3 La

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 14 April 2015

Kenalin nih, namaku Bela. Aku tinggal di Semarang. Aku punya sahabat namanya Vela dan Mela. Dari kecil, kami udah sering main bareng karena kami bertetangga satu jalan. Aku, Vela dan Mela kebetulan umur kami sama dan kebetulan juga kami bertiga masuk ke SMA yang sama. Terkadang, kami sering dipanggil “Tiga La”. Padahal, Aku, Vela dan Mela tidak tahu apa artinya.

“kring…! kring…!”
Tanda bel bunyi MOS SMA hari pertama pun terdengar begitu keras. Aku, Vela, Mela segera bergegas mempersiapkan diri menuju ke lapangan. Kami semua anak-anak MOS berdandan ala artis idola kami masing-masing. Aku berdandan ala Selena Gomez, Vela berdandan ala Demi Lovato, dan Mela berdandan ala Christina Perri. Teman-teman MOS kami semua lucu-lucu. Aku, Vela dan Mela tertawa riang akan hal itu.

“… Kelompok 3 yaitu Bela, Vela, Mela, dan Hanafi dibimbing oleh Kak Ganita…” kata pembina OSIS yang bernama Pak Agus yang sekaligus menjadi ketua penyelenggara MOS tahun ini.
Aku, Vela, Mela amat bahagia akan hal itu dan bersorak sorai. Kemudian, Aku, Vela, dan Mela mengucapkan terima kasih kepada Bapak pembina OSIS yang sekaligus menjadi ketua penyelenggara MOS tahun ini.

Hari ini, sebenarnya kami semua disuruh membawa gelas air mineral bekas sebanyak 10 gelas air mineral bekas masing-masing anak. Aku lupa. Lalu, Vela dan Mela melihatku bahwa aku hanya membawa 8 gelas. Vela dan Mela segera memberiku 2 gelas karena mereka masing-masing membawa 11 gelas.
“Bela, kok kamu kayanya lagi kebingungan sih?” tanya Vela yang saat itu ada Mela juga.
“Emm.. Gini..” jawab Bela tersendat-sendat.
“Haa? Kamu kenapa?” jawab Mela kebingungan karena jawabanku yang tersendat-sendat.
“Em.. Gini, aku lupa bawa gelas air mineralnya 2 gelas. Aku hanya bawa 8 gelas. Gimana nih?” jawabku bingung.
“Oh.. Itu masalahnya. Wah kebetulan nih, aku sama Vela bawa gelas air mineral lebih. Nih aku kasih,” ungkap Mela.
“Walah.. Makasih ya Vela, Mela. Kalian memang sahabatku!” jawabku dengan penuh kebahagiaan.

“wiiiyuuu wiiiyuuu wiiiyuuu”
Suara TOA pengeras suara telah dibunyikan. Tandanya, seluruh siswan MOS harus segera kembali lagi berkumpul dan merapikan barisan sesuai kelompok.
“Semua kakak pendamping tiap-tiap kelompok dimohon segera mengumpulkan gelas air mineral bekas sebanyak 10 gelas dari masing-masing anggotanya. Jika anak itu tidak membawa ataupun kurang, segera tulis di Buku Pengalaman MOS yang telah saya berikan saat awal pertemuan,” jawab Pak Agus selaku ketua penyelenggara acara MOS dan pembina OSIS yang tegas.
Kakak-kakak pendamping tiap-tiap kelompok pun segera mengambil gelas-gelas air mineral itu dari tiap-tiap anggotanya.
“Bela, Vela, Mela, Hanafi, keluarin 10 gelas air mineral bekasnya,” kata Kak Ganita.
Aku, Vela, Mela, Hanafi segera mengeluarkan 10 gelas air mineral bekas dan memberikannya ke Kak Ganita.
“Ini Kak Ganita gelas air mineral bekasnya,” kataku.
“Ini Kak Ganita,” kata Vela, Mela, Hanafi bersamaan.
“Oke, semua lengkap ya,” kata Kak Ganita.

Acara MOS hari ini pun berjalan dengan baik dan lancar.
Pada hari sebelumnya, kami semua sudah ditugaskan untuk membawa 1 kg beras, 1 liter minyak goreng dan 5 bungkus mie instant masing-masing anak. Hari ini adalah hari ulang tahun Vela. Aku dan Mela sebenarnya sudah merencanakan untuk mengerjain dan menjahili Mela. Aku dan Mela juga sudah memikirkan itu sejak minggu-minggu sebelumnya. Tak lupa, aku dan Vela telah membelikan suatu hadiah yang sudah kami beli.

“kring! kring! kring! kring! kring!”
Tanda bel sebanyak 5 kali telah menandakan MOS pada hari ini telah selesai. Aku sudah membawa tepung, Mela juga sudah membawa telur.
“baaaaaa!!!”
Vela terkejut akan teriakanku dan Mela yang bersamaan sehingga mengejutkan dirinya. Seketika, aku melemparkan tepung ke badan bagian belakang Vela, dan Mela memecah telur yang telah ia bawa di bagian bahu Vela.
Vela terkejut. Tapi Vela senang karena menurutnya ini adalah bukti bahwa tandanya itu sebuah persahabatan yang terkadang lucu, nyebelin dan mengejutkan.

3 tahun berlalu begitu cepat. Aku, Vela dan Mela telah lulus dari SMA dan mendapat nilai yang memuaskan. Namun sayang, aku, Vela, dan Mela melanjutkan kuliah di universitas yang tidak sama. Beruntungnya, universitasku dan Mela berdekatan dan masih di kota yang sama yaitu koya Semarang. Sayang, Vela kuliah di Bandung sehingga aku dan Mela jarang bertemu dengan Vela.

Sekitar kurang lebih 2 tahun berjalan seiring aku dan Mela sedang libur kuliah. Aku dan Mela iseng-iseng pergi ke Bandung. Tak disangka, sesampainya di Bandung di tempat Vela tinggal, ternyata Vela sedang dirawat di rumah sakit karena penyakit kanker yang diderita Vela. Aku dan Mela diberi tahu oleh warga sekitar. Aku dan Mela diberi alamat rumah sakit oleh tetangga Vela. Aku dan Mela kemudian segera bergegas menuju ke alamat rumah sakit itu. Aku dan Mela bertanya kepada suster dan perawat yang ada di rumah sakit itu di mana Vela dirawat.

Akhirnya, aku dan Mela sampai ke ruangan kamar tempat Vela dirawat. Aku dan Mela tidak tahu penyakit apa yang diderita Vela.
“Permisi Tante,” sapaku dan Mela ke Ibunda Vela.
“Oh, iya Bela, Mela.”
“Vela, kamu kenapa? Kamu sakit apa?” tanyaku tersedu-sedu.
“Aku kena payakit kanker stadium akhir, sebenarnya aku udah sakit sejak lama,” jawab Vela.
“Kamu kok nggak pernah cerita ke kita tentang penyakitmu?” tanya Mela yang saat itu berada di sebelah kanan kasur Vela.
“Maafin aku ya Bela, Mela.”
“tuuuuuuut”
Suara itu mengagetkan Ibunda Vela, aku dan Mela. Suara itu membuat suasana berubah seketika. Ternyata, suara itu adalah tanda bahwa berakhirnya perjalanan hidup Vela. Aku, Mela dan Ibunda Vela menangisi kepergian Vela. Menurutku, Vela adalah orang yang baik, tegas dan bertanggung jawab. Saat ini, aku hanya bisa mendoakan agar Vela diterima di sisi-Nya.

Cerpen Karangan: Ganita Ridwan Surohardjo
Facebook: https://www.facebook.com/ganitaunyu
Blog: ganitaridwan.blogspot.com

Cerpen 3 La merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semua Telah Kembali

Oleh:
Aku berdiri di sebelah jendela melihat langit yang gelap tanpa bintang seperti hidupku yang gelap gulita meski kumemiliki segalanya, apapun yang kuminta pasti akan kudapatkan kecuali satu yaitu waktu

Love Story

Oleh:
Perlahan aku membuka sebuah diary usang, aku yakin umur diary ini sudah lebih tua dari umurku. Tentu saja, diary usang ini milik Ibuku, bungkusnya masih tampak rapi, tulisan di

Generasi P = K

Oleh:
Malam yang dingin mencekam. Bersaksi sinar bulan yang temaram. Terpendar cahaya bintang yang bertarung dalam amukan suara alam. Desir angin berhembus. Menusuk nadi menusuk ulu. Seolah petir terus menyambar

Pelukan Terakhir Ibu

Oleh:
Hidup tak selalu indah layaknya kisah manis dalam sinetron. Kadang aku berpikir kalau happy ending itu memang hanya ada dalam film atau cerita lainnya. Sejak kecil aku terbiasa hidup

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *