3 sekawan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perpisahan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 14 December 2015

“Liu?” panggilku mengawali pembicaraan.
“iya, Gus?” tanya Liu heran.
“emm.. aku ke toilet dulu, kebelet.” pamit Naya meninggalkan kami berdua.
Di situ aku tambah grogi karena duduk berdua dengan Liu.

“emm.. ini tisu, muka kamu keringetan.” ucap Liu memberikan tisu. Aku pun mengambilnya dengan wajah yang gugup karena aku sama sekali tidak pernah ngobrol berduaan dengan Liu seperti ini.. tapi benar kata Fahri, Liu memang begitu cantik, senyumannya yang begitu manis, lentik bulu matanya, matanya yang sipit yang sungguh mempesona.

“kok diem?” kata Liu dengan bingung menatapku.. Aku yang hanya menundukkan kepala.
“em.. Fahri suka sama kamu.” ucapku dengan bibir gemetar.
“aku anggep Fahri cuman temen. Aku suka sama temennya Fahri.” perjelas Liu, aku yang saat itu sangat-sangat tidak peka bahwa Liu memberikan sinyal hijau padaku.
“si Udin?” bingungku.
“bukan.” jawabnya singkat.
“siapa ya? ya udah aku mau ke kelas duluan.” ucapku tergesa-gesa.

Sesampai di kelas Fahri langsung memberikanku minum, “minum dulu boss, gimana tadi?” tanya Fahri tidak sabar.
“dia bilang, dia cuman anggep kamu temen.” ungkapku. Fahri yang mendengar itu seakan-akan dia sangat terpukul oleh cintanya.
Fahri memeluk Udin dengan penuh rasa kecewa, “udah sabar aja, Ri.. belum jodoh.” kata Udin menenangkan Fahri yang sangat kecewa dengan jawaban Liu.

Setelah pulang sekolah sekitar jam 3 aku dan Udin ke rumah Fahri namun kata Ibunya dia sedang tidak di rumah. Aku dan Udin yang bertanya-tanya saat itu di mana Fahri.
“kali dia masih kecewa sama jawaban Liu tadi.” kata Udin, kami berdua yang sedang berjalan menuju basecamp.
“iya juga sih, Din.. apalagi si Fahri dari kecil naksir Liu.” ujarku, tak lama dari kejauhan aku dan Udin melihat Fahri yang sedang duduk berdiam diri dekat sungai.. kami berdua pun menghampirinya dan duduk di dekatnya sambil tangan Udin merangkulnya dan berkata.

“udahlah, Ri.. si Liu boleh ninggalin kamu tapi kami berdua gak bakalan ninggalin kamu, Ri.” kata-kata mutiara Udin terucap dari bibirnya.
“iya, Ri.. masih ada kami yang selalu ada buat kamu.” sambungku sambil merangkul Fahri, kemudian Fahri menatap aku dan Udin lalu menangis sambil berpelukan.
Yah.. walaupun kedengarannya seperti teletubis setidaknya itu bisa menenangkan perasaan sahabat kami yang sedang terluka oleh cinta pertamanya.
“aku sayang kalian berdua.” kata Fahri dengan tulus. Udin langsung melepaskan dirinya dari pelukan.
“kamu h*mo, Ri?” kata Udin sedikit bingung.
“yaa enggaklah bego.” jawab Fahri mendorong kepala Udin.

Persahabatan kami yang begitu berkilau bagaikan matahari yang selalu menemani hari-hari kami sama seperti kalian berdua Fahri dan Udin sahabat terbaik yang pernah ku miliki. Aku dan Udin saat itu yang sangat tidak mau terbuai oleh cinta apalagi setelah melihat Fahri kecewa karena cinta yang membuat kami berdua tambah tidak mau merasakan apa itu cinta? Ku rasa bila aku mengenal cinta mungkin persahabatanku tidak akan seindah ini lagi di mataku melainkan sudah ada cinta yang membuat hati ini berseri-seri. Namun saat itu aku menepis segala hal yang bersangkutan dengan cinta.

TINGGAL KITA BERDUA
Seiring waktu yang terus berputar dan 2010 teknologi modern telah datang pada kami.. Saat ini kami telah lulus SMP dengan masa-masa yang begitu menyenangkan. Tibalah saatnya untuk kami membuka lembaran baru di SMA dengan suasana baru, keadaan baru. Namun tetap dengan teman yang lama tetapi tidak dengan Fahri karena dia akan pindah ke pulau jawa dan melanjutkan sekolah di sana terutama sejak Ayahnya tahun kemarin melepas jabatan sebagai kepala desa dan ingin merintis karir di tanah kelahirannya.

Hari ini Fahri akan berangkat ke jawa bersama keluarganya di saat itulah aku dan Udin harus mengalami pahitnya perpisahan dan akan merasakan rasa rindu yang teramat besar untuk sahabatku. Udin yang hanya terdiam lemas di basecamp dengan raut wajah yang sangat sedih seakan-akan dia tidak sanggup kehilangan Fahri. Saat itu kami berdua sangat kacau bagaikan burung tanpa sayap apalah arti kami berdua tanpa Fahri.

“kenapa Fahri harus pindah, dia bisa tinggal di tempat saya.” kata Udin dengan lemas.
“gak tahu Udin.” jawabku.
“kamu inget kan dulu pas kita maen bola hujan-hujanan yang Fahri nge-gol kita pada buka baju semua terus loncat-loncat gak jelas.” ucap Udin dengan sedih.
“iyaa, itu kita pas kelas 6 kan?” jawabku sambil mengingat-ingat kejadian itu.

“woy.” teriak suara seseorang dari bawah, Udin pun langung menengok ke bawah.
“Fahri.” raut wajah dengan gembira kami berdua langsung turun menghampirinya.
“katanya kamu mau ke jawa?” tanyaku.
“bentar lagi, makanya aku nemuin kalian dulu.” kata Fahri tersenyum.
“jangan tinggalin kami, Ri.” kata Udin sambil memeluk Fahri. Fahri melepaskan pelukan Udin secara perlahan.

“Din, kalian semua sahabat terbaik yang pernah aku milikin di sini, bakal kangen sama kamu semua.” kata Fahri menahan tangis.
“iya, Ri kamu tinggal sini aja.” pintaku bersungguh-sungguh.
“gak bisa, Gus.. keluarga aku banyak di jawa, mungkin kalau libur bakal ke sini.” perjelas Fahri.
“kamu, Din.. sahabat terbodoh aku yang bakal aku kangenin nanti.” kata Fahri sambil memegang pundak Udin.
“dan aku udah tahu siapa yang disukain Liu.. ternyata bukan aku, yaitu kamu, Gus.. jagain dia Gus.” pinta Fahri memegang pundakku.

“dari kecil Liu suka sama kamu, Gus.. jangan sia-siain dia Gus.” ungkap Fahri dan aku pun hanya menunduk.
“aku berangkat ya sobat.” pamit Fahri.
“Ri?” panggil Udin sambil menarik pundak Fahri dan kami berdua langsung memeluknya sambil terjatuhnya air mata kami bertiga.
“jangan lupain kami, Ri.” kata Udin menangis.
“gak bakal, Din.” jawab Fahri menangis pula.
“ternyata walaupun Fahri jago berkelahi dia juga bisa nangis.” kata Udin masih menangis.
“iyaa ya, Din.” kataku menangis dan Fahri langsung pergi meninggalkan 2 kado yang jatuh untuk kami.

Aku dan Udin mengambilnya pertama aku membuka kadoku ternyata sepucuk surat, “Gus, itu ada selembar kertas kosong dan sepucuk bunga mawar plastik.. tulislah perasaan cintamu padanya dan berikan ke Liu dan katakan kamu sangat menyayanginya.. Aku sangat ingin kalian berdua pacaran, Liu sangat menyayangimu Gus, sampai-sampai dia rela ke SMP kita padahal dia diterima di SMP 1 hanya untuk bisa melihat kamu Gus. Jangan sia-siakan dia sobat dari tatapan matamu kamu bukanlah pembohong yang hebat. Aku tahu kamu menyukainya sejak kita naik kelas 9 tapi kamu memilih untuk mengacuhkan perasaanmu hanya untuk sahabatmu. Di bola matamu tersimpan perasaan cinta yang amat besar dan bahagiakanlah dia untukku. Fahri..”

Aku hanya terdiam membaca surat yang ada di dalam kado pemberian dari Fahri dan aku melihat isi kado milik Udin ternyata adalah poster besar bergambar Albert Einstein dan kertas bertulisan, “Din, itu poster hadiah dari aku, kenang-kenangan dari aku, aku tahu kamu sangat tergila-gila dengan Albert Einstein.. hanya itu yang dapat ku berikan untuk kamu Din. Aku tidak akan pernah sebahagia ini bila tidak mengenal kalian berdua sobat. Fahri..”

Udin yang sangat bahagia akan poster pemberian Fahri tetapi dia masih sedikit sedih melihat Fahri yang tidak akan berada di sisi kami lagi.
“Din, Fahri memang gak ada lagi di sisi kita tapi ingat kawan Fahri bakal selalu ada di hati kita.” kataku memegang pundaknya.
“bener kawan, oh iya ngasih apa ke kamu?” tanya Udin.
“cuman selembar kertas dan bunga mawar plastik.” jawabku, Udin tampak sangat heran.
“dia nyuruh aku pacaran sama Liu dia bilang kalau aku suka sama Liu.” perjelasku.
“emang kamu suka?” tanyanya.
“memang pas kelas 9, tapi aku relain buat sahabat aku.” ungkapku.
“ya udah pacaran aja Gus, turutin apa maunya Fahri mungkin itu hal terbaik yang bisa Fahri lakuin buat kamu.” jawab Udin.
Perkataan Udin saat itu benar mungkin Fahri ingin melakukan hal terbaik untukku.

Senja matahari sore melepaskan cahaya tepat ke arah kami berdua yang sedang duduk di basecamp sambil menikmati matahari yang akan tenggelam di hari itu. Aku dan Udin yang saja berdiam diri tidak satu pun di antara kami ada yang berbicara karena masih belum menerima melihat Fahri pergi ke pulau jawa. Entah dia akan kembali atau dia akan lupa pada kami berdua. Aku yang melihat raut wajah Udin yang begitu sangat terpukul terutama Udin dan Fahri sangatlah akrab melebihi diriku. “Din, pulang yuk udah sore?” ajakku menghilangkan heningnya tadi. Udin hanya mengangguk dan kami berdua pun turun seraya melangkahkan kaki pulang ke rumah seperti biasanya kami saling merangkul.

Malam pun tiba dunia yang begitu gelap tanpa ada kelap-kelip bintang satu pun. Aku yang hanya duduk diam sendiri di depan rumah yang masih saja memikirikan hal berat yang terjadi hari ini.
“hari-hari berat yang akan datang tanpamu kawan.” gerutuku pelan mengingat-ingat Fahri. Aku menoleh ke arah rumah Liu yang sepi dan hening berharap dia ke luar lalu aku pun kembali menatap lurus ke depan dengan pikaranku yang kosong tak lama terdengar suara seseorang membuka pintu dari rumah Liu.

Ternyata ada Liu yang sedang duduk diam tak melihatku sambil memegang handphone dan saat itu aku belum memiliki handphone karena aku hanyalah seseorang yang sederhana tak memiliki uang untuk membeli handphone. Ketika itu aku yang menatapnya penuh kenyamanan. “ehmm…” ucapku sedikit keras agar Liu melihatku. Liu pun menoleh ke arahku dan lengkuk bibir senyumnya yang seakan-akan menguasi pikiranku di malam itu. Aku pun melambaikan tangan ke arahnya sembari tersenyum.

Di malam yang gelap ini namun ada penerang dalam jiwaku entah apa yang aku rasakan saat ini.. “jatuh cinta pandangan pertama? Tidak, Bagus.. wanita secantik itu tidak pantas bagimu.” gumamku dalam hati yang sedang berargumen. Aku yang hanya berani berbincang berdua dengannya hanya saat kelas 8 itulah setelah itu keberanian itu padam namun aku masih memikirkan Fahri yang memiliki rencana sehebat ini untukku dan Liu. “apa yang harus ku lakukan? Mendekatinya?” lagi-lagi hatiku berkata dengan bingung, tiba-tiba Liu masuk ke dalam rumah.
“Dan sekarang tinggal kita berdua, Din.. dan yakinlah kita akan menaklukan setiap harinya tanpa Fahri..” Semangatku dalam hati.

HADAPI DENGAN SENYUMAN
Hari ini adalah dimana aku mendaftarkan diri di SMA 1 yang cukup jauh dari tempatku berkisar jarak 1 kilo dengan penuh harapan agar diterima tetapi aku mendaftar bersama Liu bertransportasikan angkot. Di tahun 2010 di tempatku sudah ada angkot berbeda dengan dulu. Udin yang tidak terlihat di hari ini cukup membuatku bingung, aku yang sedang duduk di dekat gerbang SMA sambil menikmati es buah bersama Liu, penat yang kami lepaskan sesudah mendaftar tadi dan tinggal menunggu pengumumannya di hari rabu.

“Udin ke mana ya?” tanya Liu sambil memegang segelas es buah.
“gak tahu, Yu.. aku juga bingung ke mana si Udin apa dia gak daftar SMA 1 ya?” jawabku heran.
“ya, mungkin dia daftar SMK 1?” kata Liu menerka-nerka. Aku pun sedikit tenang dengan jawaban Liu tadi.

“naik angkot lagi kita?” kataku mengajaknya bercanda.
“emang kamu mau gendong aku?” jawabnya centil.
“males.” kataku menyulurkan lidah ke arahnya.
“aku tahu kamu kemaren abis nambah 2 kg.” kataku meledek berat badannya.
“apa coba? Kurus kayak gini.” serunya.
“kamu bisa bahasa mandarin?” tanyaku.
“wo ai ni.” katanya mengucapkan sepatah kata mandarin.

Aku yang tidak mengerti sama sekali bahasa mandarin, “apa tuh artinya?” jawabku begitu polos.
“artinya aku itu cantik, kalau cowok tampan.” jawabnya terselip tawa.
“ohh…” kataku dengan mengangguk-angguk.
“berarti, aku juga wo ai ni.” ucapku sedikit sombong.
“udah ah, ayo pulang.” ajaknya.
“ya udah, aku bayar dulu.” kataku sambil membuka dompet dan membayar es buah.

Sesampainya di rumah, “Gus, ini ada kado dari Udin.” kata Ibuku sembari memberikan kado tesebut.
“kado apaan bu?” jawabku penuh tanya. “gak tahu juga. Udin barusan aja pergi naik bus dianter Ayahnya tadi. Dia mau sekolah di SMK 2 MEI tanjung karang dan tinggal sama pamannya, kata Ayahnya tadi pas Ibu nanya.” perjelas Ibu. Aku langsung saja duduk dan diam dengan tatapan mata yang hampa.. Baru beberapa hari Fahri meninggalkanku dan sekarang Udin sahabat satu-satunya yang aku miliki di sini. Lalu Ibu pun menaruh kadonya di hadapanku duduk. Aku yang membukanya secara perlahan terlihat sebuah buku dan surat dari Udin.

“Gus, tadinya aku mau ketemu langsung sama kamu tapi kamu lagi daftar SMA sama Liu.. jadi aku cuman bisa ngasih ini buat kenang-kenangan kita, di situ ada buku tentang cerita kita bertiga. Kamu sahabat terbaik yang pernah ku miliki, Gus.. aku harus sekolah di SMK tanjung karang karena cuma di sana ada jurusan yang bisa mengasah lagi keahlianku yaitu jurusan Kimia. Maafkan aku, Gus.. mungkin saat ini kita harus berpisah sejenak bukan berarti selamanya. Untuk sahabatku, Bagus..”

Isi surat yang ku baca dari Udin, dan untuk kedua kalinya aku menjatuhkan air mata ini dimana satu persatu sahabatku pergi entah waktu akan menemukan kita lagi kawan atau tidak. Aku yang langsung berlari ke basecamp untuk melepaskan semua kesedihan ini sambil memegang buku yang diberikan Udin. Aku yang baru saja ingin membaca diary tentang sahabat-sahabatku karya Udin di dekat sungai dekat basecamp kami sambil menangis membuka buku itu. Tiba-tiba ada Liu yang duduk berada di sampingku, aku pun terkejut menoleh ke arahnya.

“ini.” ucapnya memberikan sapu tangan. Aku pun mengambilnya lalu mengusap air mata ini dan masih saja menatap lurus sungai yang begitu tenang yang mengingatkan tempat kami biasa memancing ikan dan mengurungkan niatku membacaku dari Udin tadi.
“sabar, Gus.. doain yang terbaik buat mereka berdua, suatu saat kamu bakal ketemu mereka lagi kok.” kata Liu sambil memegang tanganku.
Aku masih terdiam bisu akan begitu beratnya hari-hari yang harus ku lalui tanpa mereka berdua.

“aku tahu, Gus.. mereka sahabat terbaik kamu tapi mereka punya alasan tersendiri ngelakuin ini, Gus.” tutur sekali lagi Liu mencoba menenangkanku. Aku menatapnya sejenak lalu memalingkan pandanganku lagi ke arah sungai.
“Aku janji, aku bakal temenin kamu seperti mereka berdua.” ucap Liu.
“makasih.” kataku dengan bibir gemetar.
“kamu harus lihat dunia ini, kamu yakinkan bahwa kamu akan bertemu dengan mereka dengan kesuksesanmu dan juga melihat kesuksesan mereka.”

Sekali lagi Liu mencoba menghilangkan rasa sedihku lalu aku pun menatapnya dengan serius dan memeluknya untuk melepaskan segala amarah yang ada dalam hatiku. Mungkin saat ini aku harus yakin persahabatan kami tidak akan pernah pudar meskipun jarak memisahkan kami begitu jauh. Tapi ingatlah kawan memang saat ini kau tidak ada di sisiku, namun kalian selalu berada di jiwaku. Mungkin sebuah jarak bisa memisahkan sebuah persahabatan namun jarak tidak akan bisa meruntuhkannya. Aku percaya itu.

Cerpen Karangan: Jerry Equardo
Facebook: Jerry Equardo

Cerpen 3 sekawan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dreams

Oleh:
Kulihat kristal cair akan mendarat di telapak tanganku. Beberapa detik benda itu tepat membasahi tanganku, hingga seluruh tubuhku. Dalam sekejap, tubuhku telah kering kembali. Aku terhenyak, mengingat sejak kapan

Ayah Tercinta

Oleh:
Namaku dhian, aku bersekolah di SMA negeri 1 giri di kota banyuwangi. usiaku belum 17 tahun. hari ini hari minggu di bulan maret, 1 bulan sebelum ujian nasional SMA,

Audieku Sayang

Oleh:
Kasih sayang orangtua kepada anaknya memang tidak akan pernah ada habisnya, dari anak itu masih dalam kandungan, hingga dilahirkan ke dunia, bahkan walaupun nanti anaknya sudah menikah dan tidak

Kehidupan Jalanan

Oleh:
Hari ini hari minggu aku bangun agak kesiangan mumpung hari libur, dengan keadaan yang masih belum stabil aku pun beranjak dari tempat tidur untuk menumui ayah dan ibu. “selamat

Derita Annamarie

Oleh:
Mentari pagi yang telah membangunkan tidurku, segera aku bergegas menuju kamar mandi dan bersiap menginggat Hari ini hari kedua ku melaksanakan MOS di SMA Tunas Bangsa yang dilaksanakan selama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *