. Itu mutlak diperlukan serta anak-anak tangga dengan penomorannya masing-masing.”

“Ah, maaf, pikiranku menjadi tak karuan. Aku lupa alur cerita yang dibangunnya saat itu. Aku juga tak ingat persis setiap kata yang diucapkannya.”
“Fatal, engkau bisa saja gagal menjadi pencerita yang hebat. Bagaimana mungkin engkau mudah melupakannya. Ia telah percaya padamu. Engkau pasti tidak terlalu antusias untuk mendengarkan ceritanya, bukan?”

“Siapa sebenarnya yang tahu persis tentang cerita ini? Tentang dirinya? Sekali lagi aku ingin bertanya padamu, yang ada saat itu hanya engkau dan dia, bukan?”
“Ya, benar hanya aku dan dia!”
“Jika demikian, engkaulah pencerita yang sebenarnya!”
“Tapi, aku ingin bertanya padamu, siapakah aku dan engkau yang sedang menatap dan membicarakannya? Jika kita telah saling memahami, mari kita memutuskan untuk menjadi pencerita bagi dirinya dan juga tentang dirinya.”
“Tidak, engkaulah pencerita yang sebenarnya!”
“Tidak, engkaulah pencerita baginya dan tentangnya. Ia selau berada di sampingmu setiap waktu. Jadi, engkau mengenalnya lebih baik daripada aku. Tentu saja engkau. Ya, benar engkau!”

Mereka berkisah lalu mendesah dalam sunyi. “Tak apa biar aku yang mengisahkan engkau dan dia.” Awalnya mereka telah berjanji bahwa salah seorang dari mereka menjadi pencerita dan yang lainnya lagi menjadi pendengar. Namun dalam alur cerita tak sadar justru aku yang menjadi pendengar dan kini lekas menjadi pencerita. Engkau masih tak sadar bukan? Saat ini akulah yang bercerita padamu. Aku tak memiliki banyak cerita. Lagi pula aku tidak bercerita tentang yang lain tetapi tentang pertemuan dan kesepakatan mereka semula. Cantik kan? Tugasku telah selesai dan baru saja aku mengakhirinya. Terima kasih dan aku permisi dulu sejenak meninggalkan tirai dan panggung drama ini. Aku sengaja dilibatkan dalam skenario ini sebagai tokoh tambahan.

Ia lahir dari lembaran sunyi dan bisu sepanjang waktu. Ia terbingkai dan tergantung sampai usang pada dinding tua itu. Dialah yang menceritakan tentang kami sejenak mengisi waktu rehat kami. Ia sebuah lukisan tua, lukisan pahlawan yang kini tidak dihargai. Penghargaan terhadap mereka sangat rendah, padahal mereka telah berjuang demi kebebasan sampai titik darah penghabisan. Lalu, siapa dia yang sedang bersamaku?

“Dari saat ke saat aku menghitung usiamu, langkahmu, setiap detak jantungmu, dan setiap desah napasmu. Aku selalu berpijak pada jejak yang sama. Langkahku lembut, perlahan, dan selalu optimis. Aku tak mengenal apa itu penyesalan, apa itu kelahiran, bertumbuh, berkembang dan menjadi tua. Yang ku tahu hanyalah hidup. Aku tidak seperti engkau, para koruptor, mafia yang lihai mengkalkulasi dan para penjilat. Aku tak pernah bicara, tetapi semua orang percaya padaku.” Katanya.

Suatu waktu. Terima kasih engkau telah menjadi pencerita bagiku. Aku adalah jarum waktu yang tak pernah dapat bicara, tetapi engkau kini telah membuatku bicara dalam tulisan ini. Engkau telah menjadi pembaca yang menghidupkanku dalam ingatanmu. Engkau juga sekaligus telah menjadi pencerita hebat untukku. Terima kasih telah menatapku hingga kini. Lihatlah kembali kopi dan rok*kmu. Rawatlah diriku, siapa tahu aku akan kembali bicara denganmu di lain waktu. Demikian kata si jarum waktu kepadaku. Ucapan terima kasihnya adalah akhir dari pembicaraan kami. Kini aku melirik ke sampingku dan ku lihat anakku masih setia mendengarkan dongengku.

Tidurlah sayangku, kini malam telah larut. Jika engkau rindu pada ibumu, lekaslah engkau mengambil potretnya dan tataplah dia dengan sungguh. Ia akan bicara padamu dan akan menemuimu dalam mimpi. Ia akan menjelma seperti jarum waktu dan potret pahlawan yang dapat bicara dan engkau akan mengambil posisi seperti ayah seperti dalam dongeng ini. Tidurlah sayangku malam kini semakin larut dan ayah akan mengisahkan dongeng pengantar tidurmu lagi di lain waktu dan malam. Ia rindu sungguh pada ibunya, dan jawaban satu-satunya adalah dongeng, sebab aku percaya dongeng bisa menjelaskannya dan memberi pengertian sebelum akal mampu menjelaskannya.

Cerpen Karangan: Rofinus Jatong
Blog: koleksicerpenromantisrofinusjatong@gmail.com
Mahasiswa Filsafat Stfk Ledalero. Facebook: Roy Jatong

Cerpen Jarum Waktu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Will Always Love You

Oleh:
Dede Risan pov 2010 Cinta, seperangkat rasa yang membalut berbagai ekspresi hati yang tengah merajalela, mengalahkan bentuk lain dari kasih sayang. membentuk lekuk senyuman yang terkadang menyulitkan kegilaan tidak

Aisya

Oleh:
Saat pelabuhan ini kutinggalkan, itulah terakhir kumelihat sorot bola matamu yang bulat bening semerbak embun pagi, begitu menyejukkan hati, sampai bara ini padam dalam diriku, melihat bola matamu Aisya.

Dari Sebuah Buku Filsafat

Oleh:
Digeleng-gelengkan kepala Itu pertanda tak mau atau tak suka Diangguk-anggukkan kepala Itu pertanda ia mau dan juga setuju Itu semua isyarat dalam bahasa Tanpa bicara orang mengerti maksudnya Orang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *