Surat Kala Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 22 August 2017

Sembari aku menunggu hujan. Aku memandang tragedi kenangan. Mataku ini bukan lagi seperti saat pertama kau hadir dalam ambang kehidupan. Binarnya mulai terbias akibat kilaun luka yang kau buat. Curahan hatiku tergambar jelas seperti derasnya hujan. Geraman hatiku sudah tak kuasa menahan jeritan yang meronta-ronta ingin keluar.

Hai kau!? Tuhan tidaklah pelit dalam hal memberi kebahagiaan. Apakah kamu tahu bahagia itu? Memang benar. Jika kau mengingkan hal yang lebih, suatu saat pasti akan ada hal yang lebih. Pun jika kau menginkan hal yang sempurna, kau akan mendapatkan hal itu.
Tapi kau tahu? Kau tak akan mendapatkan apa itu bahagia. Rasa syukur adalah cerminan wujud dari yang namanya kebahagiaan. Hatiku tak mampu lagi bertanya!? Aku tak bisa memahami dari arti bahagia yang hinggap dalam obsesi hidupmu sampai sekarang!

Apakah kau tak mengerti apa yang diartikan rasa belas kasih? Atau hanya sekedar tentang perasaan tenggang rasa terhadap sesama? Sungguh. Rasa itu sekarang sudah tak lagi ada. Hatimu sekarang nanar kosong. Saat pikiranmu mulai memikirkan tentang gumilar keindahan. Keindahan satu yang terpampang jelas di matamu tak lagi kau hiraukan. Kau abaikan lewat, enyah begitu saja. Pun matamu sudah tertutup oleh kilauan itu membuat hatimu membeku kaku. Kau memang berhak memilih!? Tapi kau tak berhak memilah!

Hatimu sudah beku sangat kaku. Mengkristal akibat setiap dengungan dari tutur lisanmu. Kerikil Tuhan yang berniat menghentikanmu malah kau lemparkan balik. Kau malah melawanya bersikukuh dengan cara sudut pandangmu yang berbeda.
Kau termakan oleh kata-katamu. Belati itu menghujam balik tubuhmu sendiri. Menyerang kata-kata yang kau tuturkan seperti tak mengenal akan balasan Tuhan. Kata-katamu tak sanggup menahan balasan karma yang diberikan langsung oleh tangan Tuhan.
Lukamu semakin menyayat lantaran diserang garam kehidupan yang meronta secara membabibuta.

Hai kau!? Jika saja hatiku sekeras layaknya milikmu. Mungkin saja aku sudah terbahak-bahak melampiaskan di derasnya hujan ini.
Jika saja hatiku tertutup oleh keindahan dunia layaknya milikmu. Mungkin saja aku lebih memilah sosok orang yang paling aku pilih.

Sayangnya!? Itu hanyalah lantunan JIKA yang hanya mengandung rasa penyesalan! Sama seperti yang kau rasakan, Bukan!? Sungguh memang hatiku tak sanggup. Air hujan yang menetes ini mewakili tetesan air mata. Kenangan tentang bagaimana Tuhan menciptakan perasaan ini hingga terbentuk, sangatlah sempurna. Aku sungguh sangat tak kuasa.

Biarkan kenangan ini terbawa oleh derasnya air hujan. Biarkan hujan menggeruskan kenangan cerita hingga tak tersisa. Dan biarkan aku menikmati kesendirianku kala hujan tiba.

Cerpen Karangan: Faiz Arteta
Blog: arikurnif.blogspot.com

Cerpen Surat Kala Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Konstanta Kontinuitas

Oleh:
Malam ini, ketika sepasang mataku sedang menatap potretmu dalam bingkai kayu, muncul sesuatu hal dalam benakku. Takdir ini adalah sebuah rumusan hidup, begitu pun dengan cinta. Setiap cinta pula

Senandung Untuk Kau

Oleh:
Gelap sudah bergelayut disini, hujan menyisakan genangan genangan air di kolam kolam kecil di halamanku. Tapi aku masih saja mematung menepis kesunyian. Mulai ku julurkan telunjuk mengukir sisa sisa

Bah Kehidupan

Oleh:
Hujan datang lagi. Beribu tetes jatuh setiap detiknya. Menapaki bumi sepanjang hari, seolah tak pernah lelah dengan keadaan ini. Menerjunkan diri ke berbagai belahan bumi. Mulai dari kubangan kerbau,

Kisah 6 Pasang Mata Bola

Oleh:
Ini adalah kisah 6 pasang mata bola, yang bergelinding sesuka hatinya, berlarian semau arahnya namun tetap kembali pulang dan berkemas pada satu tempat berkubang yang sama. Meski terkadang sepasang

Air Mata Sokrates

Oleh:
“Kematian itu bagaikan hembusan napas atau kepulan asap yang terhambur dan terbang tinggi entah ke mana!” kataku kepada setiap pemuda yang hilir mudik melewati lorong berbercak darah ketidakbijaksanaan di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Surat Kala Hujan”

  1. GOGI says:

    Bisa jadi sebuah inspirasi yang sedikit orang mengetahui nya.good

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *