Makhluk Tanah Merindukan Warna (Cerpen Kontemporer)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 11 June 2021

Entah mengapa tiba-tiba kaki ini mengajak ke suatu tempat dimana banyak tumbuh pohon-pohon yang menjulang tinggi. Tempat itu biasa aku sebut “bhak”. Ada sejarah untuk tempat itu.

Sore itu, memang aku sama sekali tidak tau mau kemana, dan aku berterima kasih pada kakiku karena ia sudah mengajakku kesini. Aku langsung duduk di bawah pohon beringin kesukaanku. Aku tak membawa apa-apa, hanya membawa titik kepala sampai titik kaki. Ya, hanya membawa diri. Aku duduk termenung, entah apa yang kupikirkan. Tapi, kuakui aku sangat nyaman berada disitu. Teman-temanku setia menemaniku. Baik itu angin, pohon dan tanah. Mereka yang selalu berada disisiku. Tapi aku tak pilih kasih pada mereka. Aku menyanyangi mereka semua. Buktinya saja, aku bersandar di pohon yang tumbuh diatas tanah dan menikmati angin yang begitu menyentuh. Adil kan? Tentu.

Tapi, selang waktu, kenyamananku tiba-tiba rusak. Salah satu teman setiaku tiba-tiba menjerit sambil menangis. “Kenapa kau tanah?” tanyaku. Tanah meronta, sakit pikirku. Tapi dari mulutnya keluar kata-kata yang tak kuhitung jumlahnya. Tanah menjerit penuh pilu. Ya ternyata dia memang kesakitan. Rupanya, ia digerogoti oleh teman-temannya. Dasar cacing, semut, dan akar pikirku.

Cacing, semut dan akar menyalahkan tanah. Mengapa tanah tidak adil. Padahal tanah itu berada ditengah-tengah mereka. Cacing, semut dan akar sangat bosan dan kesepian dalam tanah. Tetapi, tanah tidak pernah mempedulikannya. Tetap saja ia bahagia menumbuhkan pohon itu hingga puluhan meter tingginya. “Jadi kalian mau apa?” tanya tanah. Ternyata mereka menginginkan pohon itu jangan selalu berada diatas tanah. Mereka ingin pohon menemani mereka dibawah. Tentu saja menjadi ramai dan berbeda pikir mereka. Tanah pun berpikir. Lalu tanah bertanya padaku, bagaimana ini? Aku pun merasa bingung. Karena pohon sudah merasa bahagia tumbuh bersama kami diatas. Menikmati angin. Tapi aku juga merasa iba dengan cacing, semut dan akar dibawah. Lalu kukatakan pada tanah untuk menuruti permintaan mereka. Walau nanti tak ada lagi tempat sandaranku, pikirku. Atau aku ikut bersama pohon kebawah tanah? Ah jangan, nanti siapa yang menikmati angin disini? Akupun bermain panjang di benak.

Tak berapa lama, tanah pun menyetujui permintaan cacing, semut dan akar. Tak butuh waktu lama, pohon pun sudah dipindahkan kedalam tanah bersama cacing, semut dan akar. Pohon disambut dengan gembira oleh mereka. Seakan ada pesta. Terdengar olehku suara sorak mereka yang sangat riuh. Norak pikirku. Aku cukup kecewa karena pohon kesukaanku sudah tak bersamaku lagi, tapi aku juga sedikit tenang karena tanahku sudah tidak meronta kesakitan.

Tapi, aku sedikit menggunjing dengan tanah, temanku. Siapa lagi yang akan menjadi sandaranku? Sekarang pohon kesukaanku sudah dirampas. Memang, banyak lagi pohon-pohon yang tumbuh disana. Tapi mereka tak senyaman pohon beringin kesukaanku. Lalu bagaimana? Sementara aku tak selamanya bahagia, pasti aku akan pernah merasa sedih dan sepi, lalu kemana aku bersandar? Ahhh. Hatiku semakin kecewa. Tapi tanah menenangkanku. Ia berkata, ia akan berusaha menumbuhkan pohon yang akan nyaman untuk sandaranku. Tapi akan lama pikirku. Tidak. Ternyata tidak. Selang waktu, aku sudah menemukan pohon pengganti yang cukup nyaman untuk aku bersandar. Dan hampir setiap hari angin memanggilku untuk kesitu. Berkumpul dengan teman baru. Namanya “mahoni”. Kami sudah saling menyapa dan akhirnya saling menyayangi. Senang juga pikirku.

Esoknya, aku teringat oleh teman lamaku, beringin. Apa kabar dia dibawah tanah? Apakah sudah bahagia bersama cacing, semut dan akar? Kupikir sudah. Kami pun menyerukan pertanyaan dari atas tanah. Mereka pun serempak menjawabnya. Ternyata benar, mereka sudah saling bahagia, apalagi akar, yang selama ini tak pernah berjumpa dengan beringin. Merekapun berterimakasih pada tanah yang sudah adil pada mereka. Mereka tak lagi merasa sepi, tak lagi merasa bosan, karena hidup mereka sudah berwarna dengan adanya pohon dibawah tanah. Beringin.

Cerpen Karangan: Rafika Elvirada
Blog / Facebook: Rafika Elvirada
RAFIKA ELVIRADA, Lahir di kp lalang Labuhan Batu Utara. Anak pertama dari dua bersaudara.
Sekarang mengenyam pendidikan di Universitas Negeri Medan Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Menjadi mahasiswa aktif semester enam dan memiliki ketertarikan pada bidang kepenulisan sastra sejak menduduki sekolah menengah atas.

Cerpen Makhluk Tanah Merindukan Warna (Cerpen Kontemporer) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Perompak Mimpi

Oleh:
Senja menjelang malam. Di punggung bukit ini mentari bersandar. Bias cahayanya lembut mewarnai langit barat. Sadar atau tidak sadar bias cahaya itu telah mengubah wajah bukit sandaran matahari ini

Jauhkan Ukiranmu Dari Cawanku

Oleh:
Dan tepatnya butuh waktu kurang lebih setahun untuk aku utuhkan kembali hatiku yang hancur lebur berkeping bagai hamparan debu. Ya, walaupun kini bekas kepingannya masih nampak begitu nyata dalam

Sekelebat Kenangan Merah Jambu

Oleh:
Rinai pagi itu menghambat laju langkah Tandu. Tubuhnya terhenti pada sebuah sudut dunia yang ia angap Neraka. Seketika pandangannya pecah berserakan tanpa haluan Pohon jambu bercabang satu di sudut

Masih Terngiang

Oleh:
Rembulan malam menemani hati yang rindu cahaya gemerlap terang, kukecup air dingin menyembangkan kenangan langit bintang terang. Suara hirup angin menghembus kesunyian hati dalam bayangan diri. Cuma hati yang

Coklat Kelabu

Oleh:
Coklat rindu belahan kalbuku. Di sisi mana kau mengayuh selain Aku. Panggilan syarat syahdu akan risaunya jiwa yang berdisminore sakitnya hawa. Yang maha berpunya akan adikara dan dunia kolong

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *