Persinggahan, Pertemuan Dan Menyatukan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 3 November 2018

Whatever Will Be.. Will Be..

Mendung dan senja menjadi ambigu, ketika terbiasa dengan matahari yang sinarnya melambai berpamitan menjelang malam, kini hanya bersembunyi di balik awan yang kelabu, yang tanpa pertanda tersambut hitam tanpa ada ragu.

Lampu jalanan telah mulai berpendar bergantian di ruas jalan baru, yang teranggap baru meskipun telah diresmikan belasan tahun yang lalu. Pertanda berhentinya langkah kaki yang menyusur jalan sejak beberapa jam yang lalu, ketika lari menjadi kegiatan baru, untuk mencoba membiaskan hadirnya kembali sebentuk sejarah terdahulu.

Tiga minggu yang lalu menjadi awal kaki ini mencoba beradaptasi dengan lari yang secara mengejutkan cukup menguras energi. Ketika tubuh yang terbiasa terduduk tertunduk di hadapan layar teknologi, dengan jari-jari yang menari-nari mencoba merangkai berbagai kata dari hati, untuk mendapatkan secercah ketenangan diri.

Senja yang lalu sedikit tidak membantu, dengan cuaca yang tak menentu yang terkadang menipu, namun lari ini tak bisa diganggu, sedikit niat saja sudah cukup untuk mengambil langkah pertama untuk langkah selanjutnya hingga kata cukup mulai menghampiri. Hingga tetesan pertama hujan jatuh di pelipis sebelah kiri, yang menghentikan langkah kaki untuk memilih bersembunyi.

Kanopi baru di teras bengkel sangat membantu, bersama dengan pelari lainnya yang turut bersembunyi dengan peluh yang tercampur air dari langit. Tempat itu cukup untuk menjadi penyelamat, teras sederhana beraroma tumpahan oli bercampur bensin yang telah behenti berkegiatan sejak tak berapa yang lalu. Persinggahan sederhana, untuk sementara.

Persinggahan selalu menjadi suatu hal yang menimbulkan perpisahan, seperti dermaga yang hanya menjadi tempat berlabuhnya kapal yang terombang ambing ombak lautan, menurunkan kargo dan kemudian kembali berlayar untuk berlabuh di dermaga lain, yang memunculkan perpisahan kembali untuk mencari pelabuhan-pelabuhan hingga kapal itu terkaramkan, berhenti melakukan perjalanan.

Persinggahan selalu seperti itu, persinggahan dan perpisahan menjadi satu hal yang menyatu entah berujung pilu entah berakhir haru. Persinggahan terkadang juga menyelamatkan, untuk sementara waktu, hingga bertemu dengan waktu untuk memulangkanmu. Persinggahan memang mempertemukan tapi tidak untuk mempersatukan, jika ingin dipersatukan, pulang lah yang menjadi tujuan.

Pulang menjadi satu hal yang selalu muncul ketika letih hinggap di bahu, ketika kaki yang melangkah gontai mencari pintu. Rumah menjadi tujuan akhir untuk menawarkan rindu.

Hujan telah mereda, peluh keringat akibat lari telah kering berkat tiupan angin yang muncul bersama dengan hujan beberapa saat yang lalu. Persinggahan ini telah membantu untuk tak terbasahkan oleh derasnya air hujan, yang kini telah mereda untuk menemukan jalan pulang, di kediaman tempat akhir tujuan.

Cerpen Karangan: A.R. Hudiyawan
Blog / Facebook: hudiyawan.id
Penulis yang tidak memiliki keteraturan dalam waktu kapan dia akan menulis

Cerpen Persinggahan, Pertemuan Dan Menyatukan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Can You Stand The Rain?

Oleh:
Hujan kali ini menjadi kambing hitam atas sepinya kedai kopi yang telah sering aku kunjungi. Hujan yang datang sedari sore tadi memalaskan lalu lalang yang mendadak sepi. Derasnya air

Dia Pergi Atau Menghilang

Oleh:
Kata cinta Selayaknya tak ada angkara di antara kedustaan, kenistaan dan penghancuran dalam kesucian cinta Kata cinta Sejatinya selalu ada jeda di setiap ruang, pun tiap semesta ada jeda.

Sugar

Oleh:
“Se-asam itu kah hidupmu?” Satu gelas jus lemon tanpa gula tanpa susu disodorkan padaku, Abang itu bertanya sambil cengengesan. Menatapku serupa anak kelinci dalam kandang harimau. Mual tiba-tiba muncul,

Bukan Perompak Mimpi

Oleh:
Senja menjelang malam. Di punggung bukit ini mentari bersandar. Bias cahayanya lembut mewarnai langit barat. Sadar atau tidak sadar bias cahaya itu telah mengubah wajah bukit sandaran matahari ini

Hatta Modern

Oleh:
Pria itu berjalan tunduk di tengah terjangan mentari siang dengan noken tertenteng di bahunya. Noken itu diberi Emil, sahabatnya asal Boven di goel, di timur papua sana. Ia berjalan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *