Malam yang Terjaga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 21 August 2017

Di dalam sebuah rumah tanpa jendela, pengap, sumpek, dan panas aku berdiri di atas kasur tanpa bergeser dari dudukku. Kuperhatikan sekian lama sudut-sudut dinding yang sunyi dari suara jangkrik atau peliharaan orang-orang. Burung Beo tak mengoceh sekali malam ini, aku rindu suara kicaunya yang mengusir nyamuk-nyamuk di dekat sandal-sandal yang tidak tertata rapi di depan kamar. Lumpur dari alas kaki banyak manusia yang tanpa mengenal ampun mereka menginjak lantai yang baru saja disapu sore tadi dengan langkah yang santai dari bercak hujan bercampur butiran tanah dari halaman depan.

Masih kuperhatikan sudut-sudut rumah yang tak pernah ramai dari suara teriakan dan tawa anak-anak seusiaku. Hanya ada sepi, kosong, dan hampa. Aku masih menunggu angin yang bisa datang tanpa dipanggil, melewati atap-atap tanpa lubang, melewati lorong-lorong kamar, melewati loteng kamar mandi yang tinggi di antara bangunan kamar dan tempat jemuran tanpa atap. Sekitar jam enam atau jam delapan malam mereka sering lewat dan mampir dulu ke dalam kamarku yang sempit, kamar yang hampa, hanya ada almari, meja seukuran mata kaki, dan kasur tanpa bantal dan guling, serta sebuah pintu tanpa kunci yang bisa diputar.

Sedari tadi teman-temanku masih saja menenggak minuman bersoda dengan memainkan khayalan yang tak bisa tangan mereka raih, impian mendapat wanita yang mereka cintai dan dalam mimpi ingin dicumbui tanpa seorang pun tahu. Musik jazz dan alunan hujan rintik-rintik menambah gaduh suasana malam ini. Kamar seperti gedung pementasan dengan penyanyi dan suaranya yang parau, mereka menjerit-jerit, memenuhi udara dengan teriakan yang sama, “Oke”.

Begitulah kata yang dapat aku tangkap. Entah telinga atau perasaan ini yang salah, atau pikiranku yang hambar, menjadi buram tanpa kata. Mereka meneriakkan ‘Oke’ tanpa jeda, berhenti bicara saat minum dan mengecup ujung botol yang basah. Sementara sudah hampir habis air bersoda di dalamnya. Aku terus memperhatikan mereka, mataku melihat mata-mata mereka yang nampak kebahagiaan. Kali ini, aku dapat melihat jelas, bahagia mereka bukan kahadiran, tetapi bahagia yang semu. Bahagia itu datang dengan disengaja, satu kali lagi mereka menenggak botol dengan bersulang.

“Habis juga, akhirnya…”, ucapnya dengan teriakan lidah yang kacau. Sambil kuperhatikan mulut itu berhenti menganga, aku menengok isi dalam botol yang kering kerontang. Tangan dua orang ini merangkak di atas lantai, memanjati guling dan berbaring miring. Retina mata yang hitam semua melihat pintu dengan sayu, matanya terpejam dengan senyum di bibirnya.

Sementara mereka tidur, aku mendengar rintik hujan menghantam dinding, asbes, dan besi di lorong tangga. Suaranya berisik, mengusik sepiku. Keadaan mendung semakin menjadi-jadi malam ini, membuat suasana semakin sepi mendalam. Jam menunjukkan pukul sebelas malam, aku masih terjaga menunggu angin yang belum juga datang. Entah lupa kepadaku atau memang sengaja menjauh dariku. Semenjak tadi aku sudah menyiapkan sebuah sarung agar nanti saat mereka datang tubuhku tidak kedinginan, dan urat-uratku tidak menggigil seperti kemarin. Jiwaku melayang dengan mendekap diri aku terkurung dalam sebuah kamar yang hampa.

Aku sepi, membayangkan segala hal yang tak terduga. Memudar kembali anganku, terbayang aku mencintai seorang wanita, mesra, kita bercumbu berdua. Di bangku taman yang hanya kita berdua, aku duduk di sampingnya, merebahkan lenganku di punggungnya, dan merajut cerita yang tersusun rapi di ingatanku. Aku melihat banyak wajah berdatangan, tidak ada lelaki, semuanya wanita. Mereka berdiri mengitariku dan semuanya duduk di atas pangkuanku. Mereka membisikkan cerita kepadaku. Aku mendengar cerita-cerita yang dinyanyikan bersama gincu-gincu wanita cantik ini. Kini, dengan suara lirih telinga mereka, wanita-wanita cantik ini mulai kutiup dengan cerita-cerita jenaka dan berbau roman. Tanpa sadar, permainan berlangsung khidmat, menari, menyanyi, dan melongok ke awan yang cerah dengan tumbuhan yang berdiri di tepi langit-langit, ternyata taman berada pada sebuah bukit hijau. Subur tanpa suara jangkrik dan katak, tiada panas dan hujan. Di sini, ternyata angin sedang bersembunyi, menguping kebahagiaan yang terlukis.

Tetapi tidak ada suara hujan, bau tumbuhan yang batangnya basah, dan sepoi dingin tidak ada sama sekali. Tadi saja, mereka serasa mengiringi kawan-kawan menenggak minuman botol sampai terlelap, hinggu tertidur tanpa kata. Tak kusangka, atap-atap rumah sudah berlubang seperti lubang jarum, sampai aku tersadar dari lamunan di tepi pintu. Tetes air turun satu persatu membasahi punggung, pipi, serta rambut yang kering. Almari yang tertutup mengalir pelan oleh air lembab dari asbes yang bocor. Aku makin kesal dan tidak peduli, ditambah juga angin yang tidak kunjung datang. Gerah menyusup ke sela-sela ketiak dan paha. Baju terasa basah oleh keringat, gerah terasa sekali malam ini. Ah… Makin diri ini tidak peduli terhadap keadaan. Mata yang terasa mengantuk, sandaran yang terasa bergetar dan berat, akhirnya tenaga dan semangat menyerah, kuserahkan diriku untuk tertidur melanjutkan mimpi yang tertunda tadi.

Pagi yang cerah, cahaya menghaturkan salam dan melambai daun pintu. Perlahan membuka awan yang tertutup rapat. Suara kicau burung terdengar kembali, berdatangan satu-persatu. Nampaknya, mereka menjadi marah karena malam tidak setia lagi pada paruh dan bulu-bulu dari sayap yang basah. Embun dari daun-daun cemara terlalu banyak untuk mereka hisap, terlalu dingin. Buah dari tangkai-tangkai kenari terlalu lembab untuk burung-burung itu nikmati.

Sementara itu, di kolong kali dekat warung, induk ayam dengan empat ekor anak-anaknya mencari cacing atau entah butiran nasi. Kepalanya merunduk dan menggeleng sekali-kali. Dan aku masih belum bisa mengusir bayangan dari malam tadi. Malam tadi seperti mencekik leherku. Urat-uratku menjadi tegang dan pikiranku seperti kendur, bagai orang mabuk, hilang kontrol, tak ingat keadaan. Mataku menatap genderang matahari yang menyulut kulit, membakar suhu badan. Hampir-hampir tergeletak di tengah rerumputan halaman sekolah, karena panas yang memaku. Di dalam kesendirian siang ini, seorang gadis cantik berkerudung biru lewat depan mata, melintasi awan. Dan aku bangkit mencari sumber gerak itu, bayangan yang tak terduga. Kita yang belum mengerti, saling bertatap muka, bercuri pandang, dan mengisi hati. Dengan kata-kata yang terbakar panas, memburu cinta dan gairah. Langkah kakinya mulai pergi, menjauh dari duduk manis. Rambut hitamnya tergerai lurus, dengan senyum tembem dan manis yang tak bisa termakan lupa.

Tiba-tiba saja dari kejauhan terdengar jelas namanya, penggilannya, dan akrabnya di telinga yang selalu mengusik ini. “Diyan…, ayo kita pulang, matahari sudah tinggi”, teriakan temannya salah seorang wanita yang selalu menjadi sahabat Dian.
Baru aku rasakan sebuah nama yang terngiang dan sulit untuk dilupakan. Dari bentuk kata-kata yang unik, panggilannya indah sekali. Sampai kuingat dalam hati, mulut dan ingatan serentak menghapal setiap kata, dan mengeja nama tersebut berulang-ulang. Ejaan demi ejaan terus terucap, dan menggumpal di rumah-rumah, dalam, kamar, dan bak mandi.

Ketika memegang gayung untuk menyiram sekujur tubuh, namanya teringat kembali. Mengusik mandiku dengan kehadiran nama tanpa sosok. Maka, apalagi yang harus diperbuat lelaki bila sudah terusik ketenangannya, makan terasa hambar, lembek, dan tak enak. Ditambah tidur yang kurang nyenyak, mata terasa lelah, panas, namun sulit terpejam. Lebih baik aku menunggu waktu. Menyongsong matahari yang akan tenggelam. Di atas loteng kamar mandi, waktu mulai berubah. Seluruh isi dunia ini nampak merah membara. Langit dan pohon terkabut warna senja merah, burung-burung gagak dan kutilang dengan membawa segerombolan keluarga dan kawan-kawannya muali kembali ke pohon asam di atas bukit di belakang gedung sekolah untuk bersembunyi di balik daun-daun yang rimbun dan menghijau, setelah seharian sibuk, penat, letih terbang ke sana ke sini mencari cacing dan ulat-ulat yang merangkak pelan di tangkai bunga matahari.

Detik demi detik berdetak, setiap detik berdetak matahari menenggelamkan diri, karam di balik belahan bumi yang lain. Tetapi senja merah tetap setia menanti, menyambut bulan yang akan menjadi cahaya baru bagi bocah-bocah dan pedagang wedangan yang bermain tembang dolanan dan membahas tentang hal-hal yang barusan ini terjadi dalam masyarakat.
Namun lagi-lagi, bulan belum juga muncul, mendung datang kembali. Seluruh dunia seperti kehilangan cahaya, karena hitam pekat dengan mendung di sisi kanan, sisi kiri, dan sudut-sudut sana-sini. Hatiku terasa kesal, ingin rasanya memaki awan, meninju dan menendang setiap awan satu persatu. Tetapi itu hanyalan khayalan, tidak akan mungkin, selain bersembunyi di balik pintu kamar. Menatap kembali dinding yang membeku dan berlumut, melihat foto di dinding yang hanya melontarkan senyum. Dari kemarin hanya itu yang mengisi waktu, mengisi sepi, hanya dinding, almari, dan foto berpose senyum. Memang senyumnya menawan dan manis, tapi saat kuajak bicara seolah dia diam begitu saja, mengacuhkanku, membuang harapan, dan berpaling begitu saja. Dengan bekalung sarung dan duduk di sudut kamar, aku memegang tengkuk dan lutut. Melihat kayu dan dinding dengan tatapan hampa dan kosong, sepi. Dalam keadaan hujan deras seperti ini, tiga orang kawanku yang mengisi kamar di depan kamarku pergi entah ke mana. Setiap hari selalu ngeluyur tak menentu, bisa-bisa pulang menjelang subuh.

Dalam suasana mencekam, hati ini kembali gelisah, rindu kembali hadir, perasaan was-was, menjadi tak menentu. Daripada aku tersayat ingatan kosong, menggores pilu, lebih baik mengingat sebuah nama indah yang barusan kukenal tadi siang. Nama yang begitu indah dan menghadirkan kawan, mengusir sepi. Diyan…, entah dari mana datangnya, tiba-tiba mengusik hidup yang sepi ini. Menjadi kawan dalam gerimis, menulis kata dala mimpi-mimpi indah. Terulang lagi langkah kaki yang mendekat, kemudian pergi menjauh begitu saja. Kerudung biru yang pertama kali terlihat mata, dan senyum manis yang tak bisa di miliki oleh siapapun itu. Hadirnya kali ini seperti keadaan kawanku yang jatuh cinta kepada seorang wanita yang kini sudah menjadi teman setianya. Hadirnya kali ini, terasa seperti cerita itu. Sejak kemarin, makan terasa hambar, tidak sedap, dan mual. Tidur terasa tak nyenyak, terusik, dan mendesing suara-suara selain nyamuk. Ini menambah derita dalam pergulatan hidupku, tetapi adakalanya juga ketika mengingat namanya sepi menjadi terobati. Entah siapakah nama lengkapnya, atau mungkin namanya pemberian dari seorang ayah dan ibu, dari sepasang orangtua yang telah berjasa menghadirkannya di dunia ini. Sehingga sepi ini sembuh, senyap hilang, dan kangen menggebu-gebu. Tetapi hasrat dan keinginan dalam hati semakin tak menentu dan ingin meledak. Terus menekan keluar ingin selalu ada Diyan, Diyan, dan Diyan yang tak boleh terlepas dari sisiku.

Di luar, seketika juga hujan deras perlahan kehabisan tenaga dan menjadi rintik gerimis, merintih di awan. Terus kuperhatikan langit malam, yang tanpa jemu kembali hadir, mengusir keramaian yang tak jelas, yang hanya diisi dengan gosip-gosip murahan dan berita bohong, omong-kosong. Tak jemunya aku melihat malam sembari menunggu angin datang untuk mengusir panas dari matahari siang tadi. Langit yang mendung tersibak, bintang-bintang lahir dan berkerdip memandangiku, bulan menertawaiku dengan senyum lebar. Tanpa henti aku melihat malam tak berkerdip, tanpa jemu. Inilah yang membuatku hinggap dalam kekosongan, karena hanya kesunyian malam yang menghibur hatiku, hanya bintang-bintang dan bulan yang memeluk erat tubuh ini. Sukmaku hinggap di kerongkongan bumi, menyusuri dengan detail batuan, rerumputan, rumah-rumah tetangga, dan kucing yang berlarian mengejar sebuah kalung pemberian dari tuannya, berharap kucing ini dapat berbagi sama rata. Setiap aku memandang langit-langit dengan lampunya yang menyilaukan, berkerdip tanpa henti melirikku, aku teringat jejak-jejak penuh dosa, seribu dan banyak lagi kenangan dari aku masih bocah, memulai permainan, nakalku, dan wajah-wajah yang memberi petuah kepadaku tanpa henti-hentinya mereka semua memegang pundakku dan menaruh kepercayaan.

Aku merasa malam lebih unggul daripada siang, dengan adanya malam, kita dapat lebih leluasa menyepi dari rayuan dan gombalan kosong, menceritakan berbagai hal dalam prasangka yang membuat tidur menjadi sebuah mimpi buruk. Aku merasa, adanya malam karena adanya cinta dan kasih sayang. Dengan memandang bulan dan bintang seorang manusia yang kangen dan merindukan kekasih akan segera lekas terobati dengan mengingat jejak-jejak kekasihnya. Lama sekali, aku melihat bintang dengan tatapan tanpa kerdipan mata, lama-lama bibirku bergerak seperti ingin mengucap sesuatu.
“Kenapa kalian hanya memandangiku? Daripada melihat keadaan di pasar yang carut marut lebih baik aku menyaksikan kalian bertugas sepanjang malam ini, hal unik yang jarang dilakukan oleh bocah sepertiku ini.”
Hanya kata-kata itu yang terlontar dan keluar dari mulut, sesekali mata beriak tangis dan tertawa sendiri mengingat hal-hal dalam jejak langkahku. Tetapi, bulan dan bintang sama saja seperti awan dan angin, mereka tak menjawab pertanyaanku, mendiamkanku seperti orang lain, walaupun aku seringkali menyaksikan mereka bersinar saat orang-orang tidur dengan nyenyak terbuai dalam mimpi-mimpi penuh kenikmatan, dengan mengkhayal menjadi saudagar atau setidaknya merubah keadaan. Walaupun aku seringkali mengucap kata-kata maaf terhadap diriku dan sebuah makna yang tersimpan di hatiku. Mengingat nama Diyan selalu mengingatkanku untuk duduk menunggu malam, menunggu angin menyibak daun-daun mangga, dan menyongsong bulan yang berada di ketinggian. Sesekali tanganku menggenggamnya dan kubuka kembali kepalan tanganku. Dan saat-saat inilah, sebuah kata menjadi makna, dan rindu menjadi cemas, menyulut gelisah. Dan aku hanya bisa berdoa, berharap supaya segala cita-cita dan keinginanku menjadi setinggi langit di malam yang cerah bercahaya, dan menjadi cerah, berwarna seperti bintang malam ini.

Pati, 6 Januari 2017

Cerpen Karangan: Muhammad Lutfi
Facebook: Muhammad Lutfi
Nama saya Muhammad Lutfi. Saya bertempat tinggal di Desa Tanjungsari, RT.01/ RW.02, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah. E-mail saya ajidika69[-at-]yahoo.com. Saya lahir di Pati, tanggal 15 Oktober 1997. No.Hp: 085200135657. Fb: Muhammad Lutfi. Sekarang berstatus sebagai mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya, Prodi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta.

Cerpen Malam yang Terjaga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jarum Waktu

Oleh:
Engkau sedang menatap tubuhku, bukan? Jangan menatapku terlalu dalam. Entahlah engkau tak boleh bingung dan bertanya, kepada siapa aku berbicara. Ikutilah saranku siapa tahu bermanfaat. Buatlah dirimu sesantai mungkin.

Debat Lebat Puisi

Oleh:
“Permasalahannya adalah puisi itu kau baca?” Sanggahku sambil bersungut-sungut. Sambil membenahi duduknya, romly tetap bersikeras dengan argumen mentahnya, barangkali dia masih belum bisa menerima segala sesuatu mentah harus ada

Cintaku Bukan Cintamu

Oleh:
Aku? Aku? Aku ya Aku.. aku hidup sebagai aku, hidupku sepenuhnya di tanganku, gak ada yang boleh dan bisa mempengaruhi aku, apalagi mencampuri semua urusanku, karena satu-satunya yang berhak

Sekelebat Kenangan Merah Jambu

Oleh:
Rinai pagi itu menghambat laju langkah Tandu. Tubuhnya terhenti pada sebuah sudut dunia yang ia angap Neraka. Seketika pandangannya pecah berserakan tanpa haluan Pohon jambu bercabang satu di sudut

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *